
Keesokan harinya, seperti biasanya. Ken hari ini kembali memulai aktifitas seperti biasanya. Pria itu kini terlihat sudah rapi dan tengah menikmati sarapan paginya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi waktu setempat, sejak tadi Ken belum melihat batang hidup keponakannya itu. Usai menghabiskan sarapan paginya, Ken pun memutuskan untuk menuju kamar Mizzy.
“Apa dia masih tidur?” gumamnya. Ken pun membuka pintu kamar yang ditempati oleh keponakannya itu.
Ken menggeleng-gelangkan kepalanya, benar saja Mizzy terlihat masih bersembunyi di balik selimut tebalnya itu.
Ken pun masuk ke dalam kamar tersebut, dibukanya tirai jendela kamar tersebut. Membuat cahaya matahari langsung menerobos masuk, dan tepat menyorot kearah Mizzy.
Gadis itu terusik, tubuhnya menggeliat, tanyanya terlihat mengucek matanya pelan.
“Mom, Zy masih ngantuk tahu!” ucapnya dengan suara beratnya khas orang bangun tidur.
Akan tetapi bukannya, langsung bangun. Gadis itu malah menarik kembali selimutnya sampai menutupi kepalanya.
Lagi-lagi Ken menggelengkan kepalanya. Heran, kenapa anak gadis susah sekali bangun? Ini pasti Kakaknya terlalu memanjakannya! pikir Kendra.
Padahal bukan seperti itu, Mizzy memang sangat sulit untuk bangun pagi.
“Benar-benar kebo!” gumam Ken.
Ken pun mendekati Mizzy yang bersembunyi di balik selimut tersebut, lalu ia menariknya dengan kuat, sehingga membuat Mizzy tersentak membuka matanya.
__ADS_1
“Om Ken!” teriak Mizzy, suaranya begitu menggema memenuhi kamar tersebut.
Refleks Ken menutup kedua telinganya itu dengan tangan. Mizzy terlihat kesal menatap Om-nya itu.
“Om mau berangkat kerja,” ujar Ken.
“Terus?” tanya Mizzy acuh dengan wajah yang ditekuk sudah seperti kanebo kering.
“Ya kamu bangun! lihat ini udah jam berapa! Anak gadis itu harus bangun pagi-pagi, Mizzy!”
“Om Ken menyebalkan!” ketus Mizzy sambil beranjak dari tempat tidurnya itu.
“Astaga Zy, apa yang kamu lakukan?” teriak Ken sambil menutup matanya.
“Apaan sih? Gak jelas! emangnya Zy ngapain? Bukannya tadi di suruh bangun, ini Zy mau ke kamar mandi, mau mandi, emangnya ada yang salah?” cerca gadis itu. Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Om Dulap-nya itu.
“Itu kamu tidur memang seperti itu?” tanya Ken, tangannya masih menutupi wajahnya.
“Lah emangnya gimana? Apaan sih gak jelas deh!” Lama-lama Mizzy semakin bingung, plus kesal juga.
Memangnya ada yang salah dengan cara tidurnya?
“Itu kamu tidur gak pake kacamata?” tanya Ken.
__ADS_1
Hah, kacamata? Sontak Mizzy yang tadi kesal dan bingung jadi tertawa.
“Haha, ya kali. Masa iya tidur pake kacamata. Buat apaan, kurang kerjaan?” gelaknya.
“Bukan kacamata itu, Mizzy! Tapi kacamata dadamu!” geram Ken, menahan emosinya.
Ya itulah sebabnya kenapa Ken tadi langsung menutup matanya, saat Mizzy bangun, sekilas Ken melihat gundukan kembar gadis itu, apa lagi piyama yang gadis itu gunakan, bahanya sedikit menerawang.
“Astaga! aku kira kacamata apaan!” Mizzy langsung menghentikan tawanya, ia cukup terkejut, tangan refleks menutupi area dadanya itu.
‘Ya ampun, apa jangan-jangan Om Ken tadi lihat ya? Ah lancang sekali dia, ah aku juga kena sampai seceroboh ini sih!’ lanjutnya dalam hati.
Tapi menang sudah kebiasaan Mizzy, jika tidur ia tidak pernah memakai daleman. Tentu saja semua itu ia lakukan untuk menjaga kedua aset berharganya itu.
“Sana capat mandi, Om tunggu diluar!” titah Ken. Dengan mata yang masih ditutup itu, Ken membalikkan badannya, menurunkan tangannya lalu menghelai napas leganya. Ken pun berlalu keluar dari kamar tersebut.
‘Benar-benar, bikin sport jantung!’ batin Ken.
Sial, kenapa ia sekarang merasa gelisah tak karuan? Normal, tapi terasa gila.
“Sadar Kendra, sadar!” gerutunya.
Bersambung ...
__ADS_1