
Setiap kehidupan memiliki batas, bahkan untuk jiwa mereka sekalipun. Keterbatasan merupakan karakteristik makhluk hidup untuk berkembang, menjadi simbol perubahan dan jembatan menuju evolusi. Mengikuti kehendak alam tempat mereka tinggal.
Banyak golongan yang menyuarakan penghijauan, menjaga lingkungan, dan mengurangi polusi. Menciptakan berbagai macam produk ramah lingkungan, membatasi produksi limbah, dan menciptakan sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui.
Dilandasi oleh kecintaan mereka terhadap alam, menganggap lingkungan membutuhkan bantuan mereka untuk tetap terjaga. Mulai memandang rendah orang lain hanya karena tidak ikut serta menjaga ekosistem.
Namun, kenyataannya alam tidak membutuhkan bantuan mereka. Jika sebuah planet sudah berkehendak untuk menutup umurnya, umat manusia takkan bisa melakukan apa-apa.
Teknologi dan pengetahuan mereka hanya berfungsi sebagai alat perawatan, bukan instrumen penyelamat yang mahakuasa. Penuh dengan keterbatasan–
Kekuatan manusia terlalu lemah untuk menjaga sesuatu, namun cukup kuat untuk meruntuhkan segalanya. Layaknya menara pasir yang dibangun oleh anak-anak saat bermain di pesisir pantai, kemuliaan dan keagungan mereka akan sirna saat alam berkehendak.
Tidak ada yang kekal di dunia, segalanya memiliki batasan yang dapat disebut sebagai konsep kecacatan. Aspek yang dibutuhkan dalam perkembangan dan adaptasi kehidupan.
Bahkan semesta yang kompleks juga memiliki banyak kekurangan, sukar untuk dijelaskan karena telah menjadi komponen dasar dalam proses menuju kesempurnaan.
Biasanya sungai bermuara ke danau, laut, dan samudera. Namun, manusia menciptakan bendungan dan kanal buatan untuk memenuhi kepentingan mereka.
Lahan perkotaan selalu dibatasi oleh hutan, memiliki zona hijau dan daerah resapan. Pemerintah yang mampu merealisasikan kebijakan tersebut akan mendapatkan banyak pujian dari masyarakat, dianggap memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan tanggung jawab terhadap masa depan khalayak.
Kegiatan tersebut tampak mulia, patut dipuji dan dihargai. Namun, ironisnya sumber masalah tersebut adalah masyarakat itu sendiri.
Eksosfer berada pada lapisan paling luar atmosfer, tepat bersebelahan dengan luar angkasa. Saat meneropong lebih jauh, semesta akan berhadapan dengan singularitas kehampaan. Sesuatu di luar kemampuan observasi umat manusia.
Selain kehidupan dan akal, ketidaktahuan merupakan berkah yang harus disyukuri umat manusia. Diam merupakan sikap bijak yang sering diremehkan, bahkan lebih rendah dari tindakan gegabah yang dapat membahayakan banyak orang.
Bersikap abai lebih sulit daripada mengambil tindakan tanpa memahami konsekuensi yang ada, keingintahuan terkadang dapat menjadi pemicu malapetaka. Sejarah telah membuktikannya, ditunjukkan oleh kengerian yang terjadi dari awal peradaban umat manusia sampai sekarang.
Diusirnya leluhur umat manusia dari nirwana.
Banjir dahsyat yang menenggelamkan peradaban purba.
Kenikmatan menyimpang.
Wabah kehancuran.
Rumus kematian.
Kebiadaban yang mengatasnamakan kebenaran ilahi, dan ….
Pembantaian untuk kepentingan duniawi.
__ADS_1
Semua malapetaka itu bersumber dari keingintahuan dan ketidaktahuan. Pembuktian identitas dan eksistensi sang Pencipta, mencari tahu kebenaran dengan cara yang tidak tepat.
Hanya mempercayai apa yang ingin mereka percayai, mengabaikan petunjuk yang telah diberikan kepada mereka.
Masyarakat purba menjadi angkuh setelah tahu mereka berada di puncak rantai makanan. Bertindak semena-mena, merebut hak makhluk lain, dan mengabaikan keluhuran hati nurani. Pengetahuan berubah menjadi kebiadaban–
Kenikmatan menyimpang yang ditemukan kaum Luth membuat mereka lalai. Menyebarkan penyakit, merusak persepsi, dan mendatangkan murka ilahi.
Ketika seluruh makhluk diciptakan berpasang-pasangan, mereka malah melanggar kodrat tersebut dan menganggapnya wajar. Tenggelam dalam kenikmatan yang merusak.
Pharaoh yang bijak berubah menjadi angkuh setelah menyadari kekuasaannya sendiri. Ia dilahirkan sebagai anak manusia, dididik dengan kehangatan, dan dibesarkan untuk menyandang kejayaan dan kemuliaan leluhur.
Namun, semua itu berakhir percuma saat dirinya menyadari nilai tahta yang diduduki. Keturunan mulia berubah menjadi tiran karena kurangnya pemahaman terhadap konsekuensi. Berakhir mengenaskan di antara dua daratan, tenggelam bersama kejayaan leluhurnya.
Keingintahuan para Ilmuwan melahirkan rumus mematikan. Diciptakan dengan niat baik, namun digunakan untuk mendatangkan malapetaka. Membinasakan ribuan orang dalam sekejap. Tanpa memandang umur, jenis kelamin, keturunan, ataupun jabatan.
Ada banyak kelompok yang menyuarakan kebaikan, namun malah mengangkat senjata dan melakukan kebiadaban. Mengabaikan petunjuk yang telah diberikan kepada mereka.
Daripada memahami selembar halaman yang dapat dijadikan panutan hidup, anak-anak muda lebih memilih menggeser layar untuk membaca ucapan menyesatkan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Melalaikan kewajiban mereka sebagai manusia.
Perang dijadikan bisnis, kebohongan lebih menarik dari kebenaran, kebaikan dianggap sebagai bentuk kemunafikan, dan penyimpangan moral dipandang wajar dengan alasan toleransi. Mereka bertingkah seenaknya seakan sedang menguji kesabaran sang Pencipta.
Mencari pembuktian atas kehendak yang lebih kuat–
Dianggap kuno, irasional, dan bertentangan dengan sains. Tanpa mau menerima fakta bahwa sains tersebut diciptakan leluhur untuk membuktikan kebenaran–
Leluhur mereka membangun ilmu pengetahuan sebagai jembatan untuk memahami kebenaran. Supaya lebih mudah diterima, dipahami, dan diterapkan sebagai petunjuk.
Kepercayaan bukanlah kekangan yang mengikat umat manusia, melainkan arahan dalam menjalani kehidupan yang bermartabat.
Tetapi, pada akhirnya mereka hanya percaya dengan apa yang ingin mereka percayai.
Mengubah ajaran dengan menciptakan aliran baru, menganggapnya lebih terbuka supaya dapat diterima oleh banyak orang. Memiliki lebih banyak penganut, penyembah, dan pengikut. Dijadikan bisnis untuk meraup keuntungan pribadi.
Karena itulah, ketidaktahuan merupakan berkah untuk umat manusia supaya mereka bisa memilih. Jika jawaban “Benar” sudah tersedia di awal, takkan ada perkembangan bermakna dalam kisah hidup mereka. Hanya berakhir menjadi narasi kejam sang Pencipta.
Lebih dari 6.236 petunjuk telah diturunkan, menjadi pelita umat manusia supaya mereka tidak tersesat. Namun, tetap saja mereka berpaling dan memilih jalan yang salah.
Itu merupakan hak, bukan ketetapan ataupun takdir. Dapat dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, dan diri sendiri. Menjadi fondasi mereka sebagai individu yang utuh.
Kebenaran hanya akan terungkap ketika semuanya berakhir. Kepercayaan yang dianut hanya akan mempengaruhi sikap manusia, bukan keyakinan mereka atas eksistensi pencipta.
__ADS_1
Pencerahan ilahi hanya dapat dicapai dari berserah diri ke jalan yang tepat, bukan kebenaran yang diciptakan oleh pihak tertentu untuk kepentingan pribadi dan golongan.
Karena itulah, sebenarnya pencipta dan semesta tidak membutuhkan umat manusia. Layaknya sel-sel dalam tubuh makhluk hidup. keberadaan kita bisa digantikan dengan entitas lain yang lebih sempurna, berkualitas, dan mudah diatur.
Namun, umat manusia masih eksis sampai sekarang. Tidak mendapatkan teguran seakan-akan ditelantarkan oleh sang Pencipta, dibiarkan dalam kebiadaban yang merajalela.
Hal tersebut bukanlah kecacatan, melainkan proses penyempurnaan umat manusia supaya dapat menyadari kesalahan mereka sendiri.
Bukan secara individu–
Melainkan sebagai spesies yang telah ditunjuk oleh sang Pencipta sebagai Khalifa. Sosok mulia yang turun dari nirwana untuk menunjukkan potensi mereka kepada dunia.
.
.
.
.
Sejarah umat manusia telah berakhir, dilupakan dan dimanipulasi oleh leluhur mereka sendiri untuk menyembunyikan keputusasaan. Tidak ada lagi kisah mulia yang dapat dijadikan pedoman hidup, bahkan ribuan petunjuk suci pun hilang ditelan keganasan waktu.
Namun, kepercayaan yang mereka anut tidak sepenuhnya lenyap.
Terus mengalami metamorfosis secara berkala, disesuaikan dengan perubahan zaman sampai bentuk aslinya tidak terlihat lagi. Hanya menyisakan beberapa ajaran dasar seperti memuja entitas yang lebih mulia, ibadah, dan konsep berserah diri kepada pencipta.
Pada momen pendirian Kekaisaran Solus, seluruh leluhur sepakat untuk menghapus beberapa informasi sejarah kuno untuk menciptakan ketertiban. Sepenuhnya dilenyapkan dari persepsi masyarakat, kemudian disegel dan diawasi oleh beberapa pihak terpilih.
Mereka tidak menyegel semuanya.
Ilmu pengetahuan yang berhasil diselamatkan sama sekali tidak dimanipulasi, begitu pula beberapa budaya dan kepercayaan yang ada.
Meski telah mengalami banyak perubahan serta perkembangan, peninggalan tersebut masih hidup sampai sekarang. Diwariskan melalui beberapa keturunan dan telah menjadi karakteristik Kekaisaran Solus.
Mereka telah melupakan asal, bentuk asli, dan bahkan tujuan pelarian.
Tidak ada satu pun arsip sejarah yang menyebut Bumi sebagai tempat asal para leluhur. Semua informasi yang berkaitan dengan asal usul mereka telah dimanipulasi, kemudian diganti dengan lusinan teori konspirasi yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.
Bangsa Halv menjadi mayoritas penduduk Kekaisaran Solus, sedangkan Manusia Murni dianggap sebagai minoritas yang harus dilestarikan.
Perubahan zaman membuat persepsi tersebut semakin kuat, menjadi pengetahuan umum yang kukuh sampai sekarang.
__ADS_1
Lalu, tidak ada lagi yang ingat bahwa mereka sedang dalam pelarian. Kabur dari entitas yang telah menghancurkan Bumi, kampung halaman leluhur umat manusia.
ÔÔÔ