Siklus Sakral

Siklus Sakral
CH 00 – Penyintas (Part 02)


__ADS_3

Namun, perbedaan selalu melahirkan konflik.


Bangsa, warna kulit, budaya, ras, kepercayaan, bahasa, dan bahkan tempat asal. Perang selalu disebabkan oleh perbedaan persepsi dan kepentingan, menganggap yang lain lebih rendah karena pemikiran kuno seperti mengagungkan garis keturunan.


Tepat pada awal abad keenam, perang sipil pertama pecah di Bahtera—


Beberapa golongan ingin mengusir para “Cacat” dari Bahtera karena dianggap tidak murni, sebuah kelainan yang dapat merusak kemurnian umat manusia. Melakukan diskriminasi besar-besaran, terus mendesak pemerintah untuk melakukan pembersihan garis keturunan.


Di sisi lain, sebagai minoritas, mereka yang dianggap sebagai “Cacat” tidak tinggal diam saja. Menggunakan kemampuan mereka, orang-orang tersebut memberikan kontribusi dalam jumlah yang sangat besar kepada Bahtera.


Hasil penelitian, alternatif pangan, revolusi sistem masyarakat, obat-obatan, dan bahkan senjata serta algoritma khusus untuk program terbaru planet kerdil. Mereka tidak menggunakan kekerasan, namun murni menunjukkan sebuah pencapaian untuk mendapatkan tempat di dalam Bahtera.


Memperlihatkan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa mereka bukanlah sebuah ancaman, melainkan bentuk evolusi dari ras manusia yang dapat mendatangkan keuntungan.


Sayangnya, hal tersebut malah memperburuk keadaan perang sipil. Bahkan tanpa ditunjukkan, penduduk Bahtera memahami hal tersebut. Fakta bahwa para “Cacat” itu jauh lebih unggul dari manusia pada umumnya.


Tanpa mampu menemui titik terang, perang sipil berlangsung selama lebih dari setengah abad. Puluhan fasilitas vital hancur, kelaparan mulai merajalela, dan wabah mematikan pun menyebar. Dalam konflik tersebut, banyak arsip penting lenyap dan membuat tingkat pengetahuan masyarakat menurun.


Pada puncaknya, Bahtera mengalami regresi peradaban secara besar-besaran.


Di sisi lain, golongan peneliti lebih memilih untuk tidak memihak. Mereka mengurung diri di laboratorium rahasia, mengamankan arsip-arsip penting, kemudian menyusun rencana untuk memulihkan peradaban setelah perang sipil tersebut berakhir.


Tanpa sedikitpun mengambil tindakan untuk menghentikan konflik—


Saat tatanan masyarakat Bahtera hampir runtuh sepenuhnya, sistem pertahanan terakhir yang telah disiapkan oleh leluhur tiba-tiba aktif. Seolah-olah para pendiri telah memprediksi konflik tersebut, seorang pemuda terbangun dari tidur panjangnya.


Ia adalah salah satu pendiri Bahtera, matlamat dari sejarah dan pengetahuan yang diarsipkan dalam bentuk manusia. Mewarisi pengetahuan, ingatan, dan kemampuan umat manusia murni. Fosil hidup dari peradaban Bumi.


Awal kehadirannya tidak membawa perubahan besar. Layaknya manusia normal, sosok tersebut kebingungan saat pertama kali terbangun. Bertingkah seperti manusia gua, kesulitan berkomunikasi dan bahkan bersikap sedikit agresif.


Tetapi, pada hari berikutnya pemuda itu langsung memahami tingkat peradaban Bahtera. Melalui pembicaraan sederhana, ia mempelajari pengetahuan semua orang dan langsung beradaptasi. Memahami lingkungan, diri sendiri, dan kondisi yang ada di sekitarnya.


Sebelum hari berganti, pengetahuan pemuda itu sudah berkembang menyamai golongan peneliti. Mampu mengoperasikan sistem Bahtera, bahkan mengakses modul komando untuk mengatur arah pergerakan planet kerdil.


Keesokan harinya, pengetahuan dan kecerdasan sosok tersebut sudah setara dengan para Orakel. Ia mampu memprediksi sesuatu, bahkan mengetahui sesuatu yang belum pernah dirinya saksikan. Sebuah kemampuan kalkulasi yang sangat mendekati ramalan.


Lalu—


Sebelum genap satu minggu, pemuda itu sudah memahami peran dan kewajibannya. Untuk apa dirinya terbangun, lalu apa yang harus dirinya lakukan di Bahtera.


Ia segera mengincar golongan peneliti, membangun relasi dan membujuk mereka dengan pengetahuan dari peradaban kuno. Sebagai gantinya, pemuda itu akhirnya diizinkan keluar dari laboratorium rahasia.


Pergi untuk menyaksikan konflik sipil berkepanjangan dengan kedua matanya sendiri.


Layaknya sosok Messiah, pemuda itu mulai bergerak untuk melerai konflik. Menyebarkan sebuah keyakinan berbasis teologi, menggunakan keilahian palsu sebagai dalil untuk menghentikan perang yang berkepanjangan.


Pada hari pertama setelah dirinya keluar dari laboratorium, pemuda rambut hitam itu menunjukkan keajaiban dan keilahian kepada mereka.


Pemuda itu menghidupkan orang yang telah meninggal di depan semua orang, lalu menyembuhkan orang-orang yang terluka dan sekarat karena perang.


Dirinya menyingkirkan wabah yang menggerogoti masyarakat dengan satu tiupan halus, kemudian menciptakan setumpuk roti serta kolam air bersih dengan menjentikkan jari.


Ia mengubah siang menjadi malam dan malam menjadi siang dengan satu tepuk tangan. Menurunkan hujan, kemudian menyuburkan tanah yang dirinya injak untuk berjalan.


Beberapa orang langsung menyembah pemuda itu, namun ada juga yang memusuhi dan berusaha menghabisinya. Namun, semua itu berakhir percuma karena pemuda itu hanya ingin mengakhiri konflik. Ia tidak benar-benar peduli kepada mereka.

__ADS_1


Pada hari kedua, sang pemuda mulai menyebarkan kepercayaannya. Memberikan sebuah kitab kecil yang disimpan dalam kubus hitam, lalu memilih beberapa orang untuk menjadi perantaranya. Mengumpulkan pengikut dan menyebarluaskan keyakinan.


Pada hari ketiga, kepercayaan tersebut berkembang pesat dan berubah menjadi fraksi tersendiri. Banyak orang yang lelah dengan perang lari ke pihak pemuda itu, mereka meminta perlindungan dan memohon pertolongan. Sembari berharap konflik akan segera berakhir.


Sang pemuda menerima mereka semua, tanpa diskriminasi ataupun membeda-bedakan. Baik itu golongan “Cacat” ataupun manusia normal, ia menerima orang-orang itu dengan tulus.


Pada hari keempat, kedua belah pihak mulai kehilangan kekuatan tempur mereka. Baik itu golongan “Cacat” maupun yang ingin mengusir mereka, kedua pihak perlahan-lahan runtuh karena banyak anggota yang keluar dari fraksi.


Mulai ragu untuk melanjutkan perang, namun enggan untuk membuang sifat dengki mereka. Masih mempertahankan keyakinan masing-masing.


Sebelum hari keempat berakhir, sang Pemuda mengajukan perundingan kepada mereka dan diterima. Ingin mengakhiri perang sebelum masyarakat Bahtera runtuh dan tidak bisa diperbaiki lagi. Mencari jalan keluar dengan musyawarah.


Tepat pada hari kelima, konferensi terbuka diadakan untuk menemukan titik terang. Membahas kepentingan masing-masing pihak, kemudian memberikan toleransi untuk mencapai kesepakatan bersama.


Namun, konferensi tersebut hampir berakhir anarkis karena kedua pihak tidak ingin mengalah. Saling menuntut dan menyalahkan, berbicara seakan mereka paling benar.


Tepat setelah istirahat siang, golongan peneliti bergabung dalam konferensi tersebut sebagai pihak keempat. Mereka tidak mendukung kedua pihak yang berselisih, hanya menyampaikan pengumuman penting terkait kondisi Bahtera.


“Kita akan segera keluar dari Bimasakti dan sampai ke kluster bintang luar Andromeda. Sebelum itu, Bahtera akan memasuki Celah Kehampaan—! Zona paling berbahaya dari seluruh angkasa yang pernah kita lewati ….”


Pernyataan itu tentu menjadi pertimbangan berat bagi kedua pihak. Mengesampingkan seluruh kepentingan yang ada, mereka tidak ingin peradaban umat manusia musnah saat melewati Celah Kehampaan. Tidak ada satu pun orang yang ingin peradaban mereka berakhir.


Sebelum hari berakhir, sebuah perjanjian toleransi dibuat sebagai deklarasi berakhirnya perang sipil. Menyatukan semua orang dalam peraturan yang mengikat, menanamkan tenggang rasa kepada orang-orang supaya kesalahan yang sama tidak terulang lagi.


Dalam perjanjian tersebut, secara garis besar ada satu hal yang ditetapkan untuk mencapai toleransi antara kedua belah pihak. Sebagai ganti toleransi yang diberikan kepada para “Cacat”, golongan manusia normal meminta penerapan larangan manipulasi genetik secara mutlak. Bertujuan untuk mempertahankan kemurnian genetik umat manusia.


Setelah perjanjian tersebut dibuat, sebutan “Cacat” pun dilarang oleh pemerintah. Diganti dengan Halv-Phylum dan Halv-Patmia, memiliki banyak variasi sesuai dengan peta genetik yang mereka miliki.


Pada hari keenam, sang pemuda menyiapkan kepergiannya. Ia mewariskan beberapa Bentuk Pengetahuan (Daath) kepada masing-masing perwakilan fraksi, kemudian kembali menuju laboratorium rahasia untuk menyiapkan Bahtera sebelum memasuki Celah Kehampaan.


Sebelum hari berakhir, Ia menciptakan belasan A.I. untuk menyokong pemulihan Bahtera. Menyalin kepribadiannya sendiri menjadi susunan algoritma, lalu dikembangbiakkan dengan kepribadian beberapa peneliti untuk menciptakan Kecerdasan Buatan yang baru.


Pada hari ketujuh, pemuda itu keluar dari laboratorium rahasia dan pergi untuk mengamati Celah Kehampaan. Ia meminjam teleskop raksasa milik fraksi Halv, kemudian menyaksikan ujung galaksi dengan mata kepalanya sendiri.


Seakan ketakutan, pemuda itu hanya terdiam membisu setelah menyaksikan Celah Kehampaan. Ia sama sekali tidak memberikan penjelasan tentang apa yang dirinya saksikan.


“Semoga suaka kita benar-benar ada di ujung sana. Tak perlu nirwana, keselamatan saja sudah cukup untuk kami ….”


Setelah menulis beberapa kalimat pada secercah kertas, pemuda itu segera kembali ke laboratorium untuk mendesain sesuatu. Membuat rancangan senjata berbentuk kubus hitam seperti wadah kitab, namun sedikit lebih besar dan memiliki pola aneh pada permukaannya.


Tanpa bisa merealisasikan rancangan tersebut, pemuda itu pada akhirnya kembali ke dalam peti dan melanjutkan tidur panjangnya. Menutup lembar kehidupan singkat.


Meninggalkan pengetahuan, kepercayaan, dan tujuan kepada penduduk Bahtera. Berharap mereka dapat tetap mempertahankan kemanusiaan setelah menyeberang.


Kepergian pemuda itu menandai berakhirnya penggunaan kalender Bahtera, ditutup pada penghujung abad keenam.


Sebagai gantinya, sistem penanggalan baru digunakan untuk mengukur lama waktu mereka menyeberangi celah—


Disebut sebagai Era Kehampaan, diambil dari zona yang akan mereka lalui selama beberapa abad berikutnya. Namun, sayangnya era baru tersebut tidak berlangsung lama.


Tepat setelah abad pertama berakhir, penduduk Bahtera menyaksikan keputusasaan mutlak di dalam Celah Kehampaan. Hal tersebut tidak bisa dijelaskan dengan pengetahuan umat manusia, benar-benar di luar nalar. Sangat jauh dari konsep kemanusiaan.


Katai Putih yang Hidup, wujud sejati dari Pemangsa Bintang. Makhluk Primal yang Kekal, manifestasi nyata dari kengerian kosmik.


Makhluk tersebut memiliki ukuran yang sangat tidak masuk akal, memiliki tubuh seperti ular naga tanpa sayap, dan mampu menelan bintang bulat-bulat. Melata dalam kehampaan, bergerak dengan mengacaukan segala hukum sains yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


Ruang, waktu, gravitasi, cahaya, dan bahkan bentuk kehidupan serta pengetahuan menjadi kacau saat berada di dekatnya. Tidak bisa diukur maupun diidentifikasi.


Entitas tersebut tidak muncul dalam radar ataupun sensor, hanya dapat diamati melalui penglihatan makhluk hidup. Sangat menyimpang dari kenyataan, bahkan sempat disebut sebagai imajiner semesta. Lelucon mengerikan di ujung jagat raya.


Karena itulah, eksistensi sosok tersebut tidak bisa diarsipkan menggunakan kamera.


Wujudnya hanya dapat diabadikan dalam gambar manual, bahkan dokumen digital akan langsung lenyap dalam hitungan detik saat diarsipkan. Seakan-akan eksistensi makhluk tersebut memiliki kehendak tersendiri.


Selain itu, jarak antara Bahtera dan lokasi makhluk tersebut tidak bisa diukur. Karena sensor dan radar tidak dapat mengidentifikasi sosok tersebut, koordinatnya menjadi tidak jelas dan sangat kacau.


Makhluk Primal tidaklah agresif, ia hanya melata dalam kehampaan sembari menelan katai putih sebagai makanan utama. Terkadang mengunyah matahari kecil dan planet, lalu menyedot komet dan asteroid layaknya camilan.


Namun, kehadirannya sudah cukup untuk mendatangkan bencana bagi Bahtera.


Ia memiliki gravitasi yang mampu menarik bintang dan planet-planet di sekitarnya.


Sekali bergerak, konsep ruang dan waktu di sekitarnya akan kacau.


Setelah diteliti, entitas tersebut pada akhirnya tidak bisa dinyatakan sebagai makhluk hidup. Disamakan dengan debu kosmik, lubang hitam, ataupun fenomena angkasa lainnya.


Meski disebut sebagai Makhluk Primal dan Katai Putih yang Hidup, sosok tersebut memiliki konsep kehidupan yang sangat berbeda dari pengetahuan umat manusia.


Komposisi eksistensinya berasal dari dimensi yang lebih tinggi, tidak dapat diidentifikasi, dan pada akhirnya ditetapkan sebagai Singularitas Kehancuran.


Dengan kata lain, umat manusia takkan mampu membunuh makhluk tersebut. Mereka hanya bisa mengubah rute perjalanan Bahtera, lalu menjauh sebisa mungkin.


Meskipun itu berakhir memperpanjang durasi penyeberangan—


Sayangnya, Naga Kosmik tersebut bukan satu-satunya Makhluk Primal.


Setelah mengarungi Celah Kehampaan lebih dalam, umat manusia kembali dihadapkan dengan keputusasaan. Sebuah kenyataan bahwa tempat tersebut dipenuhi oleh makhluk seperti mereka, bahkan ada yang memiliki ukuran ratusan kali lebih besar dan bersifat kanibal.


Makhluk Primal memiliki bentuk yang beranekaragam. Mayoritas memiliki wujud seperti reptil, melata dan merayap dalam kehampaan.


Namun, ada juga Makhluk Primal yang berbentuk humanoid. Mereka memiliki sayap layaknya sosok malaikat atau makhluk ilahi, berukuran masif dan memancarkan cahaya sangat terang. Mampu bergerak dengan sangat cepat, melayang dalam Celah Kehampaan dan cenderung berkelompok.


Ada juga Makhluk Primal yang tampak seperti monster kosmik. Jenis tersebut cenderung agresif, bersifat kanibal, dan jauh lebih besar dari yang lain.


Kurang dari satu bulan setelah mengetahui fakta tersebut, tingkat bunuh diri di Bahtera melonjak drastis. Banyak yang mengalami gangguan jiwa, kriminalitas meningkat, dan sistem kalender menjadi kacau karena persepsi waktu mereka rusak.


Kurang dari dua tahun, Bahtera tersebut berubah menjadi tempat sunyi layaknya kota hantu. Tatanan masyarakat runtuh, peradaban mengalami kemunduran, dan hampir seluruh penduduknya menderita gangguan jiwa.


Tetapi—


Entah itu disebut keajaiban atau takdir, mereka berhasil bertahan dan keluar dari Celah Kehampaan. Melanjutkan perjalanan dengan populasi yang sangat sedikit, kemudian membangun ulang peradaban di tempat baru.


Sebelum menetapkan kalender dan pemerintahan baru, para Penyintas mengambil keputusan bersama untuk mengubur sejarah tersebut dalam-dalam.


Menyembunyikan eksistensi para Makhluk Primal dari anak dan cucu mereka. Mengumpulkan seluruh arsip fisik yang ada, kemudian disegel dalam sebuah kotak hitam bersama Kitab Suci sampai waktunya tiba.


Membangun ulang peradaban, memperbanyak jumlah, lalu menyiapkan senjata yang telah dirancang sang pemuda untuk melawan balik. Berniat untuk membunuh Makhluk Primal.


\========================


Catatan :

__ADS_1


Selamat membaca. Meski masuk sains fiksi, isinya mungkin akan cenderung supernatural, atau metafisika.


Arc 01 “Almiah Dissident” dimulai.


__ADS_2