
"Demi apa lo?!" Dita melemparkan ponselnya.
Atlanthea mengangguk.
"Kok bisa sih? Lo udah 2 kali ketemu dia, lah gue cuma ngeliat dari jauh doang"
"Gue juga gatau, dia selalu muncul tiba-tiba" Atlanthea kembali tenang.
"Ketemu dimana?" Salah satu teman sekelasnya nimbrung obrolan.
Beberapa murid tertarik dengan perbincangan itu.
"Dideket GOR kemaren, pas gue abis latihan basket, deket sama basecamp nya kan?"
Mereka mengangguk-ngangguk.
"Gue juga pengen kali ketemu"
"Iya, gue juga"
"Terus-terus, gimana lagi?"
"Rahasia" Atlanthea menjawab dengan senyuman misterius.
"Dih pelit lu!"
"Masa gue harus pindah ekskul biar bisa liat mereka" Dita merenung.
"Pindah aja kalau gitu"
"Gue ngga bisa maen basket"
"Yg lain kan ada, volly, futsal,.. "
"Ah! Volly gue bisa, cuss pindah ekskul"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam pelajaran pertama adalah PJOK, murid 10 IPA 1 sudah mengganti seragamnya. Usut punya usut, menurut gosip yg beredar, jadwal pelajaran jam pertama sama dengan kelas 11 IPA 1, kelas si anak emas itu.
Itu membuat murid bersemangat memasuki gedung olahraga, tak sabar bertemu dengan mereka, si naratama kelas kakap.
Dita sempat berdandan sebelum meninggalkan kelas, Thea malahan gugup, takut bertemu dengan Ozeandy lagi. Sedangkan Anne, ia terlihat tak bersemangat, tak seperti murid lainnya.
Setibanya di GOR, teriakan terdengar bergema.
"Kak Arnold"
"Kak Zean kok bisa ganteng banget sih?"
"Kak Violet pake skincare apa?"
"Follback ig aku dong kak"
"Boleh minta foto ga?"
__ADS_1
Thea sempat terhenti dan menilik keberadaan kakak kelasnya itu, mereka berada di lapang voli, bersebelahan dengan lapang basket yg kelasnya tempati.
Anne tak terpengaruh apapun, ia berjalan berlalu begitu saja.
Lihatlah Dita, ia kini sibuk berkerumun dan berusaha memotret kegiatan idolanya itu.
Dan bodohnya, Dita tak mematikan flash diponselnya. Niat hati diam-diam ingin mengcapture, ini malah jadi pusat perhatian. Termasuk si empu yg sedari tadi digadang-gadangkan.
Tak ada lagi teriakan, semuanya hening. Dita terdiam dengan ponsel di genggamannya. Violet, gadis idol itu menghampiri Dita dan merampas ponselnya kasar.
Violet melihat hasil jepretan yg terdapat potret dirinya, ia menghapus foto itu dan melemparkan ponsel itu, "Jangan kurang ajar, lo udah ganggu privasi gue!" Violet, gadis itu tak berteriak, ia tenang, bahkan sangat tenang. Namun nada suaranya begitu menyeramkan, seolah mantra yg membuat siapa saja ketakutan mendengarnya.
Setelah beberapa menit menegang, situasi kembali seperti semula, semua mengikuti jam pelajaran seperti biasa.
Sekarang, murid kelas 10 ingin tanding basket melawan kakak kelasnya. Setelah di sepakati kedua belah pihak, mereka akhirnya bertanding, hanya laki-laki saja yg bermain, perempuannya menjadi suporter di pinggir lapangan. Permainan hanya akan dilangsungkan 2 babak, dengan waktu 12 menit di setiap babaknya.
Permainan pun dimulai, mereka mulai memperebutkan bola dan berusaha memasukkannya ke ring lawan.
Suara pantulan bola teredam oleh suara teriakan suporter, karena Arnold dan Zean ikut bermain.
Mereka meneriaki kedua nama itu, seolah hanya Arnold dan Zean saja yg bermain.
Diakhir babak pertama, Fandy, tim kelas 10 berlari ke pinggir lapang, meminta pergantian pemain, ia kelelahan.
Pak Louis, guru PJOK kelas 10 yg menjadi wasit, meminta murid lain untuk menggantikannya, namun tak ada yg mau.
Pada akhirnya, semua menunjuk Thea untuk bermain menggantikan Fandy. Thea terkejut dan menolak, ia kan perempuan! Tetapi Pak Louis menyuruhnya, "Udah gapapa Thea, main sana! Ini cuma permainan iseng aja, bukan pertandingan serius"
Dengan terpaksa, Thea turun ke lapangan. Oh tidak, ia bisa melihat Ozeandy dari dekat, ia gugup.
Permainan berlanjut pada babak kedua, dengan skor 6 sama.
Thea tak ingin terlalu serius, tapi entah kenapa ia ingin menampilkan yg terbaik pada pertandingannya kali ini. Apakah karena ada Ozeandy? Ah tidak mungkin.
Poin tim kelas 10 bertambah, hasil cetakan Atlanthea. Sorak terdengar semakin riuh, 8:6.
Thea masih bersemangat, termasuk teman-temannya yg lain.
Babak kedua ini, tim kelas 10 mendominasi, bola di kuasai oleh mereka. Thea mendribbling bola itu dengan semua teknik dribbel yg ia kuasai, ia menggocek lawannya dengan cara menyilang, memantulkan bola dari tangan kanan ke tangan kirinya.
Thea menaikan tempo lari dan dribblenya menggunakan step lay up, ia melompat di dekat ring menghujamkan bola ke dalam ring basket dan memegang ring itu sebentar sebelum akhirnya ia mendarat kembali.
Suara peluit panjang terdengar, diiringi teriak-teriakan para suporter yg tak kalah bersemangat. Thea ngos-ngosan, ia berlari menghampiri teman-teman satu timnya dan bertos ria. Waktu berakhir, mereka menyelesaikan permainan itu dengan gembira. Walaupun Atlanthea seorang perempuan, ia masih bisa mengimbangi gameplay tim putra.
Skor akhir 11:6, dengan shooting terakhir berpoin 3, kemenangan di pihak tim kelas 10.
Ketika hendak keluar dari gedung olahraga itu, tiba-tiba salah satu siswa melemparkan bola basket dengan sangat kencang, arahnya di perkirakan akan mengenai kepala salah satu siswi di samping lapangan yg sedang berjalan keluar.
Atlanthea yg melihat itu seketika berlari dan berteriak, "AWAS!" Thea melompat agar ia bisa menangkap bola itu. Karena posisinya yg kurang strategis dan tiba-tiba, akhirnya jari tengahnya terkilir ketika menahan serangan bola itu.
"Aww!" Rintihnya memegangi jarinya, "Lo ngga ke senggol sama gue kan?" Tanya Thea pada gadis yg hampir kena pukulan bola itu, ia belum menyadari bahwa gadis itu adalah Violet.
Setelah Atlanthea menatap wajah itu, ia terkejut. "Kak.. Vio-let?"
Violet memandangi tangan Atlanthea, setelahnya ia pergi begitu saja.
__ADS_1
Atlanthea menatap kepergian Violet dalam diam, kemudian kedua sahabatnya menghampiri dan melihat kondisi tangan Thea.
"Yuk kita ke UKS" Mereka bertiga segera menuju UKS, sedangkan murid lain yg melihat kejadian itu hanya bengong.
Dikarenakan jam pelajaran sudah selesai, mereka akhirnya kembali ke kelas masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anne dan Dita menggandeng Thea kembali ke kelas setelah mengobati jarinya yg keseleo dan mengganti seragam.
Jam istirahat tiba, 3 sekawan itu terdampar di kantin yg padat.
"Sumpah! Tadi gue malu banget, ternyata Kak Violet ngga sebaik yg gue kira" Dita bercerita sambil cemberut.
"Mana tadi dia pergi gitu aja tanpa mau tanggung jawab"
"Kan dia emang ngga salah Ta, yg lempar bola bukan dia" Thea membenarkan.
"Dan, lo juga yg bilang, katanya kalau ada yg ngeganggu mereka, mereka pasti ngga akan diem" Atlanthea tak ingin mendebat, hanya saja memang sudah terjadi, faktanya seperti itu.
"Aku juga udah peringatin kalian buat ngga usah ngurusin mereka, tapi kalian tetep aja ngga mau denger" Anne mendumel.
"Gue lagi sedih tau, jangan di marahin lah!" Dita berlagak manja pada Anne.
"Liat, Thea juga tangannya lagi luka, tega apa?"
Anne mengusap rambut Dita sayang, "Lain kali dengerin omongan aku juga ya, ngga akan rugi kok"
"Yaudah kalau gitu, sekarang gue mau fokus ke Kak Diego aja deh! Anne.. Bantuin ya?" Dita menampilkan puppy eyesnya.
Anne mengangguk, Thea yg melihat drama itu merasa dongkol sendiri.
"Berasa anak tiri gue" Keluh Thea.
"Utututu, sini sini peluk!"
"Ogah!"
Dita membuka ponselnya karena ditodong notif yg menumpuk. Ia terkejut ketika membuka aplikasi instagram, videonya tersebar dan viral. Bukan bukan! Bukan videonya, melainkan video Thea yg tengah tanding basket dengan kelas 11 tadi, dan video penyelamatan yg Thea lakukan pada Violet.
Video itu dibanjiri komentar, disukai lebih dari 100 ribu loves, dan di share ribuan kali. Gila! Baru beberapa jam yg lalu, videonya bisa seviral itu.
Dita menarik-narik seragam Thea agar mendekat, "Apasih?" Thea merasa terganggu.
"Lo! Viral!" Anne dan Thea terdiam menatap layar ponsel milik Dita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam pelajaran hari ini telah berakhir, Anne dan Dita pulang terlebih dahulu. Sedangkan Atlanthea hendak meminta ijin untuk tidak hadir ekskul hari ini.
Saat hendak memasuki GOR, Atlanthea terhenti. "Buat apa gue minta ijin? Cih, cowok tengil itu ga perlu dikasih respect!" Seolah tersadar, ia melanjutkan langkahnya melewati GOR, namun ada sebuah panggilan yg menghentikannya lagi.
"Atlanthea!"
"Jangan-jangan Ozeandy lagi?" Tebaknya dalam hati, "Semoga bukan!"
__ADS_1
...----------------...