
**Banyak sekali nama untuk cinta
Beberapa orang menamainya pertama
Sebagian lagi sejati
Sisi lain ada yang mati, dan banyak sebagainya
Untukku cinta dalam hidupku bernama SAHABAT
Dimana semua rasa bisa dijadikan satu dalam satu kata
Dimana ego bisa saling memadu dalam sebuah kisah
Dapat bermetamorfosis dengan segala bentuk keindahannya
__ADS_1
Entah bagaimana denganku?
Tentu saja menikmati adalah hal yang mengasikkan
Memandang setiap semburatnya dengan tatapan menakjubkan
Bukankah semua memang karena cinta
(Alimatus Sa’diyah**)
“pada kemana nih anak – anak?” Tanya Alma kepada Siti. Yah mereka berdua telah sampai di depan Rumah yang tak lain adalah Rumah bu Lilis guru matematika mereka yang menjadi target dari misi kali ini. “kayaknya masih di dalem deh” jawab Siti yang sejenak memandang berbagai sudut halaman Rumah tersebut “kok lu yakin tu anak pada masih di dalem?” tanya si Alma dengan wajah keheranan “tuh……,” jawab Siti dengan menunjuk ke arah sebuah tanaman hias yang lumayan besar dan terdapat sandal yang menyangkut di tanaman tersebut dengan sangat jelas dan mereka sangat mengenali bahwa sandal ini milik sahabatnya yang tak lain adalah si Ifa “mata lu jeli juga ya” ujar Alma dengan terheran – heran “ya ya dung gue kan bakat jadi mata – mata, kalu lu mau sewa jangan gue ngak masalah gue kasih de tarif khusus buat lu” seru Siti dengan bangganya. “lu tu sit gitu mulu apa – apa duit hemmbt” gerutu Alma “udah lebih baik kita susul tu anak – anak, tapi tunggu dulu gue ambil sandal si Ifa dulu” ujar Siti dan mereka pun lekas berlalu masuk ke dalam pekarangan Rumah tersebut. Berbeda dengan Dewi, Titin dan Ifa yang masuk ke dalam dengan cara mengendap – endap menyusup lewat taman, si Alma dengan Siti malah terng – terangan masuk melewati jalan yang semestinya (Wkkwkwkwkwk lah tadi ngapain tuh anak tiga ngendap – ngendap kayak tikus kolong meja)
Saat sampai di samping Rumah Alma dan Siti dikejutkan dengan keberadaan Ifa, Dewi dan Titin dan satu pot bunga yang pecah dan berhamburan kemana saja “eh lu pada nambahi masalah gue aja” celetuk Alma dengan kesalnya belum sampai mereka berdepat suara langkah kaki terdengar semakin mendekat, seketika membuat mereka berhambur ke sisi lain dari Rumah tersebut bisa dibilang sisi belakang lah. “Eh, kenapa jatuh ya potnya perasaan ngak ada kucing disekitar sini” Kata bu Lilis yang bisa Alma and the dkk dengar saat sedang mengaawasi dari balik sisi belakang rumah.
Langkah bu Lilis berlanjut kembali dan seperti berarah pada sisi belakang Rumah ‘haduh gimana nih?” seru Dewi yang sedikit khawatir, seperti halnya Dewi yang lainnya pun terlihat khawatir “Tenang” Ujar Titin untuk menenangkan sahabat – sahabatnya tersebut ia mengambil sebuat batu dan langsung melemparkannya tinggi ke depan sehingga dapat melewati bu Lilis. ‘Brugh Srekkk’ suara yang diciptakan dari lembaran batu Titin yang mengenai beberapa tanaman bu Lilis tapi tidak sampai merusaknya. Hal itu sedikit mengalihkan fokus bu Lilis hingga mengurungkan langkahnya dan malah berbalik mencari asal suara tersebut.
__ADS_1
Titin segera mungkin mengajak semua sahabatnya untuk mengikutinya berjalan memutar rumah tersebut. Saat berada di sisi samping rumah bu Lilis yang lain Titin memperhatikan situasi dan di saat ia mengetahui bahwa bu Lilis telah melanjutkan langkahnya lagi untuk ke sisi samping Rumah yang tadi ia langsung mengajak semua sahabatnya untuk keluar dari lokasi Rumah tersebut “ayok coy kita cepat keluar tapi hati - hati” Seru Titin seraya berlari cepat dan disusul semua sahabatnya dari belakang “Huffft, untungnya kita bisa selamat” ujar Ifa sambil mengelus – elus dadanya ketika mereka semua telah sampai di luar lokasi Rumah bu Lilis “iya selamat, kalu bukan karna lu kita ngak akan kayak gini, pakek acara nyenggol pot segala tadi lu” seru Dewi dengan nada jengkelnya. Begitulah insiden pot pecah tadi karena Ifa yang tak sengaja menyenggolnya “hemmbt lu lagi lu lagi fa masalah gue aja belum kelar, masak mau nambahi lagi. Mau lu gue kehabisan nafas heh” Seru Alma dengan nada kesalnya ketika ia sudah tahu kejadian di balik Pot tadi “ya tinggal gue cari persiapaan oksigen cadangan lah Al” jawab Ifa dengn nada polosnya “lu tuh ya fa, bikin gue gedek melulu” ujar Alma dengan gemas hingga akan menangkup kepala sahabatnya tersebut “sudah – sudah malah berdebat disini kalau nanti bu Lilis tib – tiba keluar kan alamat” ujar Siti yang menghentikan berdebatan antara Alma dan Ifa. “Guys lebih baik kita segera balik aja nih ke Pondok udah mau sore juga, sebelum si keamanan mengetahui kita tidak ada” Ujar Titin menyadarkan mereka bahwa hari mau sore.
Sesampainya di depan pondok mereka langsung masuk saja dan menuju kamar mereka. “Huffft untungnya kita baliknya lancar nih kesininya” siti yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai kamar mereka “Iya, lebih baik sekarang kita segera siap – siap sholat Ashar nanti malam baru kita diskusi lagi” seru Siti dan melangkah keluar untuk siap – siap melakukan sholat Ashar dan disusul oleh Alma, Dewi dan Ifa. Titin tidak ikut menyusul dan masih berbaring di atas kasur lantai karena memang dia lagi pada masa haid.
**Ukhthor “gimana ya nasib sandal Ifa?”
Ifa “eh iya gue aja lupa ama tuh sandal”
Ukhthor “lah dari tadi lu sampek pondok kaliannyeker sebelah gitu?”
Ifa “iya heheheh”
Ukhthor “cantik – cantik nyeker”
Ifa “bukan cantik thor, tapi manis”
__ADS_1
Ukhthor “serah lu deh ya”
Jan lupa ritual kayak biasanya like, koment dan vote yang buwanyak pokonya gue sayang**