
Haahhh... Haahh...
Fisiknya yang sudah lemah tetap tak luput dari usahanya untuk kabur dari tempat mengerikan kotor dan penuh tikus hingga kecoa. Lea langsung duduk dan meraih besi karat berjenis tongkat itu dengan kedua kakinya yang terikat kencang, tersayat oleh tali membuat kakinya mengeluarkan sedikit cairan merah kental.
Srettt....
Setelah sekian lama ia menggeser posisi tongkat besi itu akhirnya sampai juga didekatnya. " Ukhh, bingo! dapat juga besi karat itu, " batinnya berbinar.
Ia langsung menggeser sekali lagi tongkat besi yang berukuran tidak terlalu besar itu dari kakinya menuju tangannya.
Klangg... Ackhhh....
Rintihnya kesakitan hingga tongkat itu hampir bergeser jauh, tapi langsung dipegang oleh tangan kirinya hingga tubuhnya tersungkur jatuh.
Ukhh...
Dirinya benar-benar letih dan wajahnya pun terlihat pucat ingin pingsan, ia bangkit lagi untuk duduk didekat kasur. Lea langsung menggenggam besi dengan kedua tangannya dari belakang punggung dan menggesek-gesek tali di tangannya itu dengan bagian besi yang berkarat secara berulang.
Srekk.... Srekkk.... Ctakk...
Akhirnya tali itu sedikit robek, Lea merasa senang dan melanjutkannya lagi sampai benar-benar terlepas. Setelah sebagian tali itu terlepas Lea langsung meregangkan paksa sampai tangannya bebas dan langsung membuka isolatip yang membekap mulutnya.
"Akhirnya bebas! Aku tidak mau dijodohin dengan si brengsek itu, " gumamnya setelah membuka isolatip yang menurutnya paling menyiksa. Lea langsung mengatur napasnya yang tidak beraturan hingga memijat keningnya sejenak.
Sesaat kemudian Lea juga langsung membuka ikatan tali dikakinya, ruangan yang gelap itu sempat membuatnya kesulitan hingga dirinya baru ingat jika masih ada ponsel disakunya tapi sayangnya ia lupa mengisi daya ponselnya. Kecewa berat? pasti, belum lagi penerangan ponsel sangat dibutuhkan di situasinya saat ini.
"Sial, kenapa aku lupa mengisi ponselku? Tau gini harusnya ku cas dulu aja, " gumamnya bermonolog. Mau tidak mau dia meraba-raba kedua kakinya yang terikat kencang dan melepaskannya dengan pelan.
.
.
__ADS_1
.
Setelah memakan banyak waktu akhirnya terlepas, Lea langsung bangkit berdiri dengan tertatih-tatih memegangi besi melengkung di kasur sebagai pegangannya.
"Akhirnya tapi pintu itu sepertinya dikunci, pakai tendangan beladiri mustahil dengan tenagaku yang sudah lemah ini, " batinnya berpikir sejenak.
***
Ditempat lain. Adrian masih berada disebuah Kafe terkenal di Jakarta, dia datang sendiri hanya untuk memesan minuman jus tapi minuman itu tak kunjung disentuh olehnya sedari tadi, niat awalnya ke kafe untuk menjernihkan pikirannya tapi kenyataannya malah bertambah parah. Adrian masih memikirkan janji mereka padanya, ia menunduk sejenak dikarenakan masih sulit berpikir. Sudah lebih dari dua kali ia menghela napas hingga tiba-tiba saja ponsel didekatnya bergetar.
Pandangannya kini tertuju pada ponsel yang bergetar, "Zana..? Tumben Zana yang menghubungiku bukannya Lea. " Alisnya berkerut setengah heran dan langsung diangkatnya untuk menyapa, tetapi justru yang ia dengar hanyalah suara cemas dari Zana.
"Heii, Zan. Ada apa ya? kok kamu kek cemas gitu suaramu, " tanya Adrian. Mendengarnya Zana langsung mengatur napas dan air matanya yang sudah tidak tertahankan akibat terkejut setelah mengetahui sesuatu hal buruk tentang Lea.
"Adrian, apa kau bersama Lea sekarang? " belum sempat menjawab pertanyaan tadi Zana langsung bertanya balik.
"Nggak, Zan. Dia tidak bersamaku sekarang, memang ada apa? "
"Lea,,, Menghilang karena diculik, kupikir dia sekarang sedang bersamamu, " lirihnya pelan dengan suara yang terdengar serak.
"Maaf Zan, aku harus pergi ke suatu tempat sekarang, bye! " sahutnya langsung memutuskan percakapan sepihak membuat Zana heran. Sebatas khawatir dengan keadaan sahabatnya itu, Adrian langsung membayar pesanannya dan pergi tergesa-gesa menuju mobil.
"Hmm, jika memang benar itu bawahan tuan Kenichi tebakanku tidak salah " ungkapnya mendecak, langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju mansion milik orang tua Lea.
.
.
.
Sesaat di ruangan bawah tanah, mau tak mau Lea harus menghancurkan pintu dengan tendangannya. Dia tidak mau terlibat dengan perjodohan menyiksa. Mengatur napas dan perlahan dirinya mengambil kuda-kuda didepan pintu, ia sudah tak punya banyak waktu lagi biarpun tenaganya belum pulih saat ini.
__ADS_1
Brakkk....
Pintu itu hancur sampai membuat beberapa penjaga teralihkan dan langsung berlari memeriksanya cepat. Sampai ditempat kedua penjaga itu merasa heran dan langsung melaporkannya pada atasan tapi seketika dirinya kalang kabut dari arah belakang diam-diam Lea memukul kepala kedua penjaga itu dengan besi karat tadi sampai pingsan.
Ukhh... Brakkk..
Dukk...
Aaakkhhh....
Teriakan lantang dari penjaga, Lea membekap mulut mereka dan mengikatnya guna untuk menghentikan kejarannya saat mereka sadar. "Baguslah. Seharusnya mereka tidak akan bangun, " ungkap Lea seraya mengusap kedua tangannya yang tampak kotor penuh debu.
"Aku harus kabur dari sini secepat nya! " ungkap Lea, dia langsung berlari keluar dari ruangan bawah tanah hingga dirinya sampai di area kebun mansion.
Haahh... Haahh...
"Ukh, aku baru tau ada kebun dimansion ini tapi baguslah, kesempatan kabur! tunggu. Dengan penampilan seperti ini pasti akan mudah tertangkap " pikirnya dan seketika sebuah ide cemerlang langsung keluar saat melihat beberapa pelayan dari jauh. Diam-diam Lea langsung membuat satu orang pelayan yang lewat pingsan dengan teknik memukul diarea leher lalu mengambil bajunya untuk penyamaran.
Setelah memakai baju pelayan tadi di area semak-semak perkebunan, Lea keluar seraya memakai bando pelayan. "Uhm, bagus juga baju ini. Ehh-- " setelah menelisik baju seketika pandangannya terpusat pada pintu keluar area belakang dikebun. Melihat sedikit celah, Lea mulai tersenyum berbinar.
"Nice. Akhirnya Tuhan berpihak padaku, terimakasih Tuhan! " dalam hati senang kegirangan. Tapi dirinya merasa tertekan kecewa melihat ayahnya, Kenichi yang duduk didepan di kursi santai dekat dengan pintu keluar itu.
"Ahh sialan, kenapa si brengsek itu disitu! " ketusnya membatin, Lea berpura-pura menjadi pelayan dengan memakai kacamata pelayan tadi hingga rambut yang diikat kuncir kuda.
Berjalan kearah dapur tapi seketika pandangan Kenichi terpusat pada Lea yang menyamar menjadi pelayan dan memberikan titah padanya untuk membuatkan beberapa jus kesukaannya.
"Baiklah, tuan. Saya akan membuatkan minuman kesukaan anda sekarang. " sahutnya profesional tapi tidak dalam hatinya yang terus mengutuk pria paruh baya didepannya saat ini.
"Ya, cepatlah waktumu untuk membuat minuman tidak lama, jika lama aku akan memotong sebagian besar gaji mu! " titahnya tegas menyuruh pelayan itu pergi ke dapur.
Tapi sebelum Lea yang menjadi pelayan itu pergi dia tak sengaja mendengarkan pembicaraan laporan dari asisten Kenichi .
__ADS_1
"Tuan besar, ada laporan bahwa nona Lea menghilang dari ruangan bawah tanah. Saat itu saya sedang keruangan untuk melihat keadaan sekitar tapi yang kulihat justru beberapa bawahan yang terlihat pingsan diikat dan pintu yang rusak parah! " teriakan lantang asisten membuat Kenichi terkejut bak tersambar petir disiang bolong sementara Lea yang menjadi pelayan itu langsung diam-diam pergi ke dapur dengan terburu-buru.
Kenichi tak habis pikir dengan putrinya yang keras kepala, dengan tegas ia spontan langsung memberikan titah untuk mencari keberadaan Lea dimansion ini karena baginya Lea masih berada disekitar area mansion.