
Sampai di pintu depan bandara, Adrian masih terus berjalan mengikuti Lea dari belakang. Dia memijat pelipisnya dan menghela napas panjang. Sebab dia tau bahwa Lea masih marah dengannya, dia juga tau betul saat Lea sedang marah, orangnya cenderung moodyan. Jika boleh memilih, Adrian lebih suka Lea yang tersenyum hangat dan periang daripada Lea yang moodyan saat marah.
***
Sesaat mereka sampai dibasement parkiran mobil, Adrian langsung membunyikan klakson kunci mobilnya yang berbunyi Tittt dan pintu mobil itu terbuka. Lea masuk kedalam mobil langsung menduduki kursi dibelakang Adrian.
"Heyy, Lea! Aku bukan sopirmu, duduklah disampingku!" Pekiknya yang hanya dibalas tatapan datar lalu beralih kekursi mobil depan disamping Adrian dengan gesit.
Syuttt...
"Astaga! Cepat sekali dia disampingku," batinnya tersentak namun berkeringat ketika melihat Lea yang duduk dengan posisi tangan dilipat depan dada.
"Tunggu apa lagi. Cepat jalan!"
Adrian menyaut dan mulai menghidupkan mesin mobil.
***
Saat didalam mobil, tak ada percakapan diantara mereka berdua. Aneh dalam pikiran Adrian tapi sudah wajar karna tak sekali dia menghadapi Lea marah tapi sering saat dirinya mengingkar janjinya terus menerus.
Agar sua sana tidak terlalu tegang, Adrian menyalakan musik lantunan kesukaannya dimobil.
Mendengar musik kesukaan sahabatnya membuat mata Lea sedikit terpejam akibat kantuk yang tak tertahankan. Suara surga yang seperti malaikat membuat pikirannya tenang seketika tapi pikirannya masih tetap pada kejanggalan nya saat bertemu Raymond. Lea masih ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya saat itu, tepat saat dirinya mabuk dan bertemu pria asing yang memiliki perawakan mirip dengan Raymond atau dia memang benar orang yang sama.
Sampai di restoran XXX yang tidak terlalu terkenal dalam dunia konglomerat. Mobil Adrian terpakir ditempat parkiran terbuka.
"Heyy, Lea! Apa kau tidur? Kita sudah sampai sekarang," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.
Adrian tersentak dan terpikirkan ide untuk membangunkannya, dia langsung mendekatkan bibirnya pada telinga Lea dan berbisik lirih.
__ADS_1
"Lea! kalo kau tidak mau bangun. Aku akan batalkan tujuan kita yang ke restoran soto ayam dan memulang─ " terpotong saat Lea yang tiba-tiba bangun dan membentur dahi.
Dukk...
"Aww!" mengerang kesakitan di dahi.
"Hahh? Gak, pokoknya jangan! Kita sudah sampai didepan warung soto ayam masa harus pulang lagi sih, dan kau juga harus menjelaskan alasan ketelatanmu tadi!" ujarnya ketus dan langsung membuka pintu mobil dengan setengah orang yang baru bangun, dia bergegas keluar dan langsung berjalan cepat menuju restoran langganannya yang satu-satunya menyediakan beragam jenis soto terutama soto ayam, sudah lama bahkan Adrian pun juga sudah tau.
Adrian hanya menghela napas ketika dirinya berjalan mengikuti Lea yang dari belakang punggung masih terlihat jutek padanya.
***
Tring!
Sesaat Lea membuka pintu restoran terlebih dahulu dan mereka langsung menuju bangku yang memang sudah disediakan oleh pihak restoran. Mereka memilih bangku dipojok dekat beberapa tanaman penghias ruangan.
Lea langsung menarik kursinya dan duduk dengan posisi didepan Adrian yang sudah lebih dulu duduk.
"Permisi. Saya Mila, pelayan lama. Saya akan menuliskan pesanan kalian, kalian tinggal sebutkan pesanan yang kalian inginkan!" Sahutnya yang tengah memegang bolpoin dan buku kecil ditangan.
Lea dengan tersenyum dan langsung menjawab, "Saya pesan, untuk makanannya Soto ayam dan minuman jus lemon tea, kalo ada sate ayam mungkin sekalian sama satenya!" sambil melirik senyum ramah pada Adrian, Adrian yang melihatnya hanya terdiam sejenak.
Pelayan yang tadi mengangguk lalu beralih pada pelanggan cowok yang berada didepan Lea.
"Tuan! Mau pesan apa, akan saya tuliskan pesanan anda," unkapnya ramah.
Selepas mengucapkan sepatah kata, pelayan wanita itu yang bernama Mila langsung berhambur ke tempat lain.
.
__ADS_1
.
"Heyy! Bukannya tadi kau mau Soto ayam doang kenapa jadi sekalian sama Sate ayam?" tanyanya dengan alis terangkat. Lea yang sudah menebaknya hanya bisa tersenyum ramah.
"Hehehe... kan kau tadi bilang akan mentraktirku makanan 'apa saja' untuk menebus kesalahanmu yang sudah terlambat itu sama penjelasannya juga." sambil mengingat-ngingat kembali yang sebelumnya.
Adrian mendesah, dia mengangkat tangannya dan langsung pasrah.
"Haiss... Yasudahlah kalau itu memang yang kau mau, toh aku juga tidak peduli. Aku hanya ingin kau memaafkanku, itu saja!" perkataannya membuat Lea tersentak dan berdehem.
"Baiklah! permintaan maafmu diterima tapi jujur saja ada yang ingin ku tanyakan padamu," sorotan tajam yang serius membuat dahi Adrian berkerut.
"Apa itu?!"
"Ehem. Entahlah, ini tentang kenalanmu atau teman laki-laki mu yang dari Inggris!"
"Terus, apa kau pernah bertemu dengannya?" sambil meminum teh yang di atas meja. Teh itu memang sudah dipesankan dan paling awal sampai di meja nya.
"Belum, sih. Tapi bukannya kau jarang memiliki teman laki-laki, atau kau berselingkuh dari pacarmu dan memutuskan untuk berhubungan lebih dengan kenalan laki-laki mu!" sahutnya antusias tapi malah membuat Adrian terbelalak, tak sengaja menyemburkan teh nya yang masih panas.
Pruuuhhh....
"UHUK.. UHUK.."
"Kau tidak apa-apa kan?" khawatirnya.
"Tidak. Tadi apa yang kau katakan, memangnya salah punya teman laki-laki hanya karna dia jarang berteman dengan laki-laki?"
"Nggak sih, tapii..."
__ADS_1
"Sudah. Jangan salah paham, sudah kubilang aku dengannya hanya lah kenalan dan rekan se-tim untuk rekontruksi bangunan, biarpun aku jarang berteman dengan laki-laki tapi aku masih termasuk pria normal, tau!"
"Padahal bagus juga sih, kalo kau belok dengan laki-laki. Aku jadi gak perlu liat hubungan mu yang menjijikan dengan para pelac*r yang pake baju seksi itu!" batinnya monyong.