
Jannah muda menambahkan
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ
Abcd menambahkan artinya Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Jannah tua menambahkan takhrij hadits
Imam al-Bukhari telah mengeluarkan hadits ini (di dalam Shahih-nya) pada Abwabul Umrah (bab-bab tentang umrah), yaitu pada Babu Wujubil Umrah wa Fadhliha (bab tentang wajibnya umrah dan keutamaannya), nomor 1773.
Jannah muda menambahkan Takhrij hadits Imam Muslim (di dalam Shahih-nya pula), nomor 1349, dari jalan Sumayy budak Abi Bakar bin Abdurrahman, dari Abu Shalih as-Samman, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, secara marfu’ (sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam).
Abcde menambahkan Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Jannah muda menambahkan Dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (1:61) Hadits ini dikatakan oleh Imam Ahmad sebagai salah satu hadits pokok dalam agama kita (disebut ushul al-islam). Imam Ibnu Daqiq Al-‘Ied dalam syarhnya (hlm. 27) menyatakan bahwa Imam Syafi’i mengatakan kalau hadits ini bisa masuk dalam 70 bab fikih.
__ADS_1
Abcde menambahkan Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad. Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi'I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi'i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama' mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.
Jannah muda menambahkan Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh 'Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa'id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa'id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.
abcde menambahkan tentang hadits Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa ada seseorang yang ingin melamar seorang wanita. Wanita itu bernama Ummu Qais. Wanita itu enggan untuk menikah dengan pria tersebut, sampai laki-laki itu berhijrah dan akhirnya menikahi Ummu Qais. Maka orang-orang pun menyebutnya Muhajir Ummu Qais. Lantas Ibnu Mas’ud mengatakan, “Siapa yang berhijrah karena sesuatu, fahuwa lahu (maka ia akan mendapatkannya).” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 1:74-75. Perawinya tsiqah sebagaimana disebutkan dalam Tharh At-Tatsrib, 2:25.
Jannah muda menambahkan Namun Ibnu Rajab tidak menyetujui kalau cerita Ummu Qais jadi landasan asal cerita dari hadits innamal a’malu bin niyyat yang dibahas. Namun tentu hijrah bukan karena lillah, cari ridha-Nya, maka tidak dibalas oleh Allah.
Jannah tua menambahkan
مَلِكِ النَّاسِ”
Walaupun di antara manusia ada raja-raja lain, hanya saja raja yang tertinggi adalah Allah tabaraka wa ta’ala.Kepemilikan Allah akan sifat-sifat agung raja. Berupa kesempurnaan kekuatan, kemuliaan, kemampuan, pengetahuan yang mencakup segala sesuatu, kebijaksanaan terbaik dan keinginan yang selalu terealisasikan.Seluruh makhluk merupakan hamba Allah ta’ala. Mereka semua membutuhkan-Nya dalam setiap urusan. Tidak ada seorangpun yang mampu keluar dari kekuasaan-Nya. Dan tak ada satu makhlukpun yang tidak memerlukan karunia-Nya.Allah memiliki aturan yang pasti berjalan. Dia melakukan apapun di kerajaan-Nya sekehendak-Nya. Tidak ada yang bisa menghalangi keputusan-Nya. Meski demikian walau Allah menentukan dan berbuat apapun sekehendak-Nya, namun Dia senantiasa berbuat adil dan tidak pernah menzalimi para hamba-Nya.
Abcde menambahkan إِلَٰهِ النَّاسِ
Dzat yang disembah manusia dengan sebenar-benarnya, dan nama Tuhan itu hanya dikhususkan untuk Allah SWT, dan tidak ada satupun sekutu bagiNya. Ini adalah tiga sifat Allah, yaitu Rububiyyah, Malik, dan Uluhiyyah (Mendidik, Merajai dan Menjadi Tuhan).
Jannah muda menambahkan Inil adalah sifat ketiga yang disebutkan dalam surah ini, "Al-Ilah" berarti : "Al-Ma'bud" yang disembah, dan "Al-Ma'bud" terbagi menjadi dua bagian : Sembahan yang haq, dan ini hanyalah milik Allah - عز وجل - semata. - Sembahan yang bathil, yaitu sembahan selain Allah - عز وجل - dari sembahan-sembahan kaum musyrikin, dan mereka juga berasal dari manusia atau benda-benda mati tak bernyawa. Jadi dalam surah ini disimpulkan ada tiga macam dari pembagian tauhid : "Rabb" dan "Al-Malik" dan "Al-Ilah".
__ADS_1
Jannah tua menambahkan
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
(Dari kejahatan bisikan) setan; setan dinamakan bisikan karena kebanyakan godaan yang dilancarkannya itu melalui bisikan (yang biasa bersembunyi) karena setan itu suka bersembunyi dan meninggalkan hati manusia bila hati manusia ingat kepada Allah.
Abcde menambahkan
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ (Dari kejahatan (bisikan)) Yakni setan. الْخَنَّاسِ (syaitan yang biasa bersembunyi) Jika nama Allah disebut setan akan bersembunyi dan mengecil, namun jika tidak disebut nama Allah maka ia akan membesar dan melakukan bisikannya.
Jannah muda menambahkan
{الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ, مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ} Allah ta'ala bertanya macam-macam bisikan, bahwasanya bisikan apa yang datang dari jin dan manusia; Karena sungguh tanpa disadari manusia selalu menyangkal bisikan yang buruk dari syaithon, tetapi hakikatnya itu dari manusia, bahkan menyangkal bisa menjadi perkara yang lebih berbahaya, maka layaklah manusia memohon bantuan dari bisiskan-bisikan itu, karena itu saling berhubungan , dan bahwasanya mereka untuk pintu kesesatan lebih dekat dan lebih mungkin.
Bcdf menambahkan {مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ Dari} dialog (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,} {الْوَسْوَاسِ} "Waswaas" dengan baris fathah pada huruf "و", kata syaithon yang membisikkan, kata kas kas kas kas kas kas kas kas kas kas kas "pertama adalah bisikan / keraguan dalam hati. {الْخَنَّاسِ} Yang menghindar atau luput, syaithon jika disebut nama Allah dia akan menghindar dan melarikan diri, dan jika nama Allah tidak dapat membuka dia akan datang membisikkan dihati-hati manusia, syaithon membiskkan ditelinga dan hati manusia agar dapat dilihat dzikir untuk Allah - عز وجل -,
Jannah tua menambahkan مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (dari (golongan) jin dan manusia) Setan dari jenis jin membisikkan ke dada manusia, sebagaimana telah dijelaskan; sedangkan setan dari jenis manusia, maka ia membisikkan ke dada manusia dengan menampakkan diri sebagai orang yang menasehati dan mengasihinya, sehingga perkataannya dapat masuk ke dalam hati. Dikatakan bahwa Iblis juga membisikkan godaannya ke dalam dada manusia. Ibnu Abbas berkata: tidaklah seseorang dilahirkan melainkan dalam hatinya terdapat setan; jika ia berzikir kepada Allah maka setan itu akan bersembunyi, namun jika ia lalai dari zikir maka ia akan kembali membisikkan.”
Bcdf menambahkan Dari jin dan manusia, ayat ini menjelaskan pengertian setan yang menggoda itu, yaitu terdiri dari jenis jin dan manusia, sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat lainnya, yaitu melalui firman-Nya, "yaitu setan-setan dari jenis manusia dan dari jenis jin." (Q.S. Al-An'am, 112) Atau lafal Minal Jinnati menjadi Bayan dari lafal Al-Waswaasil Khannaas, sedangkan lafal An-Naas di'athafkan kepada lafal Al-Waswaas. Tetapi pada garis besarnya telah mencakup kejahatan yang dilakukan oleh Lubaid dan anak-anak perempuannya yang telah disebutkan tadi. Pendapat pertama yang mengatakan bahwa di antara yang menggoda hati manusia adalah manusia di samping setan, pendapat tersebut disanggah dengan suatu kenyataan, bahwa yang dapat menggoda hati manusia hanyalah bangsa jin atau setan saja. Sanggahan ini dapat dibantah pula, bahwasanya manusia pun dapat pula menggoda manusia lainnya, yaitu dengan cara yang sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka sebagai manusia. Godaan tersebut melalui lahiriah, kemudian merasuk ke dalam kalbu dan menjadi mantap di dalamnya, yaitu melalui cara yang dapat menjurus ke arah itu. --- Wallahu A'lam - Akhirnya hanya Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.
__ADS_1