
Suasana yang sepi sunyi dimalam hari. Seorang gadis tengah berlari terus sampai terengah-engah hingga ia sampai disebuah jembatan yang merupakan tempat pertama kali mereka bertemu sekaligus menjadi tempat dirinya untuk mengakhiri hidup namun.
"Hosh.. Hosh... Menyebalkan," menunduk dengan gigi yang saling bertumpu, decaknya derai air mata yang terus keluar deras dari sudut matanya. Dirinya yang sudah tidak bisa menahan semua ini langsung berdiri didepan sebuah jembatan yang terkenal dengan keindahannya di malam hari namun tidak ada siapa-siapa disana, sepi dan gelap hanya dihiasi beberapa penerang tiang lampu jalan. Karna itu sudah tengah malam. Jembatan itu adalah jembatan Ampera.
**
Gadis itu menundukkan kepala dengan tatapan yang menerawang kebawah jembatan. Arus sungai yang deras dilihatnya. Hingga membuat ia tertarik dan langsung mendekati jembatan itu. Rasa Amarah, kecewa, sedih semuanya tercampur aduk seperti air yang sudah larut tercampur lalu membiarkan dirinya terjatuh dilautan dingin. Mati beku.
"Apa aku harus benar-benar menerimanya??" Suaranya serak dengan air mata yang tak kunjung berhenti itu pun terus keluar deras tapi tidak dengan tatapan kosongnya yang terus menerus mendekati jembatan besi itu. Ia lalu menaikinya sampai seseorang pria yang tergesa-gesa berlari mengikutinya langsung berteriak cemas.
"Lea!!"
Wanita itu langsung menengok tapi dengan tangan masih memegangi baju di depan dadanya erat. Sakit yang tak bisa ditahan mungkin akan hilang saat dia terjatuh kelautan yang dingin, mati dan rasa ini juga akan ikut mati. Dengan wajahnya yang sembab dan bercucuran air mata, pria itu langsung memeluk wanita itu kedalam dekapannya hingga terjatuh. Melirihkan suatu perkataan.
"Lea! Jangan nangis. Ada aku disini!" Ucap laki-laki tersebut setelah melihat kejadian yang tak ingin dilihat.
Wanita itu terus menangis tersendat-sendat menyebutkan nama pria itu dibenaknya, semua yang berurusan tentangnya tak bisa ia lupakan.
"Adrian. Bagaimana ini? Apa aku harus menerima keberadaannya sementara aku mencintainya. Aku benar-benar mencintainya." Ucap Lea yang yang terus menangis dengan senyum getir.
"Tidak apa-apa, Lea. Tenangkan dirimu dulu," Ucap Adrian, lalu tertatih-tatih ia ketika membantunya bangun.
Selepas berdiri, Adrian menghapus air mata Lea dengan tangannya. Dia tersenyum tapi tidak dengan gadis didepannya itu yang terus murung.
Adrian mendesah panjang, lalu bertanya sebab dia khawatir dengannya yang terus menghilang semenjak keberadaan laki-laki dicintainya itu balik ke negara asalnya. Inggris.
"Kenapa kau berlari? Dan kenapa kau menghilang. Ayah dan ibumu sangat mengkhawatirkanmu?" selanya lalu.
__ADS_1
"Pulanglah bersamaku, aku akan mendengarkan keluh kesahmu. Kau tau aku ini sahabatmu yang paling setia didunia'kan!" Ucapnya sambil mengulurkan satu tangannya.
Melihat ulurannya sejenak, membuat wanita itu bertambah menangis tiada henti. Tidak peduli ia sudah membuang berapa banyak air mata yang dikeluarkannya. Dia menangis dengan tersenyum tapi terasa sesak saat dirinya terus meningat-ingat pria yang ada didalam pikirannya seakan-akan ia tak mau menerimanya. Mau tak mau kenyataan harus ditanggung.
Lea merasa ragu-ragu menundukkan kepala sampai membuat alis Adrian berkerut dengan tangan yang masih menggantung. Tidak mau menerima ulurannya kah?
"Kenapa? Kenapa kau tidak mau menerimaku, padahal kau sendiri pernah bilang kalau kita teman selamanya yang saling membantu ketika susah maupun duka. Oh ya apa karena kau masih mengingat pria itu hingga melupakan pertemanan kita?" Ikut menunduk tapi perkataannya membuat Lea mendongak, hingga mata Lea pun membalak sejenak.
Ia pun terdiam seribu kata. Pikirannya pasti kalut ke mana-mana saat ini, banyak juga pertanyaan yang muncul dikepalanya. Lea mendesah dan mulai membuka suaranya dengan air mata yang terus diseka.
"Aku minta maaf Adrian. Karna sudah melupakan pertemanan kita tapi.. Aku masih tetap mencintainya dan tidak mau menerima kenyataan. Aku gak bisa terus untuk tidak memikirkannya," nada pelan tapi terdengar.
"Setiap bayangannya terus menghantuiku. Aku tersenyum saat itu tapi jika aku memang sudah benar-benar mencintainya. Adrian, apa yang terjadi denganku!" lanjutnya menundukkan kepala dengan menahan sebak didada, mulutnya jadi bungkam tidak mau mengeluarkan kata lagi. Tangannya mengepal berdiri getir.
Adrian yang melihat semua itu langsung menarik tangannya yang mengepal dan lanjut menegaskan kembali.
***
Sementara ditempat yang berbeda lebih tepatnya didalam mansion mewah yang besar. Terpaku seorang pria di lorong koridor dekat perapian, berjalan terhuyung-huyung dengan ekspresi pucat pasi. Tidak tau tapi juga tidak mau mengatakannya, jelas karna semenjak ia tahu suatu hal mulutnya menjadi bungkam.
Brakk...
Ditinju tembok itu hingga tangannya mengeluarkan darah segar. Tak bisa ia menerima suatu kenyataan pahit yang memilukan. Semua kertas-kertas itu ia hempaskan kedalam perapian, lalu membiarkannya hangus terbakar sampai tak tersisa kecuali kenyataan itu yang sudah diketahui oleh semua orang yang terlibat. Alih-alih dirinya dibikin frustasi, dirinya masih mencintai seseorang tapi cintanya luruh seperti es mencair.
"Sial! Bangs*t, jika saja hal itu tidak terjadi, semua itu pasti palsu!" pekik amarah meluap didalam ruangan yang hanya terdapat penerangan dari api perapian, sambil menjatuhkan dirinya disofa dengan kasar. Mengingat-ingat banyak kenangan yang terjadi pada dirinya dan seseorang yang ia cintai, membuat hatinya terus menerus dihujam panah. Hingga melemparkan satu botol akohol berukuran besar yang masih disegel itu jatuh ke lantai dengan sengaja.
Prankkk... Brakkk...
__ADS_1
"Aku tidak terima dengan kenyataan!! Takdir itu hanyalah omong kosong!" teriaknya lantang ditempat yang cukup sunyi. Hanya ada satu pelayan pribadi dirinya, yaitu Charles.
Sesaat dirinya menoleh kearah jendela, senyuman wanita itu masih tetap terbayangkan melekat. Jika saja hal itu tidak terjadi, mungkin dirinya akan tetap membayangkan wanita yang dicintainya itu sekalipun hanya sebatas khayalan.Tapi untuk sekarang khayalan itu sudah tidak berguna sekalipun dia masih mencintai wanita itu.
Pria itu menunduk dengan tangan mengepal penuh darah, menatap dengan tajam.
"Ck, Mau bagaimanapun caranya aku akan tetap bersamanya. Apapun caranya! Kami sudah saling mengutarakan dan akan menikah, biarpun terhalang oleh kenyataan ambigu yang konyol. Aku tidak percaya dengan adanya takdir yang akan memisahkan kami! " gumamnya dingin dengan penuh keyakinan.
Sementara diluar pintu, pelayan Charles mengetuk pintu dengan pelan. Dirinya sudah menduga apa yang terjadi dan pasti tuan muda nya itu tidak akan mau menerima kenyataan pahit yang sudah menimpanya. Dia menatap cemas dengan tatapan yang sedikit menerawang. Sulit untuk menelan ludah baginya tapi tetap situasi buruk pun harus dikendalikan dengan baik.
Glukk...
Tokk.. Tokk...
"Tuan muda Raymond. Apa anda bisa tenang sebentar, Tuan dan nyonya besar menyuruh anda untuk makan malam pertunangan anda dan tentang kenyataan, wanita itu baik-baik saja. Tuan muda tidak perlu khawatir dengan kenyataan yang sudah tertulis didalam surat itu." Kata Charles yang sesekali berusaha untuk membuatnya tenang seraya membenarkan kacamatanya.
Mendengar ucapan laki-laki paruh baya, pria itu langsung mengacuhkan pertemuan makan malamnya. Dia memberi penolakan dengan tegas, masih memikirkan wanita itu. Dia langsung bergegas keluar dari mansion itu untuk balik ke bandara. Tidak peduli, apakah yang terjadi jika dirinya dan wanita itu tidak bisa bersama kenyataannya.
"Charles. Batalkan pertemuan makan malamku dengan tunangan yang mereka bawa, aku akan pergi keluar negri untuk menemui wanita itu dan melawan takdir kenyataan yang terjadi diantara kami!" titahnya pada pelayan Charles dengan tegas sambil memakai jas nya.
Sementara Charles hanya terdiam, lalu dengan berani dia memberhentikan langkah tuan mudanya itu.
"Maaf tuan muda, anda tidak bisa pergi keluar negri karna tuan dan nyonya besar melarang anda! Saya juga tidak bisa mengatakan pembatalan itu kepada mereka." Ungkapnya dengan sedikit penekanan. Tapi justru malah membuat pria bertubuh jangkung itu langsung menoleh dan menodongkan senjata api ke wajahnya.
"Berani menghalangiku. Akan kupastikan hidupmu hanya sejengkal setelah peluru ini menembus kepalamu!" Nada yang terdengar dingin namun penuh ancaman.
...****************...
__ADS_1