
Saat perjalanan, nametag pin gadis itu terjatuh. Terlihat namanya adalah Jesseline Claudie.
"Jesseline Claudie?" Ucap Riana
"Simpan dulu nametag itu, kota ikuti mereka dulu" Ucap Verro
"Mana bisa Ver, kita udah kaya hantu kemana mana tembus" Ucap Erza
"Duh lupa, inget inget namanya aja, udah yukk" Ucap Verro
Verro, Riana, Dan Erza menuruni anak tangga yang terus menurun. Setelah menyusuri anak tangga setapak yang berbelok belok, sampailah pada satu ruangan yang luaas sekali, terletak paling bawah ruangan itu.
Terlihat ramai sekali orang disitu, dan mereka terlihat sedang melakukan sebuah ritual persembahan.
"Ver, ritual?" Tanya Erza berbisik dijawab dengan anggukan oleh Verro
"Kemungkinan besar ini ritual penumbalan" Jawab Verro
"Jadi gadis yang tadi...?" Ucap Riana terpotong karena mendengar suara teriakan
"AAAAAARRRGGHHH, TOLOOONGGG"
"Ga-ga-gadis i-itu masih hidup? Ucap Erza
"Mereka tidak benar bernar membunuhnya, sepertinya mereka akan menyiksanya" Ucap Verro
Gadis itu di ikat di sebuah tiang kayu yang besar dan tinggi dalam keadaan tanpa pakaian. Para orang orang disana memakai jubah serba hitam, dan terlihat seperti akan memulai ritual
Tiba tiba terdengar suara tertawa yang begitu besar dan keras
"HAHAHAHAHA, HUAAAHAHAHAHAH, MANA YANG KALIAN JANJIKAN PADAKU?"
Barang barang mulai berjatuhan, banyak juga orang orang yang terpental. Sementara itu gadis yang diikat itu mulai berontak dengan suara teriakan yang tak terlalu keras dan air mata yang terus mengalir, gadis itu sudah mulai lemas dan melemah, darah terus menetes dari tubuhnya.
Lalu kemudian gadis itu berteriak sangat kencang, orang orang disekitarnya berlari menjauh, kemudian kayu yang digunakan untuk mengikat hadis itu terbang keatas lalu terjatuh seperti di banting.
"GUBRRAAKKK!" Suara kayu terjatuh, kayu itu patah menjadi dua bagian, gadis itu diam tak bergerak, mungkin dia telah tiada.
Verro, Riana, Dan Erza syok, tak berani melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Orang orang yang ada disana bersujud, kemudian 3 orang yang mengejar Gadis itu tadi berdiri, membunuh gadis itu dengan sebuah pisau dan memastikannya sampai benar-benar mati.
__ADS_1
Kemudian ada orang lain yang datang membawa wadah seperti ember, darah gadis itu di keluarkan dan ditampung dalam wadah.
"Ver, buat apa?" Tanya Erza yang mulai berkeringat dingin
"Jika ucapan ku benar mereka akan meminum dan mempersembahkan darah gadis itu kepada jin yang mereka sembah untuk ritual ini" Ucap Verro lirih
Ternyata ucapan Verro benar terjadi, setiap orang yang mengikuti ritual ini harus meminum darah gadis yang dijadikan tumbal.
"Benar benar tidak berperikemanusiaan" Ucap Riana sambil menutup mata
"Mungkin ini biasa pada zaman dahulu" Ucap Erza
Terlihat mereka membawa sebuah kapak, memotong kepala gadis itu.
Verro, Riana, dan Erza syok, terkejut, keringat dingin mengucur dari kening mereka.
Kepala gadis itu diletakkan di atas meja ritual, di siram dengan sisa darah milik gadis itu.
Tubuh gadis itu di seret keluar dari ruang bawah tanah itu dan dibawa ke depan pintu gerbang utama asrama.
"Veeerr, aku ga kuat verr, aku takut, giris, syok" Ucap Riana
Verro memang berani, tak kenal takut, ibunya seorang dokter bedah, dan ayahnya seorang dokter forensik. Jadi tak usah dipertanyakan lagi bagaimana Verro bisa seberani itu.
Jasad tubuh gadis itu di kubur di bawah gerbang utama asrama, di atasnya di beri kemenyan dan bunga tujuh rupa.
"Ver, sepertinya asrama dan SMA ini baru saja dibangun" Ucap Erza
"Iya Ver, lihat karangan karangan bunga yang berjejer itu, tapi sekolah ini belum punya nama, selain itu juga sangat sepi" Ucap Riana
"Entahlah aku tak tahu" Ucap Verro
Mereka bertiga tiba tiba merasa pusing, dan kepada semakin gelap
gelap
gelap
gelap
dann...
__ADS_1
mereka pingsan.
Terbangun ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
Verro, Riana Dan Erza perlahan membuka mata mereka. Mereka sudah berada di depan gerbang utama asrama.
"Kita kok disini? eh dimana orang orang itu?" Tanya Verro
"Apakah kita kembali ke masa kita?" Tanya Riana
"Ini memang masa kita, kita sudah kembali" Ucap Erza
Tiba tiba disana sudah ada Aika dan juga Ardi, Aika dan Ardi terlihat marah, mata mereka berwarna merah.
"Ka?" Panggil Verro
"Darimana saja kau?! kau tau aku panik mencari mu, aku pikir kau, kalian ditangkap oleh mereka" Ucap Aika sementara Verro hanya terdiam
"Kak, maaf" Ucap Riana ke Ardi, amarah Ardi mulai menurun
"Aku yang minta maaf karena tidak bisa menemani mu, sekarang aku akan mengikuti mu kemanapun kau pergi" Ucap Ardi
"Ni mereka berdua pasti ngomong sama temennya, lah gua harus ngomong sama siapa coba? masa harus ngomong sama batu?" Batin Erza
"Dari mana saja kamu?" Tanya aika
"Masa lalu" Ucap Verro
"Kami melihat masa lalu sekolah ini" Ucap Erza
Verro dan Riana menoleh ke arah Erza.
"Lo bisa liat?" Tanya Riana
"Engga, cuman nyaut aja biar ga dikacangin" Ucap Erza
"Emang lo tau si Aika temennya Verro tanya apa?" Tanya Riana
"Ya enggak lah, cuman nebak aja" Jawab Erza
Verro dan Riana pun tertawa.
__ADS_1