
Teo membantu Mizzy mengemasi barang-barangnya, terlihat putri kesayangannya itu masih terisak tangis, apa yang terjadi saat ini pasti sangat berat untuknya.
Bahkan Teo pun tidak tahu harus bagaimana, bagaimana nanti ia menjelaskan pada istrinya, Oma dan Opa-nya Mizzy.
‘Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?’ batin Teo.
Bisa Teo menikahkan Mizzy dengan Ken, toh mereka tidak ada larangan untuk menikah, Ken sendiri juga sudah mengatakan akan bertanggung jawab. Akan tetapi, masih banyak hal yang harus dipertimbangkan lagi oleh Toe. Keluarga, tidak mungkin merestuinya, mungkin Tiara bisa ia bujuk, tapi Papa Smith dan Mamah Henzy, apakah mereka akan merestuinya? Jelas rasanya itu akan sangat sulit, dan satu lagi, Ken tidak mencintai Mizzy, pun sebaliknya Mizzy, tidak ada cinta diantara keduanya, semua ini memang kecelakaan.
Apa lagi Ken secara terang-terangan mengatakan kalau saat melakukan semua itu dengan Mizzy, dia membayangkan jika Mizzy adalah Zalleta. Ken hanya menjadikan Mizzy sebagai gambaran Zalleta, sketsa cintanya untuk Zalleta, tentu saja Teo tidak rela.
Ia ingin putrinya bahagia, menikah dengan orang yang benar-benar mencintainya, apa lagi perbedaan usia antara Ken dan Mizzy, itu seperti Ayah dan anak. Belum lagi kata orang-orang nanti, tidak mudah bukan untuk menikahkan mereka begitu saja? Itulah hal yang tengah di pertimbangkan oleh Teo.
“Sudah selesai?” tanya Teo pada putrinya.
“Sudah, Pap,” jawab Mizzy.
“Baiklah ayo kita pergi,” ajak Teo.
Mizzy hanya menganggukkan kepalanya, setalah itu mereka pun berlalu dari sana.
Teo mengambil alih koper yang di bawa oleh putrinya. Mereka berjalan keluar dari unit apartemen tersebut, tanpa sepatah katapun.
Ken terlihat menatap nanar kepergian mereka berdua. ‘Ya Tuhan harus bagaimana aku sekarang?’ batin Ken menjerit.
...****************...
“Pap, jangan ceritakan dulu semua ini pada Mommy, Oma dan Opa ya,” pinta Mizzy, mereka kini sudah berada dalam pesawat Zet pribadi milik keluarga Smith.
__ADS_1
“Itu tidak mungkin, Zy. Tanpa Papi tidak bicara pun, mereka pasti akan bertanya-tanya, lihatlah keadaan kamu saat ini, Nak,” sahut Teo.
Bukan tanpa alasan Teo menjawab seperti itu, logika saja, jika Teo tidak menceritakan semuanya pun, lagi istri dan orang tuanya akan bertanya, lihatlah kondisi Mizzy saat ini, leher jenjang putrinya saja banyak dipenuhi bekas kepemilikan Kendra.
Miris! Entah bagaimana Ken bisa seganas itu, bahkan Teo saja jika melakukan hubungan bersama istrinya, dia tidak pernah seperti itu, tidak pernah meninggalkan bekas kepemilikannnya sangat banyak seperti apa yang dilakukan Ken pada Mizzy.
Sebagai orang tua jelas Teo merasa sangat iba pada putrinya itu, usia Mizzy masih sangat muda, bagaimana masa depan putrinya, setalah ini? Dan ada satu hal lagi yang Teo pikirkan, tentang mental Mizzy, ada kecemasan tersendiri, takut putrinya mengalami trauma akibat perbuatan Ken tersebut.
“Zy takut Pap, bagaimana nanti dengan Mommy, Opa dan Oma, mereka pasti sangat terkejut,” lirihnya.
“Zy juga takut, bagaimana kalau orang luar sampe tahu masalah ini. Bagaimana masa depan Zy, Pap. Apakah menjadi Dokter hanya angan-angan saja bagi Zy?” lanjutnya.
Sakit rasanya hati Teo mendengar ucapan putrinya itu, ia marasa bersalah, ia merasa gagal menjadi seorang Ayah, dia gagal menjaga putrinya. Andai saja sejak awal Teo tidak menjanjikan Mizzy melanjutkan studinya di luar negeri, mungkin semuanya tidak akan seperti ini.
Teo tak bisa berkata-kata, ia langsung merangkul Mizzy dan memeluknya. Lagi-lagi tangis Mizzy pecah dipelukan Papi-nya.
“Zy takut, Pap, Zy takut ... ” lirihnya di sela isakkan tangisnya.
“Tenang Zy, jangan takut, semuanya pasti akan baik-baik saja. Ini bukan akhir dari segalanya, kamu pasti akan menjadi seorang Dokter, seperti yang kamu cita-cita sejak dulu.” Teo mencoba menyemangati putrinya, walaupun ia sendiri pun tidak yakin, tapi semoga semuanya benar akan baik-baik saja.
“Bagaimana kalau Zy hamil, Pap? Zy gak mau punya anak dulu, Zy masuk kecil, apa kata orang nanti, masa anak kecil sudah punya anak, hiks ... ” Mizzy menangis histeris. Ia tidak membayangkan jika semuanya itu terjadi.
Antara merasa sedih tapi juga merasa lucu saat Teo mendengar ucapan putrinya itu.
“Sudah jangan berpikir terlalu jauh, yakin saya semuanya akan baik-baik saja, Zy.”
Kerena kelelahan menangis, gadis kesayangannya Teo dan Tiara itu terlihat tertidur.
__ADS_1
Beberapa jam melakukan penerbangan, akhirnya mereka pun sampai. Teo langsung mengendong Mizzy, kerena putrinya masih tertidur, Teo tidak tega membangunkannya.
Teo memindahkan Mizzy ke dalam mobil, setalah itu mereka pun langsung melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah.
Kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka pun sampai, Mizzy masih belum bangun dari tidurnya, Teo pun kembali menggendong putrinya itu.
Keadaan rumah terlihat sangat sepi, Teo merasa heran, kemana orang-orang rumah? Tiara pun tidak terlihat di sana.
Setalah menidurkan Mizzy di kamar gadis itu. Teo pun langsung mencari keberadaan Tiara.
“Mbak, istri saya di mana?” tanya Teo pada salah satu asisten rumah tangganya.
“Non Tiara, ke rumah sakit, Tuan,” jawabnya.
“Ke rumah sakit?”
“Iya Tuan, Tuan besar tadi kondisinya drop dan langsung di bawa ke rumah sakit.”
“Apa, Papa di bawa ke rumah sakit?” Teo terlihat sangat terkejut. “Mbak, tolong jagain Mizzy, dia masih tidur di kamarnya, saya akan menyusul ke rumah sakit,” sambung Teo.
Art tersebut langsung menganggukkan kepalanya. Teo pun segara berlalu dari sana.
“Kenapa tidak ada yang memberitahu aku soal ini? Ya ampun, semoga Papa baik-baik saja, kenapa masalah datang bertubi-tubi seperti ini,” gumam Teo.
Bersambung ...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YA, TERIMA KASIH.
__ADS_1