
...Bab 11. Hasil yang mengejutkan dan lari pagi....
Karena hari panjang dan melelahkan bagi Bima membuat nya tertidur pulas dan bangun saat matahari sudah menjulang tinggi serta ...
Kling!
Suara smartphone milik Bima.
Mendengar itu, Bima pun sontak mengumpulkan kesadaran dan membuka mata.
Lalu, Bima pun bangun seraya merenggangkan kedua tangan nya keatas.
"Hua ... Tadi malam tidur ku nyenyak sekali," gumam Bima.
Lalu, Bima pun memeriksa smartphone nya yang mana smartphone nya berisikan tumpukan pesan dari ...
"Uh ... pesan ini dari alpha semua? Apa dia kehabisan pelurunya?" sesaat melihat tumpukan dari Alpha, Bima pun terheran. "Eh? Tunggu, kenapa dia banyak sekali menulis pesan dan ... Astaga!"
Ditempat yang berbeda, Pak Rendy mendatangi tempat Alpha bekerja yang dimana dia mendapatkan laporan bahwa Hunter Bima bekerja terlalu keras hingga mampu mengisi semua tabung besar yang ada disana.
Tidak hanya itu, dari dalam masker terlihat Alpha sudah berdarah namun, dia masih ingin terus menjalan perintah Alpha.
Pak Rendy yang melihat itu, dia sedikit panik namun, dia cepat menenangkan diri dan menghubungi Bima.
"Halo," sapa Bima dari balik telepon.
"Kak Bima, ada kabar baik? Aku sedang berada di tempat perburuan Slime dan klon mu berhasil mengisi semua tabung penyimpanan dalam waktu satu malam saja. Kami akan memanggil tim pembersih. Jadi, tolong perintah Alpha untuk berhenti bekerja!"
"Ah, Iya. Aku mendengar nya. Tapi, bisakah pak Rendy juga mengirimkan tim pembersih di tempat kelinci bertanduk?"
"Apa?"
"Kupikir jasad kelinci bertanduk dari klon ku juga menghalangi jalan."
Bima mengatakan itu lantaran dia sudah berada di lokasi kelinci bertanduk yang awalnya dia ingin membeli peluru lagi untuk Beta namun, dia dikejutkan dengan hasil pemburuan Beta yang menumpuk di jalan.
Beberapa pengunjung pun memberikan komentar nya.
"Wow! Aku bahkan tidak bisa menghitung berapa jumlah kelinci-kelinci itu."
"Aku pikir tidak akan ada yang memperhatikan jika kuambil satu."
"Dia menangkap semua nya sendiri!"
....
Selain komentar, beberapa pengunjung juga merekam momen itu untuk di upload media sosial. Tidak hanya itu, beberapa sales agensi juga berusaha membujuk Alpha namun, karena itu klon, dia hanya diam tanpa menjawab apapun hingga para sales agensi menyerah.
Bima sama sekali tidak terpikir bahwa Beta benar-benar sanggup membunuh banyak kelinci bertanduk meski begitu, dia sudah terlanjur membeli peluru dan mau tidak mau harus menerus pemburuan.
Lalu, Bima pun mendekati Beta dengan mengendap-endap. Hal itu, Beta pun sontak menyadari nya bahwa Tuan nya ada disampingnya sedang meletakkan amunisi di dekat nya.
Menyadari itu, Bima juga sontak berbisik.
"Ini peluru tambahan dan teruslah berburu. Jika Pak Rendy datang, biarkan dia mengurusi mayat-mayat nya!"
"Baik," jawab Beta.
Bima pun bangkit berdiri dan memegang bahu kanan Beta.
"Kerja Bagus, Beta! Terimakasih."
Mendengar pujian itu, Beta sontak senang dan tambah semangat untuk berburu. Lalu, Bima pun pergi meninggalkan Beta.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Beta mengisi kembali peluru dan memulai kembali pemburuan nya. Hal itu pun membuat heboh agensi dan pengunjung yang lain sedangkan, Bima sendiri.
"Wuahh ... Aku masih saja tetap mengantuk. Lebih baik, aku memberitahu Alpha dulu untuk berhenti dan pulang ke rumah," gumam Bima seraya menutupi mulut nya yang tengah menguap.
Lalu, Bima pun memberikan pesan Alpha untuk berganti baju, mandi dan pulang. Sedangkan, Bima ...
"Selagi di Senayan, lebih baik aku lari pagi saja."
Setelah itu, Bima pun lari pagi mengelilingi stadion.
Ditengah itu, Bima bertemu Baim dan Stephen yang juga sedang lari pagi tapi, mereka terlihat sedang istirahat.
"Oi, Bima!" suara Stephen memanggil.
Langkah Bima pun terhenti dan melihat kearah Stephen.
"Ayo kesini!" ajak Stephen.
Bima pun menerima panggilan Stephen dan menghampirinya.
"Hei, kalian lari pagi juga."
"Tentu saja, ini sudah jadi kegiatan pagi kita diakhir pekan. Oiya, bagaimana lu bareng kita aja lari? Gimana?" ajak Stephen.
"Yoi, selain kita bugar. Disana, kita juga bisa lihat yang bening-bening, ya gak Jack," sambung Baim.
Stephen menganggukan kepala keatas dan tersenyum.
"Okelah, Ayo!" jawab Bima.
Sesudah itu, Bima dan Stephen menarik Baim yang sedang duduk untuk berdiri. Badan Baim yang gendut membuatnya sedikit malas dan sering merasa lelah, Stephen dan Bima pun memaklumi nya. Lalu, mereka pun lari bersama.
"Bima, nanti di taman. Lu traktir kita beli minum ya disana," ucap Baim ditengah berlari.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di lapangan Senayan. Yang dimana, taman itu ramai dikunjungi, ada yang berlatih sepak bola, lari di sisi lapangan.
Baim yang belum berlari, dia sudah kelelahan dan duduk sedangkan, Bima dan Stephen berlari mengelilingi lapangan.
Ditengah berlari, Bima dan Stephen melihat Dina yang juga sedang berlari didepan mereka.
"Bima, lihat! ada Dina dan Ayu," ucap Stephen mengarahkan pandangannya ke depan.
Bima pun mengikuti pandangan Stephen dan Dia pun melihat Dina disana dan seorang wanita yang belum dikenalnya.
"Oh, iya."
"Ayo, kita hampiri mereka!" seru Stephen.
Tidak lama, Dina dan Ayu menghentikan larinya dan beralih ke sisi samping yang dimana terdapat kursi disana. Lalu, mereka pun duduk dan mengambil minuman nya.
"Gila, Yu. Gua gak tau lagi harus gimana?!" ucap Dina yang mengeluh tentang kesehariannya.
"Sabar, pasti nnti lu dapet pengganti nya," jawab Ayu sambil mengelus-elus punggung Dina.
Ditengah itu, pandangan Ayu teralih kepada Stephen dan Bima yang menghampiri mereka. Tidak lama juga Bima dan Stephen menghentikan langkahnya tepat di dekat Ayu dan Dina.
"Hei, Yu," sapa Stephen.
"Hei," jawab Ayu sambil tersenyum lalu, dia melihat Bima dan juga tersenyum kepada Bima.
Melihat Ayu yang teralih pandangannya, Dina juga mengikuti arah pandang Ayu dan terkejut melihat Bima disana.
"Lo, lari disini juga!" ucap Dina.
__ADS_1
"Iya, nya. Gua kan sering lari disini," jawab santai Stephen.
"Yee, bukan loe.Nyet. Dia yang nyewa di rumah angker," ucap Dina.
"Iya," jawab Bima.
Ayu dan Stephen melihat kearah Bima dan Dina.
"Kalian saling kenal?" tanya Ayu.
"Wuaa, curiga gua," ucap Stephen.
"Apa sih, Loe?!" sindir Dina ke Stephen. "Dia anak dari temen nyokap gue. Ya jadi otomatis, nyokap kenalin ke gue," jawab Dina.
Bima pun memperkenalkan diri kepada Ayu dengan memberikan tangannya.
"Aku Bima."
Ayu pun juga tersenyum dan menerima tangan Bima.
"Ayu."
Ayu dan Bima pun saling bertukar senyum. Stephen yang melihat itu sontak langsung melepaskan jabat tangan mereka.
"Udah-uda. Cukup perkenalan nya."
Bima dan Ayu pun melepaskan tangan mereka dan tidak marah dengan perlakuan Stephen.
Beberapa saat kemudian, Baim datang dengan membawa sekantung gorengan.
"Hei, kalian semua sedang membicarakan gua ya," ucap santai Baim.
"Yeee, siapa yang ngomongin Lu. Tem," sindir Dina.
Tem yang dimaksud nya hitam. Bima pun mengerti tentang hal itu.
Beberapa saat kemudian, Bima dan lainnya kembali ke rumah nya masing-masing. Lalu, setibanya di rumah Bima disambut Alpha yang sudah pulang terlebih dahulu dengan berlari.
"Tuan, anda sudah datang."
"Oh, Alpha. Kamu sudah bekerja keras dan aku beli kan ini untuk sarapan mu," ucap Bima seraya memamerkan makanan yang dibawa nya.
Alpha pun tersenyum lebar dan langsung mengambil makanan yang ku bawa setelah menyantapnya dengan lahap dan tanpa mengunyah.
Sesudah puas dan kenyang, Alpha pun bersedia kembali ke jiwa Bima. "Kerja Bagus, alpha! Nanti, aku akan memanggilmu kembali!"
Alpha pun tersenyum dan Bima merapalkan ...
"Cancel Summon."
Sesaat kemudian, Alpha berubah menjadi bola hitam dan masuk kedalam tubuh Bima yang mana pemberitahuan peningkatan muncul.
Ding!
[Vitallity telah meningkat 3,1.]
[Mana telah meningkat 3,2.]
[Skill Regeneration telah meningkat ke Rank C-.]
[Anda telah berhasil mendapatkan skill Poison Resistance Rank E.]
Bima yang melihat itu, dia pun terkejut. "Ge! Aku tidak menyangka alpha mendapatkan peningkatan yang luar biasa."
__ADS_1