
Semalaman Thea tak bisa tidur, karena memikirkan hickey sialan itu dan Samudrian.
Kenapa harus Samudrian?
Pagi itu Atlanthea terlihat lemas, memasuki kelas dengan gontai.
Lagi-lagi ia melihat amplop dan sebotol susu kaleng di mejanya. Thea tak ingin membaca surat itu, tapi ia penasaran, lalu ia tetap membukanya.
Leher kamu cantik, semakin cantik dengan tanda yg aku beri.
Kenapa kamu tidak memakai sepatu yg aku berikan kemarin pada saat latihan voli? Apa ukurannya tidak pas? Aku tidak mungkin salah, karena aku mengetahui semua tentang mu, Atlantic. Bahkan aku tahu ukuran pakaian dalammu.
"What? Apa-apaan ini? Siapa manusia brengsek yg selalu mengiriminya surat sialan itu?" Jeritnya dalam hati.
Atlanthea meremas surat itu, lalu ia membuangnya, juga dengan susunya. Jadi hickey itu ulah si stalker? Bagaimana bisa? Memangnya dia siapa? Kapan dan dimana mereka bertemu? Apa jangan-jangan ia menyelinap masuk kerumahnya malam-malam?
Atlanthea merinding dan ketakutan membayangkannya.
Dita tiba di kelas bersama Anne, ia melihat wajah Atlanthea yg memucat "Lo sakit Ya?" Dita menyentuh kening Atlanthea.
Atlanthea kebingungan, apa ia harus menceritakan kejadian menyeramkan itu pada mereka? Jujur, ia masih syok.
"Kita anter ke UKS aja yuk? Kamu udah sarapan?" Anne menggandeng lengan Atlanthea setelah menyimpan tasnya.
Atlanthea mengangguk, sepertinya ia memang butuh istirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah 3 jam Atlanthea tertidur di UKS.
Itu sudah lebih dari cukup untuknya beristirahat, ia hendak kembali ke kelas. Namun seseorang memasuki UKS, Atlanthea berhadapan dengan orang itu.
"Hai!" Sapa orang itu.
"H, hai!" Atlanthea menjawab dengan gugup, badannya yg masih lemas semakin terasa tak bertenaga setelah melihat Ozeandy.
Ya, orang itu adalah Ozeandy.
"Kenapa lo selalu gugup setiap ketemu gue? Muka gue serem ya?" Tanyanya.
Atlanthea menggeleng, "Lo itu terlalu tampan tau ngga sih?" gumamnya dalam hati.
"Lo ngapain disini?" Sepersekian detik Atlanthea menyesali pertanyaan bodoh itu, ya memangnya ngapain lagi kalo di UKS?
"Emang ngga boleh ya, gue kesini?"
"Eh, ngga, bukan gitu, maksud gue, kan dibasecamp lo pasti ada UKS juga kan?" Atlanthea hanya menebak, semoga benar.
"Lo mau istirahat di basecamp ngga?"
"Hah?"
"Mau atau ngga?"
"Emang boleh?"
Ozeandy tak menjawab, ia menarik lengan Atlanthea dan membawanya menuju basecamp.
Koridor terlihat sepi, karena ini masih jam pelajaran.
"Kok, lo berkeliaran di jam pelajaran sih? Emangnya.. " Ucapannya menggantung.
__ADS_1
"Ngga ada yg marahin?" Lanjutnya dalam hati.
Memangnya siapa yg berani memarahi anak emas? Thea merutuki kebodohannya.
"Emangnya kenapa?" Ozeandy menghentikan langkahnya.
"Ngga" Mereka melanjutkan langkah kembali.
Setelah tiba di pintu basecamp, Atlanthea terhenti, ia ragu. Ia hanya menatap pintu itu.
"Kenapa? Ayo masuk!" Ozeandy membuka pintu itu dan mengajak Atlanthea masuk.
"Serius gue boleh masuk?"
Ozeandy mengangguk lalu menarik lengan Atlanthea untuk masuk ke dalam.
Ruangan ini tidak seperti sekolahan, namun lebih seperti penthouse. Luas, banyak ruangan di dalamnya.
Sedetik pintu itu dibuka, suhu dingin menyeruap ke tubuh Atlanthea, kontras dengan suhu di luar.
Ruangan itu tertutup tanpa jendela, namun terang benderang dengan lampu yg elegan.
Belum sempat Atlanthea melihat sekeliling, Ozeandy sudah membawanya untuk menaiki anak tangga. Di lorong itu, terdapat pintu berhadapan satu sama lain, kiri dan kanan.
Ozeandy membuka salah satu pintu itu, dan ternyata itu adalah kamar. Ada tempat tidur, satu set pc, toilet, dan meja belajar.
"Ini kamar siapa?" Tanya Atlanthea begitu masuk.
"Ini kamar gue, lo bisa istirahat disini!" Ozeandy duduk di kursi meja belajarnya.
Atlanthea mengigit bibirnya, ia menelisik setiap jengkal di ruangan itu.
Atlanthea berada di kamar pribadi Ozeandy? Apa ini mimpi? Dan Ozeandy menyuruhnya untuk beristirahat di sini? Oh tidak!
"Lo, suka tidur disini?" Atlanthea memberanikan diri untuk bertanya, banyak pertanyaan yg ada di kepalanya saat ini.
"Cuma buat tidur siang" Ozeandy beranjak, menghampiri Atlanthea dengan tangan disakunya.
Ozeandy menunduk di depan wajah Atlanthea yg duduk di tepi ranjang, "Lo boleh tidur disini, kapanpun lo mau!"
Atlanthea menahan nafasnya, jarak Ozeandy terlalu dekat dengan wajahnya.
Ozeandy keluar dari kamar, sedangkan Atlanthea masih syok dengan apa yg terjadi barusan.
Setelah menetralkan detak jantungnya dan menarik nafas setenang mungkin, Atlanthea menyusul Ozeandy keluar. Ia tak mau di ruangan ini sendirian.
Ozeandy duduk di minibar dengan segelas minuman ditangannya. Atlanthea menghampiri cowok itu dan duduk di kursi yg tak jauh dari Ozeandy, hanya terhalang oleh satu kursi.
"Itu alkohol?" Atlantis bertanya dengan gugup.
"Iya, mau coba?" Jawabnya santai.
Atlanthea melotot, what? Alkohol? Disekolah? Apa ia tak salah dengar?
"Bukannya di larang ya?" Atlanthea berucap sangat hati-hati.
"Ini wilayah gue, aturan gue" Ozeandy memainkan gelas ditangannya, lalu menenggaknya sedikit demi sedikit.
"Jangan lupakan bahwa mereka ini anak emas Atlanthea!" Perintahnya dalam hati pada dirinya sendiri.
Atlanthea meninjau ruangan itu. Ia melihat ada meja tenis, meja billiard, dan papan dart. Saat ia hendak menghampiri Ozeandy, ia juga melirik di ruangan sebelah, ada private pool dan ruang gym.
__ADS_1
Benar-benar mewah untuk sekelas basecamp anak sekolahan.
"Kenapa lo ngajak gue kesini?"
Ozeandy menaruh gelasnya, "Karena lo lucu, gue suka"
"Lucu?" Atlanthea mengernyit.
Ozeandy mengangguk, "Iya, setiap kali kita ketemu, lo selalu nervous atau ketakutan, itu bikin lo tambah cantik" Ozeandy menyentuh helaian rambut Atlanthea.
Atlanthea hanya menunduk dan mengalihkan pandangannya, ia gugup, wajahnya pasti sudah memerah mendengar penuturan dari laki-laki tampan di depannya ini.
Argh! Kenapa Ozeandy begitu manis?
Tak lama, terdengar pintu dibuka dan langkah kaki yg mendekat.
Astaga! Itu Violet dan Arnold.
Atlanthea melihat mereka sekaligus, dengan jarak sedekat ini, diruangan yg sama, di basecamp yg didamba-damba murid Saint Miller.
Sadarkan Atlanthea bahwa ini bukan mimpi.
"Target baru?" Tanya Arnold, ia mengambil minuman kaleng di kulkas dan duduk di kursi di samping minibar.
Sedangkan Violet, ia memasuki toilet di samping ruang billiard.
"Target baru? Maksudnya?" Tanya Atlanthea dalam hati.
Ozeandy tak merespon, lalu Arnold mendekati Atlanthea dan menatap wajahnya dari dekat.
"Lo yg viral itukan? Yg nolongin si nelangu?" Arnold duduk disamping Atlanthea.
"Nelangu?" Atlanthea semakin bertanya-tanya.
"Nenek lampir ungu, hahahaha!" Arnold tertawa kencang, berbarengan dengan Violet yg baru keluar dari toilet.
"Violet" Jawab Ozeandy, karena mengetahui ketidaktahuan Atlanthea mengenai sebutan Arnold pada Violet.
"Sialan!" Violet menendang tulang kering kaki Arnold, membuat cowok itu berhenti tertawa.
"Thanks btw" Ucap Violet sambil mengulurkan tangannya.
Atlanthea menatap tangan itu, Violet mengajaknya bersalaman? Demi apa?
Atlanthea buru-buru menyambut tangan itu, mereka berjabat tangan singkat.
Violet duduk di samping kanan Atlanthea, menghalanginya dan Ozeandy. Ia mengambil gelas lalu menuangkan minuman yg sama dengan yg Ozeandy minum.
Violet juga minum alkohol? Atlanthea tak menyangka.
Dan yg lebih mengejutkan, Violet mengeluarkan rokok dan korek dari laci minibar, jangan bilang, dia juga ngerokok?
Atlanthea semakin terkejut, ia tak bisa berkata-kata.
Atlanthea tahu, rokok dan alkohol adalah hal yg lumrah. Tapi ini masih di area sekolah, lagi mereka masih di bawah umur.
Saat Violet hendak menyulut rokok itu, Ozeandy merampas koreknya. Lalu ia menarik Atlanthea untuk menjauh dari minibar, Ozeandy membawa Atlanthea keluar dari basecamp.
"Lo bisa balik ke kelas sendirikan?"
Atlanthea mengangguk, lalu pintu tertutup. Ia memandangi pintu itu dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.
__ADS_1
...----------------...