
Setelah mengikuti jam pelajaran ketiga dan keempat, Atlanthea kini terdampar di GOR untuk latihan basket lagi.
Kini Atlanthea berusaha datang tepat waktu, bahkan ia hadir paling pertama. "Tumben banget lo cepet" Sapa salah satu teman latihannya.
Atlanthea sudah siap dengan seragam olahraganya, memainkan bola dan memasukannya ke dalam ring, ia bermain sendiri.
Samudrian tiba kemudian, melihat pergerakan lincah juniornya, Atlanthea, sedang bermain sendirian.
Samudrian akui, Atlanthea memiliki skill yg mumpuni untuk sekelas junior. Tekniknya bagus, shooting nya tepat, sepertinya memang ia seorang atlet dulunya. Namun Samudrian tak mau mengakui kehebatan seorang Atlanthea terlebih dahulu, terlalu dini untuk mengatakan bahwa cewek itu jago.
"Oke, semuanya! Buat barisan!" Perintah Samudrian.
Semua berkumpul dan berbaris di tengah lapang.
"Ngga ada yg telat lagi kan?" Tanyanya, jelas menyindir Atlanthea.
Atlanthea berdehem.
"So, hari ini gue pengen liat teknik shooting dan dribble dari kalian satu-satu, tapi sebelumnya kita pemanasan dulu"
Atlanthea terlihat tak fokus, namun Samudrian masih membiarkan gadis itu.
"Oke cukup! Semuanya baris ke belakang, satu-satu maju sambil dribble bola itu, lalu masukan ke dalam ring. Harus pake teknik!" Samudrian mengambil bola dan berjalan ke tengah lapang.
"Gue tegasin sekali lagi, harus pake teknik! Set shoot!" Samudrian memegang bola dengan kedua tangan sambil menekuk lutut dalam keadaan memasang kuda-kuda. Ia melemparkan dengan memberikan dorongan hingga bola itu melewati ring dengan sempurna.
"Lay up shoot" Samudrian memperagakan teknik itu dengan cekatan.
"Jump shoot" Semua junior terpana melihat gerakan Samudrian yg lihai dalam permainan bola besar itu.
"Last one, Slam dunk! Teknik favorit gue" Samudrian mendribble bola itu dari jauh, lalu menembak bola dengan melayang dan melompat ke udara.
And, nice! Bola itu tepat memasuki ring tanpa kendala. Shooting yg sangat indah, di hadiahi tepukan tangan yg meriah.
"Kak Sam emang keren"
"Minimal kalian harus menguasai dua teknik yg gue contohin" Samudrian menyudahi dan kembali di samping lapangan.
"Let's try, next one"
Satu persatu murid melakukan dribbling dan shooting, walaupun belum sempurna, setidaknya mereka tahu teknik dan basicnya.
"Next!" Kini giliran Atlanthea, namun gadis itu masih terlihat tak fokus dan melamun.
"Next!" Samudrian menaikkan volume suaranya, namun Atlanthea masih tak bergeming.
__ADS_1
Teman-temannya yg lain mencoba menyadarkan cewek itu, namun tak ada respon.
Akhirnya Samudrian lagi-lagi harus melemparkan bola pada gadis itu.
Atlanthea terkesiap saat bola itu mengenai kepalanya, ia terhuyung dan meringis.
"Niat latihan ga sih?" Teriak Samudrian.
"Maaf kak!" Dan lagi, Atlanthea hanya bisa menunduk.
Samudrian mengambil bola basket yg lain dan melemparkannya
lagi pada Atlanthea, kini dengan lemparan yg sangat keras, seolah sedang melampiaskan amarahnya.
Atlanthea menerima bola itu dengan sedikit tersentak, "Bisa pelan-pelan aja ngga kak?"
"Cepet! Ngga usah banyak bacot" Samudrian termakan emosi.
Murid lain yg melihat itu cukup merasa miris dan iba pada Atlanthea yg sepertinya dimusuhi oleh pelatihnya sendiri. Tapi sebagian juga iri, karena interaksi intens itu.
Atlanthea marah, kesal, emosi, dan dongkol. Ia ingin pergi dari situ, tapi itu bukanlah jalan keluar, Samudrian akan lebih mempermalukannya jika ia pergi begitu saja.
Atlanthea mendribble bola dengan malas, ia mempraktikkan satu persatu teknik itu persis seperti yg dicontohkan Samudrian.
"Next!"
Atlanthea berjalan ke pinggir lapangan, lalu terus berjalan ke pintu gerbang gedung olahraga itu, ia ingin pulang.
Sebelum pulang, ia mampir ke kantin untuk membeli minuman kaleng. Ia menenggaknya sambil berjalan melewati gedung olahraga, gadis itu melemparkan kaleng kosong itu pada tempat sampah yg jaraknya lumayan jauh.
And, yes! Mendarat dengan sempurna.
Terdengar suara tepukan tangan di belakangnya, reflek Atlanthea menoleh.
Atlanthea membeku, "Ozeandy? Anak emas? Basecamp? Dekat gedung olahraga?" Pikirnya dalam hati, seolah sedang mengumpulkan puzzle teka-teki yg berkeliaran di pikirannya seharian ini. Yg membuatnya tak fokus saat belajar dan latihan basket yg berakhir Thea harus kena semprot pelatihnya yg tengil itu.
"Lemparan yg bagus, pasti anak basket?" Ozeandy menghampiri Atlanthea yg gugup.
"Hah? Eh, itu, iya" Atlanthea memundurkan langkahnya.
Ozeandy menyadari kegugupan gadis itu, "Masih gugup ternyata, padahal ini bukan pertemuan pertamanya" Ungkapnya dalam hati, ia tersenyum geli.
"Lo, manis" Ujarnya tulus, disusul senyuman itu lagi, senyuman yg sempat ia lihat tadi pagi.
Mimpi apa Thea semalam? Kenapa ia bisa bertemu laki-laki tampan ini? Lagi? Dan bodohnya, ia tak bisa mengatakan apapun karena ia terlalu gugup.
__ADS_1
Saat Ozeandy hendak mengacak rambut itu lagi, reflek Atlanthea menipisnya dan sedikit menjauh.
"Ah, sorry!" Atlanthea menelan ludahnya dan menunduk.
Ozeandy menurunkan tangannya, "Gue yg harusnya minta maaf, karena lancang megang lo. Habisnya lo lucu" Cowok itu tertawa dan memundurkan langkahnya.
"What?" Atlanthea berteriak dalam hati, ia salting. Pasti wajahnya memerah saat ini, ia malu, ia harus segera pergi dari sini.
Secepat kilat, gadis itu berbalik dan meninggalkan Ozeandy.
Seorang Atlanthea meninggalkan Ozeandy? Gila!
Bukan karena tak suka, tapi ini tak baik untuk kesehatannya, terlalu berbahaya untuk jantungnya, ia mempercepat langkahnya dan berlari ketika sudah berada di luar gerbang.
Atlanthea terduduk di halte, ia memegangi jantungnya lagi, berdetak seperti tadi pagi. Ia menarik nafas, lalu menghembuskannya berulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melupakan kejadian tadi di sekolah, kini Atlanthea bersama keempat temannya bermalam di GH, sesuai kontrak yg berlaku mereka harus menghabiskan malamnya untuk latihan.
"Hari ini kita ada photoshoot, buat media, data dan galeri. Ini jerseynya, siap-siap, let's make it quick" Perintah manager barunya, Fred.
Setelah menyelesaikan sesi photoshoot, tim UWS memulai pelatihannya. Mereka tetap mendengarkan materi, walaupun mereka mengantuk, karena sudah pukul 1 malam.
Pukul 2 pagi, Uzy, coach baru tim UWS, menyudahi materinya Akan dilanjut besok malam dan memulai scrim bersama tim luar negeri untuk persiapan Monthly Series Turnament.
"Muka lo kenapa merah gitu Ya? Kaya orang lagi salting aja. Jangan bilang lo lagi jatuh cinta?" Leon membuka obrolan itu sebelum mereka berpisah menuju kamar masing-masing, Leon menggoda Atlanthea.
Atlanthea sedikit nervous ketika mengingat hal itu lagi, ia meninggalkan Leon dan memasuki kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya pada kasur empuk itu, ia memeluk guling, "Apa benar ia jatuh cinta? Love at first sight? Pada seorang Ozeandy? Ah impossible, siapalah Atlanthea bisa memiliki si anak emas itu" Celotehnya dalam hati, hingga akhirnya ia tertidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mentari memulai berporos dibelahan dunia ini, Atlanthea, Gio dan Dio sudah siap dengan seragamnya. Mereka kini menunggangi kendaraan roda empat milik agensinya yg akan mengantarkan mereka ke sekolah.
Mereka berada di sekolah yg berbeda, jaraknya lebih dekat sekolahan Atlanthea dibanding sekolahan si kembar.
Di kelas, ia melihat Dita yg sedang memainkan ponselnya.
Atlanthea buru-buru menghampiri, ada hal penting yg harus ia sampaikan, apalagi kalau bukan tentang si anak emas.
"Dit, Dit, lo harus denger ini!" Atlanthea menaruh tasnya sembarang dan menarik kursinya untuk mendekat dengan kursi Dita.
"KEMARIN GUE KETEMU LAGI SAMA SI OZEANDY!" Atlanthea teriak tertahan.
"Demi apa lo?!" Dita melemparkan ponselnya.
__ADS_1