
Hari ini berkumpulnya Jannah muda dan Abcde membahas tafsir surah an nas.
Jannah muda bicara ” قُلْ أَعُوْذُ
“Katakanlah aku berlindung”.
Makna “Permohonan perlindungan” sudah dijelaskan saat kita menafsirkan kalimat isti’adzah. Silahkan dirujuk di Silsilah Materi Tafsir. Di mana hakikat maknanya adalah: “Melarikan diri dari sesuatu yang kau takuti menuju sesuatu yang melindungimu darinya”.
“Katakanlah!”, secara asal perintah ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, namun demikian perintah tersebut juga tertuju kepada para umatnya. Sebab tidak dalil yang menunjukkan bahwa hal itu khusus untuk Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Karena itulah dalam banyak hadits, beliau memerintahkan para sahabatnya untuk memohon perlindungan pada Allah dengan surah ini.
Tiba-tiba datang Jannah tua pun menambahkan dan berbicara
“بِرَبِّ النَّاسِ”
“Kepada Rabb manusia”.
Kata “Rabb” sudah ditafsirkan saat kita membahas ayat kedua dari surat al-Fatihah. Silahkan dirujuk di Silsilah Materi Tafsir. Di mana inti makna “Rabb” adalah: dzat yang terkumpul pada dirinya tiga sifat sekaligus; pencipta (al-khâliq), pemilik/penguasa (al-mâlik) dan pengatur (al-mudabbir).
Abcde bicara Sebagaimana yang diketahui bahwasanya Allah ta'ala Dialah tuhan seluruh alam, adapun maksud dari ayat ini surah an nas ini yang mengatakan Dialah tuhan seluruh manusia padahal Dia tuhan seluruh alam, yaitu sebagai isyarat akan kemuliaan manusia diantara seluruh makhluk, dan peran isti'adzah yang menjadi pelindung ketika syaithon-syaithon membisikkan ke dalam dada manusia.
__ADS_1
Tiba-tiba bcdf datang dan menambahkan .
Bcdf bicara قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ (Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia) Tuhan manusia yakni Dzat yang menciptakan mereka, mengatur urusan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.
Jadi, kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada pencipta, pemilik dan pengatur manusia. Dialah Allah ‘azza wa jalla.
Tiba datang lah Ghi berbicara Dalam Injil Barnabas memang diungkapkan tentang akan datangnya Rasul bernama Muhammad SAW, setelah Nabi Isa. Bab 39 Barnabas: ''Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Allah Tuhan kita... Tiada Tuhan Selain Allah dan dan Muhammad adalah utusan-Nya''.
Masih pada bab 39 yang mengisahkan tentang Nabi Adam, nama Nabi Muhammad SAW juga disebut dalam dialog antara Nabi Adam dengan Tuhan. ''...Apa arti kata-kata, Muhammad utusan Allah, apakah ada manusia sebelum aku?'
Bab 41 Barnabas: "Atas perintah Allah, Mikael mengusir Adam dan Hawa dari surga, kemudian Adam keluar dan berbalik melihat tulisan pada pintu surga 'Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah...''
Bab 97: Yesus menjawab, "Nama Mesias sangat mengagumkan, karena Allah sendiri yang memberinya nama, ketika menciptakan jiwanya dan menempatkannya di dalam kemuliaan surgawi. Allah berkata: 'Tunggu Muhammad; karena kamu Aku akan menciptakan firdaus, dunia, dan banyak makhluk... Siapa pun yang memberkatimu akan diberkati, dan barangsiapa mengutukmuu akan dikutuk..''
Bab 112: Dalam bab ini Nabi Isa (Yesus) bercerita kepada Barnabas bahwa dirinya akan dibunuh. Namun, kata Nabi Isa, Allah aka membawanya naik dari bumi. Sedangkan orang yang dibunuh sebenarnya adalah seorang pengkhianat yang wajahnya diubah seperti Nabi Isa. Dan orang-orang akan percaya bahwa yang disalib itu adalah Nabi Isa. ''Tetapi Muhammad akan datang... Rasul Allah yang suci,'' kata Nabi Isa. Nama Nabi Muhammad juga disebut pada Bab 136, 163, dan 220. Injil Barnabas "mengakui" kedatangan Islam dan Nabi Muhammad SAW, namun skeptisisme tetap muncul karena kontradiksinya dengan Alquran. "Sebab, sebagian besar studi tentang kitab ini menyatakan Injil Barnabas hanya kembali ke 500 tahun yang lalu. Sementara, Alquran telah ada sejak 1400 tahun silam,".
Jkl bicara Memohon Perlindungan Melalui Perantara Nama-Nya
Dalam surat ini terkandung permohonan perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan bertawasul (menggunakan perantara) dengan tiga nam-Nya yang mencakup tiga makna keyakinan tauhid kepada Allah secara sempurna. Yaitu tauhid rububiyah, asma wa sifat dan uluhiyah. Ketiga jenis tauhid ini diwakili oleh asma-asma Allah subhanahu wa ta’ala
__ADS_1
Jannah muda bicara Ar-Rabb, Al-Malik dan Al-Ilaah
Ar-Rabb dalam kata ِرَبِّ النَّاسِ (Tuhan Manusia) bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pengatur dan pemberi rezeki seluruh umat manusia. Tentunya Allah subhanahu wa ta’ala bukan hanya Rabb atau Tuhannya manusia, namun juga seluruh Alam semesta ini beserta isinya. Pengkhususan penyebutan Rabb manusia di sini adalah untuk menyesuaikan dengan pembicaraan. Menauhidkan Allah pada hal tersebutlah yang dimaksud dengan tauhid rububiyah. Seseorang yang memiliki keyakinan bahwa wali-wali tertentu dapat mengabulkan permohonan berupa harta, jodoh atau anak maka dia telah menyekutukan Allah dalam rububiyah-Nya.
Bcde menambahkan Al-Malik adalah salah satu dari asmaul husna yang bermakna pemilik kerajaan yang sempurna dan kekuasaan yang mutlak. Sedangkan penyebutan kata Ilahinnaas (sembahan manusia) di sini adalah untuk menegaskan Allah adalah yang seharusnya disembah oleh manusia dengan berbagai macam peribadatan.
Abcde menambahkan ibadah itu ada dua jenis yaitu zhohir dan batin. Yang zhohir misalnya adalah sholat, do’a, zakat, puasa, haji, nazar, menyembelih qurban dan lain sebaginya. Sedangkan yang batin letaknya di dalam hati, seperti khusyu’, roja’ (pengharapan terhadap terpenuhinya kebutuhan), khouf (takut yang disertai pengagungan), cinta dan lain sebagainya. Barang siapa yang meniatkan salah satu dari ibadah-badah tersebut kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Siapa yang sujud kepada kuburan Nabi dan para wali atau yang lainnya, maka dia telah berbuat kesyirikan, siapa yang tawakalnya kepada jimat maka dia telah syirik.
Ghi menambahkan Dengan beribadah manusia dapat merefleksikan bahwa Allah benar-benar sedang menyatakan diri kepada umat-Nya atau Ibadah merupakan jawaban manusia terhadap panggilan ilahi melalui suatu persekutuan atas tindakan Allah yang penuh kuasa yang berpuncak pada pendamaian dengan Kristus. Melalui ibadah manusia mengaminkan bahwa sebagai umat yang berdosa membutuhkan kelepasan. Ibadah merupakan pendamaian Allah dalam Kristus melalui Roh-Nya dengan manusia sehingga manusia yang sudah jatuh dalam dosa mau berbalik kepada Tuhan. Jadi, bukan manusia yang berinisiatif untuk datang kepada Allah tetapi Allah-lah yang bekerja melalui Roh-Nya. James F. White, Hlm. 9 dan Hlm. 10.
Jannah muda menambahkan
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ
Abcd menambahkan artinya Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Jannah tua menambahkan takhrij hadits
Imam al-Bukhari telah mengeluarkan hadits ini (di dalam Shahih-nya) pada Abwabul Umrah (bab-bab tentang umrah), yaitu pada Babu Wujubil Umrah wa Fadhliha (bab tentang wajibnya umrah dan keutamaannya), nomor 1773.
__ADS_1