
Atlanthea berbalik dan ternyata cowok tengil itu yg memanggilnya. Ia berharap lebih baik Ozeandy saja tadi yg memanggilnya daripada manusia so jago ini.
"Mau kemana lo, bolos?" Tanyanya sinis.
"Gue ijin ngga masuk hari ini, tangan gue sakit" Atlanthea menunjukkan jari tengahnya yg di perban, bukan bermaksud tak sopan, tapi memang yg terkilir itu jari tengahnya saja.
Samudrian menepis tangan itu, "Jadi cewek, udah males, bego lagi. Nolongin orang lain, tapi malah ngelukain dan nyusahin diri sendiri"
Atlanthea menarik nafasnya, ia tak menyangka, kakak kelasnya akan berbicara sekasar itu. Thea tahu, ia juga sering berbicara kasar, tapi ia masih tahu aturan dan batasan, tidak seperti manusia binatang didepannya ini.
Thea hanya menggelengkan kepalanya dan berbalik, ia harus segera pergi, daripada mendengar omong kosong lelaki itu.
Namun kepergian Thea di hentikan oleh Samudrian, ia mencekal lengan cewek itu, "Gue belum selesai ngomong!"
"Mau ngatain gue apalagi, hah? Lo ngga puas dari kemaren nyari ribut terus sama gue! Salah gue apa sama lo, sampe lo sebenci itu sama gue? Salah gue apa?" Atlanthea berteriak, ia emosi, ia mendorong bahu Samudrian, hingga laki-laki itu sedikit mundur.
Mata Atlanthea berkaca-kaca, ia masih emosi. Samudrian yg melihat itu mencoba menggapai lengan Atlanthea lagi, namun langsung ditepis.
"Kalau emang lo ngga suka sama gue, gue bakal keluar dari basket, puas?" Atlanthea pergi meninggalkan Samudrian yg terdiam. Bukan ini maksud lelaki itu menghampiri Atlanthea. Ia ingin menyampaikan pesan yg penting dari pembina ekskul basket, sekaligus seniornya, Arfan. Ia ingin menawarkan pada Atlanthea untuk bergabung di tim inti basket putri, perwakilan Saint Miller untuk tanding dan lomba.
Karena video viral itu, Arfan menghubunginya untuk segera merekrut Atlanthea menjadi salah satu anggotanya, bukan untuk mengusirnya dari ekskul basket. Salahkan mulut pedas Samudrian yg tak pernah di saring. Ia memang tak pernah bisa menghadapi seorang perempuan.
"Argh! What should i do now?" Samudrian menendang tong sampah di sampingnya.
Bagaimana cara membujuk Atlanthea agar kembali mengikuti ekskul basket dan bagaimana cara ia memberi tahu Arfan, bahwa Atlanthea malah keluar, dan alasannya karena ia sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Atlanthea tiba di GH, "Tumben pulang cepet" Uzy, sang coach menyambut kepulangannya, bukan di sengaja, hanya saja Uzy memang sedang dilobi, tengah bersantai sambil merokok.
"Tangan lo kenapa?" Uzy mengangkat dan mengamati tangan itu.
Ah ****! Atlanthea baru tersadar, bahwa ia sebentar lagi akan mengikuti turnamen, dan kondisi tangannya sedang tidak baik-baik saja. Ceroboh sekali dia!
Seketika ia teringat ucapan Samudrian beberapa waktu lalu, ia kembali kesal, lalu menepis genggaman tangan Uzy. Cowok itu terkejut melihat respon Atlanthea.
"Gue masih bisa tetep ikut turnamen kan?" Atlanthea harap-harap cemas. Turnamennya akhir weekend ini, tinggal 2 hari lagi.
"Lo coba aja maen, kalo masih bisa ya oke, tapi kalo ngga," Uzy menggelengkan kepalanya.
Atlanthea berlari menuju lift, hendak mengambil ponsel gaming di kamarnya. Lalu ia mengetes tangannya, apa masih bisa berfungsi dengan baik atau tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya UWS sudah berkumpul di ruang scrim, untuk tanding dengan tim luar negeri. Mereka siap dengan ponsel dan earphone yg sudah terpasang.
"Tangan lo aman kan Ya?" Teman-temannya sempat khawatir ketika melihat tangan Atlanthea terluka.
"Aman kok, santai aja" Tegas Thea.
Scrim berlangsung 4 jam, melawan 2 tim. Skor hasil 2:0 dan 2:1 kemenangan untuk tim UWS.
__ADS_1
Semua bernafas lega, ternyata skill mereka masih diatas rata-rata, sekalipun bertanding dengan tim luar.
Mereka percaya diri untuk memenangkan MST lagi.
Kabar UWS telah bergabung dengan VVV esport, membuat rivalnya kalang kabut. Karena setelah ini, UWS akan semakin kuat dan tak tersentuh. Bisa saja mereka akan terjun di turnamen nasional dan internasional, kita lihat saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berganti, kamis pun tiba.
Atlanthea tiba dikelas, disambut oleh Dita. "Eh, ada apaan tuh di meja lo!"
Atlanthea tak mengerti maksud Dita, lalu ia mengalihkan pandangannya pada mejanya. Disana terdapat minuman yogurt dan amplop kecil yg berisi surat, Thea mengambil surat itu dan membacanya.
Kamu cantik, meskipun dengan perban di tanganmu
Aku ingin mengecupnya agar lekas sembuh, bolehkah?
Atlanthea menggigit bibirnya, alisnya menukik, siapa yg mengirim surat ini?
"Ta! Lo tau ngga siapa yg naruh ini di sini?"
"Ngga tuh, pas gue dateng juga udah ada. Dari siapa? Pengagum rahasia ya?" Dita menggoda Atlanthea.
"Kan kemaren lo viral, pasti jadi banyak yg suka. Siap-siap aja abis ini pasti banyak yg minta foto"
Atlanthea hanya diam, tak mau mengambil pusing.
"Ta, lo ngga jadi pindah ekskul?" Atlanthea berusaha mengalihkan pikirannya.
"Yeh, gitu doang kena mental"
"Bodo! Pokoknya mulai sekarang gue bakal nurut sama Anne"
Atlanthea hanya mendengus mendengarnya.
Hari ini berjalan seperti biasa, waktu demi waktu terlewati.
Tak ada yg spesial kecuali surat misterius itu. Thea masih penasaran, siapa orang yg sengaja memberikan itu padanya, surat cinta? Ah itu terdengar menyeramkan di telinga Thea.
Atlanthea kini tengah duduk di halte, bukan menunggu bis, namun menunggu jemputan.
Mengingat kini ia tinggal di GH, ia jadi sedikit rindu suasana rumahnya. Walaupun dirumah itu hanya ia sendirian, orang tuanya sering dinas ke luar kota, bahkan ke luar negeri.
Lama ia menanti, malah cowok tengil itu yg menghampirinya.
"Ayo! Gue anter pulang" Ajak Samudrian, ia berdiri di depan Atlanthea yg menunduk menatap ponselnya.
Tak ada respon.
Samudrian kemudian meletakkan sebotol yogurt dikursi samping Atlanthea, "Sorry, buat kemarin" Cowok itu berdehem.
__ADS_1
Atlanthea melirik yogurt itu, yogurt yg sama dengan yg ia terima tadi pagi. Atau jangan-jangan? Itu ulah Samudrian juga?
Ah tidak mungkin cowok tengil itu mengirimkan surat cinta yg menyeramkan itu.
Dilihat dari manapun, Samudrian ini tipe cowok so cool yg gengsinya sebesar alam semesta, tak mungkin sudi repot-repot menulia surat cinta. Atlanthea menatap Samudrian horor.
Ketika jemputannya sudah tiba, Atlanthea meninggalkan Samudrian tanpa kata.
"Atlantik tunggu!" Sergah Samudrian.
"Lo manggil gue apa?"
"Sorry, Atlanthea maksud gue"
Atlanthea kembali berjalan memasuki mobil itu.
Samudrian kebingungan, lagi-lagi ia kehilangan kesempatan untuk berbicara pada gadis ceroboh itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti mobil yg membawa Atlanthea dengan motornya.
30 menit, akhirnya mereka tiba di kediaman Atlanthea.
Ketika melihat Atlanthea hendak memasuki gedung itu, Samudrian cepat-cepat berlari menghampirinya. Ia menghentikan langkah Atlanthea dengan menarik lengannya pelan.
"Tunggu Atlantik!" Samudrian sedikit ngos-ngosan karena berlari tadi.
"Stop panggil gue dengan nama itu!" Atlanthea melepaskan tangan Samudrian di lengannya.
"Ya! Atlanthea!" Ralat Samudrian, kenapa mulutnya tak bisa di ajak kompromi sih, memaki sekali.
"Lo tinggal disini?" Samudrian menatap gedung itu, ini tidak bisa di sebut sebagai rumah, malah terlihat seperti hotel atau apartemen mungkin.
"Bukan urusan lo, ada apaan sih, sampe ngikutin gue pulang? Belum cukup ngata-ngatain gue tadi?"
"Bukan itu maksud gue!"
"Gue mau minta maaf, gue tahu gue salah, gue ngga seharusnya bersikap kaya gitu ke lo"
"Gue minta lo buat balik lagi ke basket, mau kan?" Samudrian berucap dengan ragu.
"Hah? Atas apa yg lo lakuin ke gue, lo masih bisa buat minta gue balik?" Atlanthea tersenyum miris.
"Gue kira gengsi lo lebih besar dari ini, tapi ternyata ngga! Gue ngga perlu susah-susah mempermalukan lo, karena lo sendiri yg dengan cuma-cuma ngejatuhin harga diri lo dengan minta gue buat balik lagi?" Atlanthea tak habis pikir dengan jalan pikiran Samudrian. Ia berlalu meninggalkan hendak memasuki gedung itu, namun cekalan Samudrian menghentikannya. Genggaman itu agak mengencang, menahan kepergian Atlanthea.
"Please dengerin dulu! Gue beneran serius buat minta maaf! Gue tahu, mungkin gue ngga berhak buat ngomong ini, tapi gue minta lo buat balik" Samudrian frustasi, ia tak tahu lagi harus memohon seperti apa agar Atlanthea bisa kembali.
"Ehem, yg pacaran lagi berantem!"
Ditengah perdebatan Atlanthea dan Samudrian, tiba-tiba Uzy muncul, Atlanthea mendengus, pasti cowok itu salah paham mendengar perkataan Samudrian yg minta balik, ia mungkin mengira minta balikan.
Atlanthea mengerlingkan bola matanya, ia berontak, berusaha melepaskan genggaman tangan Samudrian, namun tak dilepaskan.
"Dan satu lagi, gue mau ajak lo buat jadi anggota tim inti basket putri"
__ADS_1
Atlanthea berhenti berontak, "Gue tegasin sekali lagi! Gue ngga mau dan ngga akan pernah mau balik lagi ke basket! Mau itu tim inti kek, tim cadangan kek, gue ngga peduli! Sekarang lo pergi, kita ngga punya urusan apapun, dan jangan pernah gangguin gue lagi!" Atlanthea menghempaskan tangannya kasar lalu pergi.
...----------------...