
Weekend yg menyenangkan untuk Atlanthea, kemarin ia berhasil menjuarai MST, dan kini ia sedang menikmati jatah liburannya untuk bermalas-malasan di atas kasurnya sambil menonton netflix dan jangan lupakan setumpuk camilan yg baru ia beli di supermarket.
Panggilan telepon berdering, Atlanthea mengambil ponsel dan melihat Uzy menelponnya. Katanya, ada kiriman atas nama Atlanthea di bawah.
Karena penasaran, ia turun untuk mengambil paket itu.
Ukurannya kecil, hanya sebesar kotak sepatu. Ia membawanya ke kamar dan membuka kiriman misterius itu, tak ada nama pengirim disana.
Isinya sepasang sepatu dan amplop itu lagi. Jangan bilang ini ulah orang yg sama?! Atlanthea buru-buru membuka surat itu dan membaca isinya.
Selamat atas kemenangannya!
Semoga kamu menyukai hadiah ini, semangat latihan volinya!
Bagaimana ia tahu semuanya? Bahkan tentang voli.
Siapa sebenarnya orang ini?
Stalker ini jelas-jelas pasti berada tak jauh dari Atlanthea, buktinya ia banyak mengetahui hal-hal sedetail itu.
Yg tahu ia akan mengikuti voli hanya Arfan, tidak mungkin cowok itu kan?
Tapi sepertinya semua orang pantas untuk di curigai.
Dengan segala kemungkinan, banyak orang yg ada di pikirannya saat ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Senin kembali tiba, Atlanthea tiba dikelas disambut tatapan aneh dari Dita dan Anne.
"Why?" Atlanthea mengeluhkan tatapan mengerikan itu, ia duduk dikursinya.
"Lo udah punya pacar ya, Ya?" Dita menyelidik.
"Ngga" Atlanthea semakin tak mengerti, ada apa dengan kedua sahabatnya ini.
"Dileher kamu apa?" Anne menunjuk leher Thea yg terdapat bercak merah, Atlanthea memegang lehernya.
"Dicupang sama siapa lo?"
Atlanthea semakin kebingungan, "Hah?" Ia mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera.
Dan ternyata benar, bercak merah berhias dilehernya yg mulus dan putih itu.
Atlanthea memandangi kedua temannya, "Ini apa?"
"Itu hickey Thea!"
"Atau alergi? Gatel ngga?"
Atlanthea menggeleng, kalaupun ini benar hickey, siapa yg melakukannya? Lagipula ia tak memiliki riwayat alergi apapun.
Buru-buru ia menutupi tanda di leher itu dengan rambutnya.
Kenapa ia baru menyadari hal itu sekarang, salahkan ia karena hari ini tak sempat menggunakan make up apapun atau berhias di depan cermin.
Atlanthea rasa, ia tidak bertemu siapapun kemarin atau malam.
__ADS_1
Setelah mendapatkan kiriman itu, ia memutuskan untuk pulang. Orang tuanya sedang ada dirumah dan mereka mengajak untuk dinner, setelah itu tak ada yg aneh. Ia tidur di kamarnya dan terbangun di pagi hari seperti biasa, lantas kapan ia mendapatkan tanda ini? Ataukah memang alergi? Atau serangga?
Saat istirahat, Thea menemui Arfan. Lebih tepatnya, Arfan yg menemui Thea.
Mereka berbincang di koridor, sedangkan kedua sahabatnya sudah terlebih dahulu pergi ke kantin.
"Lo ngga ikutan voli kan?" Arfan sempat bertanya pada pelatih tim voli, dan Atlanthea tidak ada di daftar itu.
"Ehm, itu.. " Atlanthea gelagapan. "Mampus! Ketauan kan, kalau bohong" Rutuknya pada diri sendiri.
"Gue emang belum daftar, tapi hari ini gue mau latihan dan daftar" Kalau tidak salah membaca, jadwal latihan voli adalah senin, rabu, dan jumat.
"Kalau emang alasan lo ngga mau gabung lagi karena Sam, gue bakal jamin, dia ngga bakal ganggu lo lagi. Dan, gue yg bakal ngelatih lo langsung"
Atlanthea nampak berpikir, sebenarnya ia tidak benar-benar berpikir, ia sudah bulat pada keputusannya.
"Lo masih marah sama Sam kan? Gue kira dia beneran minta maaf kemarin, ternyata ngga! Buktinya lo masih ngga mau buat gabung lagi. Bocah itu emang keras kepala, mana gengsian lagi" Arfan mendengus, ia kesal karena tingkah Samudrian yg seenaknya sendiri.
"Nanti biar gue paksa dia buat minta maaf sama lo"
"Dia minta maaf kok, tapi guenya aja yg ngga mau maafin" Celotehnya dalam hati, ia tak berani mengungkapkannya langsung.
"Dia emang nyebelin kalau lagi suka sama cewek, cara dia pdkt emang agak aneh, lo harus terbiasa sama gaya pacaran dia" Bisik Arfan sebelum pergi meninggalkan Atlanthea yg kebingungan.
"Samudrian? Suka? Sama siapa? Gue? pdkt? yogurt? surat cinta?" Atlanthea merinding membayangkan semua itu.
Maksudnya apa? Samudrian menyukainya dan mengirimkan surat cinta? Apa iya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengganti seragamnya dengan baju olahraga di toilet, Atlanthea mengamati dirinya didepan cermin.
Tanda itu masih ada walaupun samar, Thea bingung bagaimana menutupinya. Sedangkan jika olahraga, ia harus mengikat rambut. Tapi pada akhirnya Thea tetap mengikat rambut itu,
dan membiarkan leher serta bercak itu terekspos, semoga saja orang-orang tidak ada yg menyadarinya.
Atlanthea memasuki lapang voli.
"Eh sorry, kalau mau daftar voli, kemana ya?"
"Loh! Bukannya lo anak basket ya?"
"Iya, gue mau pindah ekskul"
"Oh. Lo bisa daftar langsung ke pelatih kita, Kak May, tuh orangnya!" Cewek itu menunjuk seseorang di ujung lapang.
Atlanthea menghampiri cewek tinggi itu, "Permisi Kak, gue mau daftar voli, boleh ngga?"
May yg sedang mengikat tali sepatunya mendongak.
"Ahh.. Ternyata Arfan ngga bohong! Boleh dong, yuk langsung latihan!"
Jadwal latihan voli pertamanya bersamaan dengan ekskul basket, ia bisa melihat Samudrian dan Arfan di lapang basket.
"Thea, kok lo disana sih?" Salah satu anak basket meneriaki Atlanthea yg kini berpindah tempat latihan.
Atlanthea hanya tersenyum menanggapi.
__ADS_1
"Lo liat Sam, ini semua gara-gara ulah lo!" Arfan yg sedari tadi memperhatikan Atlanthea dari jauh, menyalahkan Samudrian atas kepergian gadis itu.
Samudrian hanya menghela nafas, Arfan tak akan berhenti menyalahkannya hingga Atlanthea kembali ke tim basket.
"Lo udah tau basicnya kan?" Tanya May pada Atlanthea, karena anak voli lain sudah diberi banyak materi pada minggu kemarin.
"Gue bisa dikit, dulu pernah main"
"Oke! Gue pengen liat servis lo dulu" May melemparkan bola pada Thea.
Atlanthea menunjukkan servis bawah dan atas. Bola itu melambung dengan jarak dan ketinggian yg pas.
"Good" Komentar May, "Floating bisa?"
Thea mendapatkan bola itu kembali, lalu menuruti perintah May. Ia melakukan floating servis dengan baik.
"Terakhir! Jumping servis!"
Atlanthea mengambil bola dan dan melakukan servis terakhir.
May mengangguk, mengakui bahwa Atlanthea sepertinya memang mahir di segala cabang olahraga. Ia melirik pada Arfan dan tersenyum dengan makna yg tersembunyi.
"Sekarang gue mau kalian tanding, bagi jadi dua tim buat cewe, dan dua tim buat cowo!" Perintah May.
Mereka akhirnya bermain, yg menjadi sorotan adalah Atlanthea.
Thea baru saja memasuki ekskul voli, namun skillnya bisa dibilang di atas rata-rata.
Apakah ia dulunya atlet profesional?
Tak hanya anak voli saja yg memperhatikan Thea, namun anak basket juga, apalagi Arfan dan Samudrian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selepas latihan, Atlanthea akan langsung pulang. Ia menunggu jemputannya di halte.
"Lo beneran ngga mau balik lagi ke basket?" Arfan, cowok itu muncul tiba-tiba dan duduk disamping Atlanthea.
Atlanthea sedikit terkejut dengan kedatangan Arfan, ia sebenarnya tak mau bertemu cowok itu lagi, ia hanya menoleh sebentar dan kembali menunduk, memainkan ponselnya.
Arfan menyingkirkan anak rambut yg sedikit menutupi leher Atlanthea, "Sam ternyata agresif juga ya!"
Atlanthea menoleh, menatap Arfan dengan tatapan tak bersahabat. "Maksudnya?"
"Tuh!" Arfan menunjuk leher Atlanthea dengan bola matanya.
Seolah tersadar, Atlanthea segera menutupi lehernya dan buru-buru melepaskan ikatan rambut dan menggerainya.
"Lo jangan salah paham, ini, bukan.. " Atlanthea gugup.
Arfan hanya tersenyum, "Gue tau Sam kaya gimana. Dia, kalau udah suka sama cewek, bakal dia kejar ampe dapet!"
Atlanthea semakin tak mengerti arah pembicaraan Arfan.
"Kabarin kalau udah jadian" Arfan berlalu meninggalkan Atlanthea yg membisu.
Sam? Apa benar ini ulah Sam? Tidak mungkin! Tapi, semua kecurigaan mengarah pada laki-laki itu. Atlanthea harus mencari tahu!
__ADS_1