
**Candunya rindu yang kian detiknya menggebu
Sebisa mungkin akan ku atur kadarnya
Menekannya agar tahu diri saat menguasai hatiku
Tak kan ku biarkan sesuka ia menguasainya
Ku akui hatiku Cuma ada satu
Tapi banyak ruang tercipta di dalamnya
Hingga sebisa mungkin tak ku biarkan ia sebodoh itu
Memperjuangkan yang tak mungkin ada balasannya
(Alimatus Sa’diyah**)
di bangku lain terlihat Siti, Titin, Dewi dan Ifa yang sedari tadi memperhatikan mereka merasa penasaran dengan obrolan mereka. “lu pada ngak heran apa?, kenapa tu Alma bisa gitu tiba – tiba kenal ama kak Fajar?” pertanyaan Dewi yang mulai membuka sesi menghibah mereka “biarin aja lah biar si Alma tau cowok disini pula” saut Titin dengan nada datarnya “tapi gue masih ngak habis pikir kok bisa gituloh” ucap Dewi kembali “ya mungkin mereka ada sesuatu kali, buktinya tadi malem adeknya kak Fajar ampek nyamperin Alma” seru Siti yang membuat Dewi dan Ifa kaget “kok lu tahu si bukannya tadi malam lu udah tidur ya?” tanya Titin kepada Siti yang jelas – jelas dia tahu kalau hanya dia dan Alma saja yang masih terjaga pada malam itu “gue belum tidur masih nerusin novel gue dibalik selimut hehehehe’ jawab Siti sambil cengengesan. “coy udah pada pesenkan? Gue dipesenin apa nih?” tanya Alma yang seketika nimbrung dibangku para sahabatnya “gue pesenin banyak sekali pertanyaan?” ujar Dewi “pesenan pertanyaan maksudnya?” ucap Alma dengan mengerutkan keningnya “ ya gue mau tanya elu a….” ucap Dewi yang tersela oleh Titin “udah – udah ngobrolnya nannti aja kita lanjut makan aja pada pada laper kan lu pada” ujar Titin yang menyela omongan Dewi kala itu, yang membuat Dewi langsung memasang wajah masamnya.
*
__ADS_1
*
*
*
“Al” seru seseorang di sambil gerbang sekolahan yang tak lain adalah Fajar. Fajar menyapa Alma saat melihat Alma and the dkk melangkah hendak meninggalkan Sekolah yang kala itu Fajar sedang menunggu adeknya di samping gerbang tapi tidak menemukan keberadaan adeknya sama sekali. “tu cowok lu manggil Al, buruan sono lu” ucap Siti yang menggoda Alma “cowok gue, dia memang cowok tapi bukan cowok gue” ketua Alma yang merasa jengkel dengan godaan Siti. Berbeda dengan Dewi yang juga merasa jengkel dengan hal itu, bukan karena godaan dari siapa tapi karena Fajar lebih mengenal Alma dari pada dirinya hingga ia sedikit merasa iri pada sahabatnya tersebut. “Al, lu lihat si Novi ngak?” tanya Fajar yang sudah dihadapan mereka “ngak tau juga gue, lu pada tau ngak Novi kemana?” seru Alma kepada para sahabaatnya. “gue sih tadi lihat si Novi pergi ke perpus, kayaknya mau balikin buku deh tu anak” saut Siti dengan tersenyum “oke terima kasih, gue cabut cari Novi dulu” ucap Fajar seraya hendak melangkah meninggalkan mereka. Tiba – tiba “Cuma terima kasih aja nih?” cetus Siti yang sedikit mengeraskan suaranya sehingga menghentikan langkah Fajar. Fajar berbalik kembali menghadap mereka dengan mengerutkan dahinya karena keheranan “lah terus mau apa lagi” ujar Fajar dengan ekspresi herannya “ya setidaknya kenalan juga gitu loh, masak Cuma si Alma aja yang kakak tau” ujar Siti sambil menyenggolkan bahunya ke bahu Alma sebagai bentu godaan. Fajar yang tahu maksud dari Siti segera mendekat lagi “oke gue Fajar, nama kalian?” ujar Fajar mengenalkan dirinya pada para sahabat Alma. “udah tahu!” saut Dewi dengan nada jengkelnya hingga mengalihkan perhatian Fajar dan yang lainnya. “Gue Siti, ini Titin, Ifa dan Dewi” ujar Siti yang memecah perhatian mereka pada Dewi saat itu. “gue balik dulu udah capek gue” seru Dewi seraya melangkah meninggalkan mereka. Sikap Dewi yang tiba – tiba cuek bahkan terhadap sahabat – sahabatnya tak luput dari perhatian Alma saat itu.
“Mas” suara seseorang dari belakang Fajar, pemilik suara tersebut tak lain adalah Novi. Fajar membalikkan badannya menghadap ke arah adeknya yang tengah melangkah menghampiri mereka “lu tu ya jam segini masih betah aja di Sekolah, hampir karatan gue nunggu elu tadi” seru Fajar saat Novi sudah berada dihadapannya “hehehehe maaf mas, tadi ada urusan sedikit di perpus” ujar Novi dengan cengengesan. Novi mengalihkan perhatiannya pada Alma, Siti, Titin dan Ifa yang ada di belakang kakaknya. “eh kalian juga belum pada pulang, terus ngapain sampai bisa disini dengan mas Fajar” ucap Novi seraya bergantian memandang Alma, Siti, Titin, Ifa dan kakaknya dengan keheranan “ya ini karena elu ngak keluar – keluar dari tadi ampek gue nyuruh berhenti si Alma dan tanya lu dimana” cetus Fajar yang memang kaala itu terlihat sudah lelah. “eh disini ngak Alma aja loh kita – kita juga berhenti, ya udah sudah ketemu kan kita balik dulu deh” seru Siti dan segera mengajak para sahabatnya balik ke pondok termasuk Alma yang mulai banyak diam kala itu.
*
*
*
“ngapain lu mas ngariin gue jam segini? Ngapa ngak waktu istirahat aja tadi?” tanya Novi yang mulai membuka percakapan dengan kakaknya setelah Alma dan lainnya pergi. “gue pinjem buku ilmu kedokteran Ibnu Sina dong dek, punya gue dibawa temen sekarang belum balik juga dianya” ujar Fajar menjelaskan maksudnya kepada Novi “elah mas, gue belum beli. Baru minggu depan mau beli, elu butuhnya kapan?” seru Novi. “minggu depan?, apa kagak kurang lama tuh, kalau gitu sama aa gue nunggu temmen gue balik. Gue perlunya ngak entar malam ya besok. Ngapa lu ngak beli besok aja sih dek?” seru Fajar dengan nada sebalnya “ya ngak bis lah mas akku udah PO untuk minggu depan kok, gini aja besok gue cari pinjem deh pada temen – temen gue barangkali ada yang udah punya” seru Novi yang memberikan saran kepada kakaknya “ya udah kalau gitu, usahain besok udah dapat ya. Ya udah balik sono lu” seru Fajar kepada adeknya. Fajar memandang punggung adeknya yang mulai melangkah meninggalkannya. Saat dirasa adeknya telah masuk ke dalam pondok, ia akan melangkah juga untuk balik ke pondoknya. Langkah Fajar terhenti saat pandangannya fokus ke bawah kakinya yang ia rasa telah menginjak sesuatu. “milik siapa ini?” gumam Fajar dalam hati setelah mengambill benda yang ia injak tadi. Benda tersebut yakni sebuah bros yang sangat cantik berbentuk bunga mawar dan terdapat eksen mutiara di tengahnya. “gue bawa aja kali ya, siapa tahu kapan – kapan orangnya nyari” gumam Fajar kembali. Bros tersebutpun ia masukkan ke dalam tasnya dan langsung berlalu henda menuju pondoknya.
*
*
__ADS_1
*
*
“ngapain tasnya di diobrak – abrik kayak gitu?” tanya Ifa kepada Dewi sambil memegang piring isi jatah makan siangnya. “elu lihat bros gue ngak?” tanya Dewi dengan nada paniknya. “bros yang mana ya?” tanya balik Ifa kepada Dewi seraya mendudukan tubuhnya di atas lantai. “bros yang berbentuk mawar itu loh brod mana lagi” ujar Dewi yang masih sibuk mengobrak – abrikkan isi tasnya. “ya kan bros lo banyak, makanya sedekah dong. Sekali – kali gue juga kasih bros lu” celetuk Ifa dengan nada santainya seketika menghentikan Dewi yang kala itu masih mencari bros tersebut di dalam tasnya dan menoleh sinis ke arah Ifa “kalau elu ngak tahu dak ngak mau bantu cari lebih baik diem deh” ketus Dewi dengan nada sebalnya. “ya elah tinggal beli lagi apa susah sih, di toko asesoris kan banyak ini” seru Ifa masih dengan nada santainya “elu ngak tau kenagannya, bros itu sangat berharga itu dari….” Ucapan Dewi terpotong saat seseorang tengah masuk ke dalam kamar.
Ukhthor “kapan lulusnya sih lu pada?”
Alma “ya terserah elu lah thor”
Ukhthor “lu mau lulus ngak cepet ngak?”
Alma “ya jelas mau lah percepat thor biar gue bisa nikah sama kak Akhsan”
Ukhthor “percaya bener bakalan nikah sama mas Akhsan”
Alma “lah kan ceritanya gitu thor”
Ukhthor “siapa bilang?”
Alma “ayolah thor”
__ADS_1
Ukhthor “kita lihat aja nanti – nantinya hahahahhaha”
Hay guys curhat dikit lah. Ukhthor ini mintalah keikhlasan kalean –kelean untuk beri ukhthor ini like, komnent dan votenya ya guys. Gue sayang kalian.