Siklus Sakral

Siklus Sakral
CH 01 – Almiah Dissident (Part 05)


__ADS_3

Tiupan angin laut membawa aroma amis yang khas. Dengan lembut menyusuri kegelapan malam, menggulung ombak dan melewati sela-sela jembatan penyeberangan.


Menderu lembut layaknya siulan merdu, mengibarkan bendera kain yang dipasang pada beberapa sudut daerah pemancingan. Memiliki warna yang beragam, digunakan sebagai tanda peringatan tingkat bahaya seperti air pasang, kekuatan arus, dan aktifitas monster laut.


Daerah pemancingan merupakan hulu dari distribusi hasil laut. Tempat para nelayan menjual hasil tangkapan mereka kepada tengkulak, kemudian disimpan pada gudang sebelum disalurkan ke berbagai tempat. Beberapa akan diawetkan terlebih dahulu, dibekukan atau diolah menjadi bahan baku makanan instan.


Hasil laut yang diperdagangkan tidak terbatas pada ikan, namun ada juga alga dari para petani untuk diekspor ke Region lain. Dijemur pada atap bangunan, dikeringkan terlebih dahulu sebelum dijual ke tengkulak. Sebagian ada yang diolah menjadi bubuk agar-agar, lalu dikemas menggunakan kotak kayu untuk meningkatkan harga produk.


Dari sekian banyak komoditas yang ada di daerah pemancingan, produk garam dan hasil budidaya lobster kurang digandrungi oleh tengkulak. Selain karena tingkat permintaannya yang rendah, kualitas dan kecepatan produksi terbilang sangat lambat. Bahkan untuk mendapatkan hasil beberapa kilogram saja membutuhkan waktu sampai berminggu-minggu.


Mengesampingkan semua komoditas yang ada, daerah pemancingan merupakan salah satu pusat perekonomian di wilayah Akademi dan Universitas. Sentra perekonomian terbuka.


Karena terpisah dari wilayah administrasi suku lain, lembaga pendidikan tersebut diberikan hak untuk memiliki sumber pendapatan mandiri. Tidak boleh dipengaruhi oleh pihak luar, dapat diidentifikasi sebagai kota tunggal dengan sistem ekonomi independen.


Persentase penduduk di Wilayah Administrasi Akademi dan Universitas tidak dikuasai oleh pelajar, pengajar, atau bahkan pengurus. Masyarakat umum menguasai hampir 70% populasi, tinggal di daerah pemukiman dan menyatu dengan anggota lembaga.


Mereka terdiri dari kalangan pekerja, keluarga pelajar, alumni, dan pegawai sipil. Sebagian besar imigran berasal dari wilayah suku lain, biasanya merupakan keluarga dari murid yang mendapatkan beasiswa dari lembaga.


Namun, mereka tidak bisa tinggal selamanya di Wilayah Administrasi Akademi dan Universitas. Selain anggota lembaga, semua penduduk diwajibkan untuk membayar pajak dalam jumlah tertentu. Tidak mendapatkan subsidi, tunjangan, atau bahkan jaminan kesehatan.


Hal tersebut juga berlaku untuk para alumni, kecuali mereka yang bekerja sebagai pengurus di Akademi dan Universitas. Lolos seleksi tertulis dan kompetensi, memiliki kontribusi kepada lembaga selama mereka menempuh pendidikan.


Wilayah Administrasi Akademi dan Universitas tidak sepenuhnya bebas kriminal. Karena kebijakan yang memihak tersebut, banyak penduduk lokal yang memalsukan data kependudukan mereka dan melakukan transaksi ilegal. Memperjualbelikan data, biasanya berupa soal ujian yang dibocorkan oleh beberapa oknum pengurus.


Bagi mereka nilai dan prestasi setara dengan perhiasan mewah, bisa lebih penting dari nyawa. Selembar nilai ujian dapat menentukan menu sarapan, nasib seluruh keluarga, bahkan sampai kehidupan mereka.


Karena biaya hidup yang cukup tinggi, subsidi dan beasiswa menjadi aspek yang sangat vital bagi mereka. Setara dengan tulang, darah, dan daging untuk menyambung kehidupan.

__ADS_1


Sebab itulah, mayoritas murid harus belajar mati-matian supaya keluarga mereka mendapatkan kehidupan yang layak. Menjadi tulang punggung agar tidak turun kasta. Memanggul tanggung jawab yang lebih berat dari Ayah dan Ibu.


Namun, hal tersebut hanya berlaku untuk murid yang berasal dari kalangan bawah. Bagi mereka yang memang sudah hidup layak dan berasal dari kalangan terpandang, prestasi pendidikan menjadi ajang untuk memperjelas hierarki. Dapat digunakan untuk menentukan pewaris, pertunangan, bahkan penghapusan nama dari akta keluarga.


Mengesampingkan seluruh latar belakang yang ada, Korwa hidup untuk dirinya sendiri. Tidak memiliki keluarga untuk dinafkahi, dijunjung namanya, atau bahkan dilindungi.


Korwa memang memiliki hutang budi kepada Keluarga Khan. Jika mereka tidak mengadopsinya waktu kecil, mungkin ia takkan bisa menjadi pengajar seperti sekarang. Masih menjadi kalangan bawah, hidup menjual harga diri dalam kesengsaraan.


Namun, hutang tersebut sudah dibayar lunas dengan puluhan prestasi yang dirinya raih selama menempuh pendidikan. Khususnya saat masih berada di Akademi.


Menaikkan kasta keluarga cabang tersebut sehingga dilirik oleh Keluarga Moa, bahkan sampai mendapatkan lamaran pernikahan dari seorang pewaris suku.


Korwa melanjutkan pendidikan untuk menghindari pernikahan politik, sama seperti rekannya, Irina. Memilih melajang daripada harus berakhir menjadi boneka politik, pajangan di rumah konglomerat ataupun priayi.


Karena itulah, tepat setelah memasuki jenjang kuliah di Universitas, Korwa mulai menyusun rencana untuk masa depannya. Mengumpulkan dana supaya bisa hidup mandiri, lalu membangun relasi dengan banyak pengurus dan memperbanyak prestasi. Agar tidak dijodohkan, dipaksa oleh pihak yang lebih kuat, atau bahkan diancam oleh kalangan atas.


Korwa berjalan pelan melewati jembatan penyeberangan, memegang Kubus Data dan membuka beberapa berkas digital. Diproyeksikan di bawah sinar lampu jalan. Memeriksa informasi yang baru dirinya dapat dari Irina, kemudian dipilah untuk memperoleh kesimpulan.


“Pemberdayaan dan peningkatan keamanan, ya? Kenapa seorang murid dikirim kemari untuk tujuan semacam itu?” Korwa menonaktifkan Kubus Data, lalu menyimpannya ke dalam tas jinjing dan mempercepat langkah kaki. Setelah menghela napas panjang, ia berdecak kesal dan lanjut bergumam, “Irina tidak memberikan namanya? Apa dia lupa? Ah, sudahlah ….”


Saat berada di perempatan, Korwa belok menuju jembatan penyeberangan yang mengarah ke sebuah kompleks gudang penyimpanan hasil laut. Ada beberapa gerai, warung makan, dan toko di sepanjang jalan. Tampak ramai, mayoritas dipenuhi oleh nelayan.


Untuk seorang pengajar berpenampilan rapi, Korwa terlihat cukup mencolok saat berjalan melewati tempat tersebut. Menarik perhatian beberapa orang, namun tidak ada yang berani menyapa. Mereka hanya melirik, memperlihatkan ekspresi heran dan mengernyit.


“Ah! Nona! Akhirnya sampai juga!” Seorang pemilik warung sup rumput laut menyapa dengan ramah. Ia memiliki perawakan kekar dan tinggi, berasal dari ras Marinus Rapax. Pria itu mempunyai rambut biru khas, telinga berbentuk sirip, dan gigi yang runcing. “Anda sudah ditunggu di dalam,” ujarnya seraya membukakan tirai kain dan pintu kayu.


“Hmm, terima kasih ….” Korwa mengeluarkan Kubus Data yang tidak terdaftar di jaringan pemerintah, kemudian menempelkan permukaannya pada alat pemindai yang dibawa Pemilik Warung tersebut untuk memberikan tips. “Tolong sup rumput laut seperti biasa, ekstra pedas dan sedikit garam,” tambahnya seraya berjalan memasuki warung.

__ADS_1


“Oke, Nona! Rumput laut, ‘kan? Terima kasih telah menggunakan jasa kami!” Pemilik Warung mengangguk pelan, kemudian melihat sekeliling untuk memastikan pelanggannya tidak dibuntuti. “Nona memang hebat, selalu aman! Tak pernah ada masalah!” ujarnya seraya ikut masuk dan menutup pintu rapat-rapat.


Setelah itu, Pemilik Warung segera mengaktifkan sensor kinetik pada pintu kayu. Ia juga memasang peledak di pintu tambahan yang terbuat dari baja, ditempatkan pada sisi luar untuk mengulur waktu jika digerebek.


“Mereka ada di ruangan berapa?” tanya Korwa sebelum masuk lebih dalam.


“Kamar B-4 di ujung!” Pemilik Warung berjalan menuju kasir, lalu meletakkan alat pemindai ke atas meja dan menghela napas sejenak. “Jangan sampai salah buka kamar lagi, ya! Kemarin kami kerepotan, loh! Mereka protes karena lagi enak-enak malah diganggu!”


“Ah, maaf soal kemarin!” Korwa melirik tipis dan melempar senyum kecut, kemudian lanjut berjalan menyusuri lorong sembari berkata, “Lagi pula, itu salah mereka sendiri karena tidak mengunci pintu. Tempat ini memang menjamin privasi dan keamanan, namun—!”


“Pokoknya hati-hati!” Pemilik Warung menyela, memberikan tatapan cemas dan kembali menghela napas. “Dia pandai sekali menggoda, ya~! Kalau bukan pengajar, mungkin sudah saya lamar,” ujarnya dengan nada resah.


“Owner sedang bercanda, ‘kan?” Perempuan yang berdiri di belakang meja kasir mengernyit. Menatap sinis, lalu menyangga dagu dengan punggung tangan kanan dan lanjut berkata, “Dia wanita kelas atas, loh! Seorang cendekiawan ternama di Universitas! Madona bagi para murid Akademi! Mana mungkin pantas untuk kamu! Kalau tidak salah, bahkan dia pernah menolak lamaran dari pewaris suku Nor.”


“Diamlah, jangan membuatku tambah pesimis!” Pemilik Warung termenung. Ia bersandar pada dinding logam, lalu menundukkan wajah dan bergumam, “Aku juga tahu itu! Diriku tidak pantas mendapatkan wanita sesempurna dia ….”


“Eh?! Serius?! Owner naksir sama dia?” Gadis Kasir malah meledek. Ia memperlihatkan senyum lebar, berusaha menahan tawa sampai pipi mengembung. “Menyerah saja sudah, jangan kelewatan kalau bermimpi!” ujarnya seraya menggelengkan kepala.


“Ingin aku jotos, ya?” Pemilik Warung menghampiri kasir tersebut, lalu menatapnya dari dekat dan menempelkan tinjunya. Tidak memukul, hanya mendorong pelan pipi perempuan dari ras Piscium tersebut. “Saat kau bekerja aku adalah bos, Putriku. Hormatilah!”


“Aku tahu, Papah~! Tolong hentikan ….” Kasir tersebut lekas mendorongnya menjauh, lalu menatap sinis dan berkata, “Tanganmu kasar banget ….”


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2