
...Bab 01. Rumah baru....
Rumah tua yang cukup luas untuk tinggal seorang diri meski begitu, Bima bersyukur karena Ibu Lani seorang yang baik bahkan dia melepaskan uang sewa rumah ini.
"Mendapatkan tempat tinggal gratis, kenapa aku harus menolaknya?" batin Bima saat mendapatkan rumah yang berantakan.
Beberapa saat Ibu Rosa meninggalkan rumah, Bima pun langsung bergegas membersihkan rumah dan secara kebetulan, peralatan tukang di rumah ini masih layak pakai seperti parit, cangkul, alat pel, sapu dan lain-lain.
Maka dari itu, dia memutuskan untuk mengerjakan pembersihan rumah dan halaman.
Hal ini Bima biasa lakukan di Panti. Selain itu, dia sudah lama tidur di kereta dan sudah makan jadi tidak masalah baginya untuk langsung bekerja.
Pertama yang Bima lakukan ialah melepaskan semua kain putih, menyapu serta membersihkan sarang laba-laba setelah itu, mengepel lantai.
Selanjutnya, Bima mengambil parit dan memangkas semua rumput dan ilalang.
Pada saat itu, ada beberapa orang yang lewat, mereka hanya memberikan senyuman dan anggukan kepala kepadanya.
Meski, ini diperumahan namun para tetangga cukup ramah.
Pekerjaan pemangkasan dibutuhkan waktu dua jam sampai benar-benar rapi. Langit pun tanpa terasa akan menjadi gelap dan awan sudah berubah orange.
"Syukurlah, aku menyelesaikan semuanya sebelum malam," gumam Bima seraya mengusap keringat nya dengan handuk kecil yang ditaruhnya pada pundak nya.
Seusai itu, dia melakukan pekerjaan terakhir dari pembersihan nya yakni membakar sampah.
Ditengah itu, Ibu Lani mengunjungi Bima dengan membawa rantang dan air mineral yang besar.
“Kerja mu cepat juga, Nak Bima!” puji Ibu Lani seraya melihat sekitar nya.
“Tidak juga, Bu. Saya terbiasa mengerjakan di Panti.”
“Yasudah istirahat dahulu. Ibu bawa makanan dan minum untuk mu,” ucap Ibu Lani.
“Iya, terima kasih, Bu!”
__ADS_1
Seusai itu Ibu Lani masuk ke rumah dan aku pun juga masuk kedalam. Ibu Lani melihat sekeliling rumah dengan wajah yang tersenyum dan menaruh rantang yang dibawanya keatas meja makan.
“Kamu memang benar-benar anak yang rajin, Nak Bima," puji Ibu Lani lagi kepada Bima.
Bima pun hanya tersenyum meresponnya.
“Nak Bima, Ibu sudah memberitahu beberapa tetangga disini. Jadi, kalau ada apa-apa kamu bisa meminta bantuan juga ada warung didekat sini!” ucap Ibu Lani.
“Baik, Bu.”
Tidak lama kemudian, seorang gadis cantik berambut panjang coklat berdiri ditempat pintu masuk dengan tangan yang dilipatkan nya.
“Ma, ada tamu tuh di rumah!” ucap wanita tersebut.
Bima dan Bu Lani yang mendengar suara itu menoleh kearah pintu masuk dan aku serta dirinya saling menatap heran berbeda dengan Ibu Lani. Dia memperkenalkan gadis tersebut.
“Nak Bima, Perkenalkan dia Dina anak kedua ku! … Dina, yang sopan dong! Ayo kenalan!” seru Ibu Lani.
Gadis yang bernama Dina itu dengan sikap masam menghampiri Bima dan Ibu Lani.
“Aku Bima,” jawab Bima yang menerima tangan Dina.
Dina pun langsung melepaskan tangannya dari Bima dan menyuruh ibunya untuk pergi.
“Ayo, Ma! Kasihan dia sudah nunggu lama!” seru Dina.
“Maaf ya, Nak Dina. Ibu pergi dahulu!” ucap Ibu Lani.
“Iya, Bu!”
“Dah!” ucap jutek Dina.
“Iya.”
Tidak lama mereka pun pergi meninggalkan rumah Bima.
__ADS_1
Lalu, Bima pun kembali sendirian dan perut juga sudah berbunyi maka dari itu, dia memutuskan untuk menyantap makanan yang dibawa oleh Ibu Lani.
Malam pun tiba yang dimana banyak nyamuk berkeliaran dan mengigit seluruh badannya.
Karena hal itu, Bima memeriksa gudang penyimpanan dan lemari namun tidak ada satupun obat nyamuk disana. Maka, Bima pun memutuskan untuk membelinya di warung.
“Permisi, beli!” sapa Bima.
Tidak lama, keluarkan ibu penjaga warung. “Ya, mau beli apa?” tanya ibu warung.
“Saya ingin membeli sekotak obat nyamuk bakar!”
“Tunggu, sebentar!” ucap Ibu warung sambil mengambil sekotak obat nyamuk bakar.
Sesudah itu, Ibu warung melihat ku dan sedikit terkejut.
“Kamu anak muda yang baru pindahan itu ya?” tanya Ibu Warung.
“Iya, Bu.”
“Ibu hanya memperingatkan! Rumah itu angker suka ada suara aneh kalau malam,” ucap pelan Ibu warung yang sepertinya dia memang sedikit takut dengan rumah yang Bima tinggali.
“Iya, Bu. Saya mengerti.”
Sesudah membayar obat nyamuk, Bima pun kembali pulang dan melakukan aktifitas seperti biasa. Tidak lupa juga dia mengabari Ibu Rosa tentang Ibu Lani dan tempat tinggalnya.
Sesudah itu, Bima pun beristirahat.
Ditengah malam, Bima mendengar suara aneh.
Buk! Buk! Buk!
Meski Bima sempat terbangun dengan suara itu, dia tidak memperdulikan nya dan berpikir bahwa itu adalah ulah tikus yang berkeliaran di rumah nya.
Lalu, dia pun memutuskan untuk tidur kembali karena dalam benak nya, dia harus tidur cepat agar besok bisa bangun pagi dan pergi ke Asosiasi Hunter.
__ADS_1