
Setelah kepergian Atlanthea, Ozeandy duduk kembali di minibar, "Lo ngga seharusnya make di depan dia"
"Why? Bukannya lo harus ngiket kaki dia, biar ngga kabur?" Violet menghisap nikotinnya.
Ozeandy sedikit kesal dengan Violet, karena cewek itu merokok didepan Atlanthea. Jika itu hanya rokok biasa, mungkin Ozeandy bisa memakluminya, namun ini adalah rokok dengan kandungan nikotin yg tinggi dan beberapa kandungan zat penenang aktif lainnya, yg bisa menyebabkan kecanduan jika menghisap udaranya saja.
"Kalau sampe dia buka mulut, gue sendiri yg bakal habisin dia"
Violet menyesap winenya.
"Ngga gitu caranya" Ozeandy terlihat khawatir.
"Lo ngga usah ikut campur, terima beres aja!" Violet menelisik Ozeandy, "Jangan bilang lo suka sama dia?"
Ozeandy terdiam.
"Dia cantik sih, jago olahraga juga, idaman gue banget! Kalau lo ngga suka, buat gue aja!" Arnold melihat video Atlanthea yg viral sedang bermain basket.
Ozeandy menatap Arnold dengan tatapan tajam dan menghunus, "Don't you dare! She's mine!" Ia melengos menuju kamarnya untuk tidur siang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Atlanthea berada di kantin bersama Anne dan Dita, ia ingin menceritakan kejadian barusan, soal ia yg diajak Ozeandy untuk mengunjungi basecampnya, bukan tentang mereka yg minum alkohol atau merokok.
Tapi jika dipikir lagi, sepertinya tidak perlu. Anne sudah tak tertarik sejak awal, dan Dita kini tak mau berurusan dengan anak emas lagi semenjak kejadian di GOR itu.
Biarlah hanya Atlanthea yg tahu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, setelah latihan, Atlanthea memutuskan untuk cepat tidur. Ditengah tidurnya, ia merasa seseorang memeluknya. Apa ini hanya mimpi? Namun ini terasa begitu nyata untuk dikatakan sebuah mimpi. Tak hanya pelukan, ia merasa ada yg mencium kening, pipi dan bibirnya. Namun karena ia sangat mengantuk, Thea terlelap dan tak bisa membuka matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rabu kelabu, itulah ungkapan yg pas untuk Atlanthea hari ini.
Wajahnya muram setelah melihat sebungkus roti kemasan dan sekotak susu coklat. Jangan lupakan tentang amplopnya, Atlanthea merobek amplop itu dan membaca isinya.
__ADS_1
Apalagi kali ini?
Tidurmu nyenyak sekali, rasanya aku tak ingin melepaskan pelukan itu.
Lain kali aku akan memelukmu lagi, aku ingin menjadi rumah untukmu.
Atlanthea terduduk seketika, tubuhnya lemas. Ia hampir menangis jika saja Dita dan Anne tidak datang ke kelas.
"Hai Thea sayang," Sapaan Dita terhenti ketika melihat Atlanthea terdiam dan hampir menangis.
Dita buru-buru mendekati Thea dan merampas surat yg tergeletak di lantai, ia melirik roti dan susu itu.
Anne kebingungan, "Kenapa?" Ia menyentuh tangan Thea.
Dita dan Anne membaca surat itu dan terkejut.
"Dia siapa?" Anne tak tahu menahu tentang stalker yg selama ini meneror Thea dan Dita pun hanya tau sepintas.
Akhirnya Atlanthea menceritakan setiap detail kejadian yg terjadi, bahkan kecurigaannya terhadap Samudrian.
"Kita cek CCTV aja, gimana?"
Atlanthea tersadar, mungkin juga orang yg menyusup ke kamarnya semalam bisa terekam kamera CCTV di GH. Thea buru-buru keluar kelas, ia ingin pulang untuk mengecek CCTV itu. Ia tak sabar untuk melihat pelaku yg datang ke kamarnya.
"Thea! Lo mau kemana?" Dita mencegah kepergian Atlanthea.
"Gue mau balik, mau ngecek CCTV di GH"
"Yaudah kita ngecek CCTV dikelas ini, lo hati-hati ya?" Dita membiarkan Atlanthea pergi.
"Kamu mau bolos Thea?" Anne mengkhawatirkan jika Thea tak kembali lagi ke sekolah.
"Ck, udah si ah, cepet!" Dita menarik Anne.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di halte, Atlanthea menengok kanan dan kiri, mencari kendaraan yg akan mengantarkannya pulang. Thea tak bisa memesan ojek online karena ponselnya mati, ah sialan! Ada-ada saja.
__ADS_1
Ketika hendak kembali ke kelas untuk minta memesankan ojek online pada sahabatnya, tiba-tiba motor sport berhenti di depannya.
Orang itu membuka helm fullface-nya.
Samudrian?
"Kenapa ngga masuk? Ini udah mau bel. Mau bolos?" Samudrian tak turun dari motornya.
Atlanthea tak menjawab, ia terus melirik kanan kiri.
"Mau kemana? Gue anter"
Sepertinya memang Atlanthea tak punya pilihan lain jika ingin sampai lebih cepat, ia menerima tawaran itu.
Atlanthea menaiki motor Samudrian, "Lo gapapa, ikutan bolos juga?"
"Santai aja" Ucap Samudrian dibalik helm fullface-nya.
Setelah tiba di GH, Atlanthea langsung masuk ke ruang server. Ia mengecek rekaman itu ditemani staff dan juga Samudrian.
Mereka bertiga melihat rekaman CCTV yg dipercepat. Namun tak ada satupun orang mencurigakan yg masuk ke kamar Atlanthea, selain ia sendiri.
"Kenapa Ya? Barang lo ada yg ilang?" Tanya staff itu.
"Ngga bang, bukan itu" Atlanthea keluar dari ruang server dan duduk di taman, diikuti Samudrian.
"Ada apa sih emangnya?" Samudrian tak tahu apa yg terjadi, ia hanya mengantar gadis itu untuk pulang.
Lama melamun, Atlanthea baru teringat satu hal yg mengganjal.
Disalah satu surat itu, pernah menuliskan namanya dengan nama Atlantic. Dan orang yg menyebutnya dengan nama itu hanya Samudrian. Apa benar, memang Samudrian pelakunya?
Atlanthea menatap Samudrian dengan tatapan takut dan marah, tentang yogurt, tempat tinggal, perban di jarinya, hickey, ucapan Arfan, voli dan sepatu, semua mengarah pada Samudrian.
Mata Atlanthea memanas, ia ingin menangis. Ia bangkit dan langsung menampar pipi Samudrian dengan kencang lalu berlari memasuki GH.
"Atlantic tunggu!"
__ADS_1
Atlanthea yg masih mendengar suara Samudrian yg memanggil namanya dengan sebutan itu semakin menangis. Kenapa harus Samudrian? Kenapa ini terjadi padanya?
...----------------...