
Setelah berada didalam ruangan pasien, Raymond melihat sejenak wajah Lea yang saat ini tengah dalam keadaan belum tersadarkan diri, ia masih tertidur berbalut baju tidur pasien dan selang infus yang ditempelkan pada tangan.
Sekilas Raymond menarik kursinya duduk tepat disamping tempat tidur pasien dan menatap Lea dengan sedikit cemas. Ia menggumamkan perkataan sambil menyentuh dahi Lea.
"cepatlah sadar, Manager kecil. Sekalipun kita baru bertemu dan baru saling mengenal satu sama lain, tapi aku ingin kamu menceritakan sedikit apa yang sudah terjadi padamu sampai saat ini," ucap Raymond.
Raymond mengela napas panjang dan mulai menarik tangannya kembali, "Apa yang terjadi padaku sebenarnya?"keluh Raymond yang terus menerus merasakan perasaan yang begitu janggal, ia melirik gadis itu sekali lagi dan menggumamkan perkataan,"Dengarlah, aku hanya ingin tahu apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kenapa aku terus merasa tidak asing saat melihat wajahmu?"
Raymond terus menerus menghela napas saat sebuah ingatan aneh terus muncul dikepalanya saat menatap wajah Lea, ia mengingat akan dirinya dibar bertemu seorang gadis namun ia tidak dapat mengingat ingatan itu selanjutnya.
Ukh... merasa keberatan saat sebuah ingatan terus muncul dikepalanya namun, Raymond mulai bangkit berdiri dari kursi tapi ia tidak tega meninggalkan gadis itu sendirian tidak tersadarkan diri. Perlahan ia mengambil ponsel androidnya, dan menelpon sang asisten yang saat ini berada diluar ruangan.
"Ada apa tuan muda menelpon saya?" ucap Will mengerutkan dahi.
"Will, pergilah ke minimarket atau swalayan sekarang dan belikan beberapa makanan yang biasanya dimakan oleh orang sakit," titah ray karna dia belum ada pengalaman apapun dalam menjenguk seseorang.
__ADS_1
"Tuan,bukannya orang sakit tuh makanannya dari rumah sakit ya?" tanya Will.
"Sudahlah, patuh saja. Kau mau aku potong gaji bulanan mu tidak?" ucap Raymond datar.
"Eehh... baik, baik, baik, tuan saya akan menurut sekarang! tapi tolong jangan potong gaji saya... hiks," ucap Will yang langsung menurut, "haihh, kenapa harus selalu aku yang selalu kena, apa salahku apa dosaku, hidupku dirundung atasan ku," ucap Will pasrah dalam hati.
hmm,,, Raymond menarik senyum tipis misterius, "Baiklah, cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk terus berada dirumah sakit ini sekarang. Oh ya, sepertinya saat ini aku harus menginap sehari untuk menemani 'dia',, "
Belum sempat berkata tapi sudah terpotong oleh Will yang berkerut penasaran, "Dia..? Siapa orang yang Anda maksut,tuan? Apa gadis Manager itu?"
"Eh.. ti-tidak tuan, lanjutkan pembicaraanmu yang belum selesai tadi," ucap Will menarik senyuman penuh keringat. Ray hanya menggapinya dengan dingin.
"Kau kenapa?" tanya Raymond.
"T-tidak, tuan," balas Will cepat.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, segera antarkan setengah dari pakaian ku yang ada di walk in closet dikediaman ku sekarang. Entah sampai kapan aku harus menunggu wanita ini sadar, tapi jangan lupa untuk pergi sekalian ke butik langganan, beli semua pakaian wanita yang ada disana," sahut Raymond yang sesekali melirik kearah Lea yang masih terbaring diatas hospital bed.
"Baiklah, tuan. Tapi untuk siapa pakaian wanita?" tanya Will masih linglung dengan perkataannya.
"Untuk siapa? Jangan bercanda, kau ingin aku memotong 80℅ setengah dari gajimu?" ucap Ray dingin dengan sedikit penekanan.
uhukkk... mendadak muntah darah, "tuan muda jangan gitu, dong, saya hanya bercanda saja," sahut Will dengan tawa sumbang.
"Tuan muda Raymond benar-benar lebih manakutkan dibandingkan sepupunya yang baru saja lulus Universitas, Alexander. Mereka sama-sama memiliki kepribadian yang sulit ditebak, jika mereka saling dipertemukan mungkin akan ada perang dingin yang tidak akan terselesaikan diantara keduanya,,, merinding sekali, astaga," sahut Will dalam hati.
Hmm... aura yang ditekan mulai terlepas, "Kalau begitu pergilah sekarang, Will. Aku tidak punya banyak waktu untuk membahas hal-hal yang tidak berguna," ucap Ray seketika memutuskan sambungannya sepihak.
Drapp... "Baik, tuan muda. Aihh pekerjaanku bertubi-tubi. Baru aja pengen nyantai dah dikasih pekerjaan baru aja sama tuan Raymond," keluh Will dalam hati.
***
__ADS_1