
Teo membulat matanya saat melihat putri kesayangannya itu tidur dipelukan pria yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Tak bisa berkata-kata, berkali-kali Teo memejamkan matanya, berharap jika semua yang ia lihat ini adalah tidak benar, berharap semua ini hanyalah mimpi, tapi berkali-kali juga kenyataannya menyadarkannya. Bukan! ini semua bukanlah mimpi, ini semua nyata.
Deg!
Lagi dan lagi detak jantungnya terasa ingin berhenti, rasa sesak di dadanya begitu membara. Apa yang sebenernya terjadi? Mengapa jadi seperti ini?
Semoga keduanya hanya tidur bersama saja dan tidak melakukan apa-apa, harap Teo dalam hatinya. Teo memang melihat Mizzy tidur di peluk Ken dengan balutan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua, hanya kepala mereka saja yang terlihat.
“Tidak! Ken tidak mungkin melakukan semua ini, aku harus berpikir positif, mungkin Mizzy takut atau bagaimana, jadi Ken menemainya tidur, mereka pasti tidak akan melakukan hal yang lebih, aku harus percaya pada Ken, dia tidak mungkin mengecewakan aku, bukankah dia sudah menganggapnya Mizzy sebagai putrinya juga, anggaplah jika Ken menemai Mizzy tidur, sama jika aku yang menamainya, dia menyayangi Mizzy sama seperti aku, sebagai anakknya,” gumam Toe.
Pria itu mencoba tetap berpikiran positif, walaupun padanya nyata, semua itu merasa tidak pantas, Mizzy sudah dewasa diusianya yang saat ini. Bahkan Teo sendiri terakhir menemani putrinya itu tidur, saat Mizzy berusia 8 tahun, 10 tahun yang lalu.
Tapi kembali lagi, Ken adalah keluarganya. Tidak mungkin dia berani macam-macam pada Mizzy, pikir Teo.
Berulang kali Teo menghelai napasnya, mencoba menenangkan dirinya. Setalah merasa lebih baik, ia pun membuka pintu kamar tersebut dengan lebar, dan menimbulkan bunyi.
Brak!
Ken yang tertidur tersentak saat mendengar bunyi pintu yang cukup kerasa itu. Pria itu membuka matanya. Dan ...
Deg!
Ken terkejut saat melihat menyadari dirinya tidur bersama dengan Mizzy, serta ada yang lebih mengejutkan lagi, saat Ken melihat Teo ada di sana.
Teo terdiam, ia menatap Ken penuh tanya. Sorot matanya menatap Ken meminta penjelasan.
“A-aku bi-bisa jelaskan semuanya,” ucap Ken, ia melepaskannya Mizzy dari pelukannya.
Sontak membuat selimut yang menutupi tubuh mereka pun tersingkab sedikit. Teo melihat bagian atas tubuh Ken tidak memakai baju.
Teo langsung berjalan mendekati Ken, terlihat di sebrang sana pakaian mereka berdua berceceran di atas lantai. Posisi ranjang di kamar itu memang berada di tengah-tengah, jadi tadi Teo tidak melihat pakaian tersebut, kerena posisinya di sebrang, terhalang oleh ranjangnya posisi Teo yang masih di ambang pintu tadi, jelas tidak akan melihatnya.
“Bedebah!” pekik Teo, dengan tangan yang mengepal sempurna. Terkejut? Tentu saja.
Tidak mungkin mereka tidak melakukan apa-apa, di kamar berdua, tidur saling berpelukan, baju berceceran di lantai. Jelas, pikirnya positif Teo tadi pada Ken lenyap begitu saja.
“A-aku bisa jelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” ucap Ken, mencoba membela dirinya.
Jelas, Ken pun merasa bingung dengan yang terjadi, kenapa Mizzy tidur bersamanya? Ken kira tadi ia sedang bermimpi berhubungan intim dengan Zalleta. Apa jangan-jangan yang ia setubuhi itu adalah Mizzy? Tidak ini tidak mungkin!
“Pakai bajumu, aku ingin bicara dengan kamu, bangunkan juga Mizzy!” titah tegas Teo. Setalah itu Teo langsung bergegas keluar dari kamar tersebut.
Dengan dada yang bergemuruh, Teo mencoba menahan amarahnya, sejatinya kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, walaupun sebenernya ia ingin sekali menghajar Ken, jika membunuh itu tidak dosa, maka Teo pasti sudah mengambil Kendra.
Teo langsung menuju ruang tamu yang ada di apartemen tersebut, berulang kali ia mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya dengan kasar. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa Ken tega melakukan semua ini pada Mizzy? Lantas, apa yang akan Teo katakan nanti pada Tiara? Apakah perasan gelisah istri itu adalah sebuah pertanda?
“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa semuanya jadi seperti ini?” gumamnya.
Jika tahu akan seperti ini, Teo tidak akan membiarkan Mizzy tinggal bersama Ken, ia benar-benar merasa kecewa pada Ken, padahal Toe dan Tiara sangat percaya padanya, kenapa Ken berani berbuat seperti itu pada putrinya?
Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan bubur tidak mungkin kembali menjadi beras. Apa harus Teo meminta Ken untuk menikah Mizzy? Tapi, usia mereka berpaut jauh, apa kata orang nanti? Tak peduli kata orang, tapi bagaimana dengan Tiara, Mamah dan Papanya, apa mungkin mereka menyetujui ini semua?
Usai Mizzy juga masih muda, baru 18 tahun, apa mungkin putrinya itu sanggup menjalani ikatan pernikahan?
Sementara itu Ken langsung beranjak dari ranjang, ia segara memakai pakaiannya. Ken masih bingung apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun mencoba mengingat-ingatnya kembali.
Selepas pulang kantor, Ken seperti biasa menjemput Mizzy, akan tetapi Mizzy tidak ada di kampus, Ken juga menanyakan pada orang-orang di sana, adakah yang melihat gadis itu. Namun, mereka bilang tidak tahu. Lalu Ken bertemu dengan salah satu teman sejurusan gadis itu, yang bernama Hana.
Kata gadis itu, Mizzy tadi pergi bersama Gisel, dari siang hari, memang sudah tidak ada kelas lagi, namun Hana tidak tahu Mizzy dan Gisel pergi kemana.
Ken pun mencari Mizzy, tapi tak di temukan juga. Hingga Ken kembali lagi ke kampus, ada salah satu mahasiswa yang mengatakan mungkin Mizzy dan Gisel pergi ke Cafe tempat nongkrong anak-anak kampus di sana.
__ADS_1
Ken meminta alamat cafe tersebut, dan bener saja Mizzy ada di sana, yang membuat Ken terkejut dan marah adalah gadis itu sedang menikmati minuman beralkohol bersama teman-temannya.
Lalu Ken teringat saat mereka sudah tiba di apartemen, Ken yang marah pada Mizzy sengaja bersikap dingin, tapi pada saat itu Mizzy tiba-tiba mendekatinya dengan agresif. Dan tanpa sadar Ken malah terbawa arus, saat itu yang ada penglihatan Ken Mizzy seperti Zalleta. Ken kira semua itu hanyalah mimpi, kerena ia sangat merindukan Zalleta.
Tapi kenyataannya?
“Tidak mungkin! tidak mungkin aku sudah melakukan semua itu pada Mizzy,” gumam Ken.
Ia pun perlahan mendekati Mizzy, ingin memastikan pastikan, dan berharap jika semua ini adalah mimpi.
Walaupun pada kenyataannya, semua itu tidak mungkin mimpi, jelas Ken melihat pakaian gadis itu berserakan di lantai kamar tersebut.
Dengan hati-hati Ken menyingkapkan selimut yang masih menutupi tubuh gadis itu, leher jenjang Mizzy terlihat tanda-tanda mereka bekas kepemilikannnya.
“Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?” lirih Ken, jelas ia sangat menyesali semuanya. Semua ini tak pernah terduga, tidak pernah terpikirkan oleh Ken sebelumnya. Walaupun pernah beberapa kali pusaka tergoda oleh kemolekan tubuh gadis itu. Tapi, Ken sadar. Mizzy adalah keponakannya, walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali.
Ken sungguh menyesali semua, bagaimana ia menjelaskan semua ini pada Teo, bahkan Teo melihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Berarti semua ini nyata? Kenapa aku bodoh? kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri, jelas Zalleta sudah tiada, tidak mungkin aku melakukan hal itu dengannya, ternyata aku melakukan semua ini dengan Mizzy, ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini?” lirih Ken. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
“Zy, Mizzy, bangunlah ... ” Ken mencoba membangunkan gadis itu.
Mizzy terlihat langsung menggeliat, “apaan sih Om, aku masih ngantuk,” sahutnya dengan suara berat. Seperti Mizzy belum sadar apa yang sudah terjadi.
“Zy, bangunlah, cepat pakai bajumu, ada Papi kamu,” ucap Ken lagi.
Sontak Mizzy pun langsung membuka matanya, senyuman di bibir gadis itu terlihat merekah. “Beneran ada Papi, Om?” tanyanya antusias.
Ken hanya tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya pelan. Mizzy belum menyadari semuanya, Ken tidak tahu, apakah setalah gadis itu sadar dengan semua yang sudah terjadi, apakah mungkin Ken bisa melihat senyumannya lagi? Mizzy pasti akan membenci Ken kerena ia sudah merenggut mahkota gadis itu.
Mizzy pun perlahan bangun, ia merasa tubuhnya terasa sakit semua, belum lagi di area sensitifnya, terasa sangat perih.
Mizzy membulatkan matanya terkejut, saat ia menyadari sesuatu, kenapa ia tidak memakai baju?
“Om Ken keluar sana,” usirnya. Ken pun langsung mengangguk dan keluar dari sana.
sepolos itukah seorang Mizzy?
Setalah Ken keluar dari kamar tersebut, Mizzy pun menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya itu.
“Apa ini, kenapa merah-merah begini?” tanyanya pada diri sendiri.
Mizzy menggosok-gosok tanda merah yang ada di bagian dadanya itu, tapi sangat sulit dihilangkan.
Ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi padanya, beberapa detik kemudian Mizzy teringat sesuatu, semalam ia mabuk dan bertingkah sangat agresif pada Om-nya.
Apa mungkin sudah terjadi sesuatu antara dirinya dan Ken? Apa mungkin mereka melakukan hal yang terlarang.
“Hah, darah?” Mizzy terkejut, sepolos-polosnya Mizzy, jelas dia tidak bodoh, tanda merah di beberapa bagian tubuhnya, lalu dan bercak darah di seprainya, bangun tanpa sehelai benang pun.
“A-apa a-aku dan Ken sudah melakukan ... ” Mizzy tak sanggup meneruskan ucapannya.
Tanpa aba-aba air matanya langsung mengalir deras dari pelupuk matanya itu.
“Papi, bukankah Om Ken bilang Papi ada di sini? Apa mungkin Papi melihat semuanya?
Mizzy pun dengan cepat memakai semuanya pakaiannya, dengan pelan ia turun dari ranjang tersebut, lalu berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya serta rasa perih diarea sensitifnya.
Sementara itu Ken, kini sudah duduk di sofa berhadapan dengan Teo. Ken tak menundukkan kepalanya, rasanya ia tidak sanggup menatap Teo, yakin dia pasti sangat kecewa padanya. Tapi, Ken sudah pasrah, sekali pun Teo akan membunuhnya, karena ia mengakui jika dirinya salah. Harusnya ia bisa mengontrol dirinya, bukan malah menikmati semuanya.
“Cepat jelaskan!” pinta Teo, suaranya terdengar penuh penekanan, dan raut wajahnya terlihat sangat mengerikan.
“Maaf, aku tahu aku salah, tapi aku benar-benar tidak berniat melakukan itu semua,” ucap Ken, mencoba menjelaskan itu semua.
__ADS_1
Ken menjelaskan semuanya secara rinci, mulai ia yang mencari Mizzy yang pergi entah kemana, lalu menemukan gadis itu sedang mengonsumsi minuman keras bersama teman-temannya.
Teo yang menyimak terlihat mengusap wajahnya kasar. Memang sepenuhnya bukan salah Ken juga, kalau di pikir dengan matang-matang.
“Aku tidak tahu dari mabuk atau bagaimana, tapi aku rasa dia bukan mabuk, seperti di beri obat perangsang. Aku tahu seharusnya aku menghentikannya, bukan malah menikmatinya, tapi saat aku melakukan semua ini, yang ada di banyangkan itu adalah Zalleta, bukan Mizzy,” lanjut Ken usai menyelesaikan penjelasan itu pada Toe.
“Zalleta? Apa kau gila Kendra, istri mu itu sudah tiada! harusnya kau berpikir kesana!” bentak Teo.
“Ya aku tahu, aku kira aku sedang bermimpi saat aku melakukan semua itu dengan Mizzy, Mizzy sangat mirip dengan Zalleta, aku melihat bayangan Zalleta di sana,” ucap Ken lirih.
“Jadi kamu menganggap jika Mizzy itu adalah Zalleta hah?” tanya Teo dengan nada yang tinggi.
Jelas ia emosi, sudah merenggut mahkota putrinya, membayangkan Mizzy adalah Zalleta, di mana letak otak Kendra?
“Sekarang aku mengerti, jadi ini maksud kamu?”
“Apa maksudmu? Maksud apa?” tanya Ken yang tak paham dengan ucapan Teo barusan.
“Kau menjadi Mizzy sebagai sketsa cinta pada Zalleta, kau sangat kejam Kendra!”
“Ti-tidak, bukan begitu maksudku. Mizzy memang sangat mirip dengan Zalleta bukan? Tap ...”
“Iya benar, putriku sangat mirip dengan Zalleta, sehingga kamu menganggap kalau Mizzy adalah Zalleta! aku sangat kecewa pada kamu Kendra!” pungkas Teo memotong ucapan Kendra.
Mizzy yang berdiri tak jauh dari sana, terlihat membungkam mulutnya. Jelas ia mendengar semua percakapan antara Papi dan Om-nya itu.
Jadi benar, yang sudah merenggut mahkotanya itu adalah Om Kendra, Om-nya sendiri?
“Papi ... ” panggil Mizzy lirih, namun masih terdengar oleh Teo dan Ken.
Kedua pria itu pun langsung menoleh, Teo langsung bergegas menghampiri putrinya.
Mizzy langsung menghambur memeluk Papi-nya itu.
Teo tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa membalas pelukan putrinya yang kini memeluknya sambil menangis.
Walaupun Teo sudah mendengar penjelasan dari Ken, dan dapat disimpulkan jika Mizzy lah yang memulai semuanya. Tapi, tatap saja ia sangat terluka dan tidak terima putrinya jadi seperti ini.
“Zy, mau pulang, Pi,” ucap Mizzy di sela isakkan tangisnya itu.
Teo terdiam, ia tidak langsung menyahut. Apa mungkin bisa Teo membawa pulang Mizzy dengan kondisi seperti ini? Teo saja yang melihat ini semua hatinya terasa sangat hancur, lantas bagaimana nanti Tiara, wanita yang sudah melahirkan putrinya? Bukan hanya itu, bagaimana juga reaksi Om dan Opa-nya Mizzy, apa lagi Tuan Smith keadaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Selain itu Teo juga belum menemukan jalan keluar dari masalah ini. Tapi tidak mungkin juga Teo tetap membiarkan Mizzy di sini bersama Ken.
“Aku akan bertanggung jawab atas semuanya, aku akan menikah Mizzy,” ucap Ken tiba-tiba.
Ia sangat menyesali semuanya, ia juga tidak mau lari dari tanggung jawabnya. Maka dengan berat hati, Ken memutuskan untuk menikah Mizzy.
Sontak Teo pun terkejut dengan pernyataan Ken barusan.
“Tidak, aku tidak mau menikah dengan Om Kan, aku tidak mau! Aku bukan Aunty Zalleta aku Mizzy, aku belum siap menikahi, dan aku mau menikah pun dengan pria yang mencintai aku, bukan menjadikan aku bayangan masalalunya,” tolak Mizzy mentah-mentah.
“Pap, Zy mau pulang, Zy gak mau berada di sini, ayo Pap, Zy mau ketemu sama Mommy,” lanjut Mizzy pada Papi-nya.
“Baiklah, ayo kita pulang sekarang,” ajak Teo. Terpaksa ia menyetujuinya, kerena mau bagaimana lagi. Mengenai Tiara serta kedua orang tuanya nanti. Entahlah, lihat saja nanti.
Ken hanya bisa menandingi kepergian Mizzy dan Teo dengan nanar. Ken pun tidak tahu harus bagaimana ia sekarang?
Bersambung ...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1
KERENA KEMARIN GAK UPDATE, INI DOUBLE BAB YA. 2 BAB DIJADIKAN SATU.