
...Bab 08. Kesepakatan, Laporan Alpha dan Pertemanan....
"Tidak. Aku ambil kedua nya."
Sikap Bima itu membuat Pak Rendy terkejut dan sontak melihat Bima yang mana memiliki wajah yang sama dengan sosok Bima yang duduk dihadapan nya.
Melihat kemiripan Bima dengan Beta membuat Pak Rendy benar-benar terbujur kaku dan dia sama sekali tidak terpikir bahwa itu kemampuan dari Klon.
"Apakah kalian kembar?"
Mendengar pertanyaan itu, Bima pun tertawa.
"Hahaha ... Ya, masuk akal. Jika, pak Rendy berpikir kami kembar." Bima pun memegang bahu Beta. "Pemuda yang duduk bersama bapak ini adalah kloningan ku. Mungkin, bapak pernah melihat skill yang sama namun, itu hanya ilusi akan tetapi, yang ini mirip 90 persen mirip asli nya. Sebenarnya ada satu lagi namun, aku menyuruh nya untuk melakukan sesuatu."
"Seperti apa?" tanya pak Rendy.
"Berolahraga."
"Apa olahraga? Apa klon juga bisa membentuk otot?" tanya heran Pak Rendy.
"Iya, Jika klon ku bertambah kuat maka aku juga akan bertambah kuat."
"Bahkan mampu meningkatkan kemampuan klon ... Itu sangat mengagumkan."
Lalu, Bima melepaskan pegangannya terhadap Beta dan mengambil kursi. Setelah itu, duduk dan melanjutkan pembicaraannya
"Jadi, kembali ke topik awal. Apakah tidak masalah jika ada dua orang yang memasuki ditempat yang berbeda dengan waktu yang sama?"
"Tidak masalah. Aku akan membantu anda. Namun, berikan waktu untuk mengurus nya."
"Baiklah, tidak masalah. Terimakasih," jawab Bima.
"Kalau begitu, kita akan bertemu lagi di 2 hari kedepan!" Lalu, Pak Rendy bangkit berdiri dan memberikan tangan kanan nya. "Aku tunggu kerjasamanya!"
"Aku juga, mohon kerjasama!"
Lalu, Bima dan Pak Rendy pun saling bertukar senyum.
Seusai kesepakatan itu, Bima dan Beta pulang kerumahnya. Lalu, setibanya disana ... Alpha juga baru pulang dari Dungeon house yang mana dia mengenakan jubah naga, sepatu angin, gelang kekuatan bahkan cincin penyimpanan.
"Aku pulang," sapa Alpha.
Bima yang sedang berada makan bersama Beta di ruang makan sontak menyambut nya.
"Selamat data-"
Ucapan Bima terhenti saat melihat jubah nya penuh dengan darah monster dan badan nya sangat bau.
"Alpha ... seperti nya kamu harus mandi dahulu!"
"Baik, Tuan."
Lalu, Alpha melepaskan pakaian nya dan pergi ke kamar mandi. Melihat pakaian kotor yang ditaruh dilantai oleh Alpha. Bima pun terpikir ...
"Daripada mencuci pakai tangan, apakah lebih baik aku membeli mesin cuci baju ya? Mungkin, besok aku akan mencari nya."
Bima pun meletakkan jubah naga di ember pakaian kotor dan membiarkan nya.
Tak lama kemudian, Alpha sudah selesai mandi dan Bima pun mengajaknya makan. Seperti biasa kelakuan para klon, saat Bima memberikan makanan mereka sontak memakan dalam satu suapan tanpa menguyah nya terlebih dahulu.
Melihat kelakuan mereka, Bima pun menjadi sedikit kesal. "Hei, bisakah kalian makan lebih pelan?!"
__ADS_1
Meski sudah diperingatkan, Alpha dan Beta masih makan dalam satu suapan hingga Bima putus asa untuk mengajarkan mereka sampai-sampai makanan diatas meja habis dalam hitungan detik.
Lalu, Bima memulai pembahasan nya.
"Baiklah, Alpha. Sekarang, bagaimana penjelajahan mu?"
"Iya ..."
Alpha pun menjelaskan tentang diri nya yang menelusuri Dungeon House yang mana dirinya masih berhadapan dengan Goblin sampai-sampai Alpha berhasil membawa 50 kuping dan inti kristal kecil di cincin penyimpanan nya.
Bima yang mendengar itu, dia geli sendiri saat membayangkan nya. "Hah? 50 kah? Mendengar nya saja sudah membuatku muntah," batin Bima.
Lalu, Bima melanjutkan mendengarkan cerita dan mengakhiri nya saat Alpha menemukan pintu besar.
Bima pun menduga sesuatu, "Mungkin kah itu ruangan bos?"
Alpha dan Beta yang mendengar itu, mereka memiringkan kepalanya seakan-akan menjawab "Tidak tahu."
Sesudah itu, Bima mengembalikan Alpha dan Beta ke jiwa nya. "Cancel Clone."
Dan, Bima mendapatkan beberapa pemberitahuan.
Ding!
[Strength telah meningkat 0,5.]
[Vitallity telah meningkat 0,6.]
[Agility telah meningkat 0,3.]
[Skill Regenerasi telah meningkat ke Rank D.]
Setelah nya, Bima merapihkan rumah dan mencuci piring kotor. Lalu, ditengah itu perut nya berbunyi.
"Ah? Seperti nya perut ku masih memanggil," gumam Bima seraya memegang perut nya.
Karena hal itu, seusai membersihkan piring. Dia pergi keluar untuk mencari makanan.
Setelah beberapa langkah keluar rumah disana ada tukang nasi goreng yang sedang mangkal juga beberapa pembeli sedang makan disana.
Melihat tidak ada tukang makanan lagi, Bima pun memutuskan untuk membeli nasi goreng.
"Pak, nasi goreng spesial nya satu!"
"Pedas atau tidak?" tanya tukang nasi goreng.
"Sedang saja."
"Makan disini atau dibungkus?" tanya tukang nasi goreng lagi.
"Makan disini saja."
Bima berpikir seperti itu karena malas untuk mencuci piring lagi.
"Iya, Mas. Silahkan duduk!" seru tukang Nasi goreng.
Bima pun duduk di kursi yang kosong didamping dua pemuda yang seumuran dengan nya. Satu berwajah oriental dan satu berbadan besar, kulit hitam dan berambut kribo sedang menyantap nasi goreng dan berbincang satu sama lain. Mereka terliha seperti teman dekat.
Ditengah Bima duduk, pria berkulit hitam menyapa nya.
"Hei bro, lu yang baru pindah di rumah angker itu ya? gak takut apa?" tanya pria berkulit hitam sambil menyantap makanannya
__ADS_1
"Iya, saya baru pindah dua hari yang lalu disana dan tidak ada apa-apa disana."
Kata Lu dan Gua sudah tidak asing bagi nya karena sering menonton sinetron dan film New Indonesia di panti.
Saat Bima menjawab itu, pria oriental menyambung pembicaraan Bima.
"Oiya, sejak lu tinggal disana. Gak ada lagi suara aneh-aneh," ucap pria oriental.
"Benar banget tuh, bro." jawab pria berkulit hitam.
"Oh, begitu. ya. Syukurlah dan ngomong-ngomong, saya Bima Arya," ucap perkenalanku sambil memberikan tangan.
"Wua, keren sekali namamu, bro. Kaya nama gubernur Bogor aja dan Gua Baim. Orang terganteng disini," ucap pria berkulit hitam bernama Baim dan menerima tanganku.
"Hehehe, iya."
Tidak lama Baim melepaskan tangan Bima karena temannya ingin berkenalan.
"Kalo gue Stephen," ucap Pria oriental yang berjabat tangan dengan Bima.
"Bima."
Sesaat kemudian, Stephen melepaskan tangannya.
"Hei, Bima. Lu tau gak Stephen itu ibunya Jawa dan bapaknya cina jadinya begitu dah kulit coklat mata sipit," ledek Baim.
"Yeee, daripada lu. Batak tapi gak keliatan secuil pun," balas Stephen.
"Yeee," balas Baim.
Melihat sikap mereka membuat Bima tersenyum.
"Oiya, Stephen. Kamu asli Jawa mana. Kalau Saya di malang."
"Ibu gua asli Madiun tapi, udah lama disini dan jarang pulang kampung itu juga sih," jawab Stephen.
"Bima, kenapa sih lu pake Saya, kamu kaya yang pacaran aja. Santai aja bro, ke kita pake gua lu?!" ucap Baim.
"Sepertinya tidak bisa, Saya sudah terbiasa seperti itu."
"Udah, udah Bima. Gak perlu di dengerin bacotan dia. By the Way, Lu punya Insta, Facbok Dan WA?" tanya Stephen.
"Saya hanya punya WA."
"Oke, catat nomor kita. Kali aja butuh apa-apa gitu," ucap Stephen.
"Iya."
"Catat nomor Gua juga," sambung Baim.
Lalu, Bima, Baim dan Stephen saling bertukar nomor.
"Sudah."
"Oiya, kalo butuh apa-apa? bilang ke kita ya. Kita siap bantu, iya gak Im?!" ucap Stephen.
"Oh, iya tentu. Kita kan sudah jadi tetangga harus saling tolong menolong," jawab Baim.
"Iya, terima kasih."
Tidak lama, nasi goreng Bima pun siap dan dia menyantap nasi goreng tersebut.
__ADS_1
Sejak itu, mereka bertiga saling mengobrol dan berbincang-bincang.
Sebagai tanda pertemanannya, Bima yang membayarkan nasi goreng yang mereka santap.