Siklus Sakral

Siklus Sakral
CH 01 – Almiah Dissident (Part 04)


__ADS_3

Kebahagiaan melahirkan harapan, sedangkan penderitaan hanya akan mendatangkan keputusasaan. Konsep dasar dari kebersamaan, hubungan semu yang terjalin di antara banyak orang. Menyampaikan kehangatan untuk saling mengisi hati.


Mereka yang dilahirkan dengan cinta takkan paham penderitaan orang buangan. Bagaimana rasanya dikucilkan karena berbeda, harus banting tulang terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.


Menahan perihnya luka yang bernanah, memeras pikiran, mengubur hati, bahkan sampai muntah darah karena bekerja terlalu keras. Mengorbankan banyak hal untuk sesuatu yang tidak sepadan, hidup dalam kemiskinan yang terstruktur.


Anak-anak buangan hanya bisa mengutuk mereka yang diberkati, menyalahkan takdir dan membuang harga diri untuk bertahan hidup. Menjilat kaki kalangan atas untuk semangkuk makanan, menjual tenaga dan kehormatan mereka demi menyambung hidup.


Korwa berasal dari kalangan bawah, kaum pekerja yang tinggal di pemukiman kumuh wilayah Al-Miah Moa. Untuk suku yang mengutamakan pengetahuan, pemerintah mereka tidak terlalu memedulikan kondisi masyarakat.


Hanya mengutamakan pendidikan, bahkan dana pembangunan dari pusat sebagian besar digunakan untuk pembiayaan penelitian. Menelantarkan kalangan bawah.


Mayoritas penduduk suku Al-Miah Moa adalah ras Turtur, memiliki unsur genetik penyu dan memiliki jangka hidup yang panjang.


Karena itulah, persepsi waktu mereka sangat berbeda dengan yang lain. Cenderung apatis terhadap lingkungan karena menganggap waktu akan menyelesaikan masalah yang ada.


Sayangnya, kenyataan tidak sesederhana itu. Bagi mereka penderitaan kalangan bawah memang terjadi dalam sekejap, namun tidak untuk yang menjalani.


Sebagai pengembang teknologi dan pengetahuan terbesar di Almiah, kondisi wilayah mereka sangat jauh dari kesan makmur. Kesenjangan sosial dapat terlihat jelas di lingkungan masyarakat, antara kalangan terpelajar dan buangan.


Namun, uniknya mereka tetap menggunakan sistem hierarki yang ditentukan berdasarkan kemampuan individu. Memberi kesempatan bagi kalangan bawah untuk naik kasta, mengadakan ujian terbuka dan membiayai pendidikan anak-anak berbakat.


Korwa lahir dari keluarga yang sangat jauh dari kata rukun, bahagia, dan makmur. Tinggal di rumah panggung yang bobrok, bisa karam kapan saja saat musim hujan tiba.


Ayahnya adalah seorang pemabuk, bekerja sebagai nelayan dengan penghasilan kecil. Tidak suka berjudi, namun hobi menghamburkan uang di rumah bordil. Suka menelantarkan keluarga dan jarang pulang dengan alasan melaut.


Korwa tinggal bersama Ibunya yang sakit-sakitan, mencari nafkah dengan menyulam kain serat untuk upah yang tidak seberapa. Terkadang berjualan alga di pasar, membersihkan kediaman kalangan terpelajar, atau memancing ikan untuk dimakan.


Ia pernah memiliki seorang kakak perempuan dan dua adik laki-laki, namun mereka telah meninggal karena jatuh ke laut saat badai. Terseret arus deras, lalu lenyap ditelan kegelapan laut dalam. Tanpa mampu naik menuju permukaan lagi.


Pada saat itu Korwa juga ikut jatuh, tenggelam bersama mereka dan ditelan laut dalam. Tetapi, hanya dirinya yang berhasil kembali ke permukaan. Ditemukan tersangkut pada kaki rumah panggung salah satu penduduk.


Musibah semacam itu sering terjadi di pemukiman kumuh. Karena usia bangunan dan kurangnya perawatan infrastruktur, badai pada musim hujan dapat dengan mudah merobohkan rumah mereka. Menjatuhkan anak-anak dan orang tua ke dalam arus deras, lalu diseret menuju kegelapan laut dan tak pernah kembali.


Korwa dan Ibunya memaklumi musibah tersebut, hanya bisa berserah diri dan berkabung untuk mereka. Namun, sang Ayah malah pergi melaut dan tidak kembali lagi. Meninggalkan mereka berdua di rumah bobrok yang sudah ambruk separuh.


Terkadang mereka menumpang di rumah tetangga saat badai datang, mengubur ketakutan dan kabur dari trauma yang menghantui. Seakan-akan sudah tidak ada lagi harapan.


Beberapa tahun setelah musibah tersebut, Ibunya meninggal karena penyakit kronis yang sudah lama diderita. Korwa berakhir hidup sebatang kara, terlempar ke jalanan setelah tempat tinggalnya ambruk diterpa badai pada tahun berikutnya.


Tidak ada kerabat yang mau menampung Korwa, bahkan para tetangga enggan memberikan bantuan. Mereka menutup rapat pintu rumah, menganggap kehadiran perempuan itu sebagai hama. Anak-anak kecil di pemukiman kumuh mulai mencemooh dirinya, beberapa remaja mencibir, dan ibu-ibu pun ikut memaki dengan kejam.

__ADS_1


Ia dikucilkan bukan karena reputasi buruk Ayahnya, melainkan karena dirinya seorang Newt. Campuran antara Padder dan Lacerta, persilangan antara kaum Sean dan Malin.


Muak dengan perlakuan mereka, Korwa memutuskan untuk pergi dari pemukiman kumuh dan mencari peruntungan. Menggunakan tabungan yang ditinggalkan oleh mendiang Ibunya, ia bertekad mengikuti ujian terbuka yang diadakan oleh kalangan terpelajar.


Mempersiapkan diri dengan berlatih menulis dan membaca, membeli buku bekas di pasar loak, kemudian mengikuti seleksi terbuka di depan kompleks Akademi. Berharap bisa mengubah nasibnya yang menyedihkan dan membuka lembar baru.


Entah itu keberuntungan atau takdir, Korwa berhasil lolos seleksi terbuka dengan nilai yang hampir sempurna. Namun, sayangnya ia gagal dalam ujian pemeriksaan fisik. Memiliki tingkat kecocokan Unfar yang sangat rendah, tidak berbakat dan dinilai rentan.


Meski gagal pada tahap tersebut, ia dilirik oleh salah satu keluarga terpelajar dan diadopsi. Mendapatkan nama belakang Khan, salah satu keluarga cabang dari Suku Moa.


Setelah itu, Korwa menjalani hidupnya sebagai seorang pelajar. Mati-matian mengasah ilmu pengetahuan supaya tidak diusir, kemudian kembali mengikuti ujian masuk Akademi pada tahun berikutnya dan diterima dengan nilai memuaskan.


Tidak hanya itu saja, ia juga memberikan kontribusi besar dengan menulis puluhan artikel ilmiah untuk dipublikasikan. Mengangkat derajat keluarga cabang Khan.


Ia mendapatkan penghasilan yang cukup banyak dari penelitian, lomba, dan beasiswa. Ditabung untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas, lalu memilih jurusan sejarah karena tertarik dengan dasar ideologi Kekaisaran Solus.


.


.


.


.


Beberapa pelajar pulang menuju kediaman masing-masing, sedangkan yang lain kembali ke asrama bersama teman sekamar mereka. Memenuhi jalan utama, berbaris rapi melewati jembatan yang mengapung di atas air.


Mengikuti protokol keamanan yang diterapkan oleh pihak Akademi, pengajar baru bisa pulang setelah memastikan seluruh murid pergi.


Mereka wajib menyerahkan berkas penilaian kepada pihak pengurus, kemudian disimpan pada brangkas supaya tidak bisa diakses sembarangan.


Karena itulah, para pengajar selalu pulang malam meski jam pelajaran sudah berakhir sejak sore. Telat makan, tampak kelelahan, dan sedikit sempoyongan.


Malam selalu menjadi momen menakutkan bagi Korwa. Mengingatkannya dengan badai dahsyat, kegelapan laut dalam, dan kematian saudara-saudarinya. Suara gemuruh ombak seakan membangkitkan trauma dan mendatangkan mimpi buruk.


Deret lampu jalan menyinari beberapa sudut halaman akademi. Pepohonan bakau tumbuh mengakar sampai menembus Batu Apung, menyentuh laut dan mengonsumsi air asin. Memekarkan bunga berwarna keemasan, menyebarkan aroma harum yang khas.


“Kenapa sih laporan kita tidak diserahkan dalam bentuk file saja?” ujar seorang pengajar sembari berjalan keluar dari bangunan Akademi. Bersama kolega, ia dengan nada lemas lanjut mengeluh, “Merepotkan sekali, bukan? Padahal kita sudah menerapkan jaringan Kubus Data yang baru. Kali ini pasti lebih aman ….”


“Mau bagaimana lagi, Kubus Data tidak kebal Unfar!” balas rekannya sembari mengangkat bahu. Ia sekilas melirik, lalu melempar senyum kecut dan berkata, “Dulu pernah ada Userioh yang membobol jaringan Akademi dan Universitas, memanipulasi nilai dan mencuri data penelitian. Pihak pengurus tidak mau mengambil risiko semacam itu lagi.”


“Bukannya ini terlalu menyusahkan?” Pengajar tersebut menuruni anak tangga. Bersama rekan-rekannya, ia berjalan menuju gerbang sembari lanjut mengobrol, “Setiap hari menyerahkan laporan nilai, memeriksa riwayat percetakan supaya tidak disalin, dan memastikan bangunan kosong sebelum pulang. Dilakukan secara manual, loh! Setiap hari!”

__ADS_1


“Kita sudah diupah, jangan mengeluh terus dong! Kau membuatku ikut muak dengan protokol ini! Padahal aku berusaha untuk tidak memedulikannya!” Rekannya kesal, berhenti melirik dan menghela napas panjang. “Lagi pula, departemen pengembangan sudah mulai menyusun protokol yang lebih baik. Membuat kode enkripsi baru untuk meningkatkan keamanan jaringan,” lanjutnya dengan nada resah.


“Oh, kira-kira kapan selesai?” Pengajar tersebut kembali mengusik. Sedikit menyenggol bahu rekannya, lalu melempar senyum kejut dan lanjut bertanya, “Bulan depan?”


“Katanya sih paling cepat baru selesai tahun depan,” jawab rekannya. Ia kembali menghela napas, lalu menepuk kepala pengajar itu sembari berkata, “Jangan genit! Meski murid-murid sudah pulang, kita masih di lingkungan sekolah!”


“Mau mampir dulu?”


“Makan malam?”


“Itu kedengarannya bagus, saya ikut!”


“Kamu yang traktir?”


“Eh? Aku lagi?”


“Bercanda, kok! Kali ini saya bayar sendiri.”


Mereka berdua melanjutkan pembicaraan hingga sampai di gerbang depan, lalu menyeberangi jembatan penghubung dan mampir ke suatu tempat sebelum pulang. Menjalin hubungan yang lebih dari sekadar kolega, bisa saja sebuah asmara atau hanya persahabatan.


Menyaksikan hal tersebut, Korwa hanya bisa termenung di depan anak tangga. Enggan untuk pulang, hanya menahan napas dan berpikir untuk kembali. Mengambil lembur seperti hari-hari sebelumnya, kabur dari ketidaknyamanan dan menguburnya dalam kesibukan.


“Kenapa diam saja, Korwa? Tidak pulang?” Irina menyapa dari belakang, lalu menghampiri perempuan rambut ungu cerah tersebut dan lanjut berkata, “Ah! Kamu … bohong soal pindah apartemen? Sebenarnya lembur, ‘kan?”


“Benar, saya bohong ….” Korwa tidak mengelak, mengakui hal tersebut dengan wajah murung. “Diriku hanya tak ingin mendengar suara ******* kalian,” lanjutnya ketus. Sedikit mengernyit, lalu menghela napas resah dan berpaling.


“Eh? Kedengaran?” Irina seketika tersipu, kemudian lekas memalingkan wajahnya dan terdiam. “Me-Memangnya sekeras itu, ya? Kami tidak berlebihan saat melakukannya, kok—!”


“Dinding apartemen kita tipis dan kamar saya tepat ada di samping kalian!” Korwa membentak. Ia tampak tidak ingin membahasnya, sedikit kesal karena diingatkan dengan hal tersebut. “Sudahlah, Irina! Saya ambil jam lembur saja! Mumpung ada shift kosong,” ujarnya seraya berbalik, berniat kembali masuk ke dalam gedung Akademi.


“Tunggu sebentar, Korwa! Saya mohon ….” Irina menghadang, melebarkan tangan kanan dan memberikan tatapan tajam. “Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan denganmu. Bisa ikut sebentar?” pintanya dengan ekspresi cemas.


“Soal permintaan tadi siang?” Korwa tertegun, menahan napas dan lekas memeriksa sekeliling. Memastikan tidak ada orang yang mengawasi, lalu menggandeng rekannya untuk menuruni anak tangga. “Kita bicara di mana?” tanyanya tanpa menoleh.


“Warung sup rumput laut di dekat pemancingan, tempat kita dulu nongkrong waktu kuliah,” jawab Irina seraya mengeluarkan Kubus Data. Ia mengaktifkan fitur transfer file, lalu memasukkannya ke dalam tas Korwa. “Seharusnya Sham sudah ada di sana, informasi yang kamu inginkan ada di situ,” tambahnya seraya berjalan dengan menjaga jarak.


Setelah melewati gerbang depan Akademi, mereka segera mempercepat langkah kaki dan mengambil rute yang berbeda. Mengantisipasi pelacakan dari pihak pengurus, menipiskan jejak supaya identitas tidak terkuak jika tindakan mereka terbongkar.


Setelah transfer file selesai, Korwa segera membuang Kubus Data yang tadi diberikan oleh Irina. Melemparnya ke laut untuk menghilangkan barang bukti.


Perempuan dari ras Newt tersebut memilih rute memutar. Melewati pemukiman umum dan pasar di sekitar pusat kota, lalu berjalan menuju lingkungan asrama, dan mengikuti jembatan yang berakhir di daerah pemancingan.

__ADS_1


Butuh waktu sampai dua jam dengan berjalan kaki untuk menempuh rute tersebut. Meski medan yang dilalui cukup mulus, ia harus berhenti pada beberapa titik untuk membangun alibi. Mengobrol dengan beberapa kenalan, lalu menyampaikan omong kosong sebelum pergi. Supaya memiliki saksi tambahan jika tertangkap dan diinterogasi.


ÔÔÔ


__ADS_2