
Mizzy terkejut saat pria itu menarik tangannya, lebih terkejut lagi saat ia melihat siapa yang menarik tangan itu.
“O-om Ken ... ” gumam gadis itu.
Dengan raut wajah yang penuh amarah Ken langsung menyeret Mizzy, gadis itu pun tidak bisa apa-apa hanya bisa pasrah, di tambah kepalanya kini terasa pusing, mungkin efek dari minuman beralkohol yang tadi ia minum.
Sementara Gisel dan yang lainnya pun tak kalah terkejut, Gibran yang melihat Mizzy di bawa dengan kasar itu, tentu saja tidak terima. Pria muda itu terlihat langsung menyusul Mizzy dan Kendra.
Melihat Gibran yang beranjak, Gisel pun buru-buru menyusulnya.
“Gib, udah biarin aja Mizzy pergi,” tahan Gisel.
Namun tidak digubris oleh Gibran ia terus menyusul Mizzy dan Kendra.
“Masuk!” bentak Ken pada Mizzy, ia membukakan pintu mobilnya. Lagi-lagi Mizzy hanya mengangguk pasrah.
“Anda siapa? Kenapa anda sangat kasar pada teman saya?” tanya Gibran yang kini sudah berada di dekat Kendra.
“Jadi kamu temannya Mizzy? Sebaiknya kamu jauhin Mizzy, kerena kamu itu membawa dampak buruk pada dia!” bentak Ken pada Gibran.
“Apa maksud anda? Ada hak apa anda melarat saya berteman dengan Mizzy?” tanya Gibran lagi.
Ken tersenyum sinis, ingin rasanya ia menghajar pemuda yang mengaku sebagai teman dari keponakannya itu.
“Kamu tidak perlu tahu siapa saya. Sekali lagi saya peringatkan kamu, jauhi Mizzy, kalau kamu masih berani mendekatinya, apa lagi membawa dia ke tempat seperti ini, lihat saja, saya akan memberi pelajaran sama kamu!” tegas Ken.
Setalah itu Ken langsung masuk ke dalam mobil dan melaju mobil tersebut.
“Gibran,” panggil Gisel. “Kamu ngapain sih, sudah aku bilangkan biarkan saja. Kalau seperti ini masalahnya bakalan runyam!” sambung gadis itu kesal.
“Runyam, maksud kamu? Memang siapa pria tua itu? Apakah dia orang tuanya Mizzy, bukankah orang tuanya tidak tinggal di sini?”
__ADS_1
“Ya memang bukan, tadi itu Om-nya. Harusnya kamu itu tadi gak nyamperin dia, kamu cari masalah aja, kalau begini bisa-bisa nanti Mizzy gak bakalan bisa berteman lagi sama kita.”
“Kenapa begitu?”
“Ah sudahlah, ceritanya panjang. Ah kau ini bikin kesal saja, aku akan menyusul Mizzy, aku harus menjelaskan sama Om-nya,” ujar Gisel, gadis itu terlihat langsung menuju ke mobilnya.
“Tunggu, aku ikut.” Gibran berlari menyusul Gisel dan langsung masuk ke mobil gadis itu.
“Kamu ngapain, sana keluar!” titan Gisel.
“Enggak, aku mau ikut!”
Gisel mendesah kesal, terpaksa ia pun membawa Gibran bersamanya menuju tempat Mizzy. Gisel memang tidak pernah ke sana, tapi Mizzy pernah memberikan alamat Apartemen Om-nya itu.
Sementara itu Ken baru saja sampai di apartemennya.
“Cepat turun!” titah Ken pada Mizzy.
Namun gadis itu tidak menyahutnya. Mizzy terlihat memejamkan matanya, entah gadis itu tertidur atau pingsan, terkahir Mizzy merasakan kepalanya sangat pusing.
“Dasar gadis nakal, sok-sok minum wine, teler beginikan,” gerutu Ken saat mencium bau alkohol dari napas gadis itu.
Ken pun segara mengendong keponakannya itu, setalah itu ia pun membawa Mizzy ke unit apartemennya.
Sesampai di sana, Ken langsung menidurkan Mizzy di atas kasur.
“Lihat saja, kalau sudah bangun habis kau!” geram Ken.
Walaupun sangat kesal dan marah pada Mizzy, Ken tetap sangat perhatian pada keponakannya itu. Ia menyelimuti Mizzy.
Sambil menunggu Mizzy bangun, Ken pun berniat ingin membuat gadis itu minum yang bisa membuat efek alkohol itu hilang. Akan tetapi saat Ken beranjak tiba-tiba saja tangannya terasa ada yang menahannya.
__ADS_1
“Om ... ” panggil gadis itu, suara terdengar sangat berat.
Sontak Ken pun menoleh kearah gadis itu.
“Om, marah?” tanyanya.
“Menurut kamu?” balik tanya Ken, ia langsung beranjak dari sana.
Dengan susah payah Mizzy terlihat langsung menyusul Om-nya itu, dengan langkah yang sempoyongan Mizzy berhasil menyusul Ken yang akan keluar dari kamarnya itu, Mizzy langsung menutup pintu kamarnya itu dengan capat sebelum Ken keluar.
“Awas!” bentak Ken.
Mizzy mengeleng-gelengkan kepalanya, menolak untuk beranjak dari pintu tersebut.
“Mizzy, awas!” bentak Ken lagi. Gadis yang ada di hadapannya itu benar-benar membuat Ken naik darah.
“Baiklah, jika kamu tidak mau menyingkirkan dari situ, Om akan telepon Mommy dan Papi kamu, biar mereka tahu kelakuan kamu dan segara menjemput dari sini!” ancam Ken.
Mizzy terlihat kesal, ia merasa hidupnya tidak bebas, padahal kan dia juga ingin seperti teman-temannya yang lain. Tiba-tiba saja Mizzy merasakan hawa disekitarnya itu terasa panas, entah itu kerena efek dari amarah yang bergejolak di tubuhnya, atau ... entahlah.
“Om panas Om,” teriak Mizzy.
Ken terlihat mengernyit dahinya, kenapa dengan Mizzy?
“Om kok tubuh Zy panas begini, Om, tolong Zy Om,” teriaknya lagi.
Ken pun langsung mendekati Mizzy.
“Sadar Zy, kamu ini kenapa? Hey sadar!" Ken menepuk-nepuk pipi gadis itu.
Detik kemudian Ken langsung terdiam, saat merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan komen, dan jempolnya ya. Terima kasih.