
Samudrian memberikan arahan pada juniornya untuk latihan basket. Cowok itu agak sedikit kasar, cuek, dan tegas.
Tapi itu tak membuat para siswi takut atau illfeel, mereka malah semakin memuja seorang Samudrian Machiavelli. Pesonanya terlalu sulit di tolak, terlalu indah untuk di lewati.
"Sekali lagi gue tegasin, gue ngga akan banyak kasih kalian teori, kita bakal langsung praktek aja. Untuk teknik dasar memegang bola gue anggap kalian udah paham karena itu materi bocah SD, jadi kalo masih ada yg salah, lebih baik ngulang dulu ke SD!" Samudrian setengah berteriak sambil memegang bola berwarna merah itu di tengah-tengah lapang basket, di depan juniornya.
"Oke, semuanya berdiri, cari pasangan dan latihan passing. Chest Pass, Overhead Pass, Behind The Back Pass, Baseball Pass, dan Bounce Pass. Latihan semua teknik itu sama pasangan kalian" Perintah Samudrian.
Semua junior itu melaksanakan perintah pelatihnya, namun satu hal yg membuat Samudrian terganggu, Atlanthea.
Gadis itu malah selonjoran di pinggir lapangan sambil menonton teman-temannya latihan. Ia sedikit malas dan lelah setelah melakukan pemanasan beberapa menit lalu.
Samudrian yg sedari awal sudah geram dengan kehadiran Atlanthea, melemparkan bola basket itu ke arahnya dan tepat mengenai tubuh gadis itu, walaupun lemparannya tak terlalu kencang, namun cukup membuat Atlanthea terkejut.
Atlanthea mendesis, mencari pelaku yg melemparkan bola padanya. Ah, rupanya ini ulah pelatihnya. Ia pun bangkit dan mengambil bola itu, lalu melemparkannya dengan teknik overhead pass.
"Penjelasan gue kurang jelas, atau emang lo yg susah paham?" Samudrian menerima lemparan bola itu dengan mudah.
"Gue ngga ada pasangannya kak" Jelas Atlanthea, kini ia tak ingin terlalu sopan pada pelatihnya yg senga ini.
"Sama gue aja!" Samudrian melemparkan bola itu dengan kencang, hingga Atlanthea hampir terjatuh karena belum siap menerima lemparan dadakan itu.
Teman-temannya yg lain hanya melihat interaksi dua insan itu, banyak dari mereka yg iri karena bisa berpasangan langsung dengan Samudrian.
Mereka saling melemparkan bola itu.
"Chest pass!" Perintah Samudrian pada Atlanthea, gadis itu menurut.
"Bounce!"
"Overhead pass!"
"Lay up shoot, masukin ke ring" Lagi-lagi Atlanthea menurut. Ia berlari ke salah satu sisi ring basket lalu kemudian melompat dan memasukkan bola ke dalam ring itu.
Dan, shoot. Bola jatuh setelah melewati ring itu. Sorakan tepuk tangan terdengar menarik perhatian anggota klub ekskul lain.
Samudrian sempat terkejut dengan skill yg dimiliki cewek tengil itu.
"Ambil bolanya, terus dribble bolak-balik!"
Atlanthea jengah karena terus diperintah, namun apa daya. Ia tak mungkin melawan pelatihnya sendiri. Ia menuruti semua perintah Samudrian, bahkan melakukan teknik yg tidak dilakukan oleh teman-temannya yg lain.
Karena lelah, ia pun istirahat sebentar.
"Wih! Lo jago juga ya maen basket! Keren!" Puji salah satu anggota klub basket.
"Iyanih, ajarin gue dong! Biar bisa latihan berdua sama Kak Sam, kaya lo tadi"
Atlanthea hanya cemberut sambil meremas botol minuman kemasannya.
Setelah selesai latihan, Atlanthea memutuskan untuk segera meninggalkan GOR dan pulang. Ia ingin bermain game bersama squadnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Atlanthea sudah dihadapkan dengan 4 cowok gamer itu. Mereka akhirnya berbaikan setelah perdebatan panjang kemarin.
"Gila! Hari pertama latihan kaya lagi di tatar anjir!" Keluh Atlanthea.
"Latihan apaan lu Ya?"
"Basket" Jawabnya ogah, ponselnya berdering, ada panggilan masuk.
Atlanthea menjawab panggilan itu, panggilan dari Ando.
Cowok itu meminta Atlanthea datang ke GH untuk menghadiri meeting dan membahas kontrak mereka.
"Argh! Bisa ngga, besok aja? Gue cape banget hari ini!" Atlanthea sedikit memelas dengan emosi.
Atlanthea mematikan sambungannya, mau tak mau ia harus pergi. Ini sudah malam, setidaknya biarkan Atlanthea mandi sejenak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
08:15 pm
Atlanthea telah tiba di GH, ia disambut langsung oleh CEO VVV esport.
Selang beberapa jam, Atlanthea mengikuti meeting bersama CEO, client, direksi dan beberapa manager tim proplayer. Setelah menemukan kesepakatan, akhirnya Atlanthea menandatangani perjanjian kontrak. Sebagai orang kepercayaan dan pengurus UWS, ia sudah di wanti-wanti sebelum ia datang ke GH, agar kontrak itu harus menguntungkan UWS sendiri.
Setelah negosiasi panjang dan rumit, Atlanthea rasa, ini kesepakatan yg paling terbaik.
Beberapa isi kontrak itu di antaranya,
__ADS_1
Tinggal dan tidur di GH
Latihan pada jam malam
Tim masih bisa melakukan aktivitas (sekolah dan bekerja)
Dilarang livestreaming
Dilarang berinteraksi dengan tim lain di in game (official atau unofficial)
Tetap menjaga nama baik esport
Keseluruhan agenda kegiatan di atur oleh manager dan coach
Gaji 100% bersih
Kebutuhan pokok ditanggung agensi
Antar jemput transportasi disediakan agensi
Di fasilitasi kamar pribadi ekslusif, PC gaming dan ponsel
Dan masih banyak kontrak lain yg tak bisa dirinci satu persatu.
Atlanthea pulang dengan membawa copyfile kontrak tersebut untuk di bagikan pada temannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selasa pagi ini, turun hujan. Rintik itu terdengar menenangkan, Atlanthea yg kini telah tiba di sekolah pada pukul 08:10 am. Gadis itu terlambat karena harus menunggu bis di jam-jam macet dan angkutan umum yg sudah penuh penumpang. Pak Keni masih dirumah sakit dan lagi ia bangun kesiangan.
Atlanthea menatap gerbang menjulang itu telah tertutup rapat.
Senyumnya merosot, bagaimana caranya ia masuk? Apakah ia akan dihukum?
Namun tak lama, ia melihat sebuah mobil mewah memasuki area sekolah. Otomatis gerbang itu akan terbuka, ia akan memanfaatkan situasi itu untuk masuk diam-diam.
Atlanthea melepaskan tas ranselnya dan memeluknya didepan. Ia mengendap-endap berjalan di tepian dinding agar tak terlihat. Sesekali ia bersembunyi di batang pohon dan tanaman pot yg besar.
Atlanthea berhasil melewati area gerbang dan tempat parkir dengan aman, ia masih mengendap-endap dan celingukan.
Baru saja kakinya hendak menginjak lantai ubin koridor, ia kepergok.
"Lo telat?" Suara berat itu menyapa gendang telinganya. Atlanthea hendak berbalik namun tak berani.
"Lo juga telat kan? Jadi ngga akan laporin gue?" Atlanthea terlihat gugup dan ketakutan. Oh ayolah! Ia hanya ingin bersekolah dengan tenang tanpa mencari masalah.
Cowok itu tersenyum, ia mengacak rambut Atlanthea gemas dan pergi begitu saja.
Atlanthea mematung ditempat, jantungnya berdetak kencang sekali seperti habis berlari dikejar hantu. Matanya mengerjap, mencerna apa yg terjadi barusan. Laki-laki itu memang tampan, manis dan argh tidak! Kenapa jadi begini?
Atlanthea memegangi jantungnya yg masih berdegup, sebelah tangannya memegang rambutnya yg sedikit acak-acakan. Wajahnya bersemu, sebelum suara nyaring menyadarkannya.
"Hey! Siapa kamu? Kesini!" Suara melengking itu terdengar semakin mendekat, Bu Amel, guru BK.
Mampus lu Ya!
Atlanthea meringis mendengar gelegar itu, ia hendak berlari namun urung, karena tasnya terlebih dulu ditarik oleh Bu Amel.
"Mau kabur kamu? Ke ruang BK sekarang!" Galak sekali guru gendut itu, Atlanthea pasrah dan mengekori Bu Amel ke ruang BK.
Dan disinilah seorang Atlanthea berada, di tengah lapang sambil hormat pada bendera. Ia melewatkan jam pelajaran pertama dan kedua, matanya menyipit karena silau, tangan dan kakinya pegal.
Di tengah emosi itu, tiba-tiba Atlanthea di hampiri oleh orang yg tak ia suka, Samudrian.
Cowok itu duduk tribun samping lapang, "Bagus ya! Masih anak baru udah di hukum" Sindir Samudrian.
Atlanthea makin jengkel dibuatnya, ia tak merespon kakak kelasnya itu.
"Emang dasarnya pemalas, ngga bakal maju idup lo kalau kaya gitu terus" Samudrian semakin mengompori gadis yg kepanasan itu.
"Peduli lo apa kak? Udah sana pergi! Gue mau ngejalanin hukuman gue dengan tenang" Atlanthea kepanasan, lagi Samudrian malah membuatnya semakin panas hati dan pikiran.
"Kalau sampe nanti latihan lo telat lagi, lo bakal dapet hukuman dari gue!" Ujarnya sebelum pergi menjauh dari lapangan.
Atlanthea rasanya ingin melempar Samudrian dengan sepatunya.
Interaksi itu tak luput dari pandangan teman-temannya yg baru keluar dari kelas.
"Eh itu si Thea udah nyari masalah aja, padahal ini masih hari kedua sekolah" Dita menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayo kita beli makanan sama minuman buat Thea, kasian dia" Anne berlari menuju kantin untuk segera membeli makanan itu.
__ADS_1
Anne dan Dita membawa beberapa camilan dan minuman dingin ke tribun lapangan.
"Nih Thea, minum dulu!" Anne menyerahkan botol itu.
Atlanthea menerimanya dengan senang hati, Dita melemparkan roti kemasan pada Thea.
Mereka berdua duduk di pinggir, karena tak mau terkena panas sinar matahari yg terik.
"Thanks!" Ucap Atlanthea sedikit berteriak.
"Sampai kapan lo di jemur?" Dita juga berteriak.
"Sampai pingsan!" Atlanthea membalas tak kalah kencang.
"Kalian kok teriak-teriak sih? Kuping Anne sakit dengernya!"
"Lo juga itu teriak bule" Dita malah semakin mengencangkan suaranya.
Thea hanya cengengesan melihat pertikaian itu.
Setelah berjam-jam dijemur, akhirnya Atlanthea kembali ke kelas. Ia rebahan di lantai, punggungnya mentransfer rasa dingin dari ubin.
Atlanthea lelah, keringatnya bercucuran.
Dita dan Anne hanya memandangi gadis itu, "Cowok tadi siapa yg ngobrol sama lo dilapang?"
"Cowok jadi-jadian!" Thea mendengus.
"Jujurly ya, dia ganteng banget! Apalagi matanya itu loh, seakan-akan ingin menelanjangiku! Ah daddy, tolong hangatkan aku!" Ujar Dita centil.
"Ih kamu kok mesum banget sih Ta!" Anne menjauh dari Dita dan duduk dikursinya.
"Sewot aja lo bule"
"Gue mau liat jadwal latihan ekskul dong" Pinta Thea.
Anne membuka ponselnya dan mencari info yg diinginkan Thea di laman website SMA Saint Miller, lalu menyerahkannya pada gadis yg kini merubah posisi menjadi selonjoran.
Setelah membaca, Atlanthea menutup matanya, "Argh! Kenapa harus 3 kali seminggu sih latihannya, ga cape apa ya mereka!"
Senin selasa rabu, adalah jadwal latihan basket junior.
Kamis jumat, adalah jadwal latihan tim inti basket.
Sabtu, adalah jadwal tanding tim basket dengan beberapa sekolah lain.
Thea teringat sesuatu, "Eh tadi gue ketemu sama cogan!" Ujarnya lantang.
"Ah mulai deh kalian bahas cowok mulu" Anne protes.
Thea mengatupkan mulutnya, ia duduk dikursinya.
"Tapi sumpah deh! Tadi tuh gue beneran ketemu cogan! Kalo ngga salah tadi gue baca nametag dia, namanya Osean, Ozian, eh Ozeandy Calvino! Nah iya itu!"
Dita menganga, "What? Ozeandy? Lo ketemu dia? Dimana? Kapan? Terus lo ngapain?" Dita langsung rusuh.
Thea sempat kebingungan dengan respon Dita yg berlebihan. Sedangkan Anne terdiam, ponsel yg ia pegang terjatuh di meja, namun temannya tak menyadari itu karena terfokus pada Dita yg misuh.
"Tadi pas gue telat, dia juga telat" Thea cemberut lalu tersenyum ketika mengingat momen tadi pagi, wajahnya bersemu kembali.
"Astaga Thea! Lo lupa sama nama yg gue kasih tau ke lo beberapa hari lalu? Itu Ozeandy Thea! Ozeandy!" Dita menggoyang-goyangkan lengan Thea.
"Ozeandy? Emangnya dia siapa?" Thea lupa, ia mencoba mengingat-ingat.
"DIA ANAK EMAS, ATLANTHEA RAFAELLA!" Teriak Dita tepat di kuping gadis itu. Atlanthea terdiam, "Hah?!"
...----------------...
Atlanthea Rafaella diperankan oleh Moon Ga Young.
Ozeandy Calvino diperankan oleh Cha Eun Woo.
Samudrian Machiavelli diperankan oleh Hwang In Youp
Bonus pict
__ADS_1
Untuk cast tokoh lain memyusul.
*Source by Pinterest