Spring Love : First And Last Love Story

Spring Love : First And Last Love Story
Seventeen


__ADS_3

Langit sudah mulai gelap gulita, sudah hampir empat jam lebih mereka mencari namun tak kunjung menemukan seseorang yang dicari-carinya.


"Ckck dasar wanita merepotkan. Sialan, bagaimana jika bos menghubungiku diwaktu yang tidak tepat, apa yang harus kujawab?!" keluh Nayton merasa frustasi, namun benar saja seketika ponsel disaku celananya berdering, menyadarinya Nayton langsung mengambil ponselnya tapi sesuatu tidak beres mulai terlihat dari wajahnya yang memucat saat melihat nama itu dari ponsel nya.


Drrtt... Drrtt..


"Astaga. Apa yang harus kukatakan sekarang!" batin menciut, mulutnya bungkam tak bisa bersuara atau menjelaskan keadaan.


Nayton membiarkan ponselnya berdering dan langsung mengerahkan pencarian ketatnya kepada seluruh bawahan melalui alat komunikasi canggih di telinganya.


"Semuanya, dengarlah! Perketat semua pencariannya jika tidak, aku yang akan mengirim kalian semua kedalam neraka!" lantangnya membuat para bawahan itu langsung bergidik ngeri hingga diwajah mereka juga ikut memucat.


"Terserah mau kalian pakai cara apa, yang penting Nona muda harus segera dibawa!" sorot mata yang dingin dan serius penuh aura intimidasi. Setelah mendengarnya saat ini mereka sudah tidak peduli dengan kemanusiaan, mereka masih sayang nyawa, apapun yang mereka lakukan adalah demi nyawa mereka selamat.


"B-baik bos. Kami akan memperketat pencarian sekalipun aku harus merangkak demi keselamatan diriku sendiri." Ucap penuh keseriusan dari Oliv, salah satu bawahan yang memimpin pencarian dikelompok pertama. Sementara Dill yang turut mendengarnya juga hanya menggangguk serius paham dan memulai pencarian ketatnya. Dill memimpin pencarian dikelompok kedua, orang yang tidak banyak bicara namun dia tidak akan segan-segannya pakai cara kejam demi menyelesaikan misi dari atasannya.


.


.


Ditempat lain.


"Ckck kenapa tidak bisa dihubungi?" decak Daniel yang merasa kesal, dia merasa aneh dengan Nayton yang tak kunjung mau mengangkat telponnya padahal dihari biasa Nayton selalu mengangkatnya entah sesibuk apapun, itu menjadi sesuatu hal yang disukai Daniel yaitu kesetiaan penuh pada atasannya.


Kenichi bertanya pada Daniel sesaat karna merasakan ada sesuatu yang tidak beres darinya, "Apa yang sedang kau lakukan? Apakah Lea sudah ditemukan?" perkataannya membuat Daniel terdiam sejenak. Tidak tau apa yang ingin dikatakannya, bahkan juga tidak ingin mengatakan kebenarannya tapi Daniel tetap memberitahukan semuanya dengan ekspresi tenangnya.

__ADS_1


"Tidak ada informasi apapun dari Nayton saat ini. Dan saat ini pun juga Nona Lea belum ditemukan keberadaannya sama sekali." Sambil mengesap rokok, berusaha setenang mungkin.


"Apa kau berpikir pencarian itu sepele? Perketat semuanya, tambahkan lebih banyak pengawal yang ada diseluruh mansion!" tegasnya dengan tatapan dingin.


"... lll"


"A-apa?! Tuan besar apa kau tidak ingat kita sudah mengeluarkan begitu banyak pengawal--"


Belum juga selesai perkataan Daniel, mendadak terpotong oleh Kenichi dengan tegas, "Saya tidak peduli. Kirimkan semua pasukan cadangan sesegera mungkin! Jika tidak, jangan pernah bermimpi tentang adanya kehidupan dihari esok!" Ancam Kenichi membuat Daniel sedikit tertunduk diam.


Dia sudah lelah sampai tak bisa berkata-kata lagi, Daniel mau tidak mau dia dengan berat hati menuruti kemauan Bos nya yang keras kepala.


"Tapi jika harus mengerahkan seluruh pengawal berarti sama saja cari mati kepada seseorang, belum lagi pengawal ini juga masih tetap di ambil alih oleh tuan muda Axel kakak tiri laki-laki Nona Lea," batin dengan alis yang mengerut. Sedikit cemas tapi tetap dijalankan perintah tuannya.


"Haiss, ga tau lagi deh, entah apa yang akan dikatakan oleh tuan muda Axel kedepannya lebih baik tutupi saja semuanya rapat-rapat." Lanjut membatin.


Disisi lain. Dirumah Sakit Jakarta pusat yang terkenal [ RS Jakarta Pusat ] dijalan XXX. Sekaligus RS yang paling mewah, namun milik salah seorang Dokter genius yang terkenal dengan ketampanan hingga otak dan kinerjanya yang super, siapa lagi kalau bukan Damian Callisto [ Dokter Forensik lulusan Universitas terkenal di Amerika Serikat salah satunya Universitas California ] dengan usia nya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah terjun ke lapangan, mendapat bagitu banyak penghargaan dan sertifikat Dokter Genius Termuda, kini usia nya sudah 23 tahun dan memiliki RS sendiri.


Setelah selesai, Dokter itu keluar dari kamar pasien dengan para suster disampingnya, dia juga tidak lupa untuk memberitahukan keadaannya pada seseorang yang sudah menunggu wanita itu sadar.


"Untuk pasien yang bernama Lea, dia memiliki luka yang tidak terlalu parah. Hanya beberapa luka memar dikaki dan beberapa sayatan dikadua tangannya, bahkan diwajah pun juga ada, dia seperti habis diculik. Oh ya, Ray, apa wanita itu pacarmu? Gue baru kali ini liat Lo nolongin cewek yang habis diculik, seharusnya kalo gada hubungan sih ga akan Lo tolongin kecuali ada hubungan~ " goda Damian pada Raymond didepannya.


Raymond hanya mendelik, tapi dirinya tiba-tiba saja merubah suasana menjadi serius dan penuh penasaran.


"Diculik? Aku tadi hanya menemukan dirinya sudah terjatuh mendadak saat hampir tertabrak mobil ku. Will, mungkin kau bisa menjelaskan padanya secara rincinya, aku tidak ingin menjelaskannya karna pasti akan menimbulkan perdebatan yang sia-sia," datar nya langsung mengarah tatapan tajam pada William di sampingnya.

__ADS_1


"Hiihhh... Tuan muda, kumohon jangan menyuruhku karna aku pun juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu!" keluh dalam hati.


"Eh...? Apa maksud kalian? Jadi kalian menemukan wanita itu sudah pingsan dijalan sebelum tertabrak bukan menolongnya saat diculik?"


Kesimpulan yang tepat itu pun langsung di anggukan oleh dua orang didepannya seperti anak kucing.


"Ya, tapi kami pun juga belum tau kenapa wanita itu muncul tiba-tiba dijalanan raya yang sudah sepi dengan penampilan kumuh," sahut Will mengingatkan.


Damian mengangguk sejenak, "Hmm.. Tapi apa kalian tau latar belakang gadis itu? Sepertinya gadis itu tersesat saat setelah dirinya berhasil kabur karna penculikan," ungkapnya sendu, terlihat jelas dari sorotan matanya saat ia hendak membenarkan kacamata miliknya.


Namun suasana keheningan aneh yang merebak itu seketika terpecahkan oleh deheman Raymond, "Tidak usah dipikirkan dulu untuk sementara waktu, jadi apa gue sudah boleh masuk keruangannya sekarang," ungkap Raymond datar yang sudah memegang gagang pintu kamar pasien terlebih dahulu.


Melihat aksi sejenak, membuat Damian sedikit terkesan hingga menyungginkan senyumnya, "Kurasa Lo benar-benar udah ada hubungan dengan gadis itu ternyata. Hmm... akhirnya perjaka tua itu lepas juga dari segelnya untuk memulai hidup baru bersama pasangan yang cocok. Selamat Ray!" batin sambil merapatkan tangan didepan dada terharu.


"Heyy, kau ngapain seneng-seneng sendiri disitu, gue nanya nih boleh apa enggak?" teriaknya merubah suasana menjadi sedingin es.


"Err... lll"


"Baiklah, Ray, tenang aja. Kau lanjut aja bucin ama jodohmu itu, gue dukung kok!" menghampirinya langsung.


"Heyy, Damian. Apa kepalamu sakit sehingga akhir-akhir ini kau jadi seperti orang gila!"


"Tidak, kepalaku tidak sakit bro," balas nya senyum kecut tapi malah terabaikan karna Raymond sudah melangkahkan kakinya ke kamar itu duluan.


"Haihh,, Will. Apa Bos mu ini akan jadi seperti ini selamanya? Menjadi dingin seperti kutub Selatan sampai terkena racun dingin~ "

__ADS_1


Will hanya menoleh, pura-pura tidak dengar, "Jangan tanya saya, Tuan. Saya juga tidak tahu apa-apa tentang kepribadian Tuan muda."


"Dan aneh nya lagi, sepertinya kepribadian dingin Tuan Muda akan mencair jika dia selalu bersama dengan wanita itu. Aku penasaran siapa Manager Lea? Apa mereka punya hubungan lain dengan Tuan Muda? haihh,, aku tidak peduli yang penting aku akhirnya senang tidak perlu menghadapi sifat buruknya yanga lain, akhirnya dia telah melepaskan status perjaka selama 24 tahun, Nyonya Charles selamat anda telah meluluhkan hati beku Sang Pangeran Tiran Kerajaan!" lanjut membatin mengingat bayangan ekspresi Raymond saat menggendong Lea dengan lembut dan penuh perhatian.


__ADS_2