Siklus Sakral

Siklus Sakral
CH 02 – Buaian Cakrawala (Part 03)


__ADS_3

Kepala Stasiun Orbit Maria, Urdi Kabir. Pria dari ras Nobilis Polar tersebut memiliki perawakan bungkuk, rambut putih keperakan yang dipotong cepak, dan kulit cokelat keriput. Terlihat tua, namun sebenarnya masih muda jika diukur berdasarkan standar kaum Malin.


Ras Nobilis Polar sendiri dikategorikan sebagai bangsa Halv-Phylum, memiliki karakteristik beruang kutub. Meski tidak ada bulu lebat ataupun cadangan lemak di bawah kulit, ia mempunyai telinga lebar dan gigi yang tajam layaknya beruang.


Sebagai pegawai sipil senior, Urdi Kabir telah mengabdi untuk Kekaisaran Solus selama lebih dari lima puluh tahun. Ia mempunyai Kapabilitas Qua Tingkat Tiga, Kelas Pejabat Pusat. Memiliki kredibilitas dan memegang tanggung jawab penuh atas Stasiun Orbit Maria.


Tempat tersebut merupakan pusat transit distribusi barang dan transportasi di planet Almiah. Sebelum turun ke permukaan ataupun pergi meninggalkan Region, seluruh moda transportasi akan didata terlebih dahulu untuk mendapatkan izin perjalanan.


Karena itulah, Stasiun Orbit Maria menjadi salah satu titik vital perekonomian Region Almiah. Gangguan kecil seperti pemadaman listrik dapat mengakibatkan kerugian finansial yang cukup signifikan, meskipun itu hanya terjadi selama beberapa detik saja.


Berbeda dengan bangunan lokal yang ada di Almiah, tempat tersebut memiliki desain arsitektur futuristik. Didominasi oleh logam baja, perangkat elektronik, dan mesin canggih.


Hampir seluruh bangunan stasiun berada di dalam kubah raksasa, memiliki ekosistem buatan dan kadar oksigen yang terjaga. Meski permukaan langit-langit kubah tampak transparan, ketahanan serta keamanannya sudah terjamin. Pihak pemerintah telah menerapkan protokol berlapis, mencangkup beberapa situasi dari normal sampai kritis.


Stasiun Orbit Maria menggunakan tata letak sentralisasi, dibangun dengan titik pusat berupa menara pengawas. Dikelilingi oleh empat dermaga, beberapa penginapan, belasan fasilitas pendukung, dan sebuah barak militer untuk menjaga keamanan serta ketertiban.


Pada jalan utama menuju dermaga barat, Urdi Kabir berjalan tergesa-gesa dengan ekspresi cemas. Mengabaikan semua pertanyaan yang diajukan oleh para pegawai yang sempat berpapasan dengannya, terus melangkah sembari menundukkan wajah.


“Pak Urdi! Ada apa dengan pemadaman tadi?” tanya seorang Pedagang yang biasa menggunakan jasa registrasi stasiun. Ia memiliki perawakan besar, berasal dari ras Lacerta dan mempunyai karakteristik kadal darat berwarna hijau tua. “Hampir saja kami merugi, loh! Untung data transaksinya tidak hangus,” lanjutnya dengan nada sedikit bercanda.


Kepala Stasiun Orbit tidak terlalu memedulikan ucapan Pedagang tersebut. Ia hanya melirik, lalu lanjut berjalan dan mulai bergumam. Menunjukkan kecemasan yang sangat jelas.


Pedagang yang tadi menyapa tiba-tiba menghadang Urdi, lalu bertolak pinggang dan melebarkan senyum angkuh. Bertingkah layaknya preman pasar yang tidak tahu diri.


“Permisi, saya sedang buru-buru ….” Urdi mengulurkan tangan kirinya ke depan, lalu menyentuh tubuh pedagang itu dengan lembut. Kurang dari dua detik, gelombang kejut yang cukup kuat keluar dari telapak tangannya. Menerbangkan pedagang bertubuh besar itu sampai terpelanting ke jalan. “Diriku sedang sibuk,” ujarnya seraya lanjut berjalan.


Semua orang yang melihat itu seketika tersentak, memucat, dan mulai menjaga jarak. Beberapa pegawai sipil terkesima, sedangkan para pedagang kebanyakan mulai segan. Mereka membuka jalan, menunjukkan rasa takut dan kagum pada saat bersamaan.


Urdi Kabir mengabaikan mereka, sama sekali tidak berpaling dan semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Melanjutkan perjalanan sembari bergumam. Melewati beberapa jembatan penyeberangan, pos keamanan, dan akhirnya sampai di dermaga barat.


.


.


.


.


Stasiun Orbit Maria memiliki empat dermaga dengan fungsi yang berbeda-beda. Dibangun mengelilingi menara pengawas, dikelompokkan dalam kompleks bangsal penyimpanan dan transit penginapan untuk pengunjung.


Layaknya perbatasan negara, stasiun tersebut menerapkan sistem visa untuk membatasi pengunjung dan mempercepat sirkulasi barang. Hal itu diatur dengan tegas dalam kanun internasional Kekaisaran Solus, telah disetujui dan dijalankan oleh pemerintah Region Almiah.


Karena itulah, banyak perusahaan swasta yang memanfaatkan kondisi tersebut sebagai ladang bisnis. Menjajakan jasa distribusi barang, moda transportasi, dan layanan pendaftaran visa. Mempercepat proses registrasi kapal, berperan sebagai calo dan pemandu perjalanan.


Dermaga barat merupakan titik transit untuk kapal penumpang. Diisi oleh para penyedia jasa perjalanan, biro wisata, dan penjual buku panduan liburan planet Almiah.


Mereka kebanyakan berkumpul di sekitar jembatan dermaga, menunggu para pengunjung turun dari kapal untuk menawarkan jasa dan produk. Sebagian besar dari mereka berasal dari ras Sean, penduduk asli Almiah yang bekerja untuk perusahaan swasta.


Namun, kali ini mereka berkumpul bukan untuk menjajakan produk ataupun jasa.


Saat kapal luar angkasa dengan lambang Kekaisaran Solus berlabuh, semua orang di sekitar dermaga langsung memberikan tatapan cemas dan mulai menjauh. Diselimuti rasa takut, menunjukkan gelagat waspada, dan berusaha untuk tidak menghalangi jalan utama.


Meski begitu, mereka tidak pergi dan tetap menunjukkan rasa penasaran. Mencerminkan sifat penduduk lokal, memiliki rasa keingintahuan yang kuat.


Tepat setelah pintu Kapal Luar Angkasa Kekaisaran Solu terbuka, seluruh kegiatan di dermaga barat seketika terhenti. Senyap menyelimuti, hanya ada suara bising mesin dan angin yang keluar dari ventilasi.


Perhatian semua orang langsung tertuju pada satu arah, terkesima saat menyaksikan sosok perempuan turun dari kapal tersebut.


Perempuan tersebut memiliki rambut hitam legam, panjang sepunggung dan terjuntai lurus tanpa ornamen. Kulitnya putih pucat, dibalut gaun Halter berwarna hitam pekat dengan renda bunga musim gugur pada bagian bawah. Membawa tas jinjing berwarna cokelat untuk menyimpan barang pribadi, mengenakan sepatu Mary Jane merah untuk kaki mungilnya.


Tampak sederhana, namun memancarkan kesan misterius dan wibawa yang sangat kuat. Mempunyai tatapan tajam dengan mata hijau zamrud, sedikit sinis seakan memandang rendah semua orang.


Perempuan tersebut bernama Lydia, salah satu ahli waris Keluarga Walton. Berasal dari bangsa Manusia Murni dengan garis keturunan yang terjaga.


Ia mempunyai Kapabilitas Qua Tingkat Tiga, namun tidak memegang kekuasaan wilayah administrasi karena usianya yang masih sangat muda.


Lydia turun bersama Sikyn Hadun, seorang pengawal dari ras Wolfin. Pria tersebut mempunyai perawakan layaknya manusia serigala, cukup tinggi dan kekar. Tubuhnya dipenuhi bulu lebat berwarna abu-abu, memiliki taring dan cakar tajam, serta mata merah darah dengan tatapan mengancam.


Meski tubuhnya berbulu dan memiliki penampilan buas, Sikyn adalah pria bermartabat. Ia mengenakan jas merah gelap dengan bagian dada sedikit terbuka, celana bahan berwarna hitam pekat, dan sepatu pantofel yang disemir mengkilap.

__ADS_1


“Tolong hati-hati, Nona Lydia. Gravitasi buatan di sekitar sini masih belum pulih sepenuhnya. Perhatikan langkah Anda baik-baik ….” Sikyn sedikit membungkuk, kemudian menawarkan bantuan kepada majikannya dan mengajak, “Mari kita temui Kepala Stasiun.”


“Saya tahu, engkau tak perlu berlebihan …. Itu menjijikkan.” Lydia menolaknya dengan kasar, berdecak kesal dan berjalan melewati pria tersebut. “Tak perlu berlagak sopan. Engkau di sini hanya untuk mengawasi Kakanda, ‘kan?” pungkasnya dengan ketus.


Sikyn hanya bisa tersenyum kecut, mengangkat bahu dan membiarkan majikannya lewat. Ia berjalan mengikuti, lalu menahan sejenak dan sekilas memalingkan tatapan.


“Sepertinya kita menjadi pusat perhatian, ya?” Sikyn berusaha mencairkan suasana. Ia menunjuk pos keamanan di sudut dermaga, kemudian dengan nada sedikit bergurau lanjut berkata, “Loncatan Spasial tadi melanggar hukum. Pasti pemegang otoritas tempat ini panik karena suplai energi mereka tiba-tiba mati …!”


“Tuan Sikyn ….” Lydia berhenti, lekas menoleh dan memberikan tatapan tajam. “Boleh saya minta sesuatu?” tanyanya dengan suara lembut.


“I-Iya?”  Sikyn tersentak, sedikit melangkah mundur dan memalingkan tatapan.


“Tolong tutup mulut Anda …!” pintanya dengan ekspresi gusar. Ia lekas berbalik, lalu lanjut berjalan dan sejenak memejamkan mata. “Saya sedang berpikir, jangan berisik ….”


“No-Nona!” Sikyn tidak diam. Ia lekas menunjuk ke depan, lalu dengan nada sedikit cemas berkata, “Lihat! Pemegang otoritas sudah datang–!”


“Diamlah! Serigala botak!” Lydia kembali terhenti, menoleh ke belakang dan langsung membentak, “Saya sedang berpikir! Kalau masalah ini dilaporkan ke pihak instansi atau parlemen, kita bisa kena tuntut! Saya tidak mau merepotkan Kakanda–!”


“Saya rasa Tuan Hadun punya bulu yang cukup lebat ….” Urdi Kabir menyela. Pria tersebut telah berdiri di depan jembatan penyeberangan untuk menyambut mereka. “Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Namun. saya berharap kita bisa melanjutkan pembicaraan tersebut di tempat lain,” ujarnya dengan sopan.


“Hmm?” Lydia terkejut, lalu segera menoleh dengan mulut sedikit menganga. Ia langsung gemetar saat melihat Kepala Stasiun Maria telah berdiri di hadapannya. “A-Anda sudah di sini rupanya?” ujarnya dengan canggung.


“Sebuah kehormatan dapat menyambut Anda ….” Urdi sedikit kebingungan. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan mulut, ia dengan tatapan heran lekas memastikan, “Kalau saya boleh tahu, mengapa Nona Lydia bisa berada di sini? Bukankah kunjungan ini milik Tuan Irwin? Terlebih lagi, surat kuasa yang saya terima hanya berisi izin visa untuk satu orang.”


“Jangan khawatir, saya membawanya ….” Sikyn mengeluarkan Kubus Data dari balik jasnya, lalu mengaktifkan layar proyeksi dan memperlihatkan dokumen visa. “Ada juga surat dinas dari pemerintah pusat. Apa perlu saya tunjukkan juga?” tanyanya memastikan.


“Tidak perlu, Tuan Hadun. Dokumen visa tersebut sudah cukup. Anda hanya perlu mengurus berkas transit dan kunjungan di kantor kami.” Urdi menaiki jembatan penyeberangan, kemudian berjalan menuju Lydia dan berdiri tepat di hadapan perempuan itu. “Apakah Nona membawa Surat Kuasa dari Tuan Irwin?” tanyanya dengan nada menekan.


“Saya ….” Lydia mulai cemas, lekas melirik ke arah Sikyn seakan ingin meminta bantuan. Namun, rasa gengsi membuat perempuan itu terdiam. Ia malah memperlihatkan tatapan tajam, lalu menghela napas dan berkata, “Saya sudah mendapatkan izin dari Kakanda. Tuan Irwin ikut bersama kami. Karena sedang tidak enak badan, beliau masih tidur di kapal.”


“Tidur?” Urdi tidak percaya dengan alasan semacam itu. Ia perlahan menurunkan tangan dari mulut, lalu mengernyit dan lekas memalingkan pandangannya menuju pria di sebelah perempuan tersebut. “Apakah itu benar, Tuan Hadun? Beliau ikut bersama kalian?”


“Hmm! Tuan Irwin masih tidur di kapal ….” Sikyn mengangguk, lalu menjentikkan jari dan melebarkan senyum tipis. “Beliau mabuk kendaraan,” tambahnya dengan nada santai.


“Mabuk kendaraan?” Urdi semakin curiga. Sekilas ia melirik ke arah Lydia, lalu menghela napas dan lanjut bertanya, “Kalian menyembunyikan sesuatu, ya?”


“Anda mencurigai kami?” Sikyn menajamkan tatapan, kemudian sedikit membuka mulut dan memperlihatkan taringnya. Mengintimidasi, menunjukkan aura yang mendominasi layaknya sosok pemangsa. “Kita memang memiliki tingkat Kapabilitas Qua yang sama. Namun, tolong jangan setarakan Perwira dengan Pegawai Sipil ….”


“Oh, engkau berbeda ….” Sikyn berhenti mengintimidasi. Ia sejenak menarik napas, kemudian menggaruk bagian belakang leher dan berkata, “Pegawai senior yang telah mengabdi selama puluhan tahun memang menarik, Anda sama sekali tidak gentar.”


“Saya tidak butuh sanjungan murahan itu, Tuan Hadun!” Kesabaran Urdi mulai habis. Ia menggertakkan gigi, lalu mengepalkan tangan dan membentak, “Surat Kuasa itu ditulis langsung oleh Kaisar Solus! Jika kalian ingin mengacau, saya takkan segan untuk–!”


“Mereka tidak mengacau, aku memang sedang tidak enak badan ….”


Suara seorang pemuda tiba-tiba bergema di dalam kepala Urdi, dengan sangat jernih dan tajam. Bukan hanya dia, namun seluruh orang yang ada di dermaga barat juga mendengar suara tersebut. Membuat mereka tersentak, lalu lekas melihat sekeliling dengan bingung.


Beberapa detik kemudian, tekanan udara di seluruh dermaga barat seketika berubah. Meski ventilasi berfungsi dengan normal, mereka perlahan mengalami sesak napas sampai sulit berbicara. Gemetar ketakutan dan mulai mematung.


Saat hawa dingin bertiup dari arah Kapal Luar Angkasa Kekaisaran Solu, mereka langsung berlutut tunduk tanpa ada yang berani mengangkat kepala. Seakan-akan insting yang tertanam pada genetik memaksa mereka untuk melakukan hal tersebut.


Urdi Kabir ikut berlutut, tidak mampu melawan tekanan tersebut. Gemetar ketakutan sampai keringat dingin bercucuran. Ia tidak pernah merasakan intimidasi sekuat itu, sangat pekat dan mematikan layaknya miasma.


“Ah, dia sudah bangun ….” Sikyn menghela napas, lalu sejenak mengangkat bahu dan melirik tajam. Ia sama sekali tidak gentar, tetap berdiri santai dan lanjut berkata, “Tuan Irwin pasti mendengar pembicaraan kita, semoga beliau tidak tersinggung.”


“Huh, akhirnya bangun juga!” Lydia ikut melirik, lalu melebarkan senyum licik seakan telah merencanakan sesuatu. Sembari bertolak pinggang, ia lekas tertawa ringan dan mengangguk. “Kakanda itu orangnya penyabar. Jika kamu tidak mempermasalahkan ini, beliau pasti akan memaafkan kalian–!”


“Mempermasalahkan apa?” Irwin Walton turun dari Kapal Luar Angkasa Kekaisaran Solu. Ia lekas berjalan menghampiri mereka, kemudian menunjuk Adiknya dengan kesal dan menegur, “Jaga sikapmu! Meski kasta sosial kalian sama, Tuan Urdi lebih tua darimu!”


“Kakanda, tolong jangan mengigau ….” Lydia menatap datar, sedikit menurunkan alis dan membalas, “Jika kamu bilang begitu, berarti seluruh Manusia Murni harus menghormati Halv. Seperti yang Kakanda tahu, jangka hidup kita jauh lebih pendek dari mereka.”


“Hmm, benarkah? Aku rasa usia mental kamu juga jauh lebih muda dari Tuan Urdi. Maksudku, kamu baru puber. Masih kekanak-kanakan ….” Irwin tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Ia sekilas mengamati kondisi dermaga barat, kemudian menghela napas ringan dan bertanya, “Ngomong-omong, kenapa mereka berlutut? Apa kalian melakukan sesuatu?”


“Tuan Irwin ….” Sikyn segera mendekat, lalu menunjuk leher pemuda itu untuk menyampaikan sesuatu. Ia tidak berani mengatakannya secara frontal, mulai menundukkan kepala dan menghindari kontak mata. “Tanpa mengurangi rasa hormat, tolong kendalikan tekanan Unfar Anda. Mereka bisa mati jika dibiarkan seperti itu,” ujarnya dengan cemas.


“Eh?” Irwin mengernyit, lalu lekas memeriksa lehernya sendiri dan terkejut. “Lydia! Kamu melepas D-Nil milikku?! Jelas saja ada yang aneh dari tadi!” bentaknya dengan kesal.


“Jangan cemas, Kakanda!” Lydia mengambil sebuah Choker dari dalam tas jinjing, lalu langsung mengembalikan alat tersebut sembari berkata, “Saya tidak merusaknya! Bahkan saya tidak memakainya sama sekali! Sungguh!”


“Kamu memakainya dengan sangat baik ….” Irwin segera mengenakan alat pengekang berbentuk Choker tersebut, lalu mengaktifkannya dan menghela napas sejenak. “Kamu sengaja melepas ini supaya tidak dituntut, ‘kan? Membuat mereka tunduk,” ujarnya dengan nada kesal.

__ADS_1


Tepat setelah Irwin mengaktifkan D-Nil, tekanan mengerikan yang menyelimuti dermaga barat seketika menghilang. Meski sudah terbebas dari intimidasi, ketakutan masih membekas dalam benak mereka.


Tampak jelas pada tatapan dan raut wajah. Bahkan ada beberapa orang yang masih tidak sanggup berdiri, tetap berlutut dan gemetar tidak karuan.


“Tuan Irwin luar biasa ….” Urdi segera bangun. Ia sejenak menundukkan kepala untuk memberikan rasa hormat, lalu menatap pemuda itu sembari lanjut menyanjung, “Ternyata itu bukan rumor! Anda benar-benar berdiri di puncak kehidupan ….”


Semua orang di dermaga ikut mengangkat wajah mereka, melihat pemuda itu dan langsung tercengang. Membisu dengan mulut terbuka, tidak bisa memberikan komentar dan kembali menunduk. Bukan karena paksaan, namun keinginan mereka sendiri.


Irwin Walton– Untuk seseorang yang lahir dari kalangan atas, pemuda rambut hitam tersebut tidak memiliki karakteristik yang mencolok. Ia mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam pekat, sedangkan bawahannya berupa celana bahan abu-abu panjang sebetis. Tampak kasual, sama sekali tidak menunjukkan status sosial ataupun wibawa kalangan atas.


Sama seperti adik perempuannya, Irwin juga berasal dari ras Manusia Murni dengan garis keturunan yang terjaga. Ia mempunyai postur tubuh tegap, cukup tinggi, dan kulit cokelat eksotis. Diselimuti kesan lembut dan santai saat tersenyum, namun memiliki tatapan tajam dengan mata hijau Zamrud. Memancarkan karisma unik saat berbicara.


Sama sekali tidak ada kesan menakutkan ataupun ganas, benar-benar merepresentasikan sosok lemah. Bahkan sampai terlihat ringkih layaknya orang penyakitan.


“Bisakah kita pindah tempat dulu?” Irwin menarik napas dalam-dalam. Ia sejenak memalingkan pandangan, kemudian memejamkan mata dan berkata, “Aku datang kemari bukan untuk menjadi tontonan mereka.”


“Be-Benar juga!” Urdi mempersilakan pemuda itu lewat, lalu dengan senyum kaku segera mengajak, “Mari kita lanjutkan pembicaraannya di kantor! Di sini memang tidak ada makanan mewah, namun kami masih bisa menyediakan camilan kering dan teh herbal.”


“Hmm! Terima kasih banyak, Tuan Kabir.” Irwin berjalan melewatinya, lalu turun dari jembatan penyeberangan dan terhenti. Sembari menoleh, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Ngomong-omong, soal dokumen visa untuk Adikku …?”


“Tenang saja, akan kami urus!” Urdi bertepuk tangan sekali, memperlihatkan ekspresi ramah dan lanjut berkata, “Semua berkas pasti akan kami siapkan sebelum kalian turun ke Almiah. Tuan Irwin tidak perlu khawatir, saya takkan mempersulit Anda.”


“Terima kasih, saya sangat tertolong. Mari selesaikan itu dulu, Tuan Kabir ….” Irwin lanjut berjalan, melewati kerumunan orang yang menyingkir untuk memberikan jalan. Sembari melirik, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Ngomong-ngomong, boleh saya pinjam tempat untuk tidur? Saya ingin istirahat sebentar sebelum turun ke Almiah.”


“Tentu saja boleh! Anda bisa menggunakan kamar tamu kami!” Urdi segera mengikutinya, berjalan di sebelah pemuda itu dan lanjut berkata, “Jika berkenan, Tuan Irwin bisa istirahat di sana sampai waktu penerbangan berikutnya.”


“Anda baik sekali, saya sampai merasa sedikit segan ….” Irwin terhenti, lalu memperlihatkan tatapan datar dan melempar senyum kecut. “Apa itu tidak masalah, Tuan Kabir? Meski saya memiliki Kapabilitas Qua yang tinggi, bukankah ini terlalu berlebihan? Rasanya seperti diperlakukan spesial–?”


“Saya memang memperlakukan Anda secara spesial!” Urdi langsung menegaskan. Sembari menundukkan kepala, pria tersebut dengan penuh semangat menjelaskan, “Tuan Irwin berkunjung ke Almiah menggunakan rekomendasi langsung dari Kaisar. Meski hanya untuk keperluan studi, saya tidak bisa mengabaikan status Anda dan bersikap biasa saja!”


“Ah, benar ….” Irwin lekas membuka kelopak mata, lalu menoleh ke arah Lydia dan Sikyn yang masih berdiri di jembatan penyeberangan. “Apa yang kalian lakukan? Cepat kemari dan selesaikan urusan kita di sini! Aku harus turun ke Almiah besok!”


Lydia menahan napas sejenak, kemudian mengelus dada dan melangkah. Ia berusaha untuk tetap bersikap santai, lekas melambaikan tangan dan melempar senyum manis.


Di sisi lain, Sikyn sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Hanya memberikan tatapan cemas, sedikit gemetar dan enggan mendekat.


“Maaf! Saya ingin memeriksa kondisi kapal kita! Tuan Irwin dan Nona Lydia pergi saja dulu!” Sikyn memilih kabur, menghindari pemuda itu dengan membuat alasan yang sangat jelas. Ia berusaha untuk tidak menunjukkan ketakutan, lalu ikut melambaikan tangan dengan senyum dan berkata, “Saya akan menyusul kalian setelah selesai mengecek mesin utama!”


“Baiklah!” Irwin menahan napas sejenak. Setelah mengingat-ingat sesuatu, pemuda rambut hitam tersebut lekas memperingatkan, “Oh, iya! Tolong hati-hati saat masuk ke ruang kendali! Ada purwarupa perangkat yang masih belum stabil di sana!”


“Eh?” Sikyn tersentak, lalu langsung mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk bergabung dengan yang lain. Berjalan mengikuti Lydia, kemudian turun dari jembatan penyeberangan dan berkata, “Saya ikut kalian saja. Bisa repot kalau terjadi sesuatu, kita masih membutuhkan kapal itu untuk pulang nanti.”


“Hmm ….” Irwin menatap datar, tidak berkomentar dan hanya menghela napas. Tanpa mempermasalahkan hal tersebut, ia lekas berbalik dan lanjut berjalan. “Kita bisa mengurusnya nanti. Lagi pula, alat itu hanyalah projek sampingan.”


“Kakanda, memangnya alat macam apa itu?” Lydia mempercepat langkah kaki, lalu menatap dari samping dan bertanya, “Kubus putih yang ada di meja, ‘kan? Reseptor Unfar?”


“Bukan, aku sudah membuat fitur itu di sini ….” Irwin mengetuk choker yang terpasang pada lehernya sendiri, lalu melirik ringan dan lanjut berkata, “Purwarupa tersebut hanya media penyimpanan Unfar eksternal. Seperti yang kau tahu, regenerasi Unfar milikku sangat cepat. Sayang sekali kalau kita tidak memanfaatkannya.”


“Begitu, ya. Syukurlah, saya kira Kakanda ingin menciptakan alat berbahaya lainnya!” Lydia segera mengangguk paham, tetap memperlihatkan ekspresi cemas dan lanjut memastikan, “Lantas mengapa alat penyimpanan bisa meledak?”


“Aku ingin membuat peledak.”


“Eh!?” Lydia langsung memucat, segera berbalik dan ingin kembali ke kapal untuk membuang alat tersebut. “Akh!! Sudah saya duga–!!”


“Tunggu! Tunggu!” Irwin segera meraih tangan Adiknya, lalu melempar senyum lembut dan berkata, “Cuma bercanda, kok! Mana mungkin aku membuat benda berbahaya seperti itu. Kita kemari untuk urusan studi, loh. Bukan perang ….”


“Sungguh?” Lydia menahan napas sejenak, kemudian mengerutkan kening dengan kesal dan menggerutu, “Entah mengapa perkataan Kakanda sama sekali tidak meyakinkan. Malahan perang terdengar lebih wajar daripada urusan studi ….”


“Pedas sekali perkataanmu ….” Irwin hanya menatap datar, tidak membalas komentar itu dan terdiam. Setelah menghela napas, ia melepaskan tangan perempuan tersebut dan lanjut berjalan. “Itu tidak sepenuhnya salah,” gumamnya seraya memejamkan mata sejenak.


Irwin tidak menjelaskan apa-apa, hanya tersenyum lembut dan sepenuhnya mengabaikan kekhawatiran Adiknya. Ia perlahan mendongak, melihat luar angkasa melalui langit-langit kubah transparan. Memperlihatkan ekspresi sedih bercampur cemas, membisu dalam kesendirian yang sulit untuk dijelaskan.


“Gelisah?” Lydia mempercepat langkah kaki, lalu berjalan di sebelah kiri pemuda itu dan kembali bertanya, “Atau … sedang merencanakan sesuatu?”


“Korwa Khan ….” Irwin menurunkan tatapan, sejenak menghela napas dan memejamkan mata. Sembari menaiki anak tangga menuju jalan utama, pemuda rambut hitam tersebut perlahan melirik dan lanjut berkata, “Kemungkinan besar dia akan menjadi kunci Subversif kali ini. Sebelum mereka bangkit, kita harus mengamankan orang itu.”


“Bukankah akan lebih mudah jika kita membunuhnya saja?” Lydia ikut terhenti. Sembari memperlihatkan senyum lebar, ia sekilas memalingkan pandangannya sembari berkata, “Lagi pula, kita tidak punya kewajiban untuk menyelamatkan mereka ….”


“Jangan bicara begitu, Adikku ….” Irwin kembali menghadap ke depan, lanjut menaiki anak tangga dan menghela napas sejenak. “Kita membutuhkan mereka untuk melawan balik.”

__ADS_1


ÔÔÔ


__ADS_2