Sketsa Cinta Tuan Kendra

Sketsa Cinta Tuan Kendra
Aku Benci Om Ken!


__ADS_3

Mizzy baru saja terbangun dari tidurnya, saat ia membuka mata, ia melihat ke sekeliling ruangan tersebut.


“Dimana aku?” gumamnya.


Detik kemudian Mizzy teringat, ternyata sekarang ia sudah berada di dalam kamarnya.


Mizzy mencoba beranjak dari tempat tidurnya, kepalanya terasa sangat berat.


Berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi, Mizzy membasuh wajahnya. Ia mantap pantulan dirinya di depan cermin yang ada di kamar mandi tersebut.


Air mata gadis itu lalu mengalir begitu saja, saat melihat banyaknya tanda merah yang ada di lehernya serta di bagian dadanya.


“Om Ken jatah, aku benci Om Ken!” teriaknya sambil menggosok-gosokkan tanda merah tersebut, berharap bekas tanda kepemilikan Ken akan memudar dari sana, tanya nyata, tidak bisa.


“Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa sudah kotor, aku sudah hancur!” teriaknya lagi namun kini terdengar lirih.


Mizzy menyalakan shower lalu ia menguyur tubuhnya di bawah air shower tersebut.


“Papi, Mommy, Oma, Opa, maafin Zy, Zy sudah mengecewakan kalian semua,” lirihnya sambil terisak tangis. Air matanya terus mengalir bersama dengan air shower tersebut.


Setalah apa yang terjadi padanya kini, Mizzy tidak tahu seperti apa? Akankah semuanya baik-baik saja, tentunya tidak bukan?


...****************...


Sementara itu, Ken terlihat sangat gelisah. Sajak tadi ia terus berjalan mondar-mandir di kamarnya.


Pikirnya benar-benar tidak tenang, tapi ia tidak tahu harus melakukan apa. Barusan ia mendapatkan kabar dari Tante Sandra, jika Papa Smith masuk rumah sakit, Ken bertanya kenapa, namun Tante Sandra tidak tahu.


Tante Sandra mengabari Ken sambil mengajak Ken, Tante Sandra mengatakan jika besok ia akan pulang untuk melihat kondisi kakaknya, Tuan Smith.

__ADS_1


Tante Sandra juga mengajaknya Ken pulang, akan tetapi Ken belum memberikan jawaban. Jelas ia bingung, jika ia pulang, apa tidak apa-apa? Tapi, jika tidak pulang, Ken sangat mengkhawatirkan Papa mertuanya itu.


“Argh!" teriak Ken.


Ia benar-benar kesal, kesal pada dirinya sendiri, mengapa semuanya jadi seperti ini.


“Apa jangan-jangan Papa sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Mizzy, dan Papa langsung masuk rumah sakit gara-gara hal ini? Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” pikir Kendra.


Sungguh Ken sangat menyesali semuanya, andai saja ia bisa mengontrol semuanya, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Ken benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka, saat tahu hal ini. Apa mungkin mereka akan membencinya?


Tapi bukankah ini semua bukan sepenuhnya salah Ken? Ken juga tidak pernah berniat melakukan hal ini, ya walaupun ia akui selama Mizzy tinggal bersamanya, gadis itu seperti menguji keimanan Ken.


Dan satu lagi, ada hal yang membuat Ken merasa menyesal dan merasa sangat-sangat bersalah, ia merasa sudah berkhianat pada mendiang istrinya, yaitu Zellata.


Di sana pasti Zalleta sangat kecewa padanya.


“Tidak! aku tidak boleh jadi pengecut seperti ini, aku harus bertanggung jawab, aku harus menyelesaikan masalah ini, terserah nanti bagaimana jadinya. Aku tidak mungkin berdiam diri seperti ini terus!”


Keputusannya sudah bulat, Ken memutuskan untuk segara pulang, ia sudah pasrah jika memang nantinya mereka akan membencinya, namun Ken tidak akan melepaskan Mizzy, ia akan merasa sangat berdosa jika tidak bertanggung jawab atas perbuatannya itu.


Ken pun segara berkemas, hari ini juga ia akan akan berangkat. Ia tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, bahkan satu jam pun tidak bisa.


...****************...


Tiara, Teo dan Mamah Henzy terlihat tengah mengobrol dengan Papa Smith yang sudah siuman.


Syukurlah kondisi pria senja itu sudah lebih baik, bahkan sudah bisa bercanda tawa lagi.


“Oh iya Teo, gimana keadaan cucuku di sana?” tanya sang Papa.

__ADS_1


Sejak tadi Teo memang belum membahas tentang Mizzy.


“Oh Mizzy ... ” belum saja Teo menyelesaikan ucapannya.


Tiba-tiba saja ponsel milik Tiara berbunyi. Tiara pun langsung mengambil ponselnya.


“Siapa yang telepon sayang?” tanya Teo.


“Ini dari telepon rumah kita, Mas. Sebentar aku angkat dulu,” jawab Tiara. Lalu ia pun mengangkat telepon tersebut.


Mendengar kata rumah, perasan Teo menjadi tidak enak. ‘Ya Tuhan, Mizzy, semoga dia baik-baik saja,' batin Teo.


“Hallo, iya Mbak ada apa?” tanya Tiara mengangkat telepon tersebut.


“ .... ”


“Apa?”


“ ... ”


“Saya akan pulang sekarang.”


Tiara langsung mematikan sambungan telepon tersebut, raut wajah wanita itu terlihat sangat panik dan penuh kekhawatiran.


“Ada apa, Ra?” tanya Mamah Henzy.


“Mas kenapa kamu gak bilang Mizzy ikut sama kamu pulang? Kita harus pulang sekarang, Mas. Kata Mbak, Mizzy pingsan di kamar mandi,” ucap Tiara pada Teo.


“Apa?” ucap Teo dan kedua orang tuanya itu serentak.

__ADS_1


Bersambung ...


JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA YA, TERIMA KASIH.


__ADS_2