
Mentari pagi sudah mencorong di cakrawala, ribuan murid itu kini memenuhi area sekolah untuk mengikuti upacara rutin setiap senin.
Atlanthea Rafaella, Dita Hanindia, dan Annette Kiel berdiri di barisan paling depan. Walaupun tubuh mereka tinggi, mereka tetap ingin berada paling depan. Ini bukan keingin Atlanthea, melainkan keinginan Dita. Katanya, "Biar bisa liat cogan dari depan".
Upacara berlangsung khidmat, akhir acara ditutup dengan pelantikan anggota OSIS. Anne memberi semangat pada Dita yg kini tengah berfoto setelah pelantikan.
"Ciee.. Nametagnya udah ganti jadi warna merah" Anne mencolek dagu Dita. Mereka berjalan di koridor menuju kelasnya sambil sesekali tertawa.
Namun ditengah candaannya, mereka melihat segerombolan orang yg berkerubung sambil berbisik-bisik.
Dita, si tukang gosip, kupingnya gatal mendengar selewatan bisikan itu. "Ada apaan nih?" Dita menggeser orang di depannya untuk melihat apa yg terjadi disana.
"Itu si anak emas, yg katanya anak yg punya sekolah ini!" Jawab salah satu siswa.
"Wah mereka cakep banget"
"Emang pantes di kata anak emas, berkilau man!"
"Ceweknya cakep juga, cuma keliatan judes banget ya"
"Si Arnold yg mana ya?"
"Pengen gue bungkus satu"
"Bang, lirik aku dong"
Anne yg sama sekali tak tertarik segera meninggalkan kerumunan itu, meninggalkan Dita dan memaksa menarik lengan Thea. Gadis itu sedikit penasaran, namun Anne terlanjur membawanya pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kelas ramai, jam pelajaran pertama dan kedua berjalan lancar. Kini semua berkumpul dikantin untuk makan siang.
Suara pengumuman menginterupsi dari ruang siaran, pemberitahuan di sampaikan oleh ketua OSIS, Diego Lennard Yang.
"Pengumuman untuk semua murid kelas 10 SMA Saint Miller, di wajibkan sepulang sekolah berkumpul untuk pendataan ekskul. Tempat dan waktu akan di umumkan melalui website Saint Miller"
Mereka yg sempat terinterupsi kembali melanjutkan kegiatannya kembali.
"Eh! Si anak emas itu, makan di kantin juga ngga sih?" Siswi lain memulai obrolan.
"Ngga mungkin lah mereka mau semeja sama kita-kita, terus dempet-dempetan buat ngantri beli makanan" Balas siswi lainnya.
"Apa mereka punya kantin sendiri?" Dita ikut nimbrung obrolan itu.
"Mereka punya ruangan sendiri, kaya basecamp gitu. Mereka biasanya ngabisin waktu disana"
"Lo tau, dimana ruangan itu?" Thea kini angkat bicara.
"Di deket gedung olahraga kalo ngga salah"
"Lo pernah kesana?" Dita mengeluarkan jurus keponya.
"Ngga lah, cuma pernah liat dari luar doang"
Thea dan Dita saling berpandangan, mereka memiliki pemikiran yg sama. Sedangkan Anne hanya fokus pada makanannya.
"Jangan bilang kalian mau kesana?!" Anne menyudahi kunyahannya dan menjauhkan piring yg sudah kosong.
__ADS_1
Tak ada yg menjawab, Thea dan Dita kembali memakan makanannya yg hampir dingin.
"Udahlah! Kalian itu ngga perlu ngurusin anak emas yg ngga penting itu. Dita! Kamu mending fokus cari cara gimana dapetin Kak Diego aja! Dan kamu Thea, fokus maen game aja udah!" Anne memperingati kedua temannya.
"Seorang Anne bilang kalo anak emas itu ngga penting?" Dita merasa tak percaya atas apa yg Anne ucapkan.
Anne mengedikan bahunya, "Emang ngga ada urusannya sama kalian kan? Jadi ngga perlu di urusin"
"Tapi gue kepo Anne, mereka kira-kira ikut ekskul apa ya?" Thea akui, ia sangat penasaran.
"Mereka ngga ikut ekskul" Kehadiran tiba-tiba seorang cowok bernametag Airlangga Dwi Hariaz duduk di antara meja mereka.
Ketiganya terkejut dengan kedatangan kakak kelasnya itu, ia anggota OSIS yg sempat membimbing mereka saat MPLS.
"Kak Angga tau darimana?" Dita bertanya.
"Taulah, gue kenal sama mereka. Beberapa kali juga gue ketemu dan masuk ke basecamp mereka" Ucapnya santai.
"Hah? Serius? Gimana caranya?"
"Gue pengurus outer mereka, ngurusin keperluan dan masalah mereka sama semua murid disini"
"Wah! Bisa ngga kita kenal sama mereka?"
"Gue ngga yakin" Angga melirik Anne dan mereka beradu mata. Angga tersenyum, sedangkan Anne hanya diam tak merespon.
Anne seolah tahu makna tatapan itu. Ia tak suka Angga, ia tak nyaman, Anne pergi meninggalkan kantin.
"Eh Anne, mau kemana?" Thea setengah berteriak melihat kepergian Anne yg tiba-tiba dan tanpa pamit.
"Eh Kak Angga, kita duluan ya! Bye" Pamit Dita pada kakak kelasnya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang sekolah, mereka diharuskan berkumpul bersama klub ekskul. 3 sekawan itu berpisah karena memilih ekskul yg berbeda.
Thea, terpaksa ikut basket, Anne bergabung dengan klub musik dan Dita memilih klub renang.
Atlanthea berjalan gontai menuju gedung olahraga divisi basket. Ketika memasuki area GOR, ia melihat sudah banyak yg berkumpul, tak hanya basket tapi ada klub ekskul lain juga. Voli futsal, badminton, takraw dan tenis.
Mereka duduk tak beralaskan apapun di lantai GOR itu. Atlanthea menghampiri lapangan basket dan ikut duduk dibarisan paling belakang.
Namun keterlambatan Atlanthea disadari oleh ketua tim basket sekaligus pelatihnya.
"Baru pertama kali kumpul udah telat!" Suara berat itu memperingati Atlanthea, tatapan tajam, ia mengenakan seragam olahraga basket tanpa lengan, terlihat ototnya yg kokoh mengkilap karena warna kulitnya yg putih.
"Maaf kak, tadi ke toilet dulu" Sesal Atlanthea.
"Gue ngga nerima alesan apapun! Sekali lagi lo telat, lo bakal gue hukum!" Ancamnya.
Laki-laki sixpack itu siswa kelas 11, ketua tim basket putra sekaligus pelatih tim basket, Samudrian Nathaniel Philia.
Tampan, cool, jago basket, idaman kaum hawa se-SMA Saint Miller.
Atlanthea hanya menunduk tak mau menjawab, ia sedikit kesal karena hari pertamanya latihan ia mendapatkan kesan yg buruk. Lebih baik ia pulang dan bermain game saja bersama temannya.
Karena hal itu, ia jadi teringat kemarin Atlanthea sempat adu mulut dengan ke-4 temannya perihal slot turnamen dan ajakan untuk join di VVV esport. Jelas saja, awalnya mereka menolak dan mempertahankan idealis mereka. Namun ada beberapa hal yg membuat mereka mau tak mau menerima tawaran itu.
__ADS_1
Butuh uang? Ya! Mereka butuh uang, terutama si kembar Gio dan Dio.
Flashback on
Mereka terhubung panggilan video grup di discord, seperti biasa.
Setelah Atlanthea menjelaskan tawaran itu, mereka akhirnya berdebat.
"Gue gamau, mau apapun itu alasannya" Leon tetap kekeh pada idealisnya.
"Gue ngikut Leon aja deh" Abi tak mau mendebat Leon.
"Lumayan duitnya, tim kita juga nanti bakal terkenal" Bujuk Atlanthea.
"Kalau lo gimana Yo?" Abi bertanya pada Si kembar, mereka terlihat diam tak menanggapi.
Dio dan Gio sedari tadi hanya menyimak perdebatan itu.
"Gue sebenernya lagi butuh duit, tapi kalau kalian ngga mau dan ngga bisa ya gapapa, gue ngga mau maksa. Apalagi dari dulu kan Leon ngga mau join esport manapun" Ungkap Dio.
"Lu butuh duit buat apa?"
"Buat biaya semester ini, nyokap gue diphk, jadi gue harus nyari duit sendiri" Ibunya adalah seorang single fighter, ia mengurus kedua anak kembarnya sendirian.
"Gue udah dapet part time sih, tadi gue udah interview sama yg punya cafe di Blok M" Ujar Gio.
"Part time?"
Gio hanya mengangguk mengiyakan.
Atlanthea menghela nafasnya, tak menyangka temannya itu sedang dilanda krisis ekonomi.
"Gue bisa bantu, tapi ngga bisa banyak, nanti gue transfer deh buat nambah-nambah". Jujur, Atlanthea tak tega mendengar kabar itu.
"Gausah Ya, gue ngga mau ngebebanin kalian, ini masalah gue sama Dio"
Leon terlihat melepaskan earphone dan meninggalkan kursi gamingnya. Laki-laki 20 tahun itu agaknya kecewa dengan konflik yg terjadi antara teman satu timnya.
"Sorry, gue ngga seharusnya bahas masalah pribadi gue" Sesal Dio.
"Emang udah seharusnya lo cerita sama kita"
"Gue bantu transfer deh, buat biaya sekolah lo pada. Gue punya tabungan, pake dulu aja" Abi pun turut iba.
"Gausah woi, kita gapapa, ngga usah kasianin kita"
"Pake dulu aja, nanti ganti tapi. Kapan-kapan deh, gapapa"
Tak lama, Leon kembali.
"Oke! Kita join Triple V" Putus Leon.
Keempat temannya menatap wajah Leon dari monitor dengan tatapan terkejut dan tak percaya. Hah? Leon? Setuju?
Apa mereka tidak salah dengar?
...----------------...
__ADS_1