Serupa Tapi Tak Sama

Serupa Tapi Tak Sama
Bab 21


__ADS_3

Pada waktu wali membaca Surat Al-Fatihah, saat itulah pemuda muda ini kurang puas dengan makhraj bacaan al-Qur’an wali yang dinilainya kurang fasih.Bagaimana mungkin wali, makhraj bacaan Al Fatehahnya saja tidak bagus, bagaimana mungkin aku bisa menjadi muridnya?” guman pemuda muda itu yang berniat mengurungkan niatnya untuk berguru kepada wali.


Setelah itu, pemuda muda itu pergi tanpa permisi. Namun, begitu ia keluar, ia langsung dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Singa itu mengaum dengan kerasnya seperti hendak memangsa pemuda muda tersebut. Karena ketakutan, pemuda muda itu mundur. Akan tetapi di belakangnya juga ada seekor singa padang pasir lain yang menghalanginya. Pemuda muda itu terjebak di tengah-tengah tanpa bisa berbuat sesuatu.Akhirnya, pemuda muda itu menjerit keras karena ketakutan. Begitu mendengar teriakan dari luar, wali segera turun keluar meninggalkan majelisnya. Wali menatap kedua ekor singa padang pasir yang buas itu dan berkata kepada singa-singa itu: “Wahai singa, bukankah sudah aku bilang padamu jangan pernah kalian mengganggu para tamuku.” Sungguh ajaib, kedua singa yang semula terlihat buas itu lalu duduk bersimpuh di hadapan wali.


Sang wali lalu mengelus-elus telinga kedua singa itu dan menyuruhnya pergi. Setelah kedua hewan buas itu benar-benar pergi, pemuda muda itu merasa keheranan. “Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar itu?” tanya pemuda muda.“Anak muda, selama ini aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Bertahun-tahun aku berusaha menata hati hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain. Untuk kesibukanku menaklukkan hatiku ini, Allah SWT telah menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Semua binatang buas di sini termasuk singa padang pasir yang buas itu, semua tunduk kepadaku,” jelas wali.Pemuda muda itu hanya terdiam dengan penuh rasa malu. Namun, di sisi lain ia begitu mengagumi karomah yang dimiliki oleh wali. “Engkau tahu kekuranganmu, wahai pemuda muda?” kata wali. “Tidak wahai guru,” jawab pemuda muda itu.


Selama ini engkau sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, karena itu engkau takut kepada seluruh alam semesta,” jelas wali. Pemuda muda itu akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia menetapkan hatinya untuk menjadi murid wali.


Eeuee bicara  Wali menyusuri jalan, pergi tanpa arah dan tujuan. Dia hanya berjalan dan berjalan, lupa akan makan dan minum. Wali ingin menghindari orang-orang yang mulai tahu kedudukannya. Mulai banyak orang sekarang yang memanggilnya kiai bahkan ada yang terang-terangan menggangilnya wali.Kehidupan Wali sekarang tampak ramai. Ada saja orang yang memerlukan bantuannya, soal jodoh, penglaris atau hanya meminta barokah do'a. Dan yang paling berat adalah jika ada yang meminta diakui sebagai murid. Wali merasa terusik, dia ingin merasakan kehidupan yang dulu yang hanya dikenal sebagai penjual minyak wangi, atau guru pengajar alif ba' ta' di musholla kecilnya.


Dan sekarang banyak orang yang berlomba-lomba hendak membangun mushollanya. Padahal Wali sangat ingin menghindari itu semua. Dia jengah akan semua pujian yang dialamatkan pada dirinya, terutama sejak datangnya malaikat yang mengunjungi baru-baru ini.Wali mulai memasuki hutan belantara. Dia berjalan terus dan berhenti ketika dia melihat di depannya ada sungai. Didekati olehnya bibir sungai, dilihat airnya begitu jernih. Dia menunduk dan mulai membasuh tangan dan mukanya, lalu Wali memperbarui wudhunya. Wali diberi kemampuan oleh Allah selalu dalam keadan suci (punya wudhu) atau bahasa ngaji sak paran-parannya: "da'imul wudhu"

__ADS_1


Setelah wudhu, Wali baru sadar kalau jauh di seberang sana, ada orang itu nampak sedang memancing. Wali mendekati orang itu. Dia merasa orang itu bukan sembarangan. Melihat wajahnya saja, tiba-tiba hati Wali semakin tentram. Wali mau mengucapkan salam tapi kedahuluan orang tersebut.


"Assalamu'alaikum,wali".


"Waalaikum salam, kalau boleh tahu siapakah Anda?" Wali memulai tanya.


"Untuk saat ini namaku F" jawabnya.


Wali terdiam. Dia hanya menunduk memikirkan jawaban orang tersebut. Dan tiba-tiba saja sikap Wali berubah dengan sendirinya tanpa disadari. Wali bersikap seakan mengahadapi gurunya. Wali sampeyan tidak seharusnya menghindari semua itu.


Tapi Wali justru semakin menunduk. Ternyata orang yang sedang memancing ini mengetahui kegalauan dirinya hingga harus berjalan tanpa arah.Wali, menghidari pujian-pujian itu sama saja sampeyan menafikan kekuatan Allah karena sampeyan merasa tidak mampu. Padahal Allah lah yang memberi kekuatan," lanjutnya F. Wali hanya bisa berdiam dan semakin menunduk. Air mata mulai meleleh. "Ingat, La Haula wala quwwata illa billah. Merasa mampu dan merasa tidak mampu itu tidak boleh. Itu bagian dari syirik khofi (samar) bagi orang setingkat sampeyan karena Allah yang memberi kekuatan, Allah meliputi segalanya".

__ADS_1


Wali menangis sesenggukan. Dia yakin orang yang di depannya adalah Nabiyullah Khidir. Dia ingin bersalaman dengannya untuk memastikan. Setelah tangisnya mereda, wajahnya diangkat. Tapi orang yang mengaku bernama F itu sudah hilang dari hadapannya.


Setelah bertemu sosok F, Wali masih terdiam dalam duduknya, masih merenungi ucapan sosok misterius yang menggugah jiwanya itu.


Wali berdiri membersihkan tempat duduknya dan mulai melaksanakan shalat. Setelah salam, Wali berdiri lagi dan melakukan shalat lagi, begitu terus sampai malam kira-kira sekitar jam 9 malam. Wali berhenti dan melanjutkan dengan dzikir dan wirid.


Dia duduk bersila, memusatkan pikirannya, membuang jauh-jauh pikiran tentang dunia, menggerakkan hatinya untuk tetap berdzikir sirr, dan entah berapa lama hal ini terjadi. Tak lama kemudian, Wali merasakan alam di sekitarnya begitu hampa, tidak ada suara. Semuanya jadi hitam gelap gulita. Wali seakan menjadi udara yang hampa dan bergerak mengitari alam yang hitam pekat ini.


Setelah berkeliling, tampak di depannya ada dua sosok manusia yang sedang duduk seperti duduknya orang tahiyyat shalat, dan berdiri di samping mereka sosok berjubah putih yang bercahaya. Lamat-lamat Wali mengenali salah satu sosok yang duduk di depannya tersebut."Tidak salah lagi, beliau adalah Imam Ghazali Mujtahid Islam," batin Wali.Sosok berbaju putih itu melangkah ke depan dan mengucapkan sesuatu kepada benda yang di depannya yang tidak terlihat, "Gusti, bagaimana menurut jenengan terhadap kedua kekasihmu ini, Nabi Musa dan Al-Ghazali," ucapnya.


Lalu ada suara yang mengatakan dari entah:

__ADS_1


"Nabi Musa, dengan ijinku, ia bisa menghidupkan orang yang telah mati. Tapi aku lebih suka terhadap Al-Ghazali karena dengan ijinku pula, ia bisa menghidupkan hati hamba-hambaku yang telah mati. Dia banyak menghilangkan kebodohan dan membuka jalan buat hamba-hambaku untuk lebih mengenalku".


Ketiga sosok itu samar-samar menghilang dari pandangan Wali. Lamat-lamat terdengarlah adzan subuh, sedikit demi sedikit alam mulai terlihat kembali. Setelah shalat, Wali bangkit dan kembali pulang.


__ADS_2