
Saling memahami melalui rasa sakit, nyanyian kesedihan dalam kalbu keingintahuan. Manusia lebih mengutamakan rasa penasaran daripada kutukan penyesalan, melangkah maju untuk memahami sesuatu meski tahu akan terbakar habis oleh surya.
Menderita dalam pengetahuan. Berkembang mengikuti perubahan yang tidak diinginkan, lalu menerima seluruh penderitaan yang ada dalam kehidupan mereka. Berlindung dalam kesabaran, berserah diri untuk mencari keselamatan semu.
Insting bertahan hidup merupakan kutukan umat manusia, membuat mereka mampu membuang harga diri dan kehendak. Tunduk untuk melanjutkan kehidupan kelabu.
Bangsa Halv merupakan manifestasi nyata dari insting bertahan hidup umat manusia. Mereka dulunya sangat murni, namun membuang kemurnian tersebut dengan memasukkan unsur lain ke dalam genetik mereka. Dari hewan, tumbuhan, jamur, bahkan hingga bakteri dan virus. Memanipulasi Bentuk Kehidupan untuk melanjutkan kehidupan.
Bangsa Halv masih dapat dikategorikan sebagai umat manusia. Berjalan dengan dua kaki, memiliki tingkat kecerdasan yang berkualitas, dan beradab. Mampu beradaptasi dalam lingkungan ekstrem, bahkan lebih baik dari leluhur mereka.
Namun, bangsa Halv memiliki kecenderungan untuk tunduk kepada entitas yang lebih berkuasa. Mudah patuh layaknya peliharaan, memiliki rasa hormat dan loyalitas yang kuat.
Karena itulah, Manusia Murni menanamkan persepsi semacam itu kepada mereka.
Berkata bahwa bangsa mereka lebih agung dan mulia dari Halv, memanipulasi informasi supaya tidak dijatuhkan dari puncak hierarki sosial. Memonopoli pengetahuan untuk mengamankan kekuasaan politik selama belasan ribu tahun.
Pada akhirnya, dusta berubah menjadi kebenaran yang tidak bisa lagi dipertanyakan.
Kemuliaan dan keagungan Manusia Murni menjadi pengetahuan umum penduduk Kekaisaran. Padahal mereka jauh lebih lemah dari bangsa Halv.
Sangat rapuh, labil, dan kolot–
Itulah sifat sejati Manusia Murni.
.
.
.
.
__ADS_1
Udara dingin menyelimuti kantor, menciptakan embun pada permukaan kaca dan dinding ruangan. Lembap layaknya daerah pegunungan, namun tidak segar dan sedikit berkabut. Mempunyai kadar oksigen yang cukup rendah, disebabkan oleh kondisi iklim dan letak geografis. Bahkan rata-rata suhu tidak pernah lebih tinggi dari delapan derajat Celcius.
Karena itulah, hampir seluruh bangunan di Stasiun Orbit Maria menggunakan logam campuran sebagai konstruksi utama. Terdiri dari tungsten, kromium, dan baja.
Ada juga yang menggunakan bahan Stainless, dilapisi kuningan supaya tidak mudah berkarat dan lebih tahan terhadap tekanan. Dijadikan kerangka bangunan ataupun fondasi.
Kantor administrasi sipil juga menggunakan logam campuran sebagai konstruksi utama bangunan, didominasi oleh Stainless dan lapisan kuningan. Terletak tidak jauh dari menara pengawas di pusat stasiun, berada pada kompleks bangsal dekat dermaga barat.
Letak bangunan tersebut tidak jauh dari jalan utama, cukup menonjol dan mudah ditemukan meski dikelilingi oleh gedung-gedung yang lebih tinggi.
Memiliki karakteristik unik berupa arsitektur khas aristokrat, deretan bendera Kekaisaran Solus yang dipasang pada sepanjang pagar semak-semak, dan halaman depan yang ditumbuhi lusinan jenis jamur bercahaya.
“Baiklah! Engkau sungguh tamak, Tuan Kabir! Dengan ini urusannya selesai, bukan?” Lydia menandatangani bukti kunjungan tamu bangsawan, kemudian dilanjutkan dengan menyetujui kesaksian kendala operasional pada dokumen lainnya. Dipaksa untuk mengakui kesalahan atas insiden pemadaman listrik pada dermaga barat. “Beraninya kamu menggunakan nama Kakanda untuk menuntut kompensasi dari pihak Kekaisaran!” lanjutnya dengan ketus.
Suara lantang Lydia seketika memecah ketegangan, mengubah pembicaraan tersebut menjadi konflik verbal. Ia menghela napas resah sejenak, kemudian memberikan tatapan sinis dan langsung menggebrak meja sampai berkas-berkas penting berserakan. Menunjuk lawan bicaranya seakan-akan ingin menyerang.
“Anda terlalu temperamen, Nona Lydia ….” Urdi Kabir mulai merapikan berkas cetak yang berserakan, tanpa mengeluh ataupun menunjukkan ekspresi marah. Pria berparas tua tersebut juga segera menonaktifkan Kubus Data, mengamankan bukti digital yang tersimpan di dalamnya sebelum menjadi sasaran kemarahan Lydia. “Saya hanya menjalankan tugas. Ini sudah menjadi kewajiban saya untuk melindungi pengguna jasa,” ujarnya seraya memasukkan semua berkas ke dalam map berlabel permohonan kompensasi operasional.
“Benarkah?” Lydia tidak berhenti, lanjut memberikan serangan verbal dan berusaha memancing amarah Urdi Kabir. “Engkau hanya tidak ingin rugi, ‘kan? Lebih dari lima puluh persen pendapatan stasiun orbit ini menjadi milikmu. Tentu saja Tuan tidak ingin merugi! Jumlah tersebut tidaklah sedikit! Bisa untuk membeli lahan–!”
Kantung matanya sedikit menghitam, rambut berantakan, dan kening mengerut kencang sampai alis hampir menyatu. Kaos yang pemuda itu kenakan menjadi kusut karena dibawa tidur, namun anehnya tidak mengeluarkan bau kecut keringat sama sekali.
“Ta-Tapi!” Lydia berusaha menjelaskan, segera bangun dan meletakkan tangan kanannya ke depan dada. “Dia ingin memanfaatkan Kakanda! Menggunakan nama keluarga kita untuk mendapatkan keuntungan pribadi!” ujarnya dengan ekspresi cemas.
“Lydia, tolong ….” Irwin menghela napas. Sejenak ia berhenti melangkah, kemudian memperlihatkan ekspresi kesal dan berkata, “Kau tak perlu memperbesar masalah ini, Adikku. Anggaran kita masih banyak. Uang harus digunakan untuk memutar roda perekonomian.”
“Baiklah …., saya tidak akan mempermasalahkan ini lagi.” Lydia tertegun, lalu langsung menundukkan wajah dan termenung. Memahami maksud lain yang tersirat dalam perkataan tersebut. “Saya hanya tidak ingin menyusahkan Kakanda …. Maaf.”
“Kau tidak perlu menjelaskannya.” Irwin menahan napas sejenak, lalu kembali berjalan mendekat sembari berkata, “Tenang saja, aku paham. Itu sudah menjadi sifatmu, Lydia.”
“Silahkan, Tuan Irwin ….” Sikyn segera bangun dari sofa, memberikan tempat duduknya untuk Irwin. Tepat di sebelah Lydia Walton. Sembari membungkuk, pria dengan wujud manusia serigala tersebut menyampaikan, “Tuanku, tolong jangan salahkan Nona. Beliau marah untuk Anda, bukan karena dorongan permusuhan ataupun keserakahan.”
__ADS_1
“Aku tahu!” Irwin segera duduk, lalu menyilangkan kaki dan berdecak kesal. “Kau tak perlu mengatakannya,” ujarnya seraya melirik tajam.
“Tuan sangat lembut, ini sedikit mengejutkan ….” Urdi Kabir melebarkan senyum tipis. Mengikuti rasa keingintahuan yang kuat, pria berparas tua tersebut memutuskan untuk mengorek informasi lebih dalam dengan bertanya, “Bukankah hubungan kalian sangat kacau?”
“Kami memang tidak akrab ….” Irwin membenarkan rumor itu. Daripada mengelak, ia lekas menunjuk lawan bicaranya dan langsung menegaskan, “Tidak seperti saudara pada umumnya, hubungan kami sangat jauh dari kata harmonis.”
“Ba-Baiklah, saya takkan menyinggung urusan pribadi kalian.” Urdi menangkap perkataan tersebut dengan makna yang berbeda. Itu terdengar seperti peringatan yang tersirat dalam kejujuran. “Tolong maafkan saya,” pungkasnya seraya menundukkan wajah. Dalam benak, ia memutuskan untuk tidak lagi membicarakan hal tersebut.
“Hmm, kau cepat tanggap ….” Irwin berhenti bersikap formal. Ia menunjukkan gelagat kesal, lalu memberikan tatapan tajam dan berkata, “Mari kita perjelas ini, Tuan Urdi! Aku kemari hanya untuk melakukan penelitian. Tidak lebih! Jadi, jangan ganggu kami!”
“Jangan ganggu …?”
“Kunjungan ini hanya untuk penelitian.” Irwin berhenti menyilangkan kaki, kemudian menghela napas sejenak dan kembali menegaskan, “Apapun yang terjadi di Almiah, kami hanya akan melakukan penelitian untuk keperluan studi. Apakah kamu paham, Tuan Kabir?”
“Ah, saya mengerti ….” Urdi Kabir mengangguk, lalu lekas memalingkan pandangan dan termenung. “Jelas saja Anda menggunakan surat rekomendasi dari Kaisar untuk datang kemari. Sesuai dengan peraturan pemerintah, saya berjanji tidak akan ikut campur.”
“Baguslah ….” Irwin menyipitkan mata, kembali mempertimbangkan pembicaraan tersebut dengan memperlihatkan ekspresi mengancam. “Namun, Anda punya syarat, ‘kan?”
“Benar sekali ….” Urdi melebarkan senyum tipis. Sembari mengeluarkan berkas kesaksian kendala operasional dari Lydia, pria berparas tua tersebut dengan cemas mulai menjelaskan, “Jika itu berkaitan dengan keberlangsungan Stasiun Orbit Maria, tentu saja saya akan ikut campur–!”
“Tidak masalah!” Irwin menyela. Setelah mengambil napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam tersebut segera berdiri. Memberikan tatapan tajam sebagai peringatan. “Apa yang aku inginkan ada di dalam laut, bukan langit. Aku takkan mengganggu kejayaan fana kalian.”
“Fana, ya? Sungguh ungkapan yang dalam ….” Urdi Kabir mengernyit. Bukan kesal, melainkan murni karena penasaran. Sembari menatap balik, ia berusaha mencari makna perkataan tersebut dengan bertanya, “Anda berani meramalkan kehancuran Kekaisaran?
“Tidak juga ….” Irwin menggelengkan kepala, sedikit membuka mulut dan berusaha untuk tidak menjelaskan. Menghela napas seakan-akan sedang menahan jawaban.
Namun, ia tetap tidak bisa bungkam. Sudah menjadi sifatnya untuk menjawab sebuah pertanyaan, terutama jika itu berasal dari orang yang memiliki rasa penasaran yang murni.
“Aku hanya mengatakan fakta. Dalam waktu dekat, kejayaan yang kita bangun akan runtuh.” Irwin memperlihatkan ekspresi resah, bercampur sedih dan murka. Sembari menatap lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjawab, “Kita hanyalah pengecut yang kabur dari keputusasaan. Bersembunyi dalam ilusi kemuliaan ….”
“Kita pengecut? Maksudnya ….” Urdi langsung tertegun. Ia menelan air liur dengan berat, kemudian menyipitkan mata dan lanjut bertanya, “Kekaisaran Solus? Kita kabur dan bersembunyi dalam kemuliaan? Apakah itu hasil ramalan para Orakel?”
__ADS_1
“Entahlah, diriku rasa bukan. Ramalan merupakan hasil dari kalkulasi ilmu perbintangan, horoskop abstrak ….” Irwin menggelengkan kepala. Rentetan pertanyaan itu membuatnya semakin enggan. “Kita akan tahu saat itu terjadi. Kebenaran selalu datang di akhir cerita. Jika berada di awal, maka takdir akan berakhir menjadi narasi kejam sang Pencipta. Ketetapan nan keji,” tambahnya seraya melempar senyum tipis.
ÔÔÔ