
Sampai dikantor mereka, benar saja ruangan Lea seketika kosong seperti ada yang memindahkan barang-barang nya keruangan lain. Dia pergi kekantor itu hanya untuk mengambil beberapa barang yang tak sengaja tertinggal.
"Hummph,, sudah kuduga kalo bakal dipindahin, untung saja gelang ini belum diambil oleh mereka," ungkap Lea yang langsung mengambil sebuah gelang tali miliknya dibawah meja kantor. Gelang itu penting baginya karna merupakan pemberian seseorang yang sangat didambakannya, siapa lagi selain Adrian sahabat masa kecilnya.
***
Tutt... Tutt...
Suara telpon kantor yang berada di atas meja resepsionis bergetar, diangkat telpon itu langsung oleh wanita resepsionis.
"Ya, halo! saya Aina dari perusahaan Black Butler, ada apa ya? " Ungkap Aina.
Pria misterius itu mulai menghembuskan napasnya yang memburu, dan bertanya. "Saya kenalan dekatnya Lea Aurelia Fujisawa, kau pasti mengenalnya'kan? " ucapnya pria itu yang membuat wanita bernama Aina Mengiyakannya dengan rasa penasaran muncul dibenaknya langsung.
"Iya, tapi sekarang Nona Lea sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kalo ada masalah atau kepentingan bisa saya sampaikan nanti setelah jam makan siang, " sahutnya terdengar dari telinga pria asing itu. Pria itu berdehem dan melanjutkan perkataannya.
"Baiklah kalau begitu, kau bisa memberikan alamat perusahaan Black Butler pada Emailku, ini sangat penting karna aku harus bertemu dengannya! " tuturnya tegas dari suara namun terdengar berat.
Wanita itu menoleh dari kejauhan, lalu mengetik alamat hingga email perusahaannya di komputer, ia hanya berpikir mungkin itu urusan bisnisnya karna Lea sudah menjadi manager sekarang wajar saja jika dia punya banyak kenalan dengan klien dari perusahaan lain.
__ADS_1
Selesai mengirim alamat itu pada emailnya, "Baiklah tuan, Alamat perusahaan sudah saya kirimkan pada Email anda, anda bisa bertemu nona Lea saat sampai di perusahaan, " ungkapnya ramah.
Sementara pria asing paruh baya itu menyunggingkan senyumnya dari kejauhan, "Baiklah, Terima kasih atas bantuanmu. Saya sangat berhutang budi mendengarnya, " balasnya.
"Tidak apa-apa tuan, tidak perlu membalas budi segala, oh ya akan saya tutupkan telpon ini, " sahutnya dan langsung menutup telponnya sepihak.
Tutt...
Ditempat lain, Lea disibukkan dengan pemindahan barang-barang di kantor barunya. Sampai selesai membersihkan ruangannya tiba-tiba saja ponselnya bergetar tapi dia mengacuhkan lantaran melihat nama dari sipenelpon itu.
"Ayah bisakah kau berhenti menelpon ku terus! " ketusnya dalam hati.
Pura-pura tidak mendengar karena ingin mengabaikan ayahnya yang terus menelpon hingga telpon itu tiba-tiba berganti nama menjadi Adrian yang menelpon, dia menelpon lantas sudah membuat janji tunggu untuk memperkenalkan teman barunya namun tak kunjung diangkat.
"Permisi, mbak. maaf, saya temannya Lea yang sudah membuat janji tunggu secara pribadi padanya. Bisakah anda mempertemukan saya dengannya sebentar! " ungkap Adrian pada Aina yang termasuk teman kerja Lea.
Wanita resepsionis itu menggeleng pelan kepalanya, "Maaf tuan, anda bisa liat jam dulu. Untuk sekarang mungkin tidak bisa karena Lea sekarang sedang mengikuti pertemuan dengan beberapa klien dari perusahaan lain dengan tuan bos. "
"Oh, b-baiklah, " ucapnya tercengang dengan ekspresi kecewa yang terlihat jelas pada raut wajahnya.
__ADS_1
Adrian pasrah dan mengkatup wajahnya sebagian, "Haiss kenapa hal seperti ini terjadi padaku? Padahal hanya karena janji untuk memperkenalkan mereka tapi kenapa harus serumit ini, dia hanya bilang akan bertemunya hari ini di jam tujuh lewat tiga puluh menit tapi Lea juga sama, jika aku melanggarnya seperti kemarin akan lebih buruk lagi keadaannya, " batinnya yang merasa terpuruk. Dirinya langsung membalikan badan kembali ke basement, didalam mobil dia terlihat frustasi tidak tau harus berbuat apa.
Sampai seseorang pria misterius berkacamata hitam menghampirinya mengetuk pintu kaca mobil.
Tukkk... Tukkk...
"Permisi tuan. Maaf apa anda bisa membuka jendela mobil anda? " tanyanya dari pria misterius, sementara Adrian yang melihatnya langsung menurut membuka kaca jendela.
"Iya pak, ada apa? "
Sesaat ditanya pria miaterius itu berdehem dan menanyakan keberadaan Lea dari foto, melihat foto itu alis Adrian menjadi semakin berkerut heran mengenai wajah seseorang yang tidak asing terpampang difoto itu.
Dengan rasa penasaran yang kuat ia justru bertanya balik, "Permisi, saya ingin bertanya. Apa hubungan anda dengan wanita itu? "
Pria misterius hanya terdiam setelah mendengarnya, dirinya menghela napas dan memberikan dalih yang kuat untuk membuatnya percaya hingga setelah memberikan beberapa penjelasan yang seperti kebenaran namun terselimuti oleh kebohongan membuat Adrian sepenuhnya percaya.
Hingga sampai dikantor Lea, pria misterius itu berjalan tergesa-gesa sampai didepan pintu kantornya, ia mengetuk pintu.
Tokk... Tokkk...
__ADS_1
Suara ketukan itu berbunyi cepat sampai membuat Lea kebisingan, Lea yang sedari tadi sedang merapihkan beberapa sisa-sisa berkas yang ada. Alih-alih ia mengurungnya dan membukakan pintu, sampai saat pintu dibuka Lea sempat terkejut dengan kedatangan sesosok pria misterius yang tampak tidak asing baginya.
Setelah melihatnya wajahnya kini semakin pucat, tenggorakan sesak. Belum sempat ia berteriak, tiba-tiba saja sosok pria misterius itu membekap nya dengan obat tidur dan membawanya secara diam-diam ketempat parkiran mobil.