
Akibat terlalu lama menangis dikamar, kedua matanya yang awalnya sembab menjadi bengkak dan dirinya pun merasa lemas tak karuan saat bangun.
"Astaga, bisa-bisanya mataku menjadi bengkak begini. Padahal cuma gara-gara nangis semaleman." batinnya tertegun saat melihat dirinya dicermin. Lea mulai berpikir dan tiba-tiba terlintas ide yang baginya sangat membantu.
"Uhm,, tidak buruk juga jika aku memakai kacamata ke kantor, hanya karna jarang memakainya seharusnya tidak masalah bagiku." gumamnya bermonolog, melihat dirinya dicermin sekilas lalu beranjak dari kursi rias menuju jendela.
Srett...
Dibukanya tirai jendela, dia maju selangkah melihat sekilas pemandangan suasana gedung dari apartemennya yang terletak di lantai paling atas. Aroma pagi yang membuat pikirannya jernih seketika, ditambah beberapa berkas sinar matahari yang menyilaukan dirinya membuat ia merasa sedikit bertenaga setelah melalui banyak hal.
"Fuhh... Suasana pagi hari ini lumayan cerah dan membuat ku yang jarang merasakannya pun menjadi sedikit bersemangat, tapi tidak saat itu!" ungkap dalam hati dengan senyuman teduh yang tak sengaja terukir dibibinya.
Lea menoleh kebelakang untuk melihat jam dinding ditembok, sudah pukul enam lewat tiga puluh menit, dirinya langsung bergegas mengambil handuk untuk pergi kekamar mandi.
.
.
.
Selesai membersihkan badannya, ia keluar dari kamar mandi. Pada saat sedang mengeringkan rambutnya, mendadak ponselnya membunyikan suara notifikasi pesan.
Ting!
Pandangannya pun tertuju pada ponsel yang berada di atas ranjang, dengan penampilan yang hanya sebatas dililitkan handuk, dia meraih ponselnya diranjang.
'Lea, cepat keluar. Aku udah nunggu didepan rumahmu!' pesan singkat dari Zana.
Melihatnya dia langsung berkemas cepat, dan langsung pergi menuju pintu depan apartemennya. Benar saja, dirinya langsung disambut dengan Zana yang sudah menunggu daritadi hingga tertidur sejenak.
__ADS_1
"Heyy, kau benar-benar tertidur! " ungkapnya pelan sambil mengguncang sedikit tubuh Zana.
"Zan... Zana...! Bangunn!" pekiknya yang langsung membangunkan dirinya, seketika saat itu kepala Zana mendongak tiba-tiba.
Dukk... Aduhh..
Lea mengerang kesakitan sambil memegang hidungnya, Zana yang melihatnya pun langsung menunduk bersalah seketika tapi perhatiannya kini teralihkan oleh kedua mata Lea yang terlihat bengkak dan tidak memakai kacamata. Dia lupa memakainya karna terlalu terburu-buru saat berkemas.
"Lea, matamu kenapa? kok bengkak, kamu habis nangis semaleman...? " tanyanya yang sudah seperti tebakan itu langsung membuat Lea tercengang, dia tau kalau dia lupa membawa kacamata, dirinya langsung berdiri masuk lagi kedalam apartemennya sebentar untuk mengambil kacamata.
"Gak, kok, Zan. Oh ya, bentar. Aku masuk dulu kedalam! "
Zana yang melihat, pikirannya kini penuh dengan tanda tanya. Tidak paham dengan keadaannya sekarang, sekalipun Lea termasuk orang yang mudah dipahami.
"Lea, Apa yang terjadi denganmu? Hari ini kau sedikit aneh." batinnya sedikit khawatir saat pandangannya terus menatap punggung Lea yang semakin menghilang sekejap.
Sesampai didepan pintu utama kantor perusahaan Black Butler, Lea dan Zana dikejutkan dengan kedatangan seorang atasanya itu, Rangga bersama asistennya yaitu Austin didepan meja resepsionis.
Tak sengaja lewat, saat berpapasan langsung. Rangga juga merasa keheranan dengan Lea yang jarang memakai kacamata. Karna Lea cukup unik, dia jarang memakai kacamata kekantor, hanya karna malas dia cuma pakai disaat-saat terdesak saja. Tapi pikiran Rangga kini tidak mempedulikan hal itu, yang dia pikirkan hanyalah apakah Lea akan menerima bekal sarapan yang dia beli beberapa menit yang lalu?
"Kuharap akan diterima olehnya." Dalam hati dengan ekspresi wajah dingin tapi sedang menahan detak jantungnya yang berdegup terlalu kencang karna gugup.
Lea mendelik, menyadari keberadaan Atasannya itu dan juga asistennya. Serempak mereka berdua menyapanya langsung.
"Halo, Tuan Bos dan Tuan Austin, selamat pagi!" Sapanya bergantian dan keduanya serempak tersenyum hangat dengan sedikit menunduk ala ketika karyawan bertemu atasannya.
"Ah,, Halo juga Manager Lea dan teman kerjamu, Zana. Lea, kau tidak perlu menunduk seperti itu saat bertemu, kau sudah menjadi managernya juga, bukan? Dan kau juga akan sering bertemu dengan tuang Rangga kedepannya." Ucapnya dengan seulas senyuman ramah dari Austin asistennya, Rangga hanya berdehem untuk menyaut perkataannya.
"Benar yang dia katakan, dan ruangan kantormu mulai sekarang sudah ku pindahkan didekat ruangan ku, kau tau kan manager pribadi harus selalu bersama atasannya setelah asisten... " Ucapnya jelas tapi sedikit menggantung. Dirinya menyerahkan paper bag yang berisi bento dari restoran ditangannya ke meja resepsionis yang berada didekat Lea.
__ADS_1
Dapp....
Ditaruhnya membuat Lea dan Zana tertegun bersamaan, saat pikirannya teralihkan kini pikiran Lea menjadi penuh tanda tanya sejenak.
"Bos, apa itu?" tanyanya gadis itu. Sementara Rangga hanya membalasnya singkat untuk mengurangi kecanggungan berlebihan yang membuatnya gugup, "Ini sarapan, aku memberikannya untukmu! Kau terima saja, aku akan pergi sekarang karna sedang dipanggil oleh beberapa klien sebentar." lalu ia pergi begitu saja dengan asistennya tanpa pamit, Lea yang melihat hanya terdiam sejenak dengan pikiran yang masih kalut.
"Buatku...? " sahutnya yang menunjuk dirinya sendiri.
"Whoaa... Lea! Kamu ditaksir bos mu rupanya, keren bangett... Andai aku juga bisa seperti itu." Ucapnya berbinar yang tiba-tiba muncul dari belakang Lea.
Lea sedikit terkejut, dia mengurungkan ekspresinya, "Apasih. Gaklah, lagipula mana mungkin bos Rangga menyukaiku. Inget Zan, banyak cewek cantik yang disukai bos Rangga tapi cintanya malah bertepuk sebelah tangan," sahutnya dengan mengibaskan satu tangannya.
Sementara Zana hanya terdiam lalu tersenyum simpul. "Ah,, masa sih. Kau saja yang tidak peka, Lea. Jelas-jelas perhatiannya kek bukan bos sama karyawan tau."
Mendengarnya mungkin Zana juga menginginkannya, Lea langsung mengambil paper bag itu lalu menyerahkannya dalam posisi menganggantung ditangan, "Kau mau? " tanyanya.
"Ehh..?!" terdiam sejenak, Zana hanya bisa menghela deru napasnya yang masih tersenyum kecut. Dia menggelengkan pelan kepalanya merasa tidak enak jika harus menerima bingkisan yang seharusnya bukan untuknya.
"Gak Le, Sory soalnya gue udah bawa bekal dari rumah. " sahutnya menyengir. lalu melanjutkan perkataannya, "Buat lo aja tuh, kan Tuan Rangga ngasih sarapan tuh tujuannya buat kau, Lea. Ntar kalo gue yang makan terus tiba-tiba ditanyain, btw Tuan Rangga terlalu peka orangnya." bisik di telinga Lea.
"Lahh... tapi... " murunya lalu dipotong perkataannya oleh Zana, alhasil Lea mau tidak mau ia harus menerimanya, ia juga merasa tidak enak jika harus mengembalikan Paper Bag itu pada bos nya.
"Nggak masalah, kok. Hehe... mungkin Tuan Rangga udah punya rasa yang lebih dalam ke Lo, Kalo ditaksir pasti ada perasaan yang sangat mendalam!" pelannya tapi langsung ditepis oleh Lea.
"Perasaan mulu! udah ah, pergi dulu, bye." ucapnya berkacak pinggang langsung pergi meninggalkan meja resepsionis.
"Hmm.. Ehh! Lea, sarapan lu yang dikasih bos ketinggalan! " pekiknya dari kejauhan langsung membawa paper bag yang diatas meja langsung menghampirinya.
Mendengar sedikit membuat Lea risih mendengarnya, berjalan cepat sambil menunduk menahan malu dengan wajah yang sudah memerah padam.
__ADS_1