
Saya Bersekolah di salah satu SMP Swasta yang tergolong sebagai Sekolah Favorit. Uang yang perlu digelontorkan untuk sekolah di sana tidak murah, biaya SPP bulanannya saja hampir dua kali lipat Upah Minimum Provinsi (UMP) setempat. Sementara, saya tidak lahir dari Keluarga berada, Rumah pun biasa saja, dan Saya Sekolah di sana karena dapat Beasiswa.
Sejak awal masuk Sekolah saya sudah diwanti-wanti Orang Tua, Tetangga, sampai Orang Tuanya Tetangga untuk Tahu Diri. Wajar saja, karena kebanyakan anak yang Sekolah di SMP unggulan tersebut Cina, eh, Kaya-Kaya. Sehingga, berangkat dari kesadaran inilah, saya memutuskan untuk tidak Berpacaran (Apalagi dengan mereka-mereka yang Kaya, sampai punya Simpanan di Bank Swiss).
Dalam novel ini diceritakan Joko adalah seorang Siswa Miskin yang bersekolah di Sekolah favorit dan terkenal (((mahal))), ia pun bisa sekolah di sini karena mendapat Beasiswa. Teman-Teman sekolahnya menjulukinya JAB, Joko Anak Babu, Ibunya memang hanyalah seorang Pembantu. Ia tinggal di Perkampungan Kumuh, di rumah yang serupa Gubuk. Joko hanyalah Remahan biskuit Oreo Supreme diantara teman-temannya yang betul-betul Supreme.
Joko terlibat Cinta pertama dengan teman sekelasnya, Wulan. Wulan lahir di keluarga Berada, Ayahnya adalah seorang pimpinan Perusahaan yang Kaya dan Sukses. Hidup Wulan serba berkecukupan. Ia tinggal di Rumah yang Mewah dan Luas, sangking Luasnya Kamar Mandi rumahnya pernah dipakai untuk pemusatan latihan timnas u-19.
__ADS_1
Mereka berdua, Joko dan Wulan, terlibat Cinta Pertama yang kata orang bebas polusi. Mengalami Ciuman pertama yang lumayan absurd. Merasakan Rasa Cemburu tanpa disadari. Hingga suatu Hari.. “Mereka menginjak daerah Terlar*ng yang belum boleh mereka jelang.” Wulan diham*l* oleh Joko.
Jauh sebelum kesalahan itu terjadi, saat keduanya belum mengetahui perasaan masing-masing, Joko sedikit dibayangi-bayangi oleh ketakutan bahwa dia seperti pungguk Merindukan Bulan. Joko takut Cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena secara kasta Joko dan Wulan jauh berbeda. Di momen kegelisahan inilah seharusnya Joko mundur. Tahu diri.
Kita sudah melihat perbedaan strata ekonomi yang sangat mencolok diantara kedua sejoli muda ini. Dari menu Sarapan saja, sudah terdapat ketimpangan. Joko yang sarapannya cuma Tempe sama Bakwan, jauh beda dari Wulan yang kalau sarapan lengkap, empat sehat lima sempurna. Kalaupun si Wulan Sarapan Pakai Tempe Orek, pasti Dibeli sama Gerobak-Gerobaknya.
Harusnya Joko tahu diri, ngaca! Anda ini Miskin, tidak pantas dengan Wulan yang Kaya-Raya.
__ADS_1
Joko Ganteng, tapi Wulan kan Cantik. Beda ceritanya kalau Wulan digambarkan sebagai Remaja perempuan yang Jelek lagi Dekil. Mungkin kalau ceritanya demikian, lebih masuk akal kalau Mereka Berpasangan. Joko Miskin tapi Tampan, Wulan Jelek tapi Kaya. Jadi seimbang kan? Tapi, dalam cerita Dari Jendela SMP, Wulan itu Kaya dan Cantik rupanya, sementara Joko cuma modal Tampang.
Mungkin Wulan adalah seorang yang tidak materialistis, tapi setidaknya dia harus realistis. Saya rasa keputusan Ayah Wulan untuk menikahkan Putrinya dengan Insinyur Kadarusman, Pria berumur 27 Tahun, arsitek lulusan Kanada, Karyawan di Perusahaannya adalah keputusan yang tepat. Walau ini akan menjadi pernikahan yang cukup menggelikan, tapi setidaknya hidup Wulan terjamin.
Kalau dengan Joko? Mau diberi makan apa Bayi mereka? Masih untung kalau nanti dibantu oleh Keluarganya Wulan, namun kalau tidak? Mungkin Wulan hanya akan jadi Ibu-Ibu komplek yang suka Gosip di Gerobak Sayur, dan Joko hanyalah Bapak-Bapak Biasa yang tiap Sore duduk di beranda sembari meratapi hidup dalam kepulan Asap Rokok.
Ada begitu banyak kesempatan di mana Joko dipersilahkan untuk mundur, namun, dia tetap saja Kukuh.
__ADS_1
Di Akhir cerita, Wulan memang berhasil Melahirkan an*knya bersama Joko, tapi kita sama-sama tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi. Mungkin saja Wulan tidak Bahagia bersama Joko, mereka hidup Miskin, dan banyak permasalahan-permasalahan yang harus mereka hadapi.
Sepertinya memang saya tidak Semiskin Joko, pengalaman hidupnya pun tidak sedrama itu. Saya hanya ingin sampaikan sebagai sesama Anak muda, mungkin kalian sedang ada dalam situasi ini sebaiknya mundur. Sebelum segalanya jadi ruwet. Karena, hidup tidak seindah ending cerita, yang ditampilkan di ending pun masih ada Kelanjutannya.