Si Kancil

Si Kancil
ular tua yang licik dan kera yang cerdik


__ADS_3

"**Bawalah aku merayap menuju istana Raja."


"Turun dari Ular itu segera !, "teriak Sang Ratu terkejut melihat Putra nya menunggangi Ular.


"Ya Bunda janganlah khawatir. Ular ini tak akan menyakiti kita," Kata Pangeran Kodok menceritakan seluruh pengalamannya


"Kalau demikian masalahnya kita akan senang mendapatkan tunggangan," Kata Raja dan Ratu Kodok. Mulut Ular menjadi basah memikirkan Kodok - Kodok Gemuk dan Lezat yang menunggangi punggunya. Tetapi ia sadar bahwa ia harus bersabar.


Untuk beberapa hari Sang Ular membawa keluarga kerajaan Kodok masuk dan keluar hutan. Suatu hari ia berheti tiba tiba.


"Ada apa ?" tanya Pangeran Kodok. "Mengapa kamu berhenti?"


"Selama beberapa hari ini aku belum makan, aku merasa sangat lemah menggendong kalian, " kata sang Ular dengan sedih.


"Bila kalian mengijinkan aku akan menyantap beberapa Kodok."

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku membiarkan mu memangsa rakyatku?" tanya Raja Kodok yang kelihatan sangat kebingungan. "Bila kalian tidak mengijinkan aku akan segera mati dan kalian tak akan memiliki siapapun yang akan membawa berkeliling," kata Ular licik itu. "Kalu itu masalahnya, Kamu boleh memangsa beberapa ekor Kodok," kata Raja Kodok. Sang Ular mulai menyatap beberapa Kodok satu per satu. Berangsur angsur ia mulai bertambah kuat.


Suatu hari Ular itu berkeliling mencari Kodok tetapi tak menemukan seekor pun yang masih tinggak dalam telaga ini."


Apa benar demikian?" tanya Raja Kodok terkejut.


"Ya!" kata Sang Ular menjilat bibirnya. "Aku telah memangsa semua Kodok satu per satu. Aku merasa lapar sekarang ini, sehingga hari ini adalah Giliranmu."


"Apa? beraninya kau hedak memakanku. Aku adalah Raja Kodok!" bentak Raja Kodok. Namun si Ular tak peduli? tak ada yang di takuti terhadap tiga ekor Kodok itu dan ia langsung menyergap Raja Kodok, Ratu dan Pangeran Kodok Kecil.


Kera Yang Cerdik


Suatu hari seekor Buaya berkeliaran dekat pohon jambu itu. Ia melihat Sang Kera sedang duduk pada cabang pohon itu.


"Hai Kera," kata si Buaya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Maukah kau menjatuhkan sedikit buah jambu? Aku agak sedikit lapar."


Kera itu sangat baik hati. Lalu ia memetik beberapa tangkai buah jambu yang masak dan manis serta melemparkannya pada Sang Buaya.


"Sedap," kata si Buaya dengan cepat melahap semua buah jambu itu. "Dapatkah kamu melemparkan sedikit lebih banyak lagi? Aku ingin membawakannya untuk Istriku di Rumah."


"Oh, tentu, Kawanku," kata si Kera sambil melemparkan beberapa tangkai buah jambu lagi pada Sang Buaya. " Aku harap Istrimu senang juga menikmatinya."


Musim panas dengan cepat berlalu. Setiap hari Sang Buaya menemui Sang Kera.


Mereka berdua menjadi sahabat yang sangat akrab.


Mereka pasti menyantap buah jambu bersama-sama. Bila saatnya pulang sang Buaya pasti membawa beberapa ikat jambu untuk Istrinya.


Buaya Betina menjadi senang. Suatu hari Buaya Betina berkata," Sayang ku, kalau Kera itu tiap hari makan jambu betapa lezat dagingnya?"

__ADS_1


Buaya jangan agak terkejut. "Teganya kau berpikiran seperti itu. Kera itu adalah kawan ku yang terbaik."


"Aku tak perduli," kata Buaya Betina, "aku mengiginkan daging Kera untuk makan malam ku. Carilah akal dan bawalah ke sini**."


__ADS_2