
...Bab 00. Pemuda yang ingin menjadi Hunter....
Dungeon adalah terowongan yang menghubungkan dunia lain dan bumi.
Sepuluh tahun yang lalu.
Setelahnya kemunculan Dungeon, di dunia banyak kejadian aneh yang diluar nalar manusia.
Salah satunya, Hunter. Seseorang yang mendapatkan kemampuan khusus dari kejadian fenomena Dungeon.
Namun, dengan kemampuan itu para Hunter memasuki Dungeon untuk menaklukkan dan mengambil sumber daya nya.
Meski begitu, didalam Dungeon masih terdapat nasib buruk, keputusasaan dan monster gila Yang datang entah dari mana.
Selain itu, sejak ada nya Dungeon. Sebuah bencana baru terjadi yang mana monster yang ada didalam Dungeon keluar dari Dungeon nya dan menyerang warga sipil di bumi. Bencana itu pun dinamakan ...
Dungeon Break.
Semua umat manusia berbondong-bondong untuk menjadi Hunter karena hasil dari pekerjaan itu sangat lah mengiurkan apalagi pemerintah dunia menawarkan gaji yang besar kepada mereka.
Dari semua Hunter itu ada para Hunter elit bahkan ada Hunter yang terkuat yakni
Rizal Purnomo yang mana dia Hunter Rank S namun, dia tidak memiliki atau bergabung dalam Guild meski begitu, dia penguasa dan pemilik dari Tower Of Trial di Metropolis Jakarta, New Indonesia.
Serta beberapa Guild kelas atas di New Indonesia seperti Guild Garuda, Wijaya Kusuma dan Nusantara.
Dan, era pun berubah menjadi Era Dungeon dan Hunter.
Lepas dari banyak nya orang-orang hebat, ada seorang pemuda yang masih dirundung kemalangan.
Dia bernama Bima Arya.
Seorang pemuda 19 tahun yang dibesarkan oleh Ibu Rosa di panti asuhan Mentari yang berada di Malang, New Indonesia.
Menurut Ibu Rosa, salah satu dari orang tuanya menaruh diri Bima di depan pintu panti ditengah malam.
Pada saat itu, Bima berumur 2 tahun. Tangisannya menganggu para penghuni panti termasuk Ibu Rosa sendiri.
Saat melihat kehadiran Bima yang tiba-tiba, Ibu Rosa dan karyawan nya mencoba mencari seseorang yang telah membuangnya namun, mereka tidak berhasil.
Lalu, Ibu Rosa yang merasa iba kepada Bima, dia pun memutuskan untuk membesarkan nya dan di selimut yang digunakannya ada sepucuk surat berisikan nama Bima Arya beserta tempat tanggal lahirnya.
Waktupun terus berlalu, Bima sudah berumur 19 tahun dan baru saja lulus sekolah menengah atas.
Kehidupan sekolah nya biasa saja tidak ada yang istimewa.
Peringkat biasa.
Teman hanya sedikit.
Dan tidak punya pacar.
Bagaimana Bima bisa punya pacar? Uang jajan nya dibawah rata-rata dan kesehariannya membantu panti mengurusi adik-adik nya.
Hingga suatu hari Ibu Rosa memanggil Bima dan mereka berbicara empat mata di kantor administrasi.
“Bima, kamu masih mau menjadi Hunter?” tanya Ibu Rosa.
Ibu Rosa mengajukan pertanyaan itu dikarena kan Bima sebelum nya sudah meminta kepada Ibu Rosa setelah dirinya lulus sekolah, Bima ingin menjadi Hunter untuk membantu mendanaan Panti Asuhan.
Pemikiran itu bukan tidak ada alasan karena beberapa tahun ini donator semakin berkurang sedangkan, Panti Asuhan Mentari masih harus mengasuh 25 anak dengan berbagai usia bahkan ada yang masih bayi yang baru datang beberapa minggu yang lalu.
Melihat situasi itulah menambah kuat untuk Bima menjadi Hunter dan tidak ingin membebani Ibu Rosa lagi.
“Iya, Bu. Saya ingin hidup sendiri.”
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu. Ambilah ini!” ucap Ibu Rosa sambil memberikan amplop panjang.
“Ini apa bu? Tidak usah, Ibu sudah memberikan saja Gaji beberapa hari yang lalu, Saya rasa cukup.”
“Bima, jangan begitu! ini pemberian dari ibu sendiri dengan perjanjian kamu harus jadi pria yang baik dan tidak boleh malas. Kamu mengerti?” ucap Ibu Rosa yang masih tetap memaksa.
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Bima pun memutuskan untuk menerimanya amplop panjang tersebut.
"Oiya, kamu mau berencana ingin pergi ke mana?" tanya Ibu Rosa.
"Metropolis Jakarta, saya ingin ikut program Awakening. Jika beruntung mendapatkan skill yang bagus, aku bisa menjadi Hunter yang kuat."
“Begitu, Tunggu! Ibu punya kenalan disana dan dia punya rumah yang disewakan. Ibu juga tidak tahu apa sudah diisi atau belum. Tapi, tidak ada salahnya mencoba kesana.”
“Iya, Bu.”
Seusai mengatakan itu, Ibu Rosa mengambil kertas dan menuliskan alamat kenalannnya tersebut lalu, memberikannya kepada Bima.
Sesudah nya, Bima kembali ke kamar dan mengemasi pakaian yang bawanya. Setelah selesai mengemas, Bima kembali ke Ibu Rosa untuk berpamitan.
“Ibu, saya pergi dahulu,” ucap Bima sambil mencium tangan Bu Rosa.
“Iya, Nak. Hati-hati pekerjaan seorang Hunter sangat lah berbahaya!” jawab Ibu Rosa sambil mengelus-ngelus kepala Bima.
Bima pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum seraya berkata. "Iya, Bu."
Tidak hanya Ibu Rosa, beberapa anak panti juga merasa berat dengan kepergiannya namun, Bima mengatakan bahwa saat liburan panjang sesekali dia akan pulang dan berjanji untuk tetap berkomunikasi dengan mereka. Setelah itu, mereka pun menjadi tenang.
Sesudah itu, Bima pun pergi meninggalkan rumah panti asuhan Mentari ke Jakarta. Sebuah kota asing baginya, Bima pergi kesana dengan mengunakan kereta.
Tidak mungkin bagi dirinya untuk mengunakan pesawat karena uang tabungan dan uang pemberian dari Ibu Rosa yang kira-kira sekitar 3 juta rupiah lantaran Bima akan gunakan uang ini untuk biaya hidup dan uang sewa.
Meski begitu, Bima masih belum paham hingga akhirnya. Dia memanggil ojek yang berpakaian hijau sedang memarkirkan motor nya.
“Pak!” sapa Bima.
“Iya, Mas. Anda ingin naik ojek?” tanya supir ojek.
“Iya, saya ingin ke alamat ini!” ucap Bima sambil menunjukan kertas kepada supir ojek tersebut.
Supir Ojek itu pun merespon baik dan dia mengetahui tempat yang tertulis, “Oh, ini aku tahu. Baik, Mas. Silahkan pesan saja lewat aplikasi!”
Saat mendengar itu, Bima menatap heran. “Aplikasi?”
“Iya, Mas. Saya Ojek Online jadi, Mas harus memesan saya lewat aplikasi,” jawab supir Ojek.
Bima pun mengambil pemikiran bahwa aplikasi yang dimaksudkan itu, seseorang harus mengunakan smartphone namun, dia masih mengunakan ponsel lipat.
“Maaf, Mas. Saya tidak mempunyai smartphone. Apakah bisa saya langsung membayar saja tanpa aplikasi?” tanya Bima.
“Boleh saja tapi sedikit lebih mahal. Tidak apa-apa?” tanya supir Ojek.
“Iya. Tidak apa-apa.”
Lalu, supir ojek menawarkan biaya 250 ribu. Bima pun tidak mempermasalahkannya karena ini resiko bahwasannya Bima tidak memiliki ponsel smartphone dan dia pun menaikinya.
Beberapa menit kemudian, tibalah Bima di salah satu perumahan di Metropolis Jakarta dan laju motor terhenti dirumah tingkat serta memiliki halaman yang luas.
“Disini, Mas!” ucap supir Ojek.
“Iya.”
Bima pun turun dan memberikan ongkosnya, “Terima kasih.”
__ADS_1
“Sama-sama,” jawab supir ojek sambil melajukan motor diarah berlawanan.
Setelah itu, Bima pun menghampiri rumah yang tertulis di kertas.
“Permisi!” ucap Bima sambil menekan tombol bel disisi pagar.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita dewasa keluar dari pintu dan melihat kearahnya.
“Siapa ya?” tanya wanita dewasa tersebut.
Bima melihat Ibu itu dan menjawabnya, “Saya Bima, Bu. Dari Panti Asuhan Mentari.”
“Ohhh, jadi kamu!” ucap Ibu itu sambil tersenyum dan menghampiri Bima.
“Iya, Bu. Saya disuruh ibu Rosa untuk menemui Ibu.”
Ibu itu membuka pagar dan menjawab, “Iya. Ya. Rosa itu sahabatku waktu SMA. Saya Lani, panggil saja Ibu Lani. Anak Asuh Rosa berarti anak ku!”
“Iya, terima kasih. Bu Lani.”
“Jadi, kamu mau mampir dulu atau langsung ke rumah tempat yang ingin kamu tinggal?” tanya Ibu Lani.
“Saya tidak ingin merepotkan. Jadi, langsung saja kesana. Bu!” jawab Bima.
“Begitu, baiklah. Tunggu sebentar! Ibu akan ambilkan kuncinya,” ucap Bu Lani dan masuk kembali ke rumahnya.
“Baik, Bu.”
Beberapa saat kemudian, Bu Lani keluar lagi dengan mengenakan jaket, “Ayo, nak Bima! Rumahnya tidak jauh dari sini!”
“Iya, Bu!”
Bima dan Bu Lani pun berjalan ke rumah yang ditunjukan oleh Bu Lani. Selama perjalanan, Bu Lani disapa oleh banyak orang sepertinya Bu Lani orang yang terpandang di perumahan ini. Perjalanan kami pun terhenti disalah satu rumah putih yang memiliki halaman yang luas tapi, rumbut dan ilalang sudah tinggi, cat sudah memutar serta lantai garasi sudah banyak yang bolong. Itu benar-benar rumah lama dan sudah lama juga tidak berpenghuni.
“Disinilah, rumahmu! Maaf, rumah yang ditunjukan ibu Rosa sudah terisi tapi, Ibu hanya memiliki rumah ini. Maaf ya, Nak!” ucap Ibu Lani.
“Tidak apa-apa. Jika dibereskan juga nanti terlihat seperti rumah pada umumnya.”
“Jadi kamu mau, baiklah. Ibu akan membebaskan uang sewa asalkan kamu mau merawat rumah ini!” ucap penawaran Ibu Lani.
“Benarkah, terima kasih. Bu. Tapi, kemana pemilik sebelumnya?!”
“Setahun yang lalu, rumah ini berubah menjadi Dungeon dan membunuh semua pemiliknya meski para monster nya sudah dikalahkan oleh Hunter Rizal namun, sudah terlambat. Penghuni nya sudah terbunuh oleh monster. Ibu merasa prihatin dengan tragedi itu maka dari itu, Ibulah yang mengajukan diri untuk mengurus rumah ini namun tetap saja semua warga masih enggan bahkan tukang rumput dan sampah tidak ada yang mau mengurusnya. Iya menurut mereka sih sering terdengar suara aneh dan dikenal Angker. Jadi, bagaimana kamu mau, Bima?”
“Iya, Bu. Tidak masalah. Aku juga tidak begitu percaya dengan hal-hal seperti itu.”
“Oh, begitu. Ibu senang mendengarnya. Ayo kita masuk!” ucap Bu Lani.
Mereka pun masuk kedalam rumah itu bahkan beberapa warga ada yang melihat kami namun, mereka tidak mempedulikannya. Mereka pun masuk kedalam rumah dan disana masih ada beberapa prabot yang ditutup oleh kain putih.
“Jadi, inilah rumah barumu! Dan, sudah lengkap dengan perabotnya. Jadi, kamu bebas mengunakan prabot semua ini dan semua ruangan tapi ingat! Harus tetap kamu jaga!” ucap Bu Lani.
“Baik, Bu!”
“Yasudah, kuserahkan rumah ini kepadaku dan Maaf, ibu harus tinggal dahulu karena masih banyak pekerjaan rumah. Biasalah ibu-ibu!” ucap Ibu Lani.
“Iya, Bu. Terima kasih banyak.”
Setelah itu, Bu Lani meninggalkan Bima di rumah kosong tersebut.
“Baiklah, sekarang waktunya bersih-bersih.”
Inilah rumah Bima yang baru semoga semuanya baik adanya …
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1