
"Bos! Kita sudah berhasil membawa nona ke basement parkiran, kami sedang berada didalam mobil segera cepat membawanya jauh, " sahut sesosok pria misterius saat sedang menelpon.
"Baiklah. Jangan sampai lengah kalian membawanya, anak itu pandai beladiri. Cepat bawa dia sebelum dia sadar! " titah sosok pria yang dipanggil bos sekaligus akal bulus dari semua rencana.
Mereka yang mendengar langsung menyaut paham dan selesai mematikan ponsel mereka mulai menyalakan mesin mobil, dengan kecepatan penuh mereka bergegas menuju suatu tempat yang amat dibenci Lea.
Ditempat lain, atasan mereka mulai tersenyum tipis, "Lea. Semoga kau bisa menuruti permintaanku yang terakhir, kau tidak bisa kabur lagi sekarang dan ... semoga kau dapat memilih hal yang tepat, " katanya penuh percaya diri.
***
Sementara itu, saat Zana membuka pintu kantor ruangan Lea dia sedikit terkejut dengan keberadaan Lea yang tak menampakkan batang hidungnya. Alih-alih tiba-tiba menghilang dalam sekejap.
"Lea kemana? kok menghilang. Aihh padahal pengen ngasih tau jadwal rapat akan dimulai, " ungkap Zana yang kebingungan. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak merasakan gatal, ditaruhnya pula sejumlah dokumen penting di atas meja Lea .
"Ck. Kutaruh disini saja, mungkin dia sedang ketoilet nanti kutelpon saja pas rapat dimulai, " sahut dalam hati saat berpikir sejenak. Setelah menaruhnya ia kembali bergegas dengan terburu-buru ke ruangan rapat untuk persiapan.
.
.
.
Pada saat rapat ingin dimulai, Lea tetap tidak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya, Rangga yang menyadarinya pun bertanya pada Zana.
"Zana, kau temannya manager Lea'kan? " tanya Rangga. Dia merasa sedikit cemas dengan Lea yang tidak hadir. Wajar saja jika Rangga cemas karena pada pertemuan rapat penting lain Lea selalu hadir.
"Iya, pak. Ada apa? " balas Zana.
__ADS_1
"Tumben sekali. Bukankah ini rapat penting kenapa Manager Lea tidak hadir? Apa dia sakit? Oh ya tadi kau bilang Manager Lea di toilet, kenapa hari ini Lea tidak keluar, ini sudah hampir lewat satu jam lebih? " katanya sambil sesekali melihat jam ditangannya. Serangkaian pertanyaan-pertanyaan itu memikul Zana, dia bahkan juga tidak tau dengan keberadaannya sekarang. Mau tidak mau ia harus menjawab apa adanya.
"Saya juga tidak tau pak, saya pikir dia ditoilet. dua jam yang lalu waktu saya masuk kedalam ruangannya dia memang sudah tidak ada di ruangannya, " ucapnya menunduk seraya menjelaskan secara kronologis. Setelah mendengarnya Rangga langsung berpikir sejenak, dia mulai menyadari suatu hal yang mengganjal.
"Hmm, tapi apa kau sudah menelponnya? "
"Belum, saya lupa saat itu " Zana menggelengkan kepalanya pelan hingga Rangga langsung menyuruh nya untuk menelpon Lea.
Tutt... Tuttt...
Saat ditelpon, tidak ada jawaban sama sekali dari Lea sampai membuat Zana resah sekaligus khawatir, ia langsung menelponnya berkali-kali tapi hasilnya tetap sama. Zana menoleh pada Rangga dengan tatapan shock khawatir yang membuat Rangga bartanya tapi Zana menggeleng sekali lagi.
"Belum pak, sudah saya telpon berkali-kali tapi tetap belum diangkat! " ungkap Zana sampai membuat Rangga ikut khawatir, alisnya sedikit menurun. mau tidak mau dia pun harus melakukan sesuatu demi Lea.
Rangga berdiri dari meja rapat membuat seluruh perhatian orang-orang didalam terpusat pada dirinya, "Mohon maaf, rapat ini akan diundurkan sementara! " ucapnya yang membuat semua orang lain yang hadir tercengang. Mereka protes dengan rapat penting yang diundurkan secara tiba-tiba tapi Rangga langsung memberikan pernyataan langsung dengan jelas pada asistennya untuk menggantikan dirinya, dia memakai jas nya dan langsung pergi dari ruang rapat terburu-buru dengan Zana yang mengikuti dari belakang. Kekhawatiran itu merebak sampai menyuruh beberapa bawahan yang lain untuk mengerahkan pencarian Lea.
Di dalam bagasi mobil penculikan.
Lea tersadar dengan mulutnya yang dibekap selotip hingga tangan dan kaki yang diikat tali. "Dimana ini? Bagasi mobil? " dalam hati saat membuka mata pandangan menelisik di tempat yang gelap sempit dan merasakan adanya getaran melaju kencang.
"Sial, sepertinya aku dibawa paksa oleh bawahan ayah, " batinnya menebak saat dirinya mengingat-ingat wajah seseorang sebelum dibius.
Lea sudah berusaha untuk melepaskan ikatan tali sampai tergores dan mengeluarkan sedikit darah ditangan, setelah itu dia hanya bisa terdiam meringkuk pasrah sampai meneteskan beberapa air bening dari sudut matanya.
Apakah ini adalah akhir? Jika iya biarkan aku mengakhirinya saat pernikahan itu dimulai, aku tidak ingin hidup bersama bajingan itu dan aku benar-benar membenci pria yang tidak pantas disebut ayah. batinnya bermonolog dengan pandangan putus asa. Rasa pasrah dan amarah kebencian mulai muncul.
Mobil yang melaju cepat itu sampai ditempat mansion besar dan mewah, Kenichi yang merupakan ayah kandungnya merasa senang dengan kepulangan Lea secara paksa. Dia langsung mengurung Lea di suatu tempat ruang bawah tanah sampai hari itu tiba tapi Lea memberontak saat sebelum dikurung.
__ADS_1
"Lepasin, brengsek! Aku ingin pulang!!! " teriaknya lantang sampai terdengar oleh Kenichi yang berada diatas tangga. Biarpun Lea sudah berteriak untuk melepaskannya para bawahan itu tetap mengacuhkannya.
Setelah melihatnya Kenichi langsung menghampiri Lea dengan beberapa sambutan hangat dan beberapa tepukan tangan.
"Lea. Putri kesayanganku akhirnya pulang, ayah benar-benar kangen padamu! " teriaknya senang tapi tidak dengan Lea yang menatapnya dingin penuh aura hitam yang kuat.
"Heii, jangan menatapku begitu dong, apa kau tidak kangen pada ayah? "
"Hahahaha. Kenapa aku harus kangen? apalagi kangen kepada ayah kandung yang tiba-tiba menculik anak kandungnya sendiri hanya untuk perjodohan konyol! " ucapnya menebak penuh penekanan. Kenichi sudah menduga setelah mendengar perkataannya, dia hanya tersenyum hangat semringah.
"Hmm, begitu ya, biarpun kau sudah menduganya tapi emm supaya kau tidak kabur. Aku hanya akan mengurungmu diruang bawah tanah, perjodohan itu penting dan tenang saja kurungan itu hanya beberapa minggu sebelum persiapannya dimulai minggu depan, " sahutnya enteng, tapi sudah membuat Lea terkejut, tanpa pikir panjang Lea langsung bersikeras menolak.
"Apa-apaan ini! Aku tidak mau menikah dengan pria itu. Tuan Kenichi, kau benar-benar ayah kandung yang buruk! " ungkapnya ketus.
Sementara Kenichi hanya tersenyum puas mendengarnya, "Oh ya, padahal aku melakukan ini demi masa depan indah mu Lea. "
Acuh tak acuh Lea hanya terdiam tidak ingin mendengar omong kosong seseorang. Tak punya banyak waktu lagi Kenichi langsung menyuruh kedua bawahan yang membawa Lea untuk dipindahkan keruangan bawah tanah gelap hanya ada sedikit lilin sebagai alat penerangan.
***
Sampai di ruangan bawah tanah.
Dappp... Aduhh....
Dilemparnya tak peduli dengan kesakitan ditubuh Lea yang mengerang. Kedua bawahan itu menatap sinis didekat pintu. "Selamat beristirahat, nona. Semoga sehat selalu, " katanya penuh hinaan.
Brakkk...
__ADS_1
Setelah pintu itu dikunci, mereka langsung pergi meninggalkan Lea sendirian didalam. Pada awalnya Lea berpikir sudah tidak ada jalan lagi untuk kabur tapi kini pandangannya menyipit beralih pada besi karat didekat kasur tua. Biarpun sedikit berbahaya karena karatnya tapi Lea tetap kukuh dan langsung menghampiri kasur tua itu dengan menyeret badannya sampai terengah-engah.