Skandal Putih Abu

Skandal Putih Abu
MPLS


__ADS_3

Masa pengenalan lingkungan sekolah berlangsung 3 hari. Dihari pertama, semua peserta didik baru diajak untuk lebih mengenal lingkungan, setiap gedung dan ruangan. Dihari kedua, murid diberi arahan mengenai jurusan yg akan mereka ambil. Dan dihari terakhir, peserta didik baru diharuskan memilih ekskul setelah penampilan demo setiap ekskul di sekolah itu.


Di gedung aula itu, mereka berkumpul dan menyaksikan yg di pentaskan oleh anggota masing-masing ekskul.


Penampilan demo itu menjadi penutup rangkaian acara MPLS tahun ini. Dan si gadis pemalas itu, Atlanthea Rafaella, kebingungan akan mengambil ekskul apa. Ia terlalu malas untuk mengikuti kegiatan after school nya. Lebih baik ia bermain game atau menonton drakor, daripada harus membuang tenaganya untuk mengikuti ekskul.


"Thea, kamu kok belum ngisi formulirnya sih? Buruan, udah mau dikumpulin!" Perintah Anne, teman baru Atlanthea yg satu jurusan dan satu kelas dengannya.


"Aku ngga ikutan dulu deh, aku masih bingung soalnya" Thea mengkode pada Anne untuk cepat mengumpulkan lembar formulir itu. Sedangkan formulir miliknya sudah ia lipat-lipat lalu ia buang ke tempat sampah ketika ia keluar dari gedung aula.


"Wajib tau ikutan ekskul, apalagi kita anak baru" Celoteh Anne, mereka berjalan bersisian di lorong bersama ratusan murid lainnya.


Acara MPLS telah selesai, kini mereka dipulangkan. Berbondong-bondong murid baru itu, termasuk Thea dan Anne merayap menuju tempat parkir dan gerbang untuk mencari kendaraan yg membawanya pulang.


"Iya nanti deh, kalau aku udah pengen" Thea tersenyum, "Aku duluan ya, jemputanku udah ada" Thea melambaikan tangannya pada Anne sembari menjauh dari gadis blasteran asia eropa itu.


Anne pun balas melambai, matanya celingukan mencari keberadaan mobil jemputannya.


Anne itu gadis manis, cantik, lembut, tapi terkadang ia agak polos dan bodoh.


Sedangkan Atlanthea, ia gadis pemalas tentunya, namun pintar. Mulutnya toxic, sering berkata kasar, dan tak jarang ucapannya itu sering melukai lawan bicaranya. Semoga Anne sabar menghadapi Thea yg ceroboh itu.


Setibanya di rumah, ia tak langsung mengganti seragamnya, ia malah menyalakan komputer di kamar miliknya yg berada di lantai 2. Thea berlarian menuruni anak tangga menuju dapur untuk mengambil sebotol soda dan kembali ke hadapan seperangkat komputer gamingnya.


Thea membuka discord dan mencari channel dimana teman-teman onlinenya berada.


"Hello mothe'fucker" Sapanya ketika panggilan video grup itu tersambung.


Layar menampilkan 2 wajah temannya, Thea memakai earphone bermerk JBL, dengan rambut yg dikuncir. Tak lupa ia memakai kacamata anti radiasi, waktunya banyak ia habiskan didepan komputer dan ponsel, ia harus tetap menjaga kesehatan matanya.


"Wih, ada yg baru pulang sekolah nih" Ucap Leon.


Atlanthea memiliki banyak teman online dan teman mabar. Ia memiliki satu squad yg bernama Under Water Squad, grup mabar beranggotakan 5 orang itu menjadi teman dekatnya selama beberapa tahun ini. Leon, Abi, serta si kembar Dio dan Gio. Ia perempuan satu-satunya di squad itu.


Namun jangan meragukan skill seorang Atlanthea, mereka beberapa kali berhasil memenangkan turnamen esport lokal. Menjadi squad rank atas, nama mereka berada di urutan top global, squad paling di hindari oleh lawannya.


"How's your school princess?" Abi bersuara, laki-laki itu terlihat acak-acakan, Thea tebak pasti ia baru bangun tidur.


Atlanthea menghela nafasnya, "Nothing special" jemarinya lihai menscroll artikel esport, ia membaca pengumuman akan diadakannya turnamen Monthly Series Tournament yg di sponsori oleh esport ternama, VVV Esport.


Hadiahnya cukup menggiurkan, yakni $5000 USD. Hadiahnya meningkat dibanding bulan lalu yg hanya mencapai $2000 USD. Kesempatan emas yg tak boleh dilewatkan.


"Triple V naikin hadiahnya bulan ini" Thea mengaktifkan fitur share screen di komputernya, agar teman-temannya bisa melihat layar miliknya.


"Gaslah! Yakali ngga" Ucap Leon sembari membaca artikel itu.


"Party kita, kalo menang lagi" Abi menyilangkan tangannya di belakang kepala.


"Gue mau urusin pendaftaran dulu" Thea mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


Beberapa detik menunggu, panggilan itu terjawab.


"Hallo Do! Slot MST masih ada kan ya buat kita?" Ando, salah satu manager di VVV Esport, kenalan Thea.

__ADS_1


Lama menunggu jawaban, Thea mengkerut mendengar penuturan Ando.


"Why?" Gadis itu memindahkan ponselnya ke sebelah kiri, tangan kanannya mengetik kata di kolom pencarian google. Tim MST bulan desember, itu kata kunci yg Thea cari, dan munculah nama-nama tim yg telah mengisi slot event akhir bulan ini. Sudah di tetapkan juga format dan klasemen tim yang akan bermain, nama UWS tak ada di daftar itu.


"Gabisa gitulah Do! Kita selalu dapet slot tiap bulan, bahkan kita bayar lebih buat slot itu. Kenapa tiba-tiba kita dilarang buat join?" Nada suaranya tak merdu didengar, Thea protes.


Leon dan Abi yg mendengar hanya beradu tatap, menunggu panggilan itu berakhir untuk bertanya. Keduanya terdiam, menajamkan pendengaran.


"Sorry Thea, banyak pihak esport berlisensi yg keberatan kalau tim lo join, kehadiran Under Water Squad cuma nurunin win probability mereka. Lo tau, tim lo udah kelewat jago buat join turnamen ini, lo bisa join di event yg lebih besar" Jawaban Ando di seberang sana.


"Gue ga nerima alesan apapun Do, itu trouble mereka karena gabisa ngimbangin gameplay kita"


"Gue bakal bayar slot 2 kali lipat, gue transfer sekarang!" Thea mematikan panggilan itu.


Thea menaruh ponselnya asal, ia kembali mengenakan earphone yg ia lepas ketika hendak menelpon Ando.


"Kenapa?" Leon begitu penasaran.


"Ga dapet slot kita, tapi tenang aja, gue bakal dapetin slot itu gimana pun caranya"


Abi dan Leon terlihat bingung sekaligus pasrah, ia tahu alasan kenapa timnya ditolak di event bulanan itu.


Karena mereka terlalu jago, mereka selalu memenangkan turnamen itu setiap bulannya, langganan juara. Mereka tak memberi kesempatan pada tim lain untuk menang.


Dan tim-tim yg kalah itu memboikot timnya agar tidak bisa join turnamen bulan ini, bahkan mungkin untuk event bulan-bulan selanjutnya.


"Gas push rank!" Abi memecah keheningan yg terjadi diantara mereka.


"Masih sekolah mereka, bertiga aja dulu" Leon melakukan hal yg sama dengan Thea.


Thea dan Si kembar memang masih anak sekolah, sedangkan Leon dan Abi merupakan pekerja kantoran di perusahaan milik keluarga Leon. Mereka berdua ini sahabat sejoli, selalu berdua dan bersama.


Mereka di lobi in game untuk memulai game mobilenya kali ini. Berlima mengisi role masing, Thea bertugas menjadi Midlanner, terkadang roamer atau support bergantian dengan Abi.


Leon menjadi Jungler, dan Si kembar menjadi sidelanner.


Tim mereka kuat, mikro dan makro mereka setara proplayer. Mereka tak ingin terjun ke dunia proscene dan menjadi proplayer, mereka itu idealis, punya komitmen sendiri, tak mau di kekang oleh aturan dan kontrak.


Jadilah mereka hanya player public yg hanya bisa mengikuti event biasa, karena mereka tak memiliki management esport berlisensi. Mereka hanya tim underground yg kebetulan jago.


Setelah berjam-jam duduk dikursi gamingnya, Thea meregangkan otot di badannya. Langit sudah menggelap beberapa jam yg lalu.


09:59 PM


Thea memutuskan untuk menyudahi bermain gamenya, ia baru sadar, ia masih mengenakan seragam sekolahnya.


Thea melepaskan seragamnya dan mandi dibawah guyuran shower. Ia harus cepat tidur karena besok ia harus sekolah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kamis pagi, murid kelas 10 telah memasuki kelas barunya, pengenalan wali kelas, dan mata pelajaran yg akan mereka enyam selama satu semester kedepan.


Miss Sesil menjadi wali kelasnya untuk semester ini, guru cantik itu terbilang masih muda, humble dan friendly.

__ADS_1


Ditengah perbincangan mereka, anggota OSIS memasuki kelas 10 IPA 1 itu.


Diego, sang ketua OSIS meminta ijin pada Miss Sesil untuk memberikan himbauan dan pengumuman pada murid kelas 10.


Dengan senang hati, Diego dan beberapa anggota OSIS lainnya dipersilahkan masuk, mereka berdiri didepan kelas.


"Selamat pagi semua, maaf mengganggu waktunya. Saya hanya ingin memberitahukan perihal murid kelas 10 yg belum mengikuti ekskul tahun ini, sesuai peraturan sekolah, semua murid baru wajib mengikuti salah satu ekskul"


"Saya akan menyebutkan beberapa nama murid yg belum mengisi formulir pendaftaran" Diego, sang ketua OSIS tampan itu membuka lembaran daftar nama siswa yg belum terdaftar keanggotaan ekskul.


"Jean Angga?" Diego mendongak, mencari keberadaan laki-laki itu, yg disebut mengacungkan tangannya, lalu mengambil formulir itu.


"Kriss Giovano, Zidane Otto?"


"Atlanthea Rafaella?" Diego menatap gadis yg beranjak dari duduknya, cantik. Diego sempat terkesima dengan paras tanpa riasan itu.


Thea mengisi formulir itu dengan ogah-ogahan, Anne yg duduk didepannya mencibir, "Tuh 'kan! Aku bilang juga apa! Kamu tuh wajib ikut ekskul, ngeyel deh di kasih tau!"


"Iya Anne, ini aku lagi isi. Ikut ekskul apa ya? Ngga ada yg menarik" Thea mengetuk pulpennya pada meja.


"Ikut ekskul tarik tambang aja kalau gitu" Ide Anne di hadiahi sentilan di keningnya, siapa lagi kalau bukan ulah Thea.


"Ish! Sakit Thea" Ringis Anne mengusap keningnya.


Thea menghembuskan nafasnya, kala Diego menginterupsi agar cepat mengumpulkan formulir itu.


"Ikut ekskul renang aja, banyak cogannya" Bisik salah satu teman perempuannya, Dita.


Membayangkan ia berenang menggunakan pakaian renang yg ketat, main air dan basah-basahan bukan type Thea sama sekali.


Thea menutup mata dan memilih acak kolom pilihan ekskul itu dengan pulpennya. Dan terpilihlah ekskul basket.


Ia mencontreng klub ekskul basket dan segera memberikan formulirnya pada Diego. Mereka sempat beradu tatap beberapa detik, hingga Thea yg memutuskan untuk kembali duduk di kursinya.


"Besok akan ada perekrutan anggota OSIS, yg ingin mengikuti seleksi bisa mengisi formulir online di website Saint Miller serta mengikuti tes IQ dan psikotes. Untuk peresmian akan di beritahukan lebih lanjut"


Setelah dengan urusannya, Diego menutup pengumuman itu dan pamit undur diri.


Begitupun dengan Miss Sesil yg meninggalkan kelas setelah kepergian anggota OSIS itu.


"Diego ganteng banget ya, masih jomblo ga sih?" Ujar Dita bertanya pada Thea.


"Mana gue tau. Kalau dia ganteng, kemungkinan jomblonya cuma 1%" Thea nampak acuh.


"Dia jomblo kok!" Anne menyela.


"So tau lo bule" Dita mendekat ke meja Thea dan Anne.


"Beneran! Aku tau, soalnya dia sepupu aku" Penjelasan Anne membuat Dita dan Thea terkejut, bahkan teman-temannya yg mencuri dengar juga langsung mengalihkan perhatiannya pada Anne.


What? Diego Si ketua OSIS ganteng itu sepupu Anne?


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2