Siklus Sakral

Siklus Sakral
CH 01 – Almiah Dissident (Part 01)


__ADS_3

Keyakinan dan ideologi hanyalah sebuah saran kehidupan, bukan jawaban untuk seluruh masalah yang ada dalam masyarakat. Sebuah garis semu yang dibuat oleh seseorang untuk mendirikan ketetapan bersama. Keselarasan hukum yang mengikat.


Ketabahan takkan mampu mencegah bencana, berserah diri hanya akan mempercepat proses malapetaka dan memperlambat penyelesaian masalah. Suatu ketetapan buruk yang ditentukan oleh mayoritas, menyimpang dari makna sejati kemanusiaan.


Ajaran yang mereka sampaikan memiliki unsur baik, tepat untuk kondisi tertentu dan dapat mendatangkan keselamatan. Menjadi lentera dalam kegelapan dunia.


Namun, kepercayaan dan ideologi sendiri hampir menyatu dengan penyimpangan.


Mayoritas masyarakat memaklumi hal tersebut, menganggap keburukan-keburukan itu tidak ada dalam ajaran mereka. Tetap bersikap suci seakan paling benar.


Membiarkan kesalahan dan berpaling, bahkan ada yang melakukan asimilasi terhadap segala penyimpangan tersebut. Melahirkan aliran-aliran baru yang berbeda dari ajaran utama.


Kasta dan hierarki merupakan bentuk nyata dari arogansi manusia, sedangkan puncak keangkuhan adalah sifat individualis. Pemimpin yang berpikir bahwa dirinya paling benar adalah wujud sempurna dari kebobrokan pemerintah, kanker hidup yang sukar disingkirkan.


Kepercayaan dan ideologi dapat mempercepat proses tersebut, menyuburkan penyakit dan meruntuhkan tatanan masyarakat. Lemak jenuh dalam sepotong daging yang memikat.


Ketika sosok pencetus nan mulia telah berpulang, hal suci akan berubah menjadi instrumen para babi berdasi. Mengikat masyarakat dungu dengan dogma dan doktrin, memeras daging serta darah mereka sampai kurus kerempeng.


Perjalanan menuju kehancuran, keilahian yang menyesatkan. Membenarkan pembunuhan atas nama ketuhanan, kepercayaan, kebenaran, dan pengabdian.


Menunjuk lawan sembari menyerapah, menganggap mereka sesat hanya karena memiliki kepercayaan yang berbeda. Tanpa mau memberikan toleransi seakan itu adalah dosa.


Kelak tumpukan mayat akan menyadarkan mereka. Ketika melihat sosok yang tercermin dalam genangan darah, orang-orang itu akan sadar siapa yang seharusnya dikutuk.


Namun, tobat tidak dapat melebur semua dosa. Darah yang telah tumpah takkan bisa kembali, anak-anak telah menjadi yatim piatu dan para wanita menjanda.


Penyesalan prajurit, penderitaan rakyat, dan para babi yang duduk di depan meja. Konklusi dari ujung siklus keruntuhan, keburukan yang terstruktur dalam kepercayaan dan ideologi. Gambaran nyata dari kebobrokan yang sukar dihapus dari sejarah umat manusia.


Jauh dari segala keburukan yang tersembunyi dalam sejarah, generasi muda tidak tahu dengan apa yang benar-benar terjadi pada saat itu. Pemenang memiliki hak untuk menulis ulang sejarah, menghapus dosa supaya tidak diwariskan kepada keturunan mereka.


Hanya menyampaikan kebaikan dan kemuliaan, berharap kesalahan tersebut tidak terulang lagi di kemudian hari. Mengoreksi diri melalui keturunan, mengubah metode kepemimpinan, dan mengimplementasikan “Kanun” yang dapat diterima oleh semua orang.


Tanpa sekalipun berniat untuk menebus dosa, seakan mereka paling suci dan mulia. Menjaga peninggalan supaya tetap bersih sampai akhir hayat.


.


.


.


.


Almiah merupakan planet kelima dalam Sistem Tata Surya Almah. Terletak di antara Planet Jann dan Hasa, merupakan Negara Vasal yang berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Solus. Memiliki sistem pemerintahan independen, namun masih diawasi oleh pusat.


Tidak seperti planet layak huni lainnya, tempat tersebut memiliki ekosistem yang unik karena 97% permukaannya diisi oleh samudra. Mempunyai kekayaan laut yang sangat melimpah, menjadi pusat penghasil alga dan cadangan air utama Kekaisaran Solus.


Mayoritas penduduk Almiah adalah pelaut, membangun pemukiman di atas perairan tenang dengan rumah-rumah panggung dan bangunan terapung. Memanfaatkan tambak ikan sebagai sumber pangan, lalu bertani alga untuk dijual kepada Kekaisaran serta Region lain.

__ADS_1


Meski hampir seluruh permukaan Almiah terdiri dari lautan, ada beberapa titik air tawar yang tercipta karena perubahan arus. Dipengaruhi oleh kehadiran Oria dan Maria, dua satelit alami yang mengorbit di sekitar planet tersebut.


Mayoritas penduduk Almiah merupakan penganut Altair Almiah. Mereka memiliki banyak budaya yang bersifat teologis, mempercayai Mudra’on sebagai hari akhir, dan mengagungkan Mesias Bahtera layaknya sosok Dewa.


Mengesampingkan adat dan norma kuno yang ada, tingkat pengetahuan di Almiah terbilang cukup maju. Mereka telah menerapkan program wajib belajar dua belas tahun, lalu dapat dilanjutkan menuju universitas dengan berbagai bidang yang lebih terpusat.


Tingkat teknologi yang mereka gunakan juga sangat jauh dari kata sederhana. Berorientasi pada Unfar, tingkat peradaban dibangun berdasarkan basis pengetahuan Kekaisaran Solus. Kebanyakan memiliki bentuk kubus, didominasi warna hitam dan gelap.


Meninjau iklim yang cukup ekstrem, kebanyakan pemukiman di Almiah dibangun pada zona khatulistiwa. Hanya mempunyai dua musim dalam satu tahun, memiliki arus laut yang cukup tenang, dan kaya dengan kandungan mineral.


Meski terletak sangat jauh dari daratan, pemukiman dengan iklim tropis menjadi tempat yang megah bagi mereka. Tidak seperti iklim di selatan dan utara yang cenderung ekstrem.


Layaknya sebuah kota air, pemukiman di Almiah dibangun menggunakan konsep sentralisasi. Menjadikan kompleks peribadatan sebagai pusat kegiatan, cukup padat karena luas kota yang cenderung kecil.


Mereka memiliki komplek rumah panggung sebagai pemukiman utama, terbuat dari logam dan mineral campuran. Ada juga bangunan-bangunan mega yang berdiri di atas Batu Apung, dijadikan sebagai kantor pemerintah ataupun apartemen untuk masyarakat.


Sistem pencahayaan mereka sudah menggunakan jaringan listrik, menjadi saraf infrastruktur di berbagai sudut pemukiman masyarakat. Dihubungkan dengan kabel dari fiber khusus, namun belum menjangkau seluruh tempat karena masih dalam tahap pengembangan.


Selain itu, mereka juga menggunakan jembatan sebagai penghubung dan jalan utama. Memasang jangkar pada setiap bangunan dan infrastruktur supaya tidak terbawa arus, lalu menerapkan sistem drainase unik di bawahnya untuk menyuling air.


Hari terik menjadi hal yang biasa pada musim panas di Almiah, bahkan ada beberapa zona yang tidak layak huni karena suhunya menyentuh titik didih. Meski begitu, tidak ada libur musim panas untuk pelajar ataupun pekerja.


Awal tahun sampai pertengahan menjadi waktu produktif bagi mereka, menyiapkan diri untuk musim hujan yang ekstrem. Mengembangbiakkan ikan dan alga, mendidik anak-anak kecil, dan menyiapkan para remaja untuk bekerja.


Dalam hiruk-pikuk kehidupan masyarakat Almiah, pendidikan merupakan aspek yang sangat penting bagi mereka. Menjadi tolak ukur kemajuan tingkat peradaban, diagungkan dan diatur dengan sangat baik oleh semua suku.


“Sejarah Kekaisaran Solus merupakan sejarah penting bagi kaum Halv!”


Pada sebuah akademi tingkat lanjut, seorang guru perempuan mempresentasikan materi sejarah ras kepada seluruh peserta kelas besar. Diisi oleh ratusan pelajar dari tahun pertama hingga ketiga, duduk rapi menghadap panggung podium dan layar proyektor di bawah.


Seragam murid laki-laki terdiri dari kemeja putih berlengan pendek, memiliki bawahan berupa celana hitam panjang sampai betis. Tidak ada ketentuan untuk alas kaki, namun kebanyakan murid mengenakan sepatu hitam bertali.


Sedangkan untuk murid perempuan, mereka mengenakan blus putih dengan bawahan rok hitam panjang selutut. Tanpa ornamen tambahan yang berlebihan, namun tetap modis dengan beragam model rambut dan riasan alami.


Selain ketentuan tersebut, mereka juga mengenakan blazer dan dasi sebagai pembeda. Murid tahun pertama mengenakan blazer biru navy dengan dasi merah, sedangkan tahun kedua berwarna abu-abu dengan dasi hitam. Tahun ketiga hanya diwajibkan mengenakan blazer hitam, dasi bersifat opsional dan dibebaskan untuk mereka.


Untuk pengajar, tidak ada ketentuan khusus yang mengatur tata cara mereka berpakaian. Diberikan kebebasan selama itu sopan dan pantas dipandang. Namun, kebanyakan dari mereka mengenakan pakaian kasual berwarna lembut seperti krem ataupun abu-abu.


Sama seperti pengajar lainnya, guru perempuan itu juga mengenakan pakaian kasual. Ia memiliki rambut berwarna ungu, tampak berubah kebiruan saat terpapar sinar lampu ruangan. Terurai lurus sampai punggung, sedikit lembap, dan mengkilap.


Layaknya reptil, pupil matanya berbentuk vertikal dengan warna ungu gelap. Tampak tajam dan dipenuhi gairah saat menyampaikan materi kepada para audiensi. Meski begitu, ia memiliki kulit putih pucat seperti sedang sakit dan kelelahan.


Ia juga mempunyai sepasang tanduk berwarna hijau pirus, melengkung ke belakang layaknya sebuah tiara. Taring kecil yang tampak saat dirinya membuka mulut, serta selaput pada mata yang akan terlihat ketika berkedip.


“Leluhur Kekaisaran menerapkan manipulasi genetik untuk meningkatkan kemampuan adaptasi keturunan mereka!” Guru tersebut melepas mikrofon dari tongkat, lalu berjalan ke tengah panggung sembari lanjut menyampaikan, “Menyelaraskan tubuh dengan alam untuk penyempurnaan bentuk kehidupan! Itulah yang kita kenal sebagai Teori Evolusi Solus!”


Guru tersebut berbalik, lalu menunjuk ilustrasi yang ditampilkan pada latar proyektor. Berisi tentang aspek dasar peta genetik manusia, lalu kombinasi hewan dan tumbuhan yang diimplementasikan untuk meningkatkan kemampuan adaptasi.

__ADS_1


“Tingkat kemurnian makhluk hidup ditentukan oleh komposisi Daath dan Aeons mereka, berakar pada Lumpur Purba di awal peradaban ….”


Guru tersebut lekas menjentikkan jari, lalu mengganti layar presentasi ke halaman berikutnya dengan aktivasi suara. Menampilkan gambar lambang Kekaisaran Solus beserta seluruh Region yang ada di Tata Surya Alma.


“Jika memang kemuliaan makhluk hidup ditentukan berdasarkan komposisi Daath dan Aeons, lantas mengapa Manusia Murni dikatakan lebih mulia dari bangsa Halv?” Sembari melirik para pelajar yang duduk di barisan depan, perempuan itu dengan lantang lanjut bertanya, “Kenapa mereka bisa lebih agung dari kita? Mengapa mereka dikenal sebagai Leluhur dengan Darah Murni, sedangkan kita disebut bangsa Halv?”


“Permisi, Ibu Korwa! Saya ingin menyanggah!” Seorang murid tahun ketiga lekas bangun dari barisan tempat duduk paling depan, lalu menunjuk guru tersebut sembari berargumen, “Itu penyimpangan! Bukankah kita tidak boleh meragukan hal tersebut? Dalam ajaran Altair Almiah, kemuliaan mereka tidak boleh dipertanyakan! Jika orang-orang dari parlemen Jann mendengar perkataan itu, Ibu bisa dianggap sesat!”


Murid perempuan itu berasal dari Suku Al-Miah Nor, seorang Marinus Rapax. Layaknya ikan predator, ia mempunyai susunan gigi yang runcing dan pupil berbentuk vertikal. Ia juga memiliki indra penciuman yang sangat tajam, namun penglihatannya sedikit rabun saat berada di dalam tempat terang.


Seperti halnya kaum pejuang, ia memancarkan aura intimidasi yang kuat. Memiliki rambut pendek berwarna biru gelap, sedikit kasar dan kering.


Selain itu, murid tersebut mempunyai proporsi tubuh yang cukup kekar untuk seorang perempuan. Otot-ototnya tersembunyi rapi di balik seragam akademi yang sedikit longgar.


“Engkau benar, perkataan saya pasti akan dicap sesat oleh mereka!” Sebagai seorang guru, Korwa tidak membantah argumen tersebut. Namun, ia juga tidak bisa langsung setuju dan segera meluruskan, “Sayangnya, akademi kita berada di luar wewenang Ketiga Suku! Selama tidak disebarluaskan, kita bebas mengutarakan pendapat di sini!”


“Pendapat ….?” Murid dari ras Marius Rapax tersebut tertegun, sekilas memalingkan pandangan dan lanjut bertanya, “Berarti apa yang Ibu Korwa sampaikan hanya spekulasi?”


“Itu benar! Ini hanya spekulasi!” jawab Korwa dengan tegas.


“Kalau begitu, bukankah itu tidak logis⸻?”


“Namun!” Korwa menyela, lalu kembali menjentikkan jari dan mengganti layar presentasi. Sembari mengangkat telunjuknya, perempuan rambut ungu tersebut dengan tegas lanjut menyampaikan, “Mau menganggap materi ini masuk akal atau tidak, itu merupakan kebebasan kalian. Akademi merupakan tempat seperti itu, bukan? Lagi pula, presentasi ini telah disetujui oleh Kepala Sekolah. Keabsahan materinya sudah terjamin!”


“A⸻! Itu benar ….” Murid tersebut langsung tertegun, lalu kembali duduk sembari berkata, “Terima kasih, Bu Korwa.”


“Hmm, baiklah. Mari kita lanjutkan ….”


Korwa menunjukkan gambar perbedaan antara Manusia Murni dan Halv. Ditinjau dari aspek struktur tubuh dan organ dasar, keduanya sama-sama berbentuk humanoid. Memiliki sepasang tangan, satu kepala, dan berjalan menggunakan dua kaki.


Jika ada perbedaan, hal tersebut terdapat pada organ tambahan pada ras Halv. Secara garis besar ras tersebut dibagi menjadi dua jenis, yaitu Halv-Phylum dengan unsur hewan dan Halv-Patmia dengan unsur tumbuhan.


Mayoritas penduduk Almiah adalah Halv-Phylum, didominasi oleh kelompok Sean dan memiliki unsur makhluk laut yang kental. Terdiri dari beberapa jenis ras seperti Piscium dengan unsur genetik ikan, Turtur dengan unsur penyu, dan Marinus Rapax dengan unsur ikan predator. Selain itu, ada juga ras Padder dengan unsur varian paling banyak.


Mengesampingkan berbagai jenis ras yang ada, mereka semua bisa bertahan hidup di daratan. Menggunakan sistem pernapasan paru-paru, namun juga memiliki organ tambahan berupa insang di sekitar perut untuk bernapas di dalam air.


Keringat mereka memiliki tekstur seperti lendir untuk menjaga kelembapan, mampu bertahan pada tempat dengan perubahan suhu yang ekstrem.


“Apa yang membuat Manusia Murni lebih mulia dari Halv?” Korwa mengajukan pertanyaan serupa, seakan-akan ingin menekankan hal tersebut kepada audiensi. Sembari kembali mengganti layar presentasi, ia dengan lantang menyampaikan, “Alasannya sangat sederhana! Mereka dianggap mulia karena Kekaisaran Solus memuliakan mereka!”


Korwa mengganti halaman presentasi, melanjutkan materi dengan ilustrasi alur singkat sejarah Kekaisaran Solus. Dimulai dari awal tahun pertama, penerapan Kalender Solus secara universal di Tata Surya Almah, Perang Sipil Kedua, Bencana Besar, Perang Penyatuan, Zaman Kegelapan, dan diakhiri oleh Zaman Cahaya.


Alur kronologi pada ilustrasi tersebut dimulai dari awal pendirian, kemudian berakhir pada tahun 12.330 Kalender Solus. Dengan kata lain, masa kepemimpinan Kekaisaran telah berlangsung selama lebih dari 120 Abad.


“Permisi, Ibu Korwa! Saya izin bertanya!” Seorang murid laki-laki dari tahun kedua mengangkat tangannya. Ia berada di barisan paling belakang, namun mendengarkan penjelasan tersebut dengan antusias. “Pertanyaan ini sedikit radikal, jika Ibu mengizinkan⸻!”


“Tidak masalah! Selama itu masuk akal dan diutarakan di dalam akademi, saya tidak keberatan ….” Korwa sedikit menurunkan volume suaranya, berusaha untuk menghormati murid tersebut karena berani mengutarakan pendapat. “Ungkapkan saja keraguan itu, saya akan berusaha menjawabnya sebaik mungkin,” ujarnya seraya menurunkan mikrofon.

__ADS_1


__ADS_2