Sketsa Cinta Tuan Kendra

Sketsa Cinta Tuan Kendra
Nongkrong


__ADS_3

Hari-hari pun terus berlalu, sudah dua hampir satu bulan Mizzy masuk berkuliah di sana.


Siapa hari di sela-sela kesibukannya, Ken selalu mengantar jemput keponakan itu, sesibuk apa pun dia, dia akan menunda pekerjaan jika belum memastikan gadis itu pulang dengan selamat ke apartemennya.


Mizzy sendiri sebenernya merasa sedikit jengkel, sikap Om itu sangat berlebihan menurutnya. Setiap waktu Mizzy harus memberikan kabar pada Ken, dimana, sedang apa, apa pun itu harus. Jika tidak, Mizzy akan terus di teror oleh Om-nya itu, terornya pun bukan main-main, Mizzy seperti orang yang sedang ditagih Debt Collector Pinjol. Benar-benar menyebalkan!


Mizzy terlihat baru saja keluar dari kelasnya, mata pelajaran hari ini sudah selesai. Dan kebetulan tidak ada kelas lagi.


“Zy, nongkrong di cafe sebrang yu," ajak temannya yang bernama Gisel.


Mereka memang belum mengenal lama tapi mereka sudah sangat akrab, dan kebetulan Gisel berasal dari negara yang sama dengan Mizzy.


“Gak bisa, aku harus pulang. Tau sendirikan gimana Om Ken, dia pasti keluar tanduknya kalau tahu aku nongkrong begitu,” tolak Mizzy, wajahnya terlihat di tekuk.


Sebenernya Mizzy mau, tapi ia berpikir ulang. Malas jika harus berdebat dengan si Om Dulap-nya itu.


“Yaelah, ya jangan sampe tahu dia tahu dong. Lagian ini masih siang, Om kamu juga pasti gak akan tahu dia sibuk kerja pastinya. Ayolah Zy, seru tahu, Cafe sebrang itu hits banget, anak-anak kampus di sini nongkrong di sana, sekalian cuci mata, ayolah,” bujuk Gisel.


Mizzy terlihat berpikir sejenak, kalau dipikir-pikir ya Om-nya pasti sekarang masih kerja juga. Mizzy biasa pulang kampus sore.


Lagian Mizzy belum bilang kalau hari ini hanya satu mata pelajaran saja.


“Udah jangan mikir terus, kali-kali Zy, mumpung gak ada kelas, lagian mau ngapain coba kamu pulang, gak ada kegiatan jugakan? Paling semedi di kamar!”


“Oke deh, tapi gak lama ya," ucap Mizzy. Akhirnya menyetujui.


“Nah gitu dong, ayo kita meluncur.” Gisel menarik tangan Mizzy, mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir.


Menggunakan mobil milik Gisel, mereka pun langsung menuju ke Cafe tersebut.


Benar saja sesampainya di sana, suasana cafe tersebut terlihat sangat ramai, banyak juga teman sekelasnya Mizzy yang ada di sana.

__ADS_1


“Mizzy, Gisel, sini gabung,” teriak seorang pria, pria itu bernama Gibran, dia adalah teman sekelas mereka.


Kedua gadis itu pun langsung menghampiri Gibran yang terlihat bersama teman-temannya juga.


“Tumben sekali kamu ke sini, Zy?” tanya Gibran basa-basi. Sebenernya semenjak melihat Mizzy, pemuda itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.Tapi pria tampan itu hanya tidak punya nyali untuk mendekatinya. Namun, secara diam-diam ia selalu memperhatikan Mizzy.


“Iya nih, Gisel yang ajak aku ke sini. Ternyata di sini rame juga ya,” jawab Mizzy sambil tersenyum.


“Ini sih belum rame, malam lebih rame lagi,” sahut salah satu temannya Gibran, yang bernama Yosep.


“Benarkah, ah aku memang kudet ya.”


“Makanya kali-kali main ke sini kalau malam-malam, dijamin ketagihan,” ucap pria itu lagi.


Setalah itu mereka pun mengobrol asik panjang lebar. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Mizzy masih terlihat asik, mungkin kerena salama ini ia jarang sekali keluar selama di sana, jadi sedikit lupa waktu.


“Mau pesan wine?” tanya Gibran. Gibran memang asli orang negara sana jadi minuman beralkohol itu sudah biasa bagi mereka.


Mizzy hanya tersenyum. Tapi ia tidak berniat untuk mencobanya, hanya menghargai saja mereka.


Temen-temennya terlihat tengah menikmati wine tersebut. Mizzy masih teguh dalam pendiriannya, ia tidak akan meminum beralkohol tersebut, walaupun berulang kali ia di tawari oleh mereka, tapi ia berusaha menolaknya dengan halus.


“Kamu yakin gak minum?” tanya Gibran.


“Enggak, aku tidak suka dan tidak pernah mencobanya juga,” jawab Mizzy.


“Kamu rasain deh, Zy. Enak tahu, semua beban terasa lepas,” ucap Gisel dengan suara yang sudah terdengar berat. Entah berapa gelas yang suda gadis itu minum.


Melihat mereka meminumnya sih, terlihat sangat enak, apa lagi setalah meminumnya Mizzy melihat senyuman mereka itu seperti tanpa beban.


“Mau coba?” tanya Gibran.

__ADS_1


Mizzy menelan silivanya, ia merasa penasaran dengan rasanya.


“Sedikit tidak akan membuat kamu mabuk,” ucap Gibran seraya memberikan satu gelas kecil wine tersebut pada Mizzy.


Dengan ragu Mizzy pun menerimanya, ia mencium terlebih dahulu wine tersebut, baunya sangat menyengat dan tidak enak.


“Yaelah tinggal teguk Mizzy, baunya emang gitu tapi pas di minum sensasinya ah mantap,” ucap Gisel.


Mizzy pun memberikan diri untuk meneguknya, rasanya memang aneh, tapi kalau dirasa-rasa menarik juga.


“Gimana?” tanya Gisel.


“Tidak buruk," jawab Mizzy.


Terlihat teman-temannya itu tersenyum dengan tingkah Mizzy.


“Aku mau lagi,” pintanya.


“Apa kamu yakin?” tanya Gibran.


Mizzy langsung mengangguk kepalanya sambil tersenyum. Gibran pun menuangkan kembali wine tersebut ke galas Mizzy.


Mizzy langsung meneguknya hingga tandas.


Namun tiba-tiba saja seorang pria dengan wajah yang penuh amarah menghampiri mereka.


“Ayo pulang!" Pria itu langsung menarik tangan Mizzy dengan kasar.


Bersambung ...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2