
Delapan jam berlalu, hari berganti tanpa ada perubahan suhu pada Stasiun Orbit Maria. Masih diselimuti hawa dingin dan kabut tipis.
Dipenuhi oleh keramaian pengguna jasa transportasi yang transit di stasiun untuk mengurus keperluan administrasi. Dikelilingi oleh kapal luar angkasa yang berlabuh di dermaga, didominasi oleh pengangkut barang dan penumpang.
Pemberangkatan menuju Planet Almiah akan berlangsung sekitar lima belas menit lagi. Dalam rangka meningkatkan persentase keselamatan perjalanan, beberapa persiapan dilakukan oleh pihak pengelola Stasiun Orbit.
Dimulai dari kalkulasi letak bulan dan kecepatan orbit, kekuatan gravitasi planet pada lintasan perjalanan, rotasi planet, kekuatan angin saat memasuki atmosfer, bahkan sampai arah serta tekanan arus laut pun diperhitungkan untuk meningkatkan persentase keselamatan.
Perjalanan dari stasiun orbit menuju Almiah tidak dilakukan dengan kapal luar angkasa. Meski didominasi oleh samudra, planet tersebut memiliki lapisan atmosfer yang cukup tebal dan terawat. Mampu membakar habis objek yang masuk sebelum sampai ke permukaan.
Karena itulah, konsep pesawat sederhana digunakan untuk mengurangi efek gesekan objek dengan lapisan atmosfer. Tepatnya, konsep yang dipakai untuk perjalanan turun tersebut adalah bidang miring. Melakukan perjalanan secara diagonal menggunakan lintasan imajiner.
Moda transportasi yang digunakan dalam perjalanan tersebut sangatlah sederhana. Mirip seperti kapal luar angkasa, namun dibuat khusus dengan bahan tungsten yang lebih tahan panas. Berbentuk lonjong untuk mengurangi gesekan, terbang dalam posisi vertikal, turun perlahan secara diagonal, dan tidak mengaktifkan mesin pendorong. Terbang menggunakan gaya gravitasi planet dan tekanan atmosfer.
Prosedur perjalanan tersebut diterapkan bukan untuk menghemat biaya, namun murni untuk meningkatkan persentase keselamatan. Perubahan tekanan gravitasi yang cukup ekstrem dapat merusak mesin utama, mempengaruhi reaktor, radar, dan alat elektronik lainnya.
Sebab itulah, protokol mematikan mesin utama diterapkan untuk memperlancar perjalanan. Sepenuhnya memanfaatkan gaya gravitasi dan tekanan atmosfer planet.
Anehnya, fenomena tersebut hanya terjadi saat perjalanan turun saja. Saat ada objek yang keluar dari planet, efek gangguan perangkat elektronik sama sekali tidak terjadi. Mesin dapat beroperasi tanpa masalah, terbang menembus atmosfer sampai luar angkasa.
Untuk menghemat pengeluaran, mayoritas perusahaan jasa transportasi lokal minimal menggunakan dua jenis kapal dalam kegiatan operasional mereka. Jenis pertama untuk perjalanan luar angkasa, sedangkan yang kedua khusus untuk perjalanan memasuki atmosfer.
Peti Mati, Kotak Hitam, Panah Arah, dan Tombak Langit–
Jenis kapal yang digunakan untuk turun memiliki banyak nama, namun secara resmi dicatat sebagai Peluncur Langit. Memiliki resistensi panas yang sangat tinggi, beberapa lapisan logam anti-radiasi, dan mampu terbang buta karena hanya bergerak mengikuti lintasan imajiner.
.
.
.
.
Dini hari merupakan waktu paling ideal untuk melakukan perjalanan turun menuju Almiah. Tekanan angin pada lapisan troposfer cenderung stabil, posisi kedua bulan yang mengorbit pun sesuai dan tidak terlalu mempengaruhi kondisi gravitasi planet.
Meski memiliki kapal yang mampu menembus lapisan atmosfer dengan mudah, Irwin Walton lebih memilih untuk menggunakan jasa swasta. Menitipkan Kapal Luar Angkasa Kekaisaran Solus kepada pihak Stasiun Orbit, kemudian menaiki penerbangan lokal yang sudah terjamin reputasinya. Berbaur dengan masyarakat setempat.
“Hmm, begitu rupanya ….” Irwin duduk pada salah satu bangku penumpang. Sembari mengaktifkan Kubus Data, pemuda rambut hitam tersebut mulai mengetik laporan observasi dan bergumam, “Kebanyakan dari mereka berasal dari ras Malin. Jika mereka memilih untuk menetap, berarti program transmigrasi pemerintah berhasil. Masalahnya, apakah mereka memiliki kehidupan sosial yang layak di Almiah atau tidak. Keberhasilan program– Akh!”
Lydia mencubit tangan Irwin. Perempuan rambut hitam pekat tersebut duduk di sebelah Kakaknya, memberikan tatapan kesal dan sedikit cemberut.
“Kenapa malah buat laporan?” Lydia menyipitkan mata, lalu menyita Kubus Data dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang dipangku. “Sudah, nanti saja buatnya! Kakanda bisa mabuk kendaraan lagi, loh!” tegurnya dengan nada sedikit ketus.
“Serius?” Irwin menurunkan alis, lalu lekas bersandar pada tempat duduk dan menghela napas. “Lihatlah anak ini, Sikyn! Dia sudah mulai besar kepala,” ujarnya dengan nada kesal.
“Anda benar, Tuanku ….” Sikyn tersenyum tipis, berusaha menahan tawa dan hanya membuka mulut. Pria dengan badan berbulu tersebut duduk di depan mereka, pada bangku penumpang yang saling berhadapan. “Nona memang selalu besar kepala jika itu menyangkut Anda,” tambahnya seraya menyangga kepala dengan punggung tangan.
“Hah!” Lydia mengendus kasar, lalu melirik tajam dan membentak, “Bangsa kalian memang menjijikkan! Suka menjilat dan tidak punya harga diri!”
Perkataan itu langsung menarik perhatian penumpang lain, tentu saja bukan dalam arti positif. Dari awal mereka memang berusaha untuk tidak memedulikan kehadiran bangsa Manusia Murni. Namun, hinaan yang dilontarkan Lydia seketika merusak semuanya.
Sikap apatis para penumpang sepenuhnya berubah menjadi kebencian. Tatapan dingin mulai diarahkan kepada mereka bertiga, diselingi cemooh dan makian.
Tetapi, tidak ada satu pun penumpang yang berani menegur Lydia secara langsung. Mereka hanya menghina di belakang, tetap duduk di tempat dan terus mengutarakan kebencian dengan berbisik-bisik. Tidak mampu mengutarakan kekesalan, terkekang kuat oleh hierarki sosial. Kawula rendahan tanpa kehendak bebas.
Layaknya kasta bangsawan nan arogan, Lydia tidak memedulikan cemooh mereka. Ia malah memperlihatkan senyum sinis, kemudian melirik tajam dan mengancam.
“Tolong jangan keras-keras ….” Irwin merogoh tas jinjing Lydia, lalu mengambil Kubus Data dan kembali mengaktifkannya. “Kita sedang berada di tempat umum. Sesuaikan sikapmu,” tegurnya seraya membuka layar proyeksi, kemudian lanjut mengetik dan menghela napas sejenak. Menunjukkan sikap apatis, ingin fokus dengan laporan yang sedang dikerjakan.
“Saya tahu! Kakanda tidak perlu menegur!” Lydia kembali mengendus kesal, lalu memalingkan pandangan dan bersandar pada tempat duduk. “Lagi pula, kenapa Kakanda memilih penerbangan umum seperti ini? Bukannya beruang kutub itu sudah menawarkan rute yang lebih cepat dan aman?” tanyanya dengan ketus.
__ADS_1
“Cari referensi ….” Irwin berhenti mengetik, segera menutup layar proyeksi, dan lekas melirik tajam. “Kita harus memahami karakteristik penduduk Almiah supaya bisa cepat berbaur. Adaptasi diperlukan untuk memperlancar rencana– Akh!”
“Diamlah! Lagi-lagi alasan itu!” Lydia mencubit lengan Kakaknya, lalu mengembungkan pipi dan langsung membuang wajah dengan jengkel. “Penelitian melulu! Menyebalkan! Memangnya untuk apa Kakanda memikirkan mereka, sih?!”
“Ya, mau bagaimana lagi ….” Irwin lanjut mengetik, berusaha diam dan tidak memberikan jawaban. Namun, ia tidak bisa melawan dorongan untuk menjawab pertanyaan. Setelah menahan napas sejenak, pemuda rambut hitam tersebut lekas menoleh dan langsung menjawab, “Sayangnya ini sudah menjadi Panggilan Jiwa. Kau tahu, nurani dalam kalbu ini sudah tidak bisa ditolak. Telah menjadi hasrat yang tak terbendung.”
“Panggilan Jiwa? Nurani? Hasrat?” Lydia menunjukkan ekspresi tidak percaya, tampak kesal dan sedikit mengernyit. “Omong kosong! Panggilan Jiwa merupakan hasil keputusan! Nurani dan Hasrat bisa dikendalikan! Kakanda melakukan hal menyusahkan ini karena sudah tidak punya pilihan lagi, ‘kan?” tanyanya dengan kesal.
“Kamu benar, Adikku ….” Irwin lanjut mengetik, namun tangannya langsung terhenti hanya dengan dua kata baru di layar proyeksi. “Aku sudah tidak punya pilihan lagi. Inilah kehidupanku, jalan yang harus diriku lalui. Sungguh menyusahkan, bukan?” keluhnya seraya menundukkan wajah. Menghela napas panjang dan berdecak.
“Saya benci mereka! Saya sangat amat membenci mereka!” Lydia tidak bisa membujuk ataupun memberikan masukan, hanya membentak untuk mengutarakan ketidakpuasan dan amarah yang melonjak. “Ketidaktahuan membuat mereka bertingkah angkuh! Kebodohan menyesatkan bangsa mereka! Menyalahkan dan menyudutkan kita–!”
“Lydia ….” Irwin menegur, sekilas melirik dan lanjut berkata, “Kita tidak boleh rasis. Sikap membeda-bedakan hanya akan mendatangkan kehancuran. Generalisasi bukan digunakan untuk memandang rendah golongan lain ….”
“Bangsa kita memang berbeda dengan mereka!” Lydia menyanggah, menegaskan pendapatnya dan membentak, “Kita jauh lebih unggul dari Halv! Lebih murni dari mereka!”
“Benarkah? Apa kita benar-benar lebih unggul dari mereka?” Irwin menonaktifkan layar proyeksi, kemudian mengembalikan Kubus Data seraya lanjut berkata, “Halv masih dapat dikategorikan sebagai umat manusia. Memiliki struktur tubuh Humanoid, akal, dan beradab. Lantas apa yang membuat kita berbeda dari mereka? Apakah bentuk? Kemampuan fisik? Kecerdasan? Atau mungkin garis keturunan?”
“Semuanya!” Lydia menegaskan. Ia tidak berniat menarik pendapatnya, benar-benar meyakini hal tersebut dan lanjut menegaskan, “Kita jauh lebih mulia dari mereka. Baik dalam aspek keindahan fisik, kecerdasan, atau bahkan garis keturunan!”
“Begitu, ya ….” Irwin tertegun, memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan dan berkata, “Jika memang itu yang engkau yakini, diriku takkan menegur lagi. Namun, tolong ingat bahwa pemahaman seperti itu bukanlah segalanya.”
“Saya paham!” Lydia mengendus kasar, kemudian lekas bersedekap dan memalingkan wajah dengan kesal. “Setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-benda! Saya ingin tidak ingin menyamakan persepsi!” ujarnya ketus, sama sekali tidak menunjukkan niat mengalah.
Irwin tertegun, lalu menahan napas sejenak dan mulai menggelengkan kepala. Ia ingin lanjut mengingatkan Adiknya, namun sudah kehabisan kata dan tenggelam dalam keresahan. Hanya bisa memperlihatkan ekspresi cemas, lalu memalingkan pandangan seraya merenung.
“Ngomong-omong, bagaimana pendapatmu tentang diriku?” Irwin membuka topik pembicaraan lain. Sembari kembali menatap Lydia, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Seperti yang kamu tahu, Adikku …. Kakakmu ini sudah berubah. Berbeda–!”
“Kakanda adalah Kakanda! Kakanda menyayangi diriku, begitu pula sebaliknya! Diriku sangat menyayangi Kakanda!” Lydia menyela dengan kasar, melirik tajam dan sedikit mengernyit. Setelah menghela napas dan berusaha menenangkan diri, ia lekas memalingkan pandangan sembari lanjut berkata, “Kita adalah keluarga, lahir dari orangtua yang sama dan besar bersama. Memangnya apa yang harus dipertanyakan?”
“Kakakmu sudah tiada ….” Irwin menurunkan tatapan, menahan napas sejenak dan berdecak resah. Sekilas ia menatap Sikyn yang duduk di seberang, kemudian memejamkan mata dan lanjut berkata, “Seharusnya kamu memahami itu–!”
“Kak Irwin adalah Kak Irwin!” Lydia kembali menegaskan. Ia lekas bangun dari tempat duduk, lalu menatap Kakaknya sembari membentak, “Jangan bicara hal aneh seperti itu!!”
“Tidak–!” Lydia tersentak. Emosi yang menguasainya seketika sirna, digantikan oleh penyesalan karena telah mendesak Irwin. “Saya juga …, Kakanda. Maaf sudah membentak.”
“Tapi, itu memang benar. Aku sudah bukan lagi Manusia Murni ….” Irwin ingin meluruskan hal tersebut. Mempertimbangkan masa depan Adiknya, pemuda rambut hitam itu memutuskan untuk bertindak tegas dan berkata, “Meski terlihat seperti ini, susunan Daath milikku sudah berubah. Aku bukan Irwin Walton yang kau kenal.”
“Kakanda tetaplah Kakanda ….” Lydia memahami hal tersebut. Namun, ia tetap bersikukuh tidak ingin menerimanya. Memilih untuk bersembunyi di dalam ketidaktahuan. Menolak kenyataan untuk melindungi nurani supaya tidak tergerus rasa bersalah. “Tolong jangan berkata seperti itu lagi! Saya hanya–!”
“Aeons adalah Bentuk Kehidupan yang dapat merepresentasikan dan menjelaskan wujud makhluk hidup ….” Irwin menyela. Ia kembali menatap lawan bicaranya, lalu melempar senyum kecut sembari lanjut menjelaskan, “Sedangkan Daath merupakan Bentuk Pengetahuan yang dimiliki oleh makhluk hidup. Dua konsep dasar dalam teori eksistensi entitas.”
“Saya tahu, teori itu ada di buku pelajaran. Penjelasan tersebut diambil dari narasi kuno tentang Buah Pengetahuan dan Buah Kehidupan.”
Lydia langsung tertegun, segera menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menundukkan kepala. Menahan suara tangis, berusaha menyembunyikan kesedihan.
“Dosa pertama umat manusia karena mencicipi Buah Kehidupan, padahal mereka sudah memiliki Buah Pengetahuan,” lanjut perempuan itu seraya menyeka air mata. Ia berusaha tegar, mengambil keputusan dan lekas mengangkat wajahnya. Sembari melempar senyum tipis, Lydia dengan kesal menambahkan, “Tindakan bodoh tersebut mendatangkan murka ilahi, mereka berakhir dijebloskan ke dalam kehidupan fana penuh kesengsaraan. Bahkan dosa itu masih ditanggung oleh keturunan mereka sampai sekarang.”
“Kau benar. Mengetahui berbeda dengan menjalani ….” Irwin mengangguk. Ia mengusap air mata Adiknya yang masih tersisa, lalu mendekatkan wajah dan berkata, “Mereka tidak bisa menahan rasa penasaran, berakhir melanggar ketentuan ilahi dan mendapatkan hukuman yang sepadan. Keturunan mereka harus menanggung dosa tersebut sampai akhir.”
“Jadi ….” Lydia menahan napas sejenak, lalu kembali duduk dan lekas bertanya, “Apa hubungannya narasi kuno itu dengan pembicaraan ini?”
“Aku merupakan perwujudan dari dosa tersebut.” Irwin mengulurkan tangannya, lalu membuka telapak dengan posisi menghadap ke atas. Sembari melempar senyum kecut, pemuda rambut hitam itu dengan ekspresi resah menyampaikan, “Meski sudah memiliki Buah Kehidupan, jiwaku memangsa pengetahuan dunia. Memberikan hasilnya kepada kalian.”
“Kakanda pergi ke Almiah untuk mencari Hawa?” Lydia memahami analogi tersebut. Ia sekilas memutar bola mata, lalu menghela napas dan lanjut bertanya, “Kakanda bukanlah Adam! Kakanda juga bukan leluhur yang penuh dosa! Kakanda hanya Manusia Murni seperti diriku! Lagi pula, konsep Adam dan Hawa merupakan kunci untuk memulai peradaban baru! Memangnya kita akan menghadap kiamat?”
“Kau benar, aku masih seorang Manusia Murni. Sama seperti kamu. Analogi itu terlalu ekstrem untuk digunakan dalam pembicaraan ini.” Irwin mengangguk. Sembari memalingkan pandangan, ia dengan nada resah meluruskan, “Namun, seperti yang telah aku katakan, Daath dan Aeons milikku sudah berubah. Basis–!”
“Tidak perlu memaksakan diri! Kakanda tidak punya kewajiban untuk melakukan hal semacam itu, ‘kan?! Biarkan saja!” Lydia langsung menyela, sepenuhnya memahami maksud dari analogi tersebut. Ia segera meraih tangan kanan Irwin, lalu menatap matanya dari dekat dan menegaskan, “Halv lebih rendah dari kita! Kakanda tidak perlu memedulikan mereka!”
“Kalau bukan aku, memangnya siapa lagi yang mau melakukannya?” Irwin mengernyit, memberikan tatapan tajam dan lanjut berkata, “Kita semua selalu mengharapkan hari esok yang lebih baik, memimpikan nirwana dunia yang kekal. Puncak kemuliaan ….”
__ADS_1
“Kakanda tidak sendirian!” Lydia menggenggam tangannya lebih erat, lalu lekas mendekatkan wajah dan berkata, “Jika itu yang Kakanda inginkan, kita bisa melakukannya–!”
“Aku tahu, kita tidak sendirian ….” Irwin menyela, kemudian melepaskan tangan kanannya dari genggaman Lydia dan termenung sejenak. Sembari menunjukkan ekspresi serius, ia segera mengukuhkan keputusan dan menatap tajam. “Makanya aku harus pergi ke Almiah. Kita harus segera menemukan Korwa,” pungkasnya dengan tegas.
Pembicaraan berakhir dengan ketidakpuasan. Lydia hanya bisa menutup mulut dan berpaling, mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan dan termenung. Ia tidak memahami maksud ataupun tujuan Irwin, pemuda tersebut sama sekali tidak memberi penjelasan terkait hal tersebut. Hanya berkata harus pergi ke Almiah dan menemui Korwa.
“Memangnya dia siapa? Sepenting itukah dirinya?” Lydia menggertakkan gigi, lekas mengangkat wajahnya dan menatap. Ia ingin membentak, namun suaranya seketika tertahan karena rasa bersalah dalam benak. “Sampai-sampai Kakanda harus meninggalkan Jann ….”
“Entahlah, kita akan tahu setelah bertemu dengannya.” Irwin tidak menjelaskan, lekas memasang ekspresi datar seakan ingin mengabaikan pertanyaan tersebut. “Ketidaktahuan adalah gerbang menuju harapan, kita harus membukanya dengan hati-hati,” jawabnya seraya mengaktifkan D-Nil.
Alat berbentuk Choker tersebut sekilas memancarkan cahaya putih, lalu mentransfer beberapa informasi menuju otak Irwin. Merambat melalui permukaan kulit, susunan saraf, dan sumsum tulang belakang. Dalam bentuk sinyal elektromagnetik layaknya sebuah perangkat digital, tersusun rapi tanpa mengalami galat sedikit pun.
“Kakanda–?”
“Aku pinjam dulu ….” Irwin mengambil Kubus Data dari tas jinjing Adiknya. Sembari membuka layar proyeksi, ia menyentuh permukaan perangkat tersebut dengan tangan kanan dan menghubungkannya dengan D-Nil. Langsung mengirimkan data dan memulai proses kalkulasi dengan sangat cepat. “Ah, akhirnya terbuka juga. Kode keamanannya masih bisa dipakai, ya? Berarti mereka belum memperbarui protokol–?”
“Kakanda?!” Lydia membentak, kemudian lekas mencubit pipi Irwin dan lanjut bertanya, “Tolong berhenti! Nanti mabuk kendaraan lagi, loh! Kamu sedang apa, sih?!”
“Sebentar ….” Irwin lanjut memproses data dengan tangan kanan, kemudian mulai mengetik laporan dengan tangan kiri. Sembari melirik tajam, pemuda rambut hitam itu lekas menegur, “Berhenti mencubit, Lydia …. Aku sedang sibuk.”
“Ngapain?” Lydia mencubit semakin keras, lalu mulai mendekatkan wajah dan menatap tajam. Sembari mengintip layar proyeksi, perempuan rambut hitam tersebut dengan penasaran lanjut bertanya, “Kakanda sedang membuat laporan tidak penting, ‘kan? Semacam peninjauan program pemerintah–?”
Lydia tersentak, langsung menjauh dengan wajah memucat. Sekilas ia melirik ke arah Sikyn, namun langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan dan memilih untuk bungkam. Benar-benar menunjukkan ketakutan yang sangat jelas.
“Jangan cemas, ini hanya ramalan. Hasil kalkulasi pergerakan bintang ….” Irwin menyelesaikan kalkulasi, kemudian segera memutus koneksi Kubus Data dan menonaktifkan D-Nil. “Aku juga memiliki kemampuan Orakel,” ujarnya seraya melempar senyum lembut.
Namun, pada saat yang sama tersirat sesuatu yang mengerikan dalam senyuman tersebut. Dipenuhi keangkuhan, kegilaan, dan tampak meremehkan segalanya layaknya sosok Dewa yang telah selesai menulis narasi takdir.
“Kakanda membiarkan dia ikut karena tahu hal itu?” Lydia menelan air liur dengan berat, lalu menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk duduk dengan tenang. “Bukankah dia sangat setia? Ka-Kakanda ingin mengorbankannya?” tanyanya cemas. Sekilas ia melirik ke arah Sikyn, lalu lekas memalingkan pandangan dan kembali gemetar tidak karuan.
“Entahlah, ini hanya hasil kalkulasi!” Irwin mengambil tas jinjing Adiknya, kemudian menonaktifkan layar proyeksi dan mengembalikan Kubus Data. “Aku menyimpannya supaya tidak lupa. Gambaran tersebut akan diseleksi supaya kita bisa mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya dengan nada sedikit resah.
“Tapi, bukankah itu ….” Lydia menggertakkan gigi, segera mengambil tas jinjing miliknya dan berniat memeriksa laporan tadi. Namun, ia langsung terhenti tepat setelah mengambil Kubus Data. “Itu hanya ramalan, ‘kan?” tanyanya seraya mengurungkan niat.
“Sebenarnya, di dunia ini tidak ada yang namanya ketetapan mutlak ….” Irwin menahan napas sejenak. “Bahkan untuk kematian sekali pun. Kita menganggap hal tersebut mutlak karena pilihan kita terbatas,” lanjutnya seraya memejamkan mata.
“Lantas, bagaimana dengan laporan dan proposal yang Kakanda kirim kemarin?” Lydia meragukan hal tersebut. Ia menatap tajam, lalu dengan tubuh gemetar lanjut memastikan, “Itu hanya ramalan, ‘kan? Bukan ketetapan mutlak yang Kakanda tulis untuk mereka?”
“Hmm, itu juga hasil Kalkulasi.” Irwin membuka matanya dengan risih, menunjukkan ekspresi kesal karena merasa seperti sedang diinterogasi. “Tentu saja sudah aku seleksi dan hasilnya cukup akurat,” tegasnya seraya melirik.
“Maaf, saya tidak bermaksud menyudutkan Kakanda ….”
“Tidak masalah! Seorang pelajar memang harus memiliki pemikiran kritis! Pertahankan itu!” Irwin mengangguk. Sembari bersedekap, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas lanjut berkata, “Teruslah penasaran! Ajukan pertanyaan jika bingung! Buktikan informasi yang kamu dapat! Lalu, ambil kesimpulan milikmu sendiri!”
“Curang ….”
“Hmm?”
“Kakanda curang!”
“Eh? Kenapa?”
“Pokoknya curang!!”
“Ba-Baiklah, terserah kamu saja ….” Irwin tertegun, hanya bisa mengangguk pelan dan memejamkan mata sejenak. “Kadang-kadang kamu aneh, ya. Tiba-tiba jadi kayak bocah begitu,” gumamnya seraya memalingkan pandangan.
“Saya tidak mau mendengar itu dari Kakanda!” bentak Lydia dengan kesal.
\===================================
Catatan ;
__ADS_1
See You Next Time!