
"Atlantic tunggu!" Samudrian memegangi pipinya, "Maksudnya apa dia nampar gue? Gue salah apa?" Rutuknya.
Samudrian ingin mengejar Atlanthea, namun gadis itu sudah pergi menjauh ke dalam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seharian Atlanthea hilang kabar, setelah kejadian ia menampar Samudrian, ia mengurung diri di kamar sambil menangis sendirian. Hingga paginya, Leon dan teman-temannya membuka paksa pintu kamar Atlanthea karena gadis itu melewatkan latihan semalam dan tak muncul sedikitpun.
Mereka mendapati Atlanthea sedang tertidur sambil menggigil, tubuhnya demam. Leon menggendong Atlanthea dan membawanya ke klinik di GH.
Atlanthea terbaring dengan infusan di tangan kirinya, ia masih tertidur. Leon menunggu gadis itu terbangun, sedangkan yg lain sudah pergi bekerja dan bersekolah. Leon sengaja libur kerja, toh dia bos nya.
Beberapa jam kemudian, Atlanthea tersadar, ia melenguh.
"Leon? Ngapain lo disini?" Atlanthea melirik sekeliling.
"Hah! Gue dimana?" Ia melihat tangannya terpasang infus.
"Lo di klinik, badan lo demam, kenapa ngga ngabarin gue sih? Gue khawatir, takut lo kenapa-kenapa. Dari semalem gue telpon ngga ada yg di jawab, gue kira lo lagi galau, kata Uzy kemaren lo sempet berantem sama cowok. Kalau ada apa-apa bilanglah Ya! Jangan kaya gini" Leon mendumel.
"Iya bawel berisik, gue laper"
"Tunggu! Jangan kemana-mana!"
Beberapa menit Leon kembali dengan membawa mangkuk berisi bubur, ia bersikeras ingin menyuapi Atlanthea, walau gadis itu menolak membuka mulut.
"Ya! Nurut sama gue!" Leon tetap kekeh menyuapi Atlanthea, dan gadis itu mengalah.
Leon adalah orang yg paling peduli padanya, melebihi orang tuanya sendiri. Mereka bersahabat, Atlanthea sudah menganggap Leon sebagai kakaknya.
"Lo kenapa sih Ya?" Tanya Leon.
"Gue gapapa, cuma kecapean aja" Atlanthea terpaksa berbohong, ia belum siap menceritakan hal itu lagi.
"Gara-gara jadwal latihan kita? Kan udah gue bilang, kita ngga perlu join di esport, cuma bebanin kita doang"
"Bukan itu kok"
__ADS_1
"Terus apa?"
"Nanti gue cerita, tapi ngga sekarang"
"Jangan bikin gue khawatir, gue pengen lo terus baik-baik aja. Kalau ada orang yg jahatin lo, bilang sama gue" Leon mengusap rambut Atlanthea dengan sayang, "Gue sayang sama lo Ya. Gue udah janji sama diri gue sendiri bakal jagain lo" Leon kemudian mengecup kening Atlanthea lama.
Atlanthea terenyuh, "Thanks Leon, lo udah selalu jagain gue"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah 2 hari kemarin Atlanthea menghilang tanpa kabar, akhirnya ia kembali ke sekolah dengan perasaan yg kalut. Ia tak siap menceritakan ini semua, ia tak siap jika harus bertemu Samudrian.
Dengan langkah gontai, ia memasuki kelas dan duduk di kursinya, surat itu masih ada.
Oh ya tuhan! Apalagi ini?
Bukankah sudah jelas, kenapa Samudrian tidak menyerah?
Atlanthea membuka surat itu.
Cepat sembuh sayangku
Datanglah Dita dan Anne, mereka berlari menghambur ke pelukan Atlanthea.
"Theaaa! Lo kemana aja? Lo bikin kita khawatir tau ngga?"
"Nomer kamu juga susah di hubungi, kita dateng ke rumah kamu, tapi rumah kamu kosong. Mau ke GH gatau alamatnya" Anne hampir menangis.
Atlanthea lupa memberi tahu alamat GH pada kedua sahabatnya ini, yg tahu hanya Samudrian. Jadi Samudrian tidak memberi tahu sahabatnya ini rupanya.
"Eh, kita udah tau siapa pelakunya!" Sungut Dita.
Anne mengangguk, "Aku beneran ngga nyangka dia bisa ngelakuin itu, tapi sekarang dia udah pindah sekolah, mungkin karena takut kita laporin, makanya kabur"
"Emang brengsek tuh si Angga!" Dita tersulut emosi.
"Angga? Kenapa Angga?" Atlanthea tak salah dengar kan?
__ADS_1
"Iya pelakunya Kak Angga, kita mau ngasih tau kamu kemarin, tapi kamunya ngilang"
"Kita juga ada video CCTV nya" Dita mengeluarkan ponsel dan memutar video itu.
Atlanthea mengerjap, ia berusaha berpikir.
"Bukannya Kak Sam ya?" Atlanthea ingin memastikan.
"Kak Sam?" Dita mengernyit, "Ngga, ini tuh udah jelas-jelas muka si Anggaran pajak"
Atlanthea bangkit dari duduknya, "Kak Sam ada dikelas mana?"
"Kalau ngga salah, dia kelas 11 IPS 1"
Atlanthea berjalan cepat, mencari keberadaan kelas Samudrian.
Beruntungnya, mereka bertemu di koridor.
Atlanthea menghadang langkah Samudrian, "Gue mau ngomong sama lo"
Mereka berdua duduk di taman yg lumayan sepi, dikarenakan masih pagi.
"Gue mau minta maaf" Atlanthea menunduk, tak berani menatap Samudrian langsung.
"Maaf buat apa?"
"Buat kejadian kemarin di GH" Atlanthea masih menunduk.
"Kejadian apa?" Samudrian sengaja berpura-pura tidak tahu.
Atlanthea mendongak, "Please Kak Sam! Gue mau minta maaf karena udah nampar lo kemarin di GH!" Matanya berkaca-kaca.
Samudrian tersenyum samar, "Gue ngga tau salah apa sampe lo nampar gue. Apa karena sikap gue selama ini? Jahat banget ya gue? Sampe lo sebenci itu"
"Bukan itu"
"Terus karena apa?"
__ADS_1
Samudrian menatap Atlanthea dalam, ia menunggu penjelasan gadis itu.
Mau tak mau Atlanthea menceritakan semuanya, karena ia merasa bersalah sudah menuduh Samudrian pelakunya.