
abcde menambahkan Tampak dari kejauhan, di bawah bukit, ada orang yang nampak tidak terlalu tua sedang tertatih-tatih dan sangat kesulitan ketika hendak menaiki bukit. Ini berbeda dengan wali-wali yang datang sebelumnya. Seorang tua ini tampak sungguh sangat kesulitan mencapai titik bukit tujuan.Dengan tongkatnya, dia berusaha melewati bebatuan yang terjal dan berliku. Kadang harus berhenti sebentar untuk mengatur pernafasannya, lalu beranjak menaiki bukit lagi. Setelah sampai di puncak, gemuruh nafas orang tua ini makin nampak tersengal kecapekan. Pakaiannya biasa, yakni jubah putih kecoklatan dan nampak agak kotor.Walaupun kelelahan, wajahnya selalu tersenyum. Dari wajahnya, bisa dikatakan orang ini tidak gampang liyan, tawadhu' dan sopan.
bcdf menambahkan Para wali yang sudah berkumpul pun menghentikan aktifitas setelah melihat kedatangan orang tua ini. Suasana tiba-tiba hening, satu persatu para wali menyalami orang ini dengan penuh hormat dan takdzim.
Ahlan wa sahlan ya habiballah ya sulthanal aulia,'' ucap para wali yang sudah berkumpul.
Masyaallah, ternyata orang yang tampak biasa sekali ini adalah rajanya para wali. Keramat dan kesaktiannya seakan tidak ada sama sekali. Tak nampak sebagai raja.''Tolong panggilkan wali , arek Indonesia itu suruh ke sini,'' ucap sang Sultonul Aulia kepada para wali.Disela-sela kerumunan para wali, muncullah seorang pemuda dengan jas layaknya tentara dan peci hitam yang agak tinggi. Dari wajahnya, terlihat kalau wali ini pemuda yang kocak. Sambil cengar-cengir, pemuda ini mendekati sang Sulthon Aulia dan mencium tangannya.
Setelah Wali ini menghadap, sang Sulthon berkata padanya, ''wali, sini aku minta rokoknya dan tolong sekalian masak air, buatkan kopi!''.
__ADS_1
Hehehe, ternyata wali yang kemana-mana membawa rokok dan kopi hanya wali dari Indonesia, sebagian .
Sehabis dari pertemuan di Makkah, Wali kembali lagi ke Indonesia. Wali dari Indonesia ingin mencoba ilmu yang baru saja didapat dari temannya yang juga wali, dari India. Ilmu itu disebut sebagai "melipat bumi".
Teman Wali ini memang terkenal sakti. Seluruh biksu di India tidak dapat menandingi kesaktiannya. Bahkan biksu dari Tibet banyak yang masuk Islam setelah kalah bertarung dengan wali ini ini.Ketika berangkat ke Makkah, Wali dari Indonesia nurut temannya dari wali dari India ini. Wali hanya disuruh menggandeng tangannya, lalu tiba-tiba saja "cling", Wali dari Indonesia dan temannya, Wali dari India , sudah berada di Makkah, di atas bukit tempat pertemuan rutin Dan karena kasihan, Wali dari India ini mengijazahkan ilmu melipat bumi kepada Wali dari Indonesia, supaya di acara pertemuan-pertemuan yang akan datang, wali dari Indonesia tidak repot mencari tebengan lagi.Wali dari Indonesia mencoba memejamkan matanya, dan mulutnya mulai berkomat-kamit membaca doa-doa khusus. Tiba-tiba tubuh Wali dari Indonesia terasa dingin. Bumi yang didudukinya terasa seperti es.Wali dari Indonesia membuka matanya. Dan tampak di depannya sebuah bukit yang tertutup es. Lalu Wali dari Indonesia melihat ke bawah. Ternyata, bumi yang didudukinya juga terbuat dari es."Dimanakah aku ini," bicara Wali dari Indonesia.
Setelah shalat sunnah dua rokaat, Wali dari Indonesia pun mulai merapal doanya kembali, dan cling! Maka sampai bertemu dengan Habib pada bab 10 .
Selanjutnya setelah di suruh Habib Ingat perintah Sang Sultan, nak. Setelah sampai ke rumah, segeralah ke gunung Arjuna untuk khalwat di sana". Untuk Setelah beberapa hari di Indonesia, Wali dari Indonesia ini berencana melakukan suluk nyepi ke goa di Gunung Arjuna, sesuai perintah sang Sulthonul Aulia. Wali dari Indonesia mulai berkemas, berangkat ke Gunung Arjuna. Ber pres-pres rokok sudah disiapkan, mulai Dji Sam Soe, Gudang Garam hingga Djarum. Tidak ketinggalan juga kopi satu blek (satu toples besi) dibawanya.Setelah sampai di kaki Gunung Arjuna, Wali dari Indonesia mulai mendaki, mencari goa yang dimaksud sang Sulthonul Aulia. Mulut goa itu ternyata sangat kecil dan tertutup ilalang. Namun dalamnya sangat luas.Di pojok kiri ada sumber mata air. Sementara pojok kanannya ada batu yang menyerupai meja. Mungkin meja itu pernah dipakai untuk shalat oleh seseorang. Barang bawaan Wali dari Indonesia diletakkan di sebelah batu itu, lalu bergegas menuju mata air, mandi dan berwudhu.Ketika mandi, hati Wali dari Indonesia ini tiba-tiba saja memiliki kecepatan berzikir. Pengetahuan ruhaninya pun kian bertambah mendadak. Hatinya berbunga-bunga tanpa dapat dicegah. Nur bashirahnya semakin terang benderang.Setelah berwudhu, Wali dari Indonesia mengerjakan shalat di atas batu yang mirip meja tadi. Saking nikmatnya, tanpa terasa Wali dari Indonesia shalat ratusan rakaat hingga akhirnya tersadar ketika wali dari Indonesia mendengar ayam berkokok, tanda memasuki Subuh.
__ADS_1
Istirahat, Wali Dari Indonesia turun dari batu shalat. Wali dari Indonesia menuju tempat perbekalannya, membuat kopi dan duduk santai sambil merokok. Panci sudah dikeluarkan, dan rokok Dji Sam Soe Reefil sudah disiapkan pula. Namun, ketika mau menyalakan sebatang rokok, Wali dari Indonesia bingung. Koreknya tidak ada, raib. Wali dari Indonesia keluarkan semua isi tas, tapi tetap saja tidak ditemukan.
''Waduh, celaka iki,'' gumamnya, tak ada orang.
Satu blek kopi yang aromanya harum menggoda bersama pres-presan rokok berbagai merk, tergeletak di sampingnya.
''Muspro kabeh iki, kok bisa koreknya gak kebawa," Wali dari Indonesia kesal.
Satu dua hari dilalui Wali tanpa kopi dan rokok. Namun pada hari ketiga, Wali dari Indonesia mulai tidak tahan. Hatinya semeblak (tergoda) ketika melihat kopi dan rokok terkulai tak berguna.
__ADS_1