Sketsa Cinta Tuan Kendra

Sketsa Cinta Tuan Kendra
Kondisi Tuan Smith


__ADS_3

Teo langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Ia terlihat sangat mencemaskan Papanya itu.


Hingga kurang lebih setengah jam, Teo pun sampai di rumah sakit tersebut, setalah mendapat informasi dimana sang Papa di rawat, Teo pun langsung bergegas ke ruangan tempat Tuan Smith di rawat.


...****************...


Tiara dan Mamah Henzy kini sudah berada di ruangan rawat VIP tempat Papa Smith di rawat.


Papa Smith baru saja tertidur, mungkin kerena efek obat yang beberapa saat lalu diminumnya.


“Ra, apa kamu sudah mengabari Teo?” tanya Mamah Henzy pada Tiara.


“Sudah Mah, tapi tidak ada balasan, Tiara telepon pun tidak diangkat,” jawab Tiara.


Sejak tadi memang Tiara sudah berusaha mengabari suaminya, tapi tidak ada balasan dari Teo, bahkan teleponnya pun tidak diangkat. Tiara pikir Teo mungkin sedang istirahat di sana, dan ponselnya biasa di silent.


“Ya sudah gak apa-apa, besok juga dia pulang kan, mungkin dia lagi sibuk.”


“Iya Mah, tapi Tiara coba telepon ke ponsel Mizzy pun sama, malam ponsel Mizzy gak aktif.”


“Kenapa ya? Kok perasaan Mamah gak enak, Ra,” ujar Mamah Henzy.


“Sudah Mah, jangan dipikirkan. Lebih baik kita fokus saja saat ini sama kesehatan Papa, biar dia cepat sembuh,” ucap Tiara.


Mamah Henzy hanya terlihat menghelai napas beratnya.


Tiara merasa menyesal atas ucapannya barusan, kenapa ia harus bilang jika Mizzy susah dihubungi, seharusnya dia berbohong sedikit, agar Mamah Henzy tenang.


‘Ah ceroboh kamu Tiara,’ batinnya.

__ADS_1


Sebenernya ia pun merasa sangat risau, Papa Mertuanya masuk rumah sakit, suaminya tidak ada kabar, Mizzy pun tidak bisa dihubungi. Tapi, ia tidak mau menampakkan hal itu pada Mamah mertuanya, takut Mamah Henzy kepikiran. Kasihan pikirnya, kerena jujur perasaan Tiara saat ini pun tidak enak.


‘Ya Tuhan semoga semuanya baik-baik saja,’ batin Tiara.


“Sekarang Mamah istirahat ya, jangan banyak pikiran, atau enggak Mamah pulang aja ya, biar Tiara suruh sopir buat jemput Mamah, biar Tiara yang jagain Papa di sini,” ucap Tiara lagi.


“Tidak usah, Ra. Mamah istirahat di sini saja, maaf ya, Ra. Mamah dan Papa ngerepotin kamu terus.”


“Mah, dengar, Mamah dan Papa itu orang tua aku, aku gak merasa direpotkan. Lebih baik Mamah pulang ya, biar Tiara yang jagain Papa, nanti badan Mamah sakit kalau tidur di sofa,” bujuk Tiara.


“Enggak Ra, gak apa-apa. Mamah gak tenang kalau ninggalin Papa di sini,” tolaknya.


“Baiklah. Tiara beli makanan dulu ya, Mamah belum makan jugakan. Mamah mau makan apa?”


“Apa saja terserah kamu, Ra. Jangan lama-lama ya, hati-hati juga,” pintanya.


“Iya, Mah.”


“Bagaimana kondisi Papa?” tanya Teo.


Ternyata yang membuka pintu tersebut adalah suami Tiara.


“Astaga, kamu bikin aku terkejut Mas. Kapan kamu pulang? Kondisi Papa sudah lebih baik, Mas,” jawab Tiara.


“Syukurlah." Teo merasa lega.


“Teo, akhirnya kamu datang juga, kamu sudah membaca pesan dari istri kamu. Kamu bikin cemas kita saja!” pungkas Mamahnya.


“Pesan?” Teo langsung menggelengkan kepalanya, “kapan kamu mengirimkan pesan sayang?” lanjutnya bertanya pada Tiara.

__ADS_1


“Loh, terus kamu tahu dari mana Papa di rawat di sini? Aku itu udah puluhan kali kirim pesan sama kamu Mas! aku telepon Mas pun gak diangkat-angkat, terus aku coba telepon Mizzy pun ponselnya tidak aktif,” papar Tiara.


Teo meraba-raba saku celananya dan Jasnya, mencari ponselnya, namun tidak ada. Bahkan ia tidak tahu ponselnya ia simpan di mana. Ah sudahlah, tidak penting masalah ponsel saat ini.


“Pasti Mas lupakan ponselnya di mana?” tebak Tiara.


Teo tersenyum kikuk. Tiara langsung mengeleng-gelengkan kepalanya, pantas saja tidak ada sahutan saat ia menghubungi suaminya.


“Ya sudah, aku mau beli makanan dulu, Mas udah makan belum? Aku sekalian beliin makanan aja ya,” ucap Tiara.


Teo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, setalah itu Tiara pun kembali melanjutkan langkahnya.


Sementara Teo ia berjalan menghampiri Mamahnya yang tengah duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


“Apa kata Dokter, Mah?” tanya Teo. Ia ingin tahu lebih detail mengenai kondisi Papahnya.


“Papa kamu mengalami penyakit komplikasi, Teo. Sudah menyerang ke jantungnya juga, Dokter menyarankan untuk segara melakukan operasi, tapi entahlah, Mamah takut,” jelas Mamahnya.


Teo langsung membawa sang Mamah ke dalam pelukannya. Mencoba menenangkan wanita yang sudah melahirkannya itu.


“Semuanya pasti baik-baik saja, Mah. Nanti Teo akan berbicara dengan Dokter, kita serahkan semuanya pada pihak medis, jika memang operasi itu demi kebaikan Papa, kita harus melakukannya, Mah,” ujar Teo.


Mamah Henzy hanya mengangguk pasrah.


‘Ya semoga semuanya baik-baik saja,’ batin Teo.


Entahlah, ia tidak tahu harus bagaimana, kondisi Papanya saat ini mengkhawatirkan, seperti Teo harus menyembunyikan dulu tentang yang terjadi pada Mizzy dan Ken.


Bersambung ...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YA, TERIMA KASIH.


__ADS_2