
Jum'at ini adalah hari terakhir bagi Atlanthea dan murid kelas 10 lainnya menggunakan seragam SMP. Senin depan, mereka resmi menjadi murid SMA Saint Miller dan resmi menggunakan seragam barunya.
Hari ini diisi dengan acara perekrutan anggota OSIS baru dan akan di resmikan senin depan saat upacara, saat semua murid Saint Miller hadir di sekolah megah itu.
Dita tentu saja ikut seleksi keanggotaan OSIS, jangan tanyakan lagi alasan ia mengikuti kegiatan melelahkan itu.
Karena bosan, Thea dan Anne memutuskan untuk berkeliling sekolah. Sambil menatap denah di ponselnya, ia berjalan memulai di area kantin. Ada cafee, SM mart, foodcourt, bahkan hingga kedai yg menjual makanan berat pun tersedia, bisa dibilang seperti warteg.
Gedung olahraga, berdampingan dengan gedung aula.
Gedung laboratorium berjejer masing-masing jurusan.
Gedung kantor, TU, dan UKS yg berada di paling ujung lorong.
"Aduh! Anne cape Thea, mending kita balik lagi aja ke kantin" Anne memegangi lututnya dan sesekali mengelap keringat yg menetes di keningnya yg mulus.
"Segitu doang cape, belum semua ini! Masih ada banyak yg belum kita datengin" Thea sedikit menyemangati Anne yg kelelahan.
"Gabisa, mending kita ke caffe aja deh. Biar aku yg traktir, yuk!" Ajak Anne sambil menarik tangan Thea yg terlihat enggan.
Dengan terpaksa, Thea mengikuti keinginan Anne untuk kembali ke kantin. Bukan karena tergiur traktirannya, tetapi karena Thea tak tega melihat teman barunya itu ngos-ngosan.
"Hobi kamu apa Thea?" Mereka berdua duduk di caffe dengan segelas boba milik Anne dan ice coffee milik Thea.
"Hmm.. " Thea nampak berpikir, "Maen game, kalo lo suka apa?"
"Ih Thea, ngga boleh ngomong kasar" Anne menatap Thea nanar.
"Itu ngga kasar Anne, biasa aja" Bela Thea.
Anne cemberut, "Aku suka main piano, makanya aku ikut ekskul musik"
"Kamu bisa nyanyi ga?" Tanya Anne melupakan kekesalannya pada Thea beberapa detik yg lalu.
"Apa sih yg ngga bisa, Anne!" Jawab Thea menyombongkan dirinya sendiri.
"Kenapa ngga ikut ekskul paduan suara aja kalau gitu, kenapa malah ikut basket?" Anne kebingungan, bibirnya mengerucut.
"Gue tuh males, kalau ada ekskul gaming, baru deh gue bakal ikutan pake semangat 45" Thea menyeruput ice coffee nya.
"Hai guys!" Dita berteriak mengagetkan keduanya, kemudian ia menyelonong meminum minuman milik Thea dan duduk di sampingnya.
Thea yg melihat tingkah Dita hanya mencebik.
"Eh, gimana seleksinya? Lolos ngga?" Tanya Anne bersemangat.
Dita menyipitkan matanya, tangannya merogoh kertas di dalam tas ranselnya.
__ADS_1
"Taraaa!" Dita memperlihatkan surat keputusan bahwa ia telah diterima sebagai anggota OSIS semester ini.
"Wah! Congrats ya Dita" Anne membaca surat itu dengan seksama.
Thea yg mengetahui niat Dita mengikuti organisasi itu karena ada Diego hanya tersenyum sabar, "Semoga lo cepet dapetin Kak Diego deh Ta!"
Dita teringat satu hal penting, "Ohiya! Gimana Anne, soal gue minta nomor Kak Diego? Di kasih kan?" Dita harap-harap cemas.
Anne melipat kembali kertas keputusan itu, wajahnya lesu, Thea sudah bisa menebak jawabannya, "Sorry Dita, kayanya Kak Diego ngga suka deh nomornya dikasih ke orang, apalagi ngga begitu kenal deket sama dia"
Dita menghela nafasnya, dadanya merosot, kecewa dengan jawaban Anne.
"Gapapa deh, gue ngga bakal nyerah gitu aja! Gue bakal cari cara lain, kalian pokoknya harus bantuin gue!" Dita menggenggam tangan Thea dan Anne.
"Oke" Anne mengkode dengan jaringa yg lain.
Begitupun dengan Thea, ia mengedikkan bahu dan memberikan tatapan menenangkan.
"Gue ngga sabar deh, senin depan semua murid bakal masuk. Termasuk cogan-cogan SM bakal muncul" Dita berbicara sambil menerawang, pipinya bersemu hanya dengan membayangkannya.
"Kamu sekolah, mau belajar atau mau nyari cogan sih Ta?" Anne heran, kenapa Dita bisa sefanatik itu dengan lawan jenis.
"Dua-duanya lah bule" Dita mencubit pipi tirus Anne.
Anne meringis karena cubitan itu, "Stop panggil aku bule" gadis itu berlagak marah.
"Ngga, Kak Diego keturunan asia, indo sama Korea, makanya matanya sipit, kaya oppa oppa korea" Jelas Anne panjang lebar.
Dita hanya manggut-manggut.
"Eh btw, kalian tau ga, soal anak emas di sekolah ini?" Dita memicingkan matanya.
"Hah? anak emas? Maksudnya orang kaya gitu?" Anne menampakkan wajah penasaran.
Thea sedari tadi yg acuh, merasa sedikit penasaran perihal anak emas.
"Iya, mereka anak dari orang yg paling berpengaruh di sekolah ini. Mereka bertiga, 2 cowok dan 1 cewek, kalo ga salah namanya Arnold, Ozeandy, sama Violet. Mereka ada dikelas 11 IPA 1, pokoknya mereka terkenal banget, kelas atas, tak tersentuh" Dita menjelaskan dengan menggebu.
Anne dan Thea fokus mendengarkan gosip itu dengan seksama. Mereka baru mengetahui ada hal-hal seperti itu di sekolah mereka.
Menarik. Setelah banyak hal yg terjadi di sekolah itu tak mampu membuat seorang Thea merasa sepenasaran ini.
"Tapi mereka bukan tukang bully kan?" Thea ingin tahu lebih jauh tentang si anak emas ini.
"Gue gatau sih, tapi kayanya kalau ada yg macem-macem sama mereka, ya pasti fatal banget akibatnya, secara mereka kan anak orang penting" Dita kembali menjelaskan.
"Kita liat nanti" Thea berujar, diangguki keduanya. Karena mereka bertiga sama-sama penasaran.
__ADS_1
"Yaudah cabut yuk! Udah siang ini" Ajak Dita.
3 gadis itu meninggalkan kantin, mereka akan pulang karena sudah tidak ada kegiatan lagi.
Mereka berpisah di depan gerbang, namun Thea tidak menemukan supir jemputannya. Ia memutuskan untuk menunggu di halte, karena sepertinya akan turun hujan. Langit sudah menggelap, matahari bersembunyi dibalik awan yg siap mencurahkan airnya.
30 menit berlalu, Thea tersadar setelah sedari tadi fokus pada ponselnya, jemputannya belum tiba. Akhirnya ia menghubungi Pak Keni, supir keluarganya. Namun tak ada jawaban, lalu ia menghubungi rumahnya.
Tak lama, ada jawaban dari sana.
"Halo Mbak, kok Pak Keni belum jemput ya?"
"Aduh maaf non, Mbak baru aja mau ngabarin. Pak Keni barusan katanya kecelakaan pas mau nyebrang, sekarang lagi ada di rumah sakit, Mbak udah ngabarin Nyonya sama Tuan. Non pulang sendiri gapapa kan?"
"Astaga! Oh yaudah, aku pulang sendiri aja, Mami sama Papi udah ke rumah sakit?"
"Lagi otw katanya non"
"Oke" Thea menyudahi panggilan itu.
Atlanthea ingin pergi menjenguk supirnya itu, tetapi ia masih memiliki urusan yg harus ia selesaikan. Masalah slot turnamen, ah ****! Thea pusing dibuatnya.
Gadis itu menyalakan ponselnya kembali untuk menghubungi Ando lagi. Ia harus bertemu dengan laki-laki gempal itu guna membahas permasalahan yg mereka hadapi.
Selepas membuat janji temu, Thea memutuskan untuk menghampiri cowok itu di gaming house VVV esport.
Ketika tiba, ia tak segan untuk langsung masuk karena ia sudah mengenal beberapa orang di GH itu. Seusai janji, ia akan menemui Ando di rooftop gedung 5 lantai itu.
Dibukanya pintu menuju area terbuka tanpa atap, disana hanya ada jemuran, kursi kayu dan beberapa pot tanaman hias.
Ando terlihat sedang menghisap nikotinnya.
"Ando, gue udah transfer 2 kali lipat dari sebelumnya, kenapa nama tim gue masih belum ada di klasemen?" Ya, kemarin ia langsung mentransfer Ando uang pendaftaran, Thea bukan orang yg hanya bermodalkan bualan saja, ia orang yg tepat janji. Dan janji pada temannya juga, ia akan mendapatkan slot itu bagaimanapun caranya.
"Gue bisa bantu lo, tapi lo juga harus bantu gue" Ando memutar badannya menghadap Atlanthea yg berada dibelakangnya.
"Apa?"
"Join esport kita!" Ando melemparkan puntung rokok dan menginjaknya.
Atlanthea meringis mendengarnya, sudah ia duga. Cowok itu bukan ingin meminta bantuan, tapi sedang memanfaatkan situasi. Dia mempermainkan seorang Atlanthea.
"Jadi gini cara maen lo?" Atlanthea merasa jengah.
"Denger! Lo bakal dapet duit lebih dari ini. Gaji bulanan dan duit hadiah turnamen. Gue bakal daftarin tim lo di turnamen besar, dengan hadiah yg lebih besar juga"
Atlanthea menghembuskan nafasnya panjang, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Ando sendirian di rooftop yg sepi itu.
__ADS_1
...----------------...