Siklus Sakral

Siklus Sakral
CH 01 – Almiah Dissident (Part 02)


__ADS_3

“Seperti yang Ibu Korwa katakan, mereka dianggap mulia karena Kekaisaran Solus memuliakan mereka. Lantas ….” Murid laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Sedikit membusungkan dada, lalu dengan suara lantang bertanya, “Mengapa mereka harus dimuliakan? Apakah karena Mesias Bahtera yang kita agungkan adalah Manusia Murni, atau itu hanya konspirasi parlemen untuk mempertahankan kekuasaan mereka?”


“Ada banyak pendapat yang membahas kemuliaan Manusia Murni ….” Korwa kembali mengangkat mikrofon, lalu berbalik menghadap layar proyektor dan mengganti halaman presentasi. Sembari menunjukkan ilustrasi subjek yang mereka bahas, ia dengan tegas lanjut menyampaikan, “Sebagian kelompok menganggapnya sebagai konspirasi, sedangkan yang lain tetap memuliakan. Namun, semua itu hanyalah pendapat. Kita tidak benar-benar tahu mengapa Manusia Murni harus dimuliakan sampai sekarang.”


“Tidak benar-benar tahu, ya ….” Murid itu kembali duduk, menundukkan wajah dengan kecewa dan termenung. Sebagai laki-laki dari ras Turtur, ia memiliki keingintahuan yang cukup tinggi. Meskipun itu terkadang menyimpang dari ajaran Altair Almiah. “Sayang sekali, padahal saya berharap bisa mendapatkan jawabannya di kelas ini,” gumamnya lirih.


“Namun, sayangnya Ibu tidak setuju dengan gagasan mereka!” Korwa belum selesai menjawab. Ia memperbesar gambar Manusia Murni pada bagian kepala, lalu menunjuk ke arah audiensi sembari lanjut menyampaikan, “Sesuatu yang membuat mereka mulia bukanlah garis keturunan ataupun sejarah kepemimpinan, melainkan kecerdasan serta kemampuan adaptasi!”


“Kecerdasan dan kemampuan adaptasi?” Murid dari ras Turtur itu kembali mengangkat wajahnya, lalu berdiri dan menatap dengan penuh semangat. Meski dirinya berasal dari suku Al-Miah Moa yang terkenal bijak, ia tidak bisa mencapai kesimpulan seperti itu. “Mengapa begitu, Ibu Korwa? Bukankah ras kita, Halv, lebih unggul dari mereka?” tanyanya memastikan.


“Itu benar, kita jauh lebih unggul dari Manusia Murni ….” Korwa tidak membantah. Kembali menghadap para audiensi, ia dengan gamblang lanjut menyampaikan, “Kemampuan adaptasi kita lebih unggul dari mereka. Dalam segi kecerdasan, para Orakel mampu mengungguli mereka! Lantas, mengapa kita harus memuliakan Manusia Murni?”


“Itu ….” Murid laki-laki tersebut dibuat bingung, memalingkan pandangan dengan ragu dan menjawab, “Kita memang tidak seharusnya memuliakan mereka?”


“Pendapat yang menarik! Namun, sayangnya bukan jawaban itu yang saya inginkan!” Korwa sedikit tertawa, melempar senyum hangat dan lanjut menjelaskan, “Mereka memang harus dimuliakan, tetapi pada aspek yang sangat berbeda! Bukan sejarah ataupun garis keturunan, melainkan pada sesuatu yang lebih mendasar seperti eksistensi ….”


Pernyataan itu membuat semua audiensi kebingungan, bahkan beberapa pengajar yang mengikuti kelas besar tersebut pun ikut heran. Mulai mempertanyakan kapabilitas Korwa sebagai guru, lalu mencibir perempuan itu dengan suara pelan.


“Dia sudah tidak waras, jawabannya mulai melantur.”


“Itu benar, tidak logis. Kenapa harus bawa-bawa eksistensi segala?”


“Tch! Kalau tidak bisa jawab, bilang saja! Tak perlu besar kepala ….”


“Apakah kalian tahu alasan mengapa leluhur kita mengimplementasikan manipulasi genetik?” Seakan tidak memedulikan cemooh mereka, Korwa melanjutkan pernyataannya. Ia berjalan ke ujung panggung, lalu menatap para audiensi dan menyampaikan, “Implementasi rekayasa genetik tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan adaptasi kita!”


“Aku juga tahu itu! Kau pikir kami bodoh?!” Seorang pengajar yang mengawasi kelas besar mulai naik pitam. Ia memukul tembok, lalu berjalan menuruni anak tangga dan naik ke atas panggung presentasi. “Perkataanmu sudah tidak masuk akal! Turun! Akademi adalah tempat untuk belajar, bukan berimajinasi!” bentaknya dengan suara lantang.


“Ini bukan imajinasi, melainkan spekulasi kuat yang sangat logis.” Korwa tidak gentar. Sembari menatap balik, perempuan rambut ungu tersebut lanjut menyampaikan, “Jika memang leluhur kita menerapkan manipulasi evolusi tersebut untuk meningkatkan kemampuan adaptasi, mengapa eksistensi Manusia Murni masih ada sampai sekarang?”


“Eh?” Pengajar dari ras Piscium itu tersentak. Ia sekilas memalingkan wajah, lalu menurunkan tatapan dan menjawab, “Tentu saja karena mereka dimuliakan, dilindungi oleh Kekaisaran Solus. Memangnya apa lagi alasannya?”


“Kekaisaran memang memuliakan Manusia Murni, bukan melindungi. Malah ….” Korwa menajamkan tatapan, lalu berjalan mendekat dan menambahkan, “Mereka melindungi kita dengan pengetahuan dan kepercayaan. Seharusnya engkau memahami hal tersebut, ‘kan?”


“La-Lantas! Kenapa engkau meragukan kemuliaan mereka?” Pengajar itu tidak mundur. Ia mulai melotot, lalu menunjuk dari dekat dan lanjut menegaskan, “Hal tersebut dengan jelas dilarang oleh ajaran Altair Almiah dan Kebijakan Kekaisaran!”


“Saya tidak meragukan kemuliaan Manusia Murni, namun mempertanyakan cara kalian memuliakan mereka ….” Korwa menggelengkan kepala, lalu naik ke atas podium dan kembali menghadap para audiensi. Setelah mengembalikan mikrofon pada tongkat, perempuan rambut ungu tersebut dengan lantang meluruskan, “Mereka mulia karena kemampuan yang mereka miliki, bukan karena garis keturunan ataupun sejarah kepemimpinan!”


“O-Omong kosong!” Pengajar yang protes itu langsung marah. Namun, ia tidak bisa berargumen lagi. Tanpa bisa membantah pendapat tersebut, ia segera turun dari panggung dan pergi meninggalkan ruang kelas. “Kau pasti sudah gila karena berani menentang Kebijakan Kekaisaran!” ujarnya seraya membanting pintu.

__ADS_1


“Dasar kolot ….” Korwa menghela napas panjang, lalu memperlihatkan ekspresi sedih. Seakan-akan dirinya mengasihani pengajar tadi. Kembali menghadap audiensi, perempuan rambut ungu tersebut lekas menawarkan, “Baiklah! Mari kita lanjutkan kelas ini! Kita masih punya waktu dua jam lagi sebelum istirahat siang! Apakah ada yang ingin bertanya?”


Sebagai seorang pengajar, Korwa melanjutkan kelas dengan pikiran terbuka. Ia menerima argumen negatif dari para peserta, mendengarkan mereka dengan baik-baik, lalu diluruskan dengan jawaban dari persepsi yang sangat berbeda.


Tidak terikat oleh gagasan Kekaisaran Solus ataupun kepercayaan Altair Almiah, murni dari persepsi individu yang bebas dari doktrin. Menjawab pertanyaan mereka secara terbuka dan logis, tanpa takut dengan fraksi-fraksi besar yang menguasai Sistem Tata Surya Almah.


Setelah presentasi selesai, diskusi panjang langsung memenuhi kelas tersebut. Beradu argumen dengan guru mereka, menyampaikan pendapat dengan bebas tanpa takut mendapatkan tekanan. Selama itu masuk akal dan tidak disebarluaskan di luar akademi, mereka diberikan hak untuk berpendapat sebebas mungkin.


.


.


.


.


.


.


.


Lonceng istirahat siang berbunyi, menjadi tanda berakhirnya kelas besar dan membubarkan para peserta yang sibuk berargumen. Mereka berbondong-bondong angkat kaki dari ruang kelas dan pergi menuju kantin, sembari tetap membicarakan materi yang telah dipresentasikan oleh Korwa. Melakukan diskusi secara mandiri meski pelajaran sudah selesai.


“Kelas tadi sungguh menarik, saya kagum ….” Seorang pria menghampirinya dengan niat baik, ia adalah pengajar sekaligus kolega Korwa di akademi. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Nona Korwa,” ajaknya dengan nada santai, sedikit melebarkan senyum dan menggoda.


Pria itu berasal dari suku Al-Miah Nor, ras Marinus Rapax. Ia memiliki beberapa tanda genetik ikan predator seperti gigi yang runcing, dan pupil mata berbentuk vertikal.


Rambut biru cerah adalah ciri khas kaum Sean, sedangkan kulit cokelat eksotis menjadi karakteristik Marinus Rapax sebagai pejuang, dan mata hijau zamrud merupakan turunan dari ayahnya. Meski terlihat sangat muda, pria tersebut telah hidup selama lebih dari lima dekade.


Selain itu, ia juga mempunyai perawakan yang kekar dan sedikit lebih tinggi dari Korwa. Tampak perkasa layaknya seorang marinir muda.


“Hmm? Tuan Shamar mengajak saya kencan, ya?” Korwa membalas gurauan itu dengan santai, melempar senyum manis dan berkata, “Saya tidak keberatan, asalkan Anda yang mentraktir. Mau makan di mana?”


“Kencan? Kamu ini …!” Shamar tersentak, sedikit mengerutkan kening dan menghela napas. Sebagai pria yang baru menikah, lelucon tadi terdengar sedikit menakutkan. Apalagi jika sampai ke telinga istrinya. “Tolong jangan bicara seperti itu, nanti Irina bisa marah ….”


“Ah, maaf. Sepertinya saya berlebihan. Kalian baru menikah minggu lalu, ya?” Korwa menyeringai, sedikit membusungkan dada dan mengendus kasar. “Bagaimana malam pertama kalian? Lancar?” tanyanya dengan niat meledek.


“Kau ini! Ingin aku jotos, ya?” Shamar mengepalkan tangan, lalu sedikit mengernyit dan bersiap memukul perempuan itu. “Serius, deh! Tolong jangan bercanda seperti itu! Meski kita sudah kenal lama, Irina itu orangnya cemburuan! Kalau dia dengar—!”

__ADS_1


“Dengar apa?” Perempuan yang mereka bicarakan tiba-tiba muncul, telah berdiri di belakang Shamar sembari mendengar separuh pembicaraan. “Oh, sayangku. Apa yang sedang kamu bicarakan dengan Korwa? Kamu tidak mengajaknya kencan lagi, ‘kan?”


“Eh?!” Shamar perlahan menoleh, ia gemetar ketakutan sampai wajahnya sedikit memucat. “Tidak, kok! Diriku hanya ingin mengajaknya bicara soal materi presentasi tadi ….”


Irina tidak asing dengan Korwa, mereka pernah menjadi teman dekat saat masih berada di bangku kuliah. Bahkan keduanya sempat tinggal satu atap, menyewa apartemen yang sama dan berbagi kamar selama menempuh pendidikan.


Meski pernah akrab layaknya keluarga, ada banyak masalah yang membuat mereka saling bermusuhan. Salah satunya adalah urusan pria, terutama tentang hubungan asmara.


Irina Irama adalah anak bungsu dari Tetua Suku Al-Miah Hua, seorang Piscium dengan silsilah murni. Ia memiliki rambut biru panjang sebahu, lurus mengkilap, dan tampak sedikit berubah kehijauan saat terpapar cahaya.


Selain itu, Irina juga mempunyai kulit pucat dan sisik pada beberapa tempat, telinga berbentuk sirip ikan, serta mata berwarna kuning keemasan. Tanda bahwa dirinya berasal dari silsilah murni, belum tercampur dengan unsur genetik dari ras lain.


Meski berasal dari kalangan terpandang, Irina cenderung menghindari urusan politik dan lebih memilih untuk mendalami pendidikan psikologi. Karena itulah, ia kehilangan hak waris keluarga dan berakhir menjadi seorang pengajar di akademi.


Setelah mandiri dan lepas dari status sosial keluarga, Irina tanpa ragu langsung menikah dengan Shamar. Sosok pria yang memang sudah lama menjalin hubungan asmara dengannya.


“Mau makan bareng, Ina? Suamimu mengajak saya, nih!” Setelah menyimpan berkas dan Kubus Data ke dalam tas jinjing, Korwa langsung berjalan menghampirinya. Sekilas menurunkan alis dan menatap datar, lalu melempar senyum kecut sembari berkata, “Apa diriku perlu memberi kalian hadiah pernikahan? Ah, benar juga! Kalian tidak mengadakan pesta pernikahan, ya? Saya tidak tahu harus menaruh kadonya di mana ….”


“Terima kasih, tapi tidak usah!” Irina sekilas mengernyit, mulai menggertakkan gigi dan melotot. Ia segera meraih tangan suaminya, lalu menariknya menjauh dari Korwa. “Kami tidak butuh hal semacam itu. Meskipun ada pesta pernikahan, kami tidak akan mengundang orang menyebalkan sepertimu!”


“Oke! Kebetulan minggu ini saya sedang bokek!” Korwa memperlihatkan ekspresi tidak peduli, sekilas memalingkan pandangan dan menghela napas resah. “Saya pergi dulu, ya! Setelah ini masih ada pertemuan dengan Kepsek!” ujarnya seraya berjalan melewati mereka.


“Enggak makan siang dulu?” Shamar sedikit cemas. Ia sempat melangkah dan berniat meraih bahu perempuan itu, namun terhenti dan hanya berkata, “Tolong jangan memaksakan diri! Aku tahu ini waktu krusial untuk karir—!”


“Sham ….” Korwa terhenti, lalu menoleh dan memberikan tatapan tajam. Sembari menunjuk mereka, perempuan rambut ungu tersebut dengan kesal menegaskan, “Urus urusanmu sendiri! Bukankah masalah kalian masih banyak?”


“Apa-apaan sikapmu itu?” Irina langsung kesal, ia segera menghampiri perempuan itu dan membentak, “Kami mencemaskanmu, tahu! Belakangan ini kamu lembur terus, sih! Jarang pulang ke apartemen—!”


“Ah, saya sudah pindah sejak minggu lalu ….” Korwa melempar senyum kecut. Sejenak menahan napas, ia berusaha menyembunyikan rasa takut dan cemas yang bercampur aduk dalam hati. “Bukankah tidak tenang tinggal berdekatan dengan mantan kekasih dari suamimu? Aku merasa tidak nyaman, jadi pindah ….”


“Korwa, kamu ….” Shamar tertegun. Meski ia sudah tidak memiliki perasaan asmara dengan perempuan itu, namun perkataan tersebut tetap membuatnya merasa bersalah. “Maaf. Aku tidak bermaksud membuat kau enggan dengan kami.”


“Lah, kenapa malah minta maaf? Nanti kamu digigit ikan piranha di sampingmu, loh!” Korwa berhenti menunjuk, kemudian tertawa ringan dan mengingatkan, “Kamu urus saja Istrimu dulu, lalu selesaikan masalah kalian. Kalau sudah beres baru kita bicara baik-baik. Pernikahan kalian belum direstui, bukan? Baru daftar di Dukcapil, ‘kan?”


“Nyelekit banget kalau ngomong ….” Irina hanya bisa tertegun. Ia sejenak menggelengkan kepala, lalu lekas menunjuknya dan membalas, “Kamu juga! Sana cepat cari pasangan! Jangan melajang terus!”


“Be-Berisik!” Korwa tidak bisa membalas. Ia segera berbalik, lalu berjalan meninggalkan ruangan sembari berkata, “Sudah, ya! Semoga kalian langgeng dan bahagia.”


Korwa ingin mengucapkan selamat dengan jujur. Namun, harga diri membuatnya tidak bisa menyampaikan itu dengan baik. Memilih berkelit dan bersikap kasar, tanpa inisiatif mengambil langkah untuk memperbaiki hubungan.

__ADS_1


Ia pernah jatuh cinta, mendambakan hubungan asmara dan kehangatan keluarga. Namun, angan-angan itu langsung pupus saat mendengar sahabatnya juga mencintai pria yang sama. Menyerah sebelum melakukan sesuatu, memendam perasaan dan memilih untuk mundur. Menjadi seorang pengecut bermulut besar untuk melindungi hatinya yang rapuh.


ÔÔÔ


__ADS_2