Siklus Sakral

Siklus Sakral
CH 01 – Almiah Dissident (Part 03)


__ADS_3

Akademi dan Universitas merupakan lembaga pendidikan nasional milik Kekaisaran Solus. Didirikan dengan visi dan misi untuk pemberdayaan peradaban, mengembangkan teknologi dengan konsep pemakmuran masyarakat, dan peningkatan kualitas hidup.


Lembaga pendidikan tersebut memiliki wewenang independen atas pengetahuan. Selama masih berada di dalam Otoritas Administrasi, hak pengetahuan akan dijamin dan dilindungi secara maksimal. Bahkan untuk gagasan radikal sekalipun.


Namun, wewenang independen tersebut hanya berlaku dalam lingkungan Akademi dan Universitas. Jika ada anggota yang menyebarluaskan pendapat radikal ke masyarakat, maka itu akan menjadi tanggung jawab individu. Dengan kata lain, dapat diadili oleh hukum jika dinilai mengancam kedaulatan Kekaisaran Solus.


Hak untuk mempublikasikan ide dan pendapat kepada masyarakat dipegang oleh pihak Universitas, lalu harus disetujui langsung oleh Kaisar sebelum diimplementasikan. Hal tersebut merupakan bentuk nyata dari doktrin pengetahuan yang diterapkan oleh Kekaisaran Solus.


Ketentuan itu tidak hanya berlaku untuk Jann dan Almiah, tetapi juga seluruh Negara Vasal yang berada di bawah Kekaisaran Solus. Bersifat mengikat dan berfungsi untuk mengawasi gerakan-gerakan radikal dalam masyarakat.


Sedikit berbeda dari instansi pemerintah lainnya, Akademi dan Universitas tidak menjunjung sistem kasta berdasarkan keturunan. Selama memiliki kapabilitas dan telah diakui oleh lembaga, latar belakang anggota tidak akan dipertanyakan.


Hierarki pengurus ditentukan berdasarkan kontribusi kepada lembaga, berlaku juga untuk kalangan pelajar dan pengajar. Diterapkan secara merata untuk memaksimalkan kinerja.


Mengesampingkan fungsi pengawasan masyarakat yang ada, Akademi dan Universitas adalah lembaga pendidikan biasa. Memprioritaskan murid, pelajar, dan pengurus. Lebih mementingkan aspek pendidikan daripada politik ataupun konspirasi pemerintah.


Karena itulah, seluruh anggota lembaga memiliki kebebasan berpendapat yang mutlak. Dapat beradu argumen dan bebas mengritik pemerintah, kemudian berinovasi tanpa harus mendapat tekanan dari pihak lain. Lingkungan bebas untuk kalangan terpelajar.


.


.


.


.


Kantin selalu menjadi tempat paling ramai saat jam istirahat siang. Dipenuhi pelajar dari tahun pertama sampai ketiga, bahkan ada pengajar dan pengurus yang ikut mengantri.


Mereka dapat memesan makanan melalui mesin otomatis yang tersedia di sudut kantin. Mesin tersebut menyatu pada dinding, terbuat dari logam campuran, dan memiliki layar sentuh dengan berbagai pilihan menu.


Setelah memasukkan Kubus Data ke dalam alat pemindai, proses transaksi akan dilakukan secara otomatis. Diawali dengan pemeriksaan akun individu untuk memastikan ketersediaan aset, lalu dicocokkan melalui basis data supaya dapat melakukan pembelian.


Bukti pembayaran akan keluar setelah transaksi berhasil, setelah itu pesanan dapat diambil di gerai sesuai yang tertera pada karcis.


Namun, tentu saja mereka harus mengantre lagi. Saling berdesakan dengan perut keroncongan, bahkan ada pelajar yang menyerah dan memilih roti sebagai alternatif.


Berbeda dengan para murid, kalangan pengajar mendapatkan sedikit kemudahan dalam mengantre. Mereka dapat mengambil karcis pesanan di luar jam padat, kemudian diprioritaskan lebih dulu supaya dapat memilih tempat duduk.


Karena itulah, saat para pelajar masih berdesakan mengantre, kebanyakan guru sudah mendapat tempat duduk dan mulai menyantap makan siang. Sembari berbincang santai bersama kolega, berbagi pengalaman mengajar ataupun membahas topik penelitian mereka.


Sama seperti pengajar lainnya, Korwa sudah duduk dan bersiap menikmati sup rumput laut pedas. Namun, ia langsung menurunkan sendok saat melihat Shamar dan Irina mendekat.


Mereka dengan santai meletakkan nampan makanan ke atas meja, lalu duduk berhadapan dengan Korwa sembari melempar senyum ramah.


“Kamu suka sekali makan di dekat jendela, ya? Saya juga ….”


Irina melihat keluar jendela, kemudian melebarkan senyum masam dan menahan napas sejenak. Ada lusinan bangunan mengapung, para pelajar dan pengajar yang lalu-lalang, serta hamparan laut lepas yang mendominasi pemandangan.


Tampak begitu biru dan damai, namun sangat membosankan di matanya. Merasa muak dengan tatanan pemerintah, ingin bebas dari kekangan peraturan dan adat.


Sayangnya, ia hanya bisa menghela napas dan menundukkan kepala. Tanpa mampu membawa sebuah perubahan pada tatanan tersebut.


“Ngapain kalian duduk di sini?” Korwa mengerutkan kening, langsung berdecak kesal dan menghela napas resah. “Uwah, kenapa tiba-tiba melankolis begitu? Sedang bocor, ya?”


“Akh—! Serius?” Irina sedikit tersentak. Ia perlahan menoleh, lalu mulai mengernyit sembari berkata, “Bisa enggak kamu kalau ngomong sedikit ditata bahasanya?”


“Ditata?” Korwa berdecak kesal, kemudian memutar bola mata dan mulai menyantap sup yang masih hangat.  Setelah menelan rumput laut, perempuan rambut ungu cerah tersebut sekilas menunjuk mereka sembari berkata, “Saya tidak butuh komentar kalian ….”


“Ngomong-omong, Korwa ….” Shamar berusaha membuka topik pembicaraan lain. Ia menurunkan mangkok berisi sup ikan dan alga dari nampan, lalu menaburkan garam masala yang tersedia di atas meja. “Kamu tidak jadi rapat? Katanya tadi ada pertemuan dengan Kepsek?” tanya pria rambut biru cerah itu dengan heran.

__ADS_1


“Enggak jadi, tiba-tiba beliau dapat urusan mendesak ….” Korwa berhenti menyantap makan siang dan menurunkan sendok. Setelah minum air putih dan melegakan tenggorokan, ia kembali menatap mereka sembari menyampaikan, “Beliau berkata akan ada tamu penting yang berkunjung besok. Pembahasan artikel ilmiah saya ditunda sampai lusa nanti.”


“Tamu penting?” Shamar sedikit penasaran. Ia sekilas meletakkan tangan ke dagu, lalu memalingkan pandangan dan bergumam, “Inspeksi dari Jann? Belakangan ini banyak paham radikal yang disebar ke masyarakat, sih! Bisa saja mereka datang untuk memeriksa Kepsek.”


“Saya rasa bukan inspeksi. Itu memang transmisi dari Jann, tapi bukan pihak pemerintah apalagi ombudsman ….” Korwa sekilas mengangkat bahu, lalu lanjut menyantap makan siang dan menambahkan, “Itu berasal dari pihak Universitas di sana, katanya ada murid yang ingin berkunjung kemari.”


“Murid?” Irina ikut penasaran, sedikit menajamkan tatapan dan berpikir. Meninjau gejolak politik yang sedang terjadi di Almiah, ia tidak bisa menebak tujuan dari kunjungan tersebut. “Bukankah itu cukup berisiko? Jika sampai ada kasus yang melibatkan penduduk Jann, pemerintah kita bisa disalahkan. Apalagi jika dia masih seorang murid ….”


“Irina benar, kondisi politik Almiah sedang keruh.” Shamar mengangguk setuju. Topik pembicaraan tersebut membuat selera makannya berkurang, segera menurunkan sendok dan menggaruk kepala. Ia sekilas menajamkan tatapan, lalu meletakkan kedua tangan ke atas meja dan berkata, “Selain itu, belakangan ini aktifitas Mist juga sedang meningkat karena perubahan iklim. Bisa gawat kalau tiba-tiba dia diserang mereka saat berada di sini.”


“Separah itu kondisinya? Bukankah kalian mengurangi populasi mereka secara rutin?” Korwa ikut kehilangan selera makan. Ia segera menurunkan sendok, berhenti menyantap sup dan menarik napas dalam-dalam. “Ah, kalian terlibat masalah politik Triad, ya? Suku mana yang kalian dukung? Hua? Moa? Atau malah Nor?” tanyanya untuk memastikan.


“Al-Miah Hua ….” Irina menjawab dengan cemas, tampak murung dan tertekan. Ia perlahan menundukkan kepala, lalu menghela napas resah dan menjelaskan, “Sebagai syarat untuk merestui pernikahan kami, Ayahanda menyuruh saya untuk memata-matai—!”


“Ah!! Saya tidak mau dengar! Tidak mau!” Korwa langsung menyela, segera menutup telinga dan memalingkan wajah. “Itu urusan kalian! Jangan libatkan diriku!”


“Ka-Kamu benar, maaf ….” Irina termenung, sekilas melebarkan senyum dan sedikit merasa lega. “Saya pikir engkau akan marah setelah mendengar ini.”


“Hah?! Dengar apa!? Diriku tidak dengar apa-apa!” Korwa pura-pura tidak tahu, mulai menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat dan berkata, “Jangan libatkan! Saya sudah muak dengan politik! Kapok! Sumpah! Saya kapok!”


“Ah, kalau tidak salah ….” Shamar tersenyum lega. Ia sedikit menurunkan alis, lalu kembali mengangkat sendok dan berkata, “Dulu kamu pernah menjual hasil penelitian kepada Suku Nor, namun malah berakhir hampir dinikahkan dengan salah satu anak Tetua mereka—”


“Diam!” Korwa langsung bangun, lalu menodongkan sendok ke mata Shamar dan berkata, “Saya congkel mata kamu kalau membicarakan itu lagi!”


“Ma-Maaf!” Seketika wajah Shamar memucat, gemetar ketakutan dan tidak berani melawan. “A-Aku sudah kelewatan. Itu sejarah kelam kamu, ya ….”


“Bagus kalau kamu paham!” Korwa menurunkan sendok, lalu kembali duduk dan lanjut menyantap sup rumput laut. Setelah meninjau ulang topik pembicaraan, ia baru menyadari ada sesuatu yang janggal. “Ngomong-omong, bukankah itu ada kaitannya dengan politik?”


“Itu? Maksud kamu ….” Irina sedikit memiringkan kepala, lalu mengernyit heran dan memastikan, “Tamu dari Jann yang kamu bicarakan tadi?”


“Benar!” Korwa menjentikkan jari. Ia melipat tangan ke depan dada, lalu mengangguk pelan sembari menyampaikan, “Setiap peristiwa pasti terikat dengan hukum kausalitas! Saya yakin pasti ini saling berhubungan satu sama lain!”


“Benarkah?” Korwa malah tersipu. Ia mengangguk pelan, kemudian melempar senyum masam dan bergurau, “Kamu tidak perlu memuji diriku ….”


“Korwa, itu bukan pujian!” Irina mengernyit, sedikit jengkel dan ingin menamparnya. Setelah menghela napas panjang untuk menjernihkan pikiran, perempuan rambut biru cerah tersebut langsung menepuk keningnya sendiri. “Saya mulai merasa bodoh karena menganggap serius pembicaraan ini. Tolonglah hargai kekhawatiran kami ….”


“Oke! Saya menghargai perasaan kalian, kok.” Korwa tidak memedulikan hal tersebut. Ia membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjuk, kemudian melempar senyum licik sembari meminta, “Mengesampingkan situasi kalian dan menjunjung hubungan kita, boleh saya minta tolong sedikit? Soalnya ini sangat menarik, sih. Sayang sekali kalau saya tidak ikut!”


“Enggak!” Shamar langsung menolak. Ia sedikit membungkukkan tubuh ke depan, lalu memberikan tatapan tajam dan berkata, “Seperti yang kamu tahu, posisi kami sekarang sedang rawan. Kalau salah langkah, bisa-bisa kami dicap sebagai pengkhianat oleh kedua suku!”


“Idih! Pelit amat! Padahal kalau hutang langsung dikasih, tapi pas dimintai bantuan malah sombong begini!” Korwa sedikit mengernyit, menatap rendah dan lekas memalingkan wajah. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan mulut, perempuan rambut ungu tersebut lanjut berkata, “Bahkan … hutang kamu bulan lalu yang buat beli mainan patung—!”


“Baiklah!” Shamar langsung menggebrak meja dan segera bangun. Wajahnya seketika memucat, keringat dingin bercucuran dan tubuh pun mulai gemetar. “Apa yang kamu butuhkan, Nona Korwa! Aku pasti akan memenuhinya!” ujar pria itu dengan cemas.


“Sayang, kamu hutang ke Korwa lagi? Buat beli mainan patung?” Seketika tatapan Irina berubah gelap, dipenuhi rasa kesal yang bercampur dengan niat membunuh. Sembari menopang dagu dengan tangan kanan, perempuan rambut biru tersebut perlahan melebarkan senyum dingin dan berkata, “Padahal uang kita lagi sedikit, loh. Tagihan listrik dan air minum bulan lalu juga belum dibayar ….”


“Eh—!” Shamar menjauh, segera memalingkan wajah dan mengelak, “Siapa yang hutang? E-Enggak, kok! Korwa hanya bercanda ….”


“Tidak perlu bohong, Sayangku.” Irina berhenti tersenyum. Ia meletakkan tangan kanan ke atas meja, lalu memperlihatkan cincin pernikahan yang terpasang pada jari manis. Sembari menatap hangat, perempuan rambut biru itu lanjut bertanya, “Kemarin saya periksa koleksi kamu nambah satu di lemari. Kira-kira, kalau dijual bakal untung berapa, ya?”


“Maaf, saya memang hutang ke Korwa!” Shamar langsung membungkuk, menyerah dan berserah diri. “Saya sungguh menyesal!” ujarnya dengan suara lantang.


Hal tersebut sempat menarik perhatian orang-orang yang ada di kantin. Namun, mereka memilih untuk tidak peduli dan melanjutkan kegiatan. Pura-pura tidak dengar dan masa bodoh.


“Baguslah kalau begitu, anak baik. Kamu sudah jujur ….” Irina meraih tangan suaminya dengan lembut. Meminta pria kekar tersebut untuk kembali duduk, kemudian mengelus kepalanya dengan lembut dan berkata, “Jangan mengulanginya lagi, ya. Janji.”


“I-Iya, Bu ….”


Shamar gemetar ketakutan, wajahnya semakin memucat, dan keringat dingin terus bercucuran. Kebaikan istrinya seakan mengisyaratkan sesuatu yang mengerikan. Membuat pria kekar itu tunduk, tidak bisa beradu argumen ataupun memberikan alasan.

__ADS_1


“Wow, kamu menjinakkan dia dengan baik.” Korwa lanjut menggoda mereka. Ia sejenak menghela napas, sedikit merasa puas setelah menjahili Shamar. “Lega rasanya ….”


“Jadi, Korwa ….” Irina tidak menganggap itu sebagai lelucon. Ia lekas menoleh, lalu menajamkan tatapan dan bertanya, “Berapa yang suami saya pinjam?”


“Banyak! Pokoknya banyak! Jika dihitung dari masa kuliah sampai sekarang, itu sangat banyak!” Korwa kembali membuat lingkaran dengan jemari. Tidak ingin membocorkan rahasia sahabatnya lebih dari itu, perempuan rambut ungu tersebut segera mengajukan syarat lain. “Tapi, saya akan anggap lunas kalau kalian mau membantu!”


“Soal tamu dari Jann? Memangnya apa yang ingin kamu lakukan?” Irina menghela napas panjang. Setelah menggelengkan kepala, ia dengan resah memastikan, “Mau menemui dirinya? Bukankah akan lebih mudah jika menggunakan hak kamu sebagai pengajar—?”


“Bukan itu!” Korwa menyela. Ia kembali menjentikkan jari, lalu mengambil Kubus Data dari tas jinjing di kursi. Setelah meletakkannya ke atas meja, perempuan rambut ungu tersebut mulai menjelaskan, “Saya ingin kalian mencarikan informasi tentang alasan kedatangan tamu tersebut? Apa saja, selama itu bisa membantu ….”


“Oh, hanya itu? Sungguh?” Irina sedikit terkejut karena permintaannya terlalu sederhana. Ia sedikit memalingkan pandangan, lalu mengingat masa-masa kuliah dan termenung. “Baiklah, saya setuju. Jika hanya informasi, saya bisa membantu kamu.”


“Hmm?” Korwa tersenyum. Ia menekan permukaan Kubus Data dengan telunjuk, lalu mengaktifkannya dan membuka layar proyeksi. Sembari mengakses halaman akun pribadi dan berkas digital, ia dengan nada penasaran lanjut bertanya, “Kamu sudah punya informasi, ya?”


Fitur proyeksi tersebut tampak seperti butiran pasir yang disinari cahaya. Tampak sedikit abstrak, didominasi warna biru, dan memiliki enam sisi layaknya kubus. Hanya berfungsi sebagai proyeksi, sedangkan mekanisme sensor dan data tersimpan pada perangkat.


“Sebelum berangkat, Ayahanda sempat memberikan beberapa informasi mengenai tamu tersebut ….” Irina ikut mengeluarkan Kubus Data dari tas jinjing. Meletakkannya ke atas meja, lalu diaktifkan dan membuka layar proyeksi. Sembari memilah file digital, ia dengan nada resah menyampaikan, “Katanya dia orang yang sangat penting, punya relasi dengan pemerintah dan beberapa bangsawan di Jann. Bahkan, ada desas-desus yang mengatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan Kaisar.”


“Berarti dia seorang bangsawan?” Korwa sedikit heran. Setelah membuka saluran transfer data, ia menerima beberapa file dokumen dari Irina. “Dia masih sangat muda, ya? Kenapa bisa punya pengaruh besar di pemerintah? Apa karena keturunan?”


“Entahlah, latar belakangnya sedikit aneh. Pengaruh politik yang dia miliki terlalu besar untuk anak seorang Pejabat Kota.” Setelah menyelesaikan transfer informasi, Irina segera menonaktifkan Kubus Data dan menyimpannya ke dalam tas jinjing. Ia sejenak menghela napas, lalu melirik ke meja sebelah dan lanjut menjelaskan, “Lagi pula, kedua orang tuanya sudah meninggal. Seharusnya murid tersebut tidak memiliki wewenang sebesar itu ….”


“Kedengarannya sangat mencurigakan ….” Korwa ikut melirik. Menyadari tatapan aneh beberapa pengajar yang duduk di sebelah, ia ikut menonaktifkan Kubus Data dan menyimpannya ke dalam tas jinjing. “Apa informasi itu akurat? Sumbernya siapa?” tanya perempuan rambut ungu tersebut untuk memastikan.


“Saya rasa cukup akurat, sumbernya langsung dari Ayahanda ….” Irina berhenti melirik. Sembari menatap lurus dan tersenyum kecut, perempuan rambut biru tersebut lanjut meyakinkan, “Kalau tidak, mana mungkin beliau memberikan informasi ini kepada kami.”


“Jadi, kalian disuruh untuk menyelidiki tamu itu? Atau ….”


Korwa berniat menggali informasi lebih dalam. Mempertimbangkan situasi Shamar dan Irina, ia merasa mereka berdua sedang menyembunyikan sesuatu. Berkaitan dengan isu politik di Almiah, atau konspirasi di balik kunjungan tamu dari Jann yang sedang mereka bicarakan.


“Kami diminta untuk mengawasi pergerakan Kepala Suku lainnya,” jawab Irina dengan jujur. Daripada membiarkan temannya bertindak gegabah, ia lebih memilih untuk membocorkan informasi dari Suku Al-Miah Hua. “Selain itu, kemungkinan besar murid tersebut memiliki otoritas untuk mengajak seseorang ke Jann.”


“Dijadikan tunangan, ya?” Korwa mengangguk, memahami potensi masalah yang bisa muncul dari kunjungan tamu tersebut. “Meski masih pelajar, dia sudah punya wewenang sebesar itu? Menakutkan. Pasti para Tetua ingin mendekatkan anak-anak mereka supaya mendapatkan relasi,” gumamnya dengan cemas. Ia paham bahwa hal tersebut dapat mempengaruhi hierarki suku di Almiah.


“Pernikahan politik, ‘kan?” Shamar angkat bicara. Sekilas pria kekar tersebut melirik ke arah istrinya, lalu memasang wajah muram dan berkata, “Sesuatu yang sangat ingin kamu hindari, bahkan sampai harus membuang hak waris dan dijauhi kerabat dekat ….”


“Tenang saja, kali ini bukan saya yang dijodohkan. Lagi pula, saya sudah punya kamu sekarang ….” Irina tersenyum lembut, sedikit tersipu dan memalingkan pandangan. Berusaha fokus, ia sejenak menahan napas dan lanjut berkata, “Jujur saja saya cukup cemas soal ini. Terlepas dari profil dan prestasi yang luar biasa, banyak rumor tidak masuk akal di sekitarnya.”


“Kunjungan dari Jann bukan hal aneh, ‘kan?” Korwa ingin mencairkan suasana. Ia berusaha menunjukkan sikap santai, lalu menggelengkan kepala dan berkata, “Meskipun tamu itu seorang Manusia Murni dan memiliki pengaruh di ranah pemerintahan, dia masih pelajar.”


“Bukan itu yang saya cemaskan ….” Irina menahan napas sejenak. Ia tidak berani menyampaikan hal tersebut, lekas melirik ke arah suaminya dan bertanya, “Sayangku, bisakah kamu menjelaskannya? Itu … hanya rumor, ‘kan?


“Eh?” Korwa kembali penasaran. Ia ikut menatap Shamar, lalu melempar senyum kecut seakan sedang mengancam. “Rumor apa, ya?” tanyanya dengan nada menekan.


“Aku rasa itu hanya rumor ….” Shamar menundukkan wajah. Ia sedang tidak bercanda ataupun pura-pura, murni menunjukkan rasa takut dan cemas yang nyata. “Dalam beberapa laporan yang aku baca di kantor, murid itu sempat disebut sebagai Singularitas Tunggal.”


“Singularitas Tunggal? Sebentar! Bukankah itu—?”


Korwa terperangah, seketika memucat dan mulai melebarkan senyum muram. Ia menahan napas sejenak, lalu menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan tangan kanan dan berdecak kesal. Berusaha mengendalikan emosinya yang meluap, antara penasaran dan takut.


“Benar.” Shamar menangguk. Memahami masalah yang ada, ia dengan ekspresi cemas lanjut menjelaskan, “Identifikasi tersebut juga diterapkan kepada Mesias Bahtera, figur yang disembah oleh mayoritas penduduk Almiah layaknya seorang Dewa ….”


“Ah, ini semakin menarik ….” Korwa menurunkan tangannya, memperlihatkan senyum puas seakan menganggap hal tersebut sebagai kesempatan. “Jika benar, ini pasti akan sangat menarik. Pengetahuan baru akan terbuka, sejarah akhirnya bergerak kembali!”


“Sejarah?” Shamar memperlihatkan ekspresi bingung. “Apa hubungannya dengan sejarah?” tanyanya dengan nada tidak peduli.


“Sejarah kita seakan terhenti di Zaman Cahaya, tidak ada kejadian besar pada masa kini. Monoton! Namun ….” Korwa berusaha menahan senyuman, lalu menggelengkan kepala dan lanjut menyampaikan, “Saya rasa ini akan mendatangkan perubahan, entah dalam hal baik ataupun buruk. Sesuatu yang dapat mengubah kondisi stagnan Kekaisaran Solus.”


ÔÔÔ

__ADS_1


__ADS_2