Sketsa Cinta Tuan Kendra

Sketsa Cinta Tuan Kendra
Pesona Om Dulap


__ADS_3

Mizzy terkejut saat melihat orang yang berada di dalam mobil sport tersebut. Apa ia salah lihat? Ternyata yang membawa mobil sport tersebut adalah Om-nya.


Beberapa kali Ken terdengar memanggil-manggil namanya, akan tetapi Mizzy masih bergeming, ia masih manatap takjub, rasanya tidak menyangka plus terkejut juga, ternyata mobil tersebut miliknya Om Kendra, waow! ini sangat luar biasa, membuat siapa saja yang kini melihat Ken tentunya terpesona.


Ken sendiri terlihat sangat kesal, sudah berulang kali ia memanggil gadis itu, akan tetapi tidak menyahutnya, malah diam mematung dengan mulut menganga. Untung lalat yang masuk ke mulut gadis itu.


Terpaksa Ken pun keluar dari mobilnya, lalu menghampiri Mizzy.


“Kamu mau diam saja di sini hah? Mau gantiin petugas keamanan di sini, jaga pintu masuk hah?” cerca Ken geram menahan kekesalan terhadap keponakannya itu.


Mizzy terlihat sentak kaget, Ken langsung menarik tangan gadis itu menuju mobilnya.


“Masuk!” titahnya.


Mizzy yang masih merasa terkejut itu pun hanya menurut saja.


‘Benar-benar membuat emosi jiwa, pagi-pagi bikin darah tinggi!’ batin Ken. Lalu ia pun menyusul masuk ke dalam mobil tersebut.


Tanpa sepatah kata pun Ken langsung melajukan mobilnya.


Mizzy menekuk wajahnya, kerena Ken tadi menarik tangan sedikit kasar. Namun seperti Ken tidak menyadari hal itu, terlihat kini ia merasa heran dengan sikap keponakannya tersebut.


“Kenapa wajahmu di tekuk begitu? Kaya anak kecil gak di kasih uang jajan,” tanya Ken. Melirik kearah Mizzy sekilas sambil tersenyum mengejek gadis itu.


“Berisik!” sahut Mizzy ketus.


“Yaelah gitu aja marah, baperan amat si Neng,” goda Ken.


“Baperan-baperan, lihat nih tangan Zy merah! dasar Duda lapuk kasaran!” kesalnya.


Sontak Ken pun langsung mengehentikan laju mobilnya itu. Mizzy langsung menatap Om-nya, bertanya-tanya dalam hati, ‘ada apa dia berhenti?’


Ken langsung menarik tangan gadis itu. “Mana yang sakit? Yaampun, maaf ya Zy. Om gak bermaksud kasar tadi, apa ini sakit?” tanya Ken terlihat sangat khawatir serta merasa menyesal saat melihat pergelangan gadis itu memang sedikit memerah.


“Apaan sih, lebay!” Mizzy menarik tangannya dengan cepat.


“Apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Ken mengabaikan ucapan gadis itu, terlihat jelas Ken sangat mengkhawatirkannya.

__ADS_1


“Emm ... ” Mizzy terlihat berpikir. “Boleh deh, tapi ke rumah sakit jiwa ya,” sambungnya.


Ken langsung mengerutkan kedua alisnya, menatap gadis itu terheran.


“Lah kok ke rumah sakit jiwa?”


“Iya, soalnya Zy harus memeriksakan Om Ken kesana, kayanya Om Ken ini rada-rada deh,” jawab Mizzy tanpa dosa.


Ken terlihat menghelai napasnya kesal, bisa-bisanya dia malah bercanda! Apa tidak lihat jika Ken sangat mengkhawatirkannya?


Andai saja Mizzy itu pria, dan andai saja Mizzy itu bukan bagian dari keluarganya, ingin rasanya Ken berkata kasar padanya.


‘Sabar Ken, sabar, keponakan kamu itu ABG labil, oke! Jadi perlu stok kesabaran yang banyak untuk menghadapinya,’ batin Ken mencoba menangkan dirinya sendiri.


Ken pun memilih untuk melajukan mobilnya kembali. Mizzy terlihat tersenyum penuh kemenangan.


“Makanya jangan berlebihan, Om. Heran deh keknya kelamaan jadi Duda begini nih jadinya! Orang cuman merah dikit doang, malah ngajak ke rumah sakit!” lanjut Mizzy mengejeknya.


Benar-benar harus ekstra sabar menghadapi gadis satu ini, pikir Kendra.


“Padahal kan Om gak ada maksud buat kasar sama kamu, itu salah kamu sendiri, di panggil gak nyahut. Apa jangan-jangan kamu terpesona sama si Om Dulap ini hmm?” lanjutnya, tersenyum menggoda keponakannya itu.


“E-enggak, pede amat sih,” jawab Mizzy gugup. Entah mengapa ia merasa salah tingkah sendiri. Ia langsung memalingkan wajahnya.


“Oh ya? Tapi syukurlah, jangan sampai kamu terpesona sama Om Dulapmu ini, kerena akan makin berabe nantinya,” ucap Ken sambil terkekeh. Tentu saja Ken berucap seperti itu hanya bergurau saja.


“Apa-apaan, amit-amit deh. Mana ada Zy terpesona sama Om-Om, kaya gak ada pria lain di luar sana!” sahut Mizzy ketus.


Ken hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu.


“Tahu gak, Zy?” tanya Ken.


“Gak tahu,” jawab Mizzy.


“Om belum selesai bicara, Mizzy!” tekanannya.


“Ya sudah lanjutkan,” sahutnya acuh.

__ADS_1


“Kamu itu sangat mirip sama mendiang Aunty kamu, Zalleta. Tengil, menyebalkan, cerewet, kadang bikin kesel, kadang bikin senyum-senyum sendiri ... ” Ken menggantung ucapan. Ia baru sadar, kenapa ia berkata seperti itu pada Mizzy?


“Katanya memang begitu, Mommy, Papi, Oma dan Opa, sama selalu bilang kalau Zy mirip Aunty Zalleta. Berarti emang bener ya?”


“Iya sikapnya aja, kalau cantiknya beda, lebih cantik dia,” jawab Ken.


“Yey, kalau itu mah Zy tahu! Di poto aja Aunty Zalleta sangat cantik, apa lagi aslinya. Sayang benget Aunty capat pergi, jadi Zy gak bisa melihat sacara langsung,” ujar Mizzy suaranya terdengar lesu.


“Ya kamu benar, Zalleta terlalu capat pergi. Itulah mengapa sampai saat ini Om tidak bisa berpaling darinya, dia memang sudah tidak ada bersama kita, tapi dia masih bertahta di hati Om, sangat sulit mencari penggantinya, dia seperti pelangi, Om harus dengan sabar menunggunya, setalah di hadir mewarnai hati ini, dia pergi,” ucap Ken, ia tersenyum samar.


Jika mengingat hal itu, Ken merasa hidup ini terasa tidak adil baginya.


“Itu semua sudah takdir Om, kematian itu rahasia Tuhan, jadi gak ada yang tahu. Tapi sekarang aku paham, sebenernya Om itu bukan Dulap, tapi Duber!”


“Hah Duber?”


“Iya, DUDA BERLEBIHAN! Dalam hal apa pun Om itu terlalu berlebihan tahu gak! Harusnya, apa pun itu sewajarnya, mencintai sewajarnya, menyayangi sewajarnya, bahagia sewajarnya, bersedih pun harus sewajarnya, harus seusai dengan porsinya masing-masing, ingat yang berlebih itu gak baik! Ya, Zy sih bukan maksud mau menceramahi Om, tapi ini fakta. Makan aja ada aturannya, apa lagi kehidupan. Matahari aja akan tenggelam pada waktunya, terus Om mau kaya gini aja gitu?”


“Ingat Bos, kita itu gak bisa mengulang waktu, ini ujian kehidupan, bukan ujian pelajaran, kalau gagal bisa remedial,” lanjutnya.


Tumben sekali gadis itu bijak. Sementara Ken terlihat mengangguk-angguk kepalanya. Memang benar, tapi tidak semudah itu baginya. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan Zalleta.


“Lantas Om harus gimana dong?” tanya Ken.


“Ya mikir aja gimana baiknya. Hidup itu harus dinikmati Om, emang Om mau kaya gini? Hidup sendirian, di selimuti rasa kesepian, sangat memperihatinkan,” ungkap Mizzy penuh drama.


“Apa Om harus melupakan Zalleta?”


“Ya enggak juga, heran deh, udah Om-Om kok lemot? Aunty Zalleta itu tidak akan pernah bisa dilupakan dan tidak pernah bisa digantikan. Maksud Zy itu ... ah tahu ah, pusing kalau ngomong sama Om-Om gak paham-paham!” kesalnya.


Gimana Mizzy tidak kesal, harusnya Ken bisa mengerti ucapan Mizzy, Mizzy itu berucap dengan kata istilahnya, gitu. Tapi Ken seperti menanggapi dengan berbelit-belit. Terkesan tidak paham.


Sebenernya Ken paham, hanya saja ia memang sengaja, jarang-jarang sebenernya gadis itu bisa diajar bicara dengan serius seperti ini. Tapi ujung-ujungnya ambyar!


‘Apakah ini saatnya aku harus membuka hatiku untuk orang lain? Apakah aku bisa?’ batinnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2